Teuku Daud Cumbok

16 Januari 1946

Teuku Daud Cumbok beserta rombongannya tertangkap oleh pasukan Tgk Ahmad
Abdullah, dikaki gunung Seulawah Agam dan dibawa ke Sanggeu, untuk dieksekusi

Setelah Beurenuen jatuh (11 Januari 1946), dua orang anak laki-laki T Keumangan Umar (TR
Abdullah dan T Keumangan Muhammad) dibawa oleh PUSA dan dibunuh di Meureudu.
Keluarga-keluarga uleebalang Keumangan yang lain ditahan di Beureunuen

Kurang lebih sebulan kemudian, keluarga uleebalang Keumangan yang ada di Beureunuen, yaitu:

1. T Keumangan Pocut Umar, 75 tahun
2. T Abdul Rahman, anak (WMD TKR)
3. T Hasan, anak, usia 12 tahun
4. T Meurah Amin, anak, usia 7 tahun
5. T Abdul Latif, cucu,
6. T M Tahir, cucu, usia 5 tahun
7. Pocut Nuraimah, anak, usia 15 tahun
8. Cupo Bahren, istri
9. Cupo Aman, istri

ditangkap oleh pasukan pro PUSA dibawah pimpinan Husin Sab, pemimpin pasukan dari
Gigieng yang terkenal kejam dan dibawa ke Gigieng.

Para pria (T Abdul Rahman, T Abdul Latif, T Hasan dan T Meurah Amin), dibunuh di Paya Ie Luhop, Gigieng.

Teuku Keumangan Pocut Umar yang telah berusia lanjut (75 tahun?) dibunuh tersendiri dengan cara dikubur hidup-hidup dan diikat pada batang kelapa, karena tidak mempan dibunuh (catatan; info Tgk Putroe Syafiatuddin dari keterangan saksi mata)

Tawanan wanita dan anak kecil yaitu Pocut Nuraimah, Cupo Baren, Cupo Aman dan T M
Tahir dijemput oleh keluarga dari Samalanga (T H Husin dan T H Zainal Abidin) dan
dikembalikan kepada ibunya Pocut Haji Asma, Samalanga.

Dengan peristiwa Cumbok ini, maka seluruh anak lelaki Teuku Keumangan Pocut Umar,
termasuk yang masih anak-anak tewas dibunuh pendukung PUSA, dan tidak diketahui secara
pasti dimana kuburnya. Makam Teuku Keumangan Pocut Umar sendiri, ditemukan
berdasarkan informasi dari beberapa saksi mata, pada akhir tahun 1970-an.

Tuwanku Husin dan Tuwanku Musa (cucu), karena keturunan Tuwanku dari pihak ayah,
dilepaskan dan dikirim dengan kereta api ke Seulimum. Di Seulimum, dijemput oleh Tuwanku Mahmud (anggota Volkstaad) dan dibawa ke Kutaraja.

Di Kutaraja, pihak PUSA mencoba
untuk membunuh Tuwanku Husin dengan menembak beliau, tetapi dapat diselamatkan oleh tentara.

Merasa tidak aman di Kutaraja, Tuwanku Husin melarikan diri ke Medan dan membuat surat
terbuka kepada presiden Sukarno bersama dengan Said Ali.

Cucu Teuku Keumangan Umar dari anaknya Teuku Keumangan Muhammad (Teuku Ali
Akbar, Teuku Sulaiman, dan Teuku Amir Hamzah), diselamatkan oleh kakeknya dari pihak Ibu, yaitu Imeum dari Beureueh.

Makam Teuku Keumangan Pocut Umar
Gampong Gajah Mate, Gigieng
Anak-anak perempuan Teuku Keumangan Umar.

Pocut Aisyah wafat tahun 1952, terkena tumpahan air keras didalam bus dari Beureunuen ke Banda Aceh. Dimakamkan di komplek makam keluarga, Keudah, Banda Aceh.

Pocut Hamidah wafat pada bulan September 1983. Hilang pada saat berziarah di wilayah
Guha 7, Laweung, Sigli. Jenazahnya ditemukan kemudian dan dimakamkan di komplek
Mesjid Keumangan.

Pocut Nuraimah, wafat pada 23 Feb 2001 di Jakarta. Dimakamkan di TPU Kemiri, Rawa
Mangun, Jakarta (berdekatan dengan makam Sultan Muh Daudsyah).

MENGUAK TABIR AKHIR KEKUASAAN DARI DINASTY MALIKUSSALEH KESULTANAN SAMUDERA PASAI…?MENGUAK TABIR AKHIR KEKUASAAN DARI DINASTY MALIKUSSALEH KESULTANAN SAMUDERA PASAI…?

Sejak kehadiran armada portugis di selat malaka pd th 1511 yg di pimpin Alfansuq Akbarkurka (Alfonso De Alberqueque), jalur perdagangan Selat Malaka mulai terganggu. Armada portugis mulai mengancam seluruh kapal dagang yg melakukan bongkar muat di pelabuhan Kuala Pasee. Portugis mulai memblokade perairan Pasai dan melarang kapal-kapal dagang singgah di pelabuhan Pasai. Pada masa itu Kesultanan Samudera Pasai di perintah oleh sultan terakhir yaitu Sultan Zain Al Abidin bin Sultan Zainal Abidin Ra Ubabdar yang naik tahta pd th 1513 menggantikan sultan Abdullah Malik Azzahir yg wafat pd th 1513. Kesultanan Samudera Pasai tidak berdaya menghadapi armada portugis yg dilengkapi persenjataan yg lebih moderen. Bahkan Sultan Zain Al Abidin pernah mengirimkan nota protes atas kehadiran armada portugis di perairan pasai yg ditujukan kepada gubernur militer Portugis di Gowa, India. Surat itu ditujukan kepada Kapitan Moran yang bertindak atas nama wakil Raja Portugis di Gowa, India. Fotografi naskah tersebut dapat disaksikan di Museum Negeri Aceh, sementara naskah manuscript aslinya tersimpan di museum Lisabon, Portugal. Naskah tersebut memberikan banyak informasi sejarah tentang ihwal Samudera Pasai di awal abad ke-16, terutama menyangkut kondisi terakhir yang dialami kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara ini, setelah Portugis berhasil menguasai Malaka pada 1511. Manuscripts surat berbahasa Arab itu juga mencantumkan nama beberapa negeri atau kerajaan yang punya hubungan erat dengan Samudera Pasai sehingga dapat diketahui pengejaan asli dari nama-nama negeri atau kerajaan tersebut, antara lain Negeri Fariyaman (Pariaman) dan Mulaqat (Malaka).
Dalam arakata pasai disebut bahwa sultan terakhir samudera pasai sultan Zain Al Abidin merupakan putra dari sultan Zainal Abidin Ra ubabdar (1477-1500) dan ibunya Putroe Beutong anak Raja Ibrahim. Sultan Zain Al Abidin mempunyai 2 orang putra mahkota, yg pertama Raja Muda Sulaiman dan yg kedua Sultan Muda Lingge Sri Bujaya. Kedua putra mahkota ini mati dibunuh oleh Shyik Sherla pd tahun 907 H (th.1502), kuburannya terletak di daerah jungka gajah sekarang. Berikut kutipannya setelah diterjemahkan dari huruf jawi ke dalam huruf latin ;
“Tuan zainal abidin, anaknya almarhum jainal abidin isteri nya putri betong anak raja ibrahim, anaknya 2 sulaiman dani sultan lingga seri bujaya dibunuh syiekh serla, kubur nya dilindungi gajah, sanat 907 hijriah”.
Menariknya dari arakata ini kita bisa mengetahui asal usul nama kec.”Jungka Gajah” Blang Jruen dan juga siapa sebenar tokoh Syiekh Sherla dalam arakata Pasai tsb. Syiekh Sherla atau dalam Statblaad (lembaran negara pemerintah kolonial Hindia Belanda) yg ditulis oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda menyebutkan Raja She(r)la merupakan putra dari Sultan SyamsuSyah bin Sultan MunawarSyah Raja Lamuri terakhir. Syiekh Sherla atau Raja Shella juga merupakan abang kandung dari Raja Ibrahim yg makamnya terdapat di Gampong Ilie, ulee Kareeng, Aceh Besar. Beliau inilah yg kemudian kelak mendirikan Kesultanan Aceh Darussalam pd th 1512 dgn gelar Sultan Ali MughayatSyah Zillullah Fil Alam. Dalam Manuskrips Hikayat Atjeh yg masih tersimpan dalam Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda di sebutkan bahwa Raja Ibrahim di ajalkan (dibunuh) oleh keponakannya sendiri Sultan Salahuddin bin Sultan Ali MughayatSyah.
Dalam Arakata Pasee disebutkan bahwa Putroe Beutong yg makamnya terdapat di Jungka Gajah, Aceh Utara Merupakan putri dari Raja Ibrahim bin Sultan SyamsuSyah raja Lamuri Terakhir. Putroe. Beutong merupakan Istri dari Sultan Zainal Abidin III Ra Ubabdar ayah dari Sultan Zainal Abidin IV raja Samudra Pasai terakhir. Dalam dinasty kesultanan Samudera Pasai, terdapat empat (4) nama tokoh yg berbeda dgn gelar Sultan Zainal Abidin, yaitu :
1. Sultan Zainal Abidin I, merupakan ayahanda dari Sultanah Ratu Nahrasiyah, diyakini merupakan putra dari Sultan Ahmad bin Sultan Malikul Mahmud bin Sultan Muhammad Malikul Zahir bin Sultan Malik Al Shalih berdasarkan manuskrip Hikayat Raja-Raja Pasai.
2. Sultan Zainal Abidin II. Suaminya Ratu Nahrasiyah yg menggantikan kedudukan Ratu Nahrasiyah sbg Sultan.
3. Sultan Zainal Abidin III Ra Ubabdar, yg menikah dgn Putroe Beutong putri dari Raja Ibrahim bin Sultan SyamsuSyah, keduanya merupakan orang tua dari Sultan Zainal Abidin IV, Sultan terakhir Kerajaan Samudera Pasai.
4. Sultan Zainal Abidin IV (1513-1518) merupakan sultan terakhir dari dinasty Malik Al Shalih. Kedua putra mahkota sultan Zainal Abidin IV yaitu Raja Muda Sulaiman dan Sultan Muda Lingge Sri Bujaya mati dibunuh oleh Syiekh Sherla atau Raja She(r)la yg kemudian kelak dikenal dgn Sultan Ali MughayatSyah pendiri Kesultanan Aceh Darussalam. Kedua putra mahkota tsb dimakamkan disamping makam neneknya Putroe Beutong di Jungka Gajah kec. Meurah Mulia.
Pd th 923 H (1518) Sultan Zain Al Abidin wafat dan di kuburkan di kompleks pemakaman raja2 pasai di Gampoeng Beringen, Geudong. Dgn begitu berakhirlah era kekuasaan dinasty Malikussaleh. Selanjutnya kesultanan Samudera Pasai dikuasai oleh kesultanan Aceh Darusalam yg berhasil mengusir Portugis dari perairan Aceh.
Pd th 1524 Sultan Ali Mughayatsyah mengangkat Tgk Muhammad Syekh Azzakariya Qurnairni Al Yamani mantan mufti besar Kesultanan Samudera Pasai sbg Wali Negeri Pasai dgn gelar “Tu Poeraja Chik Yamani Pasee”. Penunjukan ini sesuai dgn hukum adat raja diseluruh kerajaan melayu pada masa itu dimana apabila raja wafat dan tidak punya putra mahkota maka yg menggantikannya adalah kadi malikul adil (mufti besar) kerajaan.
Selanjutnya mengenai Putroe Beutoeng ibunda dari Sultan Zainal Abidin. IV yg makamnya ada di jungka gajah, Meurah Mulia. Ada 2 versi yg saya temukan mengenai tokoh ini. Dalam hikayat raja-raja pasai, th 1966, terbitan RAS (Royal Asiatic Society, London) disebutkan Putroe Beutong merupakan ibu dari Meurah Silu (Malikussaleh) atau istri dari Meurah Gajah ayahnya Meurah Silu. Dalam arakata pasee, yg ditulis th 1243 H, disebutkan Putroe Beutong binti Raja Ibrahim merupakan ibu dari Sultan Zain Al Abidin IV sultan terakhir kerajaan Samudera Pasai, Trm. (Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp Doewa)

Ulee Balang Geulumpang Dua

WILAYAH ULEE BALANG PEUSANGAN DAN GLOEMPANG DOEWA
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp Doewa)
Dikutip Berdasarkan catatan belanda “Mededelingen Betrefende De Atjehsche Onderhoorigheden” atau laporan tentang daerah taklukan di Aceh yg dibuat pd tgl 14 mei 1901 mengenai negeri Peusangan yaitu :
Di bawah pimpinan uleebalang sebagai
pemimpin puncak daerah Peusangan dipimpin oleh beberapa pimpinan menengah,
di antaranya para tuha-peut (4) dan uleebalang nam (6) yang selanjutnya membawahi para peutuwa, keutji dan panglima.
Para tuha peuet Peusangan :
1. T. Keudjroun Moeda dari Pante Ara
2. T. Hakem dari Matang
3. T. Hakem Tji dari Rajat
4. T. Keudjroeen Kuala dari Boegak.
Menurut pengakuan dari sisi Gluempang Doewa, Boegak di masa lalu merupakan bagian darinya dan T. Keudjroeen Kuala (boegak) pada waktu itu adalah satu dari tuha peuet dari Gloempang-Dua. Pengakuan ini tentu saja ditolak oleh pihak Peusangan.
Para uleebalang nam (6) peusangan :
1. T. Bentara Peukan dari Djangka
2. T. Keudjroeen Seurawab (bin Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp Doewa) dari Langkoeta
3. T. lmeum Rajat dari Meunasah Meutjat
4. Pangoelee Side dari Bajoe
5. T. Hakim dari Roesip
6. Panglima Prang Pasoe dari Utheuen Gathom
Para tuha peuet adalah Hakim dari daerah, dan persetujuan mereka sangat diharapkan oleh oeleebalang pada saat pengambilan keputusan penting.
Mereka sudah ada sejak lama, sehingga menurut pengakuan penduduk lebih tinggi kedudukannya dari para oeleebalang-nam (6), yang baru saja dibentuk oleh T. Tji Seuma’on (bin Teuku Chik Muhammad Hasan).
Mereka adalah pelaksana dari perintah-perintah uleebalang, dan khususnya berfungsi sebagai panglima perang atau pemimpin (komandan) tempur. Pimpinan utama di bahagian barat Peusangan yang dibawahi oleh (T. Muda Peusangan Maharadja Djeumpa bin Teuku Chik Muhammad Hasan) adalah:
1. T. Keudjroeen dari Djeumpa
2. T. Keudjroeen dari Djuli Baroh
3. T. Keudjroeen Toenong dari Poelo Miroe
4. T. Imeum Rajat dari Bireuen
Daerah di Gluempang Doewa yang termasuk
tunduk pada uleebalang Peusangan adalah
Leuboe dan Lapehan
Oeleebalang dari Leuboe adalah T. Rih
Lapehan sebaliknya dipimpin oleh 3 peuteuwa, yang masing masing langsung menerima perintah dari Uleebalang Peusangan.
Mereka adalah:
1. T. Hakim dari Lapehan;
2. T. Moeda Bale dari Blang Koethang
3. T. Keutjik Pidie dari Gampong Meusejit, yang terakhir (T. Keutjik Pidie) karena usianya yang uzur tidak dapat lagi Memegang tampuk kekuasaan, dan perlahan lahan tersingkirkan oleh T. Bintara Blang (Teuku Keujruen Gok), yang berasal dari Sawang, trm.
(Photo, Silsilah Keluarga Teuku Panglima Prang Barat Seutya dan Cut Pinta serta garis keturunannya 27 safar 1359 H/ 7 April 1970, koleksi keluarga)
Ttd, Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Glp Doewa.

SEJARAH BERDIRINYA ISTANA GLOEMPANG DOEWA DI GEURUGOK, KAB. BIREUEN.


Gambar di bawah ini adalah kondisi terakhir bangunan istana Gloempang Doewa di Keude Geurugok, kec. Gandapura kab. Bireuen. Istana ini merupakan hadiah pemerintah belanda kepada wedana (zelfbesturder) Gloempang Doewa yg saat itu dipegang oleh Teuku Bintara Istia Muda Peureudan. Istana ini mulai dibangun pd tahun 1903 semenjak padamnya perlawanan Sultan Aceh. Dari arsitektur rumah tersebut jelas sekali mengadopsi rumah gaya mediteranian eropa klasik (gothic). Kondisi terkini rumah tersebut sangat menyedihkan. Dibeberapa sudut bangunan sdh lapuk termakan usia dan sebagian atapnya sdh pada berjatuhan. Bangunan ini sdh tak dihuni lagi sejak th 1984 setelah Cut Nyak Fatimah wafat, istri kedua dari Teuku Bintara Istia Muda Pereudan. Saat ini kepemilikan istana tsb jatuh kpd ahli waris almarhum Ir. T. Hanafiah, mantan dosen IPB bogor. Bahkan dikhabarkan rumah ini siap dijual, berdasarkan pamflet yg tertera di dinding rumah tsb.
Sebelum terjadi perang Peusangan Raya (1882-1899), istana ini dahulunya terletak di Kuta Panjoe, Keujruen Meuse. Dulu Kuta Panjoe adalah sbg pusat pemerintahan keujruen Peusangan yg didirikan oleh Teuku Dihadjat pasee pd th 1082 H (1675M), seorang Panglima Perang yg ditunjuk oleh Sultan Aceh utk memimpin sebuah negeri yg bernama Keujruen Peusangan Raya. Wilayah ini meliputi 6 kemukiman yaitu kemukiman Jeumpa, kemukiman Juli, Kemukiman Samuti Rayeuk, kemukiman Gloempang Doewa, kemukiman Blang Panyang (Nisam dan Sawang) dan kemukiman Peudada.
Sebelum belanda hadir di aceh, wilayah Keujruen Peusangan merupakan wilayah yg sangat makmur dgn pertanian dan nelayan sbg mata pencaharian penduduknya. Puncak emas kekuasaan keujruen peusangan semasa T.Chik Nyak Krueng berkuasa atau dikenal dgn Teuku Bentara Kuanta (1844 – 1868). Beliau merupakan putra bungsu dari Teuku Diadjat Pasee, pendiri negeri Peusangan Raya. Paska beliau wafat pd th 1868 dan digantikan oleh putra tertuanya Teuku Chik Muhammad Hasan, tak lama beliau memerintah hanya 3 tahun saja. Kemudian pd th 1873 beliau digantikan adiknya T. Bentara Mahmud Kuta Panjoe. Pada tahun 1874 Teuku Bentara Mahmud tiba2 wafat, Pd th 1875 beliau digantikan oleh keponakannya T.Chik Syamaun, sedikit demi sedikit perselisihan mulai terjadi dgn Penguasa kemukiman Gloempang Doewa yg tak lain adalah saudara sepupunya sendiri Teuku Bentara Husin.
Sementara itu pd th 1881, pasukan Belanda yg dipimpin jenderal Van der Heijden telah sampai di wilayah Samalanga, pecah perang tak dapat dihindari. Pocut Meuligoe adik dari Teuku Chik Bugis yg saat itu menunaikan ibadah haji memimpin pertempuran di front barat melawan pasukan belanda. Pasukan belanda sendiri mulai kewalahan menghadapi pasukan Pocut Meuligoe dan Habib Samalanga, situasi ini mulai dibaca oleh jenderal Van der Heijden, agar semangat perlawanan perang sabil di Samalanga jgn sampai menjalar ke Peusangan Raya maka taktik devide et impera mulai disebar di wilayah Peusangan. Ternyata perangkap yg dipasang belanda ini berhasil, maka pd th 1882 meletuslah perang antar ulee balang di wilayah Peusangan Raya. Puncaknya pd th 1883 pasukan Ampon Chik Syamaun menyerang Kuta Panjoe, pusat pemerintahan kemukiman Gloempang Doewa. Kuta Panjoe jatuh ke tangan pasukan Ampoen Chik Syamaun, penguasa Gloempang Doewa saat itu Teuku Bentara Husin melarikan diri ke wilayah Sawang. Beliau menyampaikan protes keras melalui Asisten Residen Belanda di teluk samawi G.A. Scherer. Sedikit demi sedikit belanda mulai memainkan perannya di Perang Peusangan Raya. Teuku Chik Syamaun di minta mundur dari Kuta Panjoe, Meusee oleh Scherer. Permintaan ini dipenuhi oleh Ampoen Chik Syamaun dgn beberapa persyaratan, utk sesaat perangpun mereda. Tak lama berselang, pd th 1884, pasukan Ampoen Chik Syamaun di bawah pimpinan sdikny Teuku Muda Peusangan Maharaja Jeumpa kembali menyerang Kuta Panjoe, Blang Panyang (nisam), Cunda dan Meuraksa Bayu dari darat dan laut yg melibatkan pasukan yg besar. Gloempang Doewa, Blang Panyang (Nisam) dan Cunda berhasil diduduki oleh pasukan Ampoen Chik Syamaun. Protes kembali dilayangkan kpd belanda atas perbuatan Ampoen Chik Syamaun, Belanda memang piawai dalam memainkan perannya di konflik ini. Atas inisiasi Residen Belanda G.A Scherer, pada tahun 1889 utk menyelesaikan konflik horizontal ini, dibuatlah satu pertemuan besar antar ulee balang di wilayah Keujruen Peusangan, bertempat di Keude Amplah Nisam yg disebut deklarasi Keude Amplah. Pihak-pihak ulee balang yg hadir dalam pertemuan tersebut yaitu : T. Muda Peusangan Maharaja Jeumpa dan T. Keujruen Nusyah Puloe iboih dari Peusangan Barat. Sedangkan T. Bintara Husein dan T. Bentara Istia Muda Peureudan dari Gloempang Doewa. Rhi Mahmud mewakili Blang Panyang, Nisam sbg tuan rumah dan Sawang diwakili oleh Panglima Prang Muda dan Teuku Puteh. Sedangkan dari Cunda dan meuraksa bayu diwakili oleh Teuku Mahmud dan T. Bentara Muda Chik. Deklarasi ini menghasilkan suatu keputusan bahwa batas demarkasi antara Peusangan Barat dan Peusangan Timur adalah Glee Mirah Poen, Cot Ijue. Tetapi sayangnya perjanjian damai ini gagal, karena pertempuran masih terjadi antara kedua belah pihak.
Pd th 1897 kembali dibuat suatu perjanjian damai di lhokseumawe yg di motori oleh Scherer. Kali ini perwakilan Peusangan Timur menunjuk Maharaja Mangkubumi Abdul Hamid sbg perwakilannya sedangkan Peusangan barat menunjuk T.Raja Itam Geudong sbg perwakilan arbitrasenya, Untuk hakim Arbitrase ditunjuk T. Muda Osoeih (T.Nyak Muda Yusuf) Sp. Oelim sbg hakim arbitrase mewakili assisten residen G.A. Scherer. Deklarasi Lhokseumawe ini menghasilkan keputusan bahwa batas demarkasi antara Peusangan Barat dan Peusangan Timur adalah Krueng Tingkeum Kuta Blang. Akibat dari konsekwensi perjanjian ini, pihak Peusangan Timur harus memindahkan ibukota Gloempang Doewa dari Kuta Panjoe, Meuse ke keude Geurugok.
Pd th 1903 belanda mulai membentuk pemerintah otonom (zelfbesturder) setingkat wedana dan menunjuk Teuku.Bintara Istia Muda Peureudan sbg wedana (Zelfbesturder) Gloempang Doewa dgn Geurugok sbg ibukota pemerintah berikut segala fasilitas pemerintah dan rumah dinasnya. (photo insert, kondisi terkini istana Gloempang Doewa, Geurugok, th 2019, koleksi pribadi), trm. Ttd Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.

History Kota Keude Geudong

SEJARAH BERDIRINYA KOTA (KEUDE) GEUDONG, KEC. SAMUDRA, ACEH UTARA.
(Sebuah tulisan analisis sejarah aceh by Teuku PP Barat Seutya)
Keude Geudong terletak tepat dijalur lintasan jalan B. Aceh-Medan, terletak kurang lebih 10 KM sebelah timur kota lhokseumawe. Kota yg terkenal dgn panganan khas bolu aceh (booi) dan martabak duren. Tak jarang makanan ini menjadi buruan favorit penikmat kuliner yg singgah hanya untuk membeli sbg oleh2x ataupun dimakan sbg camilan dalam perjalanan. Saat ini kota geudong merupakan sbg sebuah ibukota kecamatan yg bernama Samudra. Tak banyak yg tahu tentang sejarah berdirinya kota Geudong ini sehingga sampai saat ini bisa menjadi sebuah pemerintahan yg berbentuk kecamatan. Sejarah kota Geudong sendiri tak terlepas dari peran Tgk Imuem Chik Raja Itam bin Teuku Chik Raja Moely bin Meurah Fattani bin Tgk Meurah Madereih (Tu Poraja Syikh Malik Bintan Hulu bin Tu Poraja Syikh Yamani Pasee), penguasa bandar pelabuhan Kuala Pasee.
Sejak jaman kerajaan Samudra Pasai, Bandar Kuala Pasee merupakan jalur perdagangan yg paling sibuk di wilayah pantai utara setelah bandar pelabuhan Teluk Samawi di Lhokseumawe. Tercatat barang2x yg menjadi komoditas perdagangan di pelabuhan ini adalah emas, perak, tembikar, kapur barus,kopra, serta bahan rempah2x spt lada hitam, pala, cengkeh, dsb. Menurut Ibnu Batutah, seorang pengembara muslim dari negeri Maghribi, Maroko, dalam catatannya mengatakan bahwa ia sempat mengunjungi Pasai pada 1345 M. Ibnu Batutah yang pernah singgah di Kuala Pasai selama 15 hari, menggambarkan Kesultanan Samudera Pasai sebagai “sebuah negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah”. Dalam catatan perjalanan berjudul “Tuhfat Al-Nazha”, Ibnu Batutah menuturkan, pada masa itu Pasai telah menjelma sebagai pusat studi Islam di Asia Tenggara.
Paska runtuhnya kerajaan Samudera Pasai, pada tahun 1524 kenegerian Pasai mulai di perintah oleh Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani atau yg lebih di kenal Tu Poraja Chik Yamani, seorang mantan mufti besar kesultanan Samudera Pasai yg ditunjuk oleh Sultan Aceh utk memimpin negeri Pasai dgn pusat pemerintahan di Kuta Krueng, Kuala Pasai. Nama Kuta Krueng sendiri di tabalkan oleh beliau yg diartikan sebagai benteng (Kuta) yg terletak di Kuala Krueng Pasee. Paska wafat Tu Poraja Chik Yamani, pemerintahan di Kuta Krueng dilanjutkan oleh putranya Tu Poraja Chik Madereih (Tgk Chik Ahmad Idris). Pd tahun 1082 H (1671), wilayah kekuasaan kenegerian Pasai mulai dibagikan kepada ketiga putranya. Untuk wilayah Krueng Pasee diberikan kepada putra sulungnya Teuku Raja Fattani, sedangkan untuk wilayah Keujruen Kanang, Cunda diberikan kepada Tok Nabath Indra Patra Syamsul Alam atau Teuku Bahar Amien. Dan utk wilayah Krueng Peusangan diberikan kepada putranya yg lain Meurah Syah (Ja Kuta). Selanjutnya pd th 1702 pemerintahan di Kuta Krueng dilanjutkan oleh putra Teuku Raja Fattani yaitu Tgk Imuem Chik Raja Moely. Ada hal yg menarik di sejarah ulee balang Krueng Pasee, sejak Sultan Aceh dinasti Jamallulail (Sultan Badrul Munir Syarif Hasyim Jamalullail) seorang ulama yg berasal dari mekkah naik tahta, beliau membuat kebijakan baru dimana semua ulee balang yg menggunakan gelar “Teuku Raja” harus diganti menggunakan gelar “Tgk Imoem Chik”. Makanya dalam arakata ulee balang Geudong, hampir semua ulee balang menggunakan gelar ini. Paska wafatnya Tgk Imuem Chik Raja Moely, beliau digantikan oleh putranya Tgk Imuem Chiek Raja Itam atau yg lebih di kenal Tgk Chik di Pasie karena beliau masih bermukim di Kuta Krueng pasee. Pada masa pemerintahan Tgk Chik Raja Itam (Tgk Chik Di Pasie), kota Geudong belum berdiri, semua aktifitas ekonomi dan perdagangan masih berpusat di bandar Kuala Pasee, sehingga timbul pertanyaan kapan keude geudong itu mulai ada…?
Berdasarkan manuskrip arakata yg di tulis pd tgl 10 maret 1934 oleh Teuku Abdul Latief bin Teuku Raja Mengkoeta bin Teuku Sultan Imuem Chik (Banta Sultan) bin Tgk Imoem Chik Nyak Keujruen (Tgk Chik Blang Peuriya) bin Tgk Imoem Chik Leumik bin Tgk Imuem Chik Nyak Peukan bin Tgk Imoem Chik Raja Itam (Tgk Chik Di Pasie) bahwa nama Geudong itu berasal dari kata “Goedank” tempat penyimpanan komoditas barang perdagangan yg akan di ekspor ke pulau Pinang, Malaysia yg terletak di Kuala Pasee. Tgk Imuem Chik Raja Itam juga telah membagi wilayah kekuasaannya kepada ketiga putranya. Untuk wilayah hulu krueng passe (Keujruen Pasee) diberikan kpd putra sulungnya Tgk Imuem Chiek Nyak Peukan, dan wilayah tengah (Samakuroek) diberikan kpd putra keduanya Tgk Di Bluek sedangkan wilayah hilir krueng pasee (keujruen blang me) diberikan kpd putra bungsunya Tgk Cut Ahmad (Teuku Muda Ahmad Angkasah). Tapi sayangnya kedua putra tgk Imuem Chik Raja Itam yaitu Tgk Imuem Chik Nyak Peukan terlibat perselisihan besar dalam memperebutkan bandar pelabuhan kuala pasee. Kedua putra sekandung terlibat perang yg melibatkan pasukan masing2x, akibatnya gudang2x tempat penyimpanan barang ekspor di Kuala Pasee banyak yg hancur dan dibakar oleh kedua belah pihak. Hal ini memaksa Tgk Imuem Chik Raja itam memindahkan pusat pemerintahan dari Kuta Krueng ke arah tunong (selatan) Kuala Pasee. Agar pasokan barang2x ekspor ke Pulau Pinang tdk terhambat dan tetap berjalan lancar, beliau kembali mendirikan gudang2x tempat penyimpanan barang2x ekspor ke Pulau Pinang di bantaran sungai Krueng Pasee yg kelak disebut keude Geudong. Dgn berdirinya gudang2x ini aktivitas ekonomi jual beli spt pasar (pekan) disekitar gudang tsb mulai berkembang. Lama kelamaan kata gudang ini berubah menjadi “Geudong”, sehingga Tgk Imuem Chik Nyak Pekan dipanggil juga Tgk Chik di Geudong.
Akibat perang saudara ini, sangat dimanfaatkan betul oleh pihak belanda, sehingga pada tgl 26 Desember 1874 (17 zulkaidah 1291) belanda berhasil membujuk Teuku Muda Ahmad Angkasah utk menanda tangani korte volklaring (Traktat Pendek). Surat ini sendiri dikirim oleh putranya Teuku Bentara Muda yg dikirim melalui Kuala Pasee menggunakan perahu ke benteng belanda di Kuala Gluempang, Julok, Aceh Timur. Atas jasa2x kepada pemerintah belanda maka Tgk Cut Ahmad diberi gelar oleh pemerintah belanda dgn sebutan “Teuku Muda Angkasah Ahmad Amir Cut Pahlawan Keujruen Blang Me” pd th 1874. Sbg balas budi kepada keujruen Blang Me, Belanda menghadiahkan sebuah pesanggrahan (istana) yg megah utk keluarga Teuku Muda Ahmad Angkasah yg disebut dgn Istana Angkasah. Istana ini diberikan kepada cucu beliau Teuku Chik Abdul Latif (Teuku Nyak Muda Lateih) yg diangkat oleh belanda sbg zelfbesturder blang me pd th 1900. Teuku Chik Abdul Latif juga merupakan menantu Teuku Nagorsyah, ulee balang Idi Rayeuk. Beliau wafat dan dimakamkan di desa Blang Siguci, Idi Cut, aceh timur. Pd th 1939 T.Chik Abdul Latif (T.Nyak Muda Lateih) wafat sehingga zelfbesturder Blang Me digabung dgn Geudong yg diperintah oleh T. Abdul Latif Moely. Ketika pd th 1942 terjadi peralihan kekuasaan dari pemerintah kolonial belanda kpd pemerintahan fasis jepang Teuku Abdul Latif Moely dipindahkan ke Kutaraja dan menjadi Assisten Residen negeri Geudong dibawah jabatan Residen Aceh Teuku Muhammad Daudsyah Idi, sedangkan jabatan wedana (Guncho) Geudong digantikan oleh putra pertamanya Teuku M. Yusuf Moely. Pd 20 Desember 1945 terjadi peristiwa Cumbok di Lamlo Sigli yg merembet ke seluruh wilayah Aceh. Banyak tokoh2x ulee balang Aceh hilang tak tentu rimbanya termasuk Teuku Abdul Latif Moely dan Putranya Teuku M. Yusuf Moely.
(Photo, Istana Angkasah Geudong, Meunasah Mancang, th 2019, koleksi pribadi), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya.

Sejarah Ulee Balang Gelumpang Dua

SEJARAH ULEE BALANG GLOEMPANG DOEWA GEUREUGOK.
(Analisa Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp.Doewa)
Berdasarkan catatan belanda “Mededelingen Betrefende De Atjehsche Onderhoorigheden” atau laporan tentang daerah taklukan di Aceh yg dibuat pd tgl 14 mei 1901 mengenai negeri Gloempang Doewa yg merupakan pecahan dari Keujruen Peusangan Raya Letak geografisnya wilayah negeri Gloempang Doewa sbb ; disebelah timur berbatasan dgn ulee balang Sawang, sebelah selatan berbatasan dgn wilayah ulee balang Lingge Gayo, sebelah barat dgn berbatasan dengan ulee balang Peusangan sedangkan sebelah utara berbatasan dgn Selat Malaka.
Dahulu ulee balang ini disebut dgn Keujruen Meusyi merupakan kombinasi kata dari bahasa aceh dan arab “meuasyi” artinya ber aceh. Orang tua kita dahulu menyebutnya dgn kata “meuse”, terletak di wilayah Krueng Panjoe sekarang dgn pusat pemerintahan di Kuta Panjoe. Keujruen Meusyi merupakan cikal bakal ulee balang Gloempang Doewa, Geureugok. Didirikan oleh Teuku Bentara Mahmud Kuta. Panjoe putra dari Teuku Bentara Kuanta atau Tgk Chik Nyak Krueng mantan penguasa Keujruen Peusangan Raya. Tgk Chik Nyak Krueng merupakan putra bungsu Teuku Keujruen Chik Peusangan Seutya Raja yg bernama Teuku Panglima Perang Dihadjat Pasee yg lebih dikenal dgn nama “Bujang Diajat”. Teuku Bentara Mahmud Kuta Panjoe juga merupakan mertua dari Teuku Laksamana Sawang pendiri Negeri Sawang.
Menurut arakata Pasee, silsilah Bujang Diajat bersambung ke Maharaja Fassangan Meurah Syah penguasa sungai Fassangan (Peusangan) dari hulu sampai ke hilir Kuala Ceurapee. Maharaja Fassangan Meurah Syah jalur nasabnya bersambung ke Tgk Meurah Madereih (Tu Poraja Syik Malik Bintan Hulu) yg melahirkan ulee balang mukim tujoeh di seluruh wilayah aceh. Tgk Meurah Madereih merupakan putra dari Tu Poraja Syik Yamani Pasee penguasa Kenegerian Pasai sejak runtuhnya Kesultanan Samudera Pasai th 1524.
Keturunan Tgk Meurah (Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu) yg jadi raja pada th 1040 H yaitu :
1.Meurah Seundri atau Tu Poraja Chik Mereudue.
2. Meurah Seubat atau Tok Nabib Andarul Fathir Syamsul Alam, yg menurunkan ulee balang Cunda, Buloeh, Meuraksa Bayu dan Pasai.
3.Meurah Puteh, yg menurunkan ulee balang wilayah Meulaboh, Labuhan haji, Tapak tuan, Susoh dan Daya.
4. Meurah Itam, raja karang hulu Tamiang, Isaq, Lokop, Serbojadi, Samarkilang, dan Pining wilayah Aceh Tengah bagian timur.
5. Meurah Al Qusyaqsyi, raja Gayo Lingge, Bener Meriah Aceh Tengah bag. Barat.
6. Meurah Syah atau Ja Kuta di Peusangan, Jeumpa, yg menurunkan ulee balang di wilayah Peusangan, Peudada, Gluempang Dua, Geurugok, Sawang dan Nisam
7. Meurah Fattani atau Teuku Raja Fattani, Kuala Simpang dan pesisir timur, yg menurunkan ulee balang Krueng Pasee Geudong, Samakuroek, Bluek dan Blang me.
Dalam hikayat malem dagang disebutkan sewaktu Sultan Iskandar Muda melakukan penyerbuan ke Malaka, beliau melakukan perjalanan darat dari Bandar Aceh Darusalam sampai ke Jamboe Aye Panton Labu dalam rangka mengumpulkan armada perang dan pasukan. Dalam muhibahnya di pantai Utara Aceh beliau di dampingi penasehatnya Ja Pakeh, Panglima Pidie Maharaja Indra, Panglima Malem Dagang dan Raja Raden dari Negeri Pahang. Dalam perjalanannya singgah di negeri Fassangan selama 7 hari dan di jamu oleh Maharaja Fassangan Meurah Syah dan Sultan meminta untuk menyediakan armada laut fassangan utk ikut rombongan kapal induk Cakradonya. Maharaja Fassangan Meurah Syah menyanggupinya dengan mengirimkan 5 buah ghali (kapal besar) dan puluhan jung (perahu) lengkap dgn sejumlah panglima perang dan pasukan tempurnya. Setelah beberapa hari menetap di Fassangan, sultan kemudian melanjutkan perjalanannya melalui jalan darat diikuti rombongan Cakradonya dari pantai. Cakradonya atau Espanto del Mundo merujuk kepada istilah yg dipakai koran perancis “Mercure De Francaise”.berdasarkan kesaksian seorang pelaut perancis kapten Agustine De Beaulieu.
Habib Bugak Al Asyi atau Habib Abdurrahman Alwi Al Habsyi yg mewakafkan harta beliau di masjidil haram juga berasal dari wilayah Bugak Krueng Matee yg dahulunya merujuk ke wilayah Keujruen Meusyi Fassangan. Dalam perjalanan sejarahnya Keujruen Meusyi kemudian berubah nama menjadi ulee balang Gloempang Doewa yg berpusat di Keude Geurugok sekarang kecamatan gandapura. (Photo, Cap Stempel Korte Velklaring Ulee Balang Gloempang Doewa, Geureugok th 1882, Sumber KITLV), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya Gloempang Doewa.

Aceh Sepanjang Abad

MUKADIMAH KITAB SIRATTAL MUSTAQIM (JALAN YANG LURUS) KARYA SYECH NURUDDIN ARRANIRY
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa
Kitab Sirattal Mustaqim merupakan salah satu kitab tertua yg ditulis oleh Syech Nuruddin Arraniry, seorang ulama besar di zaman itu yg pernah menjadi mufti besar kesultanan Aceh Darussalam semasa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani berkuasa (1637-1641) sampai Sultanah Sri Ratu Tajjul Alam Safiatuddinsyah (1641-1676). Beliau berasal dari negeri Ranir, kepulauan Malabar, India. Kepulauan Malabar termasuk dalam gugusan kepulauan Nikobar dan Maladewa (Maldives) yg terletak diantara Lautan Hindia dan laut Andaman di utara pulau Sumatera. Dalam peta Jalur Sutera perdagangan dunia, kepulauan Malabar merupakan pelabuhan strategis sebelum menuju masuk ke Bandar Aceh Darussalam dan Selat Malaka kepulauan Nusa Antara, Semenanjung Malaya (Malayan Peninsula). Banyak ulama2x besar aceh berasal dari negeri malabar spt Syech Ali Gazhiyuddin di Samudra Pasai dan Syech Abdul Kadir Al Malabari.
Kitab ini ditulis pada tahun 1641 pada awal masa pemerintahan Sultanah Sri Ratu ShafiatuddinSyah berkuasa. menggunakan aksara jawi kuno dan bahasa melayu asli.
Selain kitab Sirattal Mustaqim karya beliau yg lain diantaranya adalah :
1.Daar Al-Faraidh (Membahas tentang Tauhid dan Falsafah keimanan).
2.Lata’ih Al-Asrar.
3.Hall Al-Dzill Ma’a Sahabihi.
4.Umdat Al-I’tiqad.
5.Hujah Al-Siddiq.
6.Jauhar Al-‘Ulum..
7.Ma’al Hayat.
8. Bustanus Al-Salatin (Istana Para Raja) Nama lengkapnya kitab tersebut adalah “(Bustanu Al-Salatin fi Al-Awwaliin wa Al-Akhirin)”. Kitab tersebut disusun atas permintaan Sultan Iskandar Tsani,yang berisi masalah Ketatanegaraan dan Sejarah.
Kitab Sirattal Mustaqim karangan Arraniry di tulis dalam 3 Bab yaitu :
1. Bab I berisi Mukadimah. (Pembukaan)
2. Bab II berisi tentang Penyimpangan2x tentang ajaran ketauhidan yg dilakukan oleh anak cucu Adam As spt Qabil, Samiryun (Berhala) Ahriman (Majusi), Yehuda (Yahudi) dan Nasara (Nasrani), masa dimana sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW pd th 571 M.
3. Bab III berisi tentang 73 firqah (golongan) umat Muhammad SAW yg terpecah spt paham Syiah, Wahdah Al Wujud (Wujudiyah), dsb, dimana masing2x golongan tsb. menganggap ajaran merekalah yg paling benar. Masa dimana paska Nabi Muhammad wafat pd th 23 H sampai th 1641 saat dituliskan kitab tsb oleh Arraniry.
Pd masa Sultan Iskandar Tsani berkuasa (1637- 1641) terjadi pergolakan politik yg sangat besar ketika mufti besar kesultanan Aceh Darussalam Syech Nuruddin Arraniry mengeluarkan fatwa haram terhadap paham Wujudiyah yg dibawa oleh Syech Hamzah Fansury yg merupakan murid dari Syech Syamsuddin Assumatrany melalui karya2x beliau spt syair perahu, syair burung gelatik dsb. Syech Hamzah Fansury di panggil Sultan ke hadapan Majelis Kerajaan Mufti Empat yg di pimpin oleh Syech Nuruddin Arraniry untuk berdebat di hadapan Sultan tentang ajaran Wahdatul Wujud yg dibawa oleh beliau. Syech Hamzah Fansury tdk dpt mempertanggung jawabkan ajarannya dan akhirnya kalah berdebat di Majelis Mufti Empat di Hadapan Sultan Iskandar Tsani. Akibatnya Kerajaan mengeluarkan fatwa haram terhadap paham ini dan diputuskan oleh majelis tertinggi kerajaan Syech Hamzah Fansury harus dihukum mati dan seluruh karya2xnya dimusnahkan oleh kerajaan. Jabatan Mufti Besar yg di sandang Syech Nuruddin Arraniry berlanjut sampai pd masa peralihan kekuasaan Sultan Iskandar Tsani kepada Istrinya Sultanah Tajjul Alam Shafiatuddinsyah. Di akhir masa pemerintahan Sultanah Sri Ratu SafiatuddinSyah, kedudukan Syech Nuruddin Arraniry digantikan oleh Syech Abdurauf Assingkily. Beliau kemudian kembali ke kampung halamannya di Ranir dan wafat disana. Atas jasa2xnya, nama kedua ulama besar ini ditabalkan pd dua universitas terbesar di Aceh.
Berikut terjemahannya kedalam bahasa melayu mukadimah kitab Sirattal Mustaqim karya Arraniry sbb :
“Bismillahiirahmanniirahiim
Dengan nama Allah jua aku memulai membaca kitab ini ia jua tuhan yang penyayang pada memberi rezeki akan segala hambanya mukmin dalam negeri dunia lagi yang mengasihani hambanya mukmin dalam negeri akhirat.
Segala puji pujian bagi Allah Tuhan yang menurunkan Qur’an atas hambanya dan di jadikannya dalamnya ilmu Al Awal dan akhir dan di nyatakannya beberapa bayan. Dan tiada juga tinggal daripada suatu perkataan melainkan adalah di nyatakan segala kenyataan daripada hadratnyalah hidayah dan rahmat dan adalah di jadikannya dengan kebajikan akan segala yang membawa iman.
Maka mereka itulah bertambah2x yakin dan nur dan wahidan inilah anugerah Haq Ta’ala akan segala hambanya dengan semata2x kebajikan. Dan di mansuhkan Haq Ta’ala dengan Qur’an itu akan sekalian kitab dan agama supaya bedalah yang benar daripada yang sesat dari kerana inilah di namai akan dia Furqan. Dan di suruhkan Haq Ta’ala segala rasul dan anbianya pada tiap2x masa dan zaman di tunjuk mereka itu akan segala manusia daripada jalan yang sesat dan durhaka.
Dan demikian lagi di jadikan Haq Ta’ala akan segala ulama seperti anbianya daripada segala yang ahli al makrifat dan di taklifkan mereka itu beberapa kitab dan di nyatakannya beberapa mazhab yang sesat. Dan dirikan mereka itu beberapa dalil dan shahih dan beberapa kenyataan akan menyalahkan segala kafir dan wujudiyah yang malahid pada tiap2x masa dan zaman.
Mereka itulah yang di luputkan Allah dan segala rasulnya dan segala malaikat dengan beberapa laknat dari karena bahwasanya mereka itu menghuraikan dengan peri yang tiada layak pada hadratnya yang maha suci. Rahmat Allah dan salamnya atas sekelian anbia dan atas penghulu segala manusia dan atas segala keluarganya dan sahabatnya dan segala tentaranya mereka itulah atas jalan tuhan yang bernama Rahman.
Adapun kemudian dari itu maka berkata hamba yang makhtaj kepada Allah yang mahakaya lagi besar yaitu Sheikh Nuruddin ibnu Ali ibnu Hasanji ibnu Muhammad Hamid nama bangsanya.
Maka tatkala zahirlah kaum wujudiyah yang zindiq malahid lagi sesat yaitu daripada murid Shamsyudin As Sumatrany (Syech Hamzah Fansury) yang sesat. Maka berbantahlah mereka itu dengan kami beberapa hari di hadapan hadrat Sultan yang terlebih shaleh pada masanya di diamkan Allah Ta’ala kiranya akan dia pada sama tengah syurga yaitu Maulana Al Sultan Iskandar Tsani Alaiddin Mughayat Syah yang bergelar Marhum Di Darussalam yang mendirikan agama Allah dengan keteguhan yang amat ajaib.
Dan serta kata mereka itu bahwasanya Allah Ta ’ala diri kamu dan wujud kamu dan kamu dirinya dan wujudnya. Maka kukarang pada membatalkan kata mereka itu yang salah dan segala iktikad mereka itu yang sia2x suatu risalah pada menyatakan bayang bayang dengan yang empunya bayang bayang.
Dan kukata akan mereka itu “Bahwasanya kamu mendakwa diri kamu ketuhanan seperti dakwa Fir’aun katanya akulah tuhan kamu yang maha tinggi. Bahwasanya adalah kamu kaum yang kafir maka masamlah muka mereka itu serta di tundukkan mereka itulah kepalanya dan adalah mereka itu musyrik.
Maka memberi fatwalah segala islam atas kafir mereka itu dan akan membunuh dia dan setengah daripada mereka itu memberi fatwa akan kafirnya dirinya dan setengahnya taubat dan setengahnya tiada mahu taubat dan setengahnya daripada mereka itu yang taubat itu murtad pula ia kembali kepada iktikadnya yang dahulu itu jua.
Kemudian daripada wafat Marhum Di Darussalam maka menitahkan daku sultan yang maha besar dan khafan yang maha mulia ialah yang mendirikan agama Allaha dan memeliharakan syariat rasul Allah yaitu Sultanah Tajjull Alam ShafiatuddinSyah Berdaulat Zhilullah Fiil Alam Inayat Al Sultan Iskandar Muda Johan Berdaulat Inayat Al Sultan Ali Riayat Syah ibnu Al Sultan Alaiddin Riayat Syah ibnu Al Sultan Firman Syah ibnu Al Sultan Muzafar Syah ibnu Al Sultan Inayat Syah (Sultan Ali Mughayat Syah).
Maka menaklifkan suatu kitab yang jamaa’ pada menyatakan segala mazhab dan agama supaya di peliharakan segala mereka itu yang beriman akan iktikadnya daripada tergelincir dan salah. Maka menaklifkan suatu kitab dengan bahasa Jawi dan kunamai akan dia Tabi’in Fii Makrifatul Adiin artinya menyatakan makrifat akan segala agama maka adalah ia seolah2x air yang amat sejuk memuaskan hati yang dahaga kepada jalan Tuhan yang bernama Rahman.
Dan kepada Allah jua aku memohonkan bahwa di jadikan kiranya kitab ini semata2x karena hadratnya dan di tetapkan kiranya akan daku dan akan sekalian Islam atas agama kekasihnya Muhammad SAW maka kujadikan kitab ini dua (2) bab”.
Demikianlah Mukadimah yg tertera pd kitab Sirattal Mustaqim karya Syech Nuruddin Arraniry. Dari mukadimah tsb, kita bisa mengetahui peristiwa apa yg terjadi pd saat itu antara kedua tokoh tsb (Photo, Kitab Sirattal Mustaqim, th 1641, koleksi. Museum Banda Aceh), trm. Ttd Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.

Arakata Nanggroe Pasai

ARAKATA DAN SILSILAH KENEGERIAN PASAI : ASAL USUL BERDIRINYA KENEGERIAN KEUREUTOE YG DIDIRIKAN OLEH TEUKU KEUJRUEN MUELING POTEU AMAT
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)
Berdasarkan manuskrip yg terdapat pada mukadimah arakata di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam waladu) bin Tu Poraja Chik Muluk (Tu Poraja Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu, Aceh Utara. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah adik. dari Sultan Jauharul Alamsyah menjadi Sultan Aceh.
Keturunan Tu Poraja Syik Yamani sampai kepada keluarga ulee balang Pasee.
yang bertuliskan tulisan arab jawi dan saya terjemahkan ke dalam bahasa melayu bercampur bahasa aceh.(belum semua dituliskan)
Ini cucu
Inilah nyak cut bintan
Ini cit
Inilah nyak cut husein
Hijrah nabi sallallahu’alaihi wasallam sanat 1243 hijriah.
Poraja Syhik Yaman anak raja Yaman insya Allah ta’ala
Inilah alamat dari Poraja Syhik Yaman sampai kepada anaknya Poraja Bintan Hulu sampai Teuku Bujang Puteh sampai kepada Cut Hakim Farhamah hingga sampai kepada anak cucunya lalu sampai kepada Tengku Meurah hingga sampai tinggal pada cucunya Tengku Haji Meuraksa atau haji Cut Husein inilah yang ambil salin pada surat zaman peninggalan datuk insya Allah ta’ala.
Adapun Tengku Meuraksa na anak Tengku Abdullah, abdullah na anak Syaikhuna Dalam Poyang atau Tengku Abdussalam inilah Tengku Meurah atau Tengku Hakim Farhamah yang memegang kampong Kayee Adang, jua adanya Tengku Hakim ini anak Bujang Puteh, Tengku Bujang Puteh anak Poraja Syhik Muluk, Poraja Syhik Muluk anak Poraja Syhik Yaman, jua adanya insya Allah ta’ala Poraja Syhik Yaman ini Sultan Yaman jua adanya.
Poraja Syhik Muluk isteri nya 4 orang anaknya 44 orang, satu istri dua anaknya satu jadi akan makanya turun ke air bermudaka kehulu sungai yg lagi bernama miang (tamiang) ada ajin yang bini puteri hijau adapun kemudian satu isteri 9 anaknya dan satu isteri 12 anaknya dan satu isteri 21 anaknya dengan karunia Allah atas Poraja Syhik Muluk ini 44 anaknya masing qadar nya langkah dan rezeki dan pertemuan dan maut. Dengan ini karunia Allah jua masing2 dengan doa ibu dan bapa dengan apuah Poetemeurhom. Jadi raja tujuh dari anaknya. Inilah asal hulu balang mukim tujuh. Dan berlayar ke negeri barat 4 orang satu jadi akan aulia yaitu Tengku Datuk Tapak Tuan, 1 di negeri Daya, 1 di negeri Malaboh Haji (Labuhan Haji) dan satu di negeri Susoeh. 3 orang Poetemeurhom sudah duduk di negeri Tamiang serta poetemeuhom memberi hak dan kebesaran. 1 jadi akan keujruen, 1 jadi akan hakim, 1 jadi akan tandil insya Allah ta’ala. Orang tiga inilah asal mukim negeri Tamiang. dan lagi di Pasi (Pasee) dan Teluk Samawi 4 orang, satu ja na yaitu di Blang Mangat (Puenteut) anaknya dua, 1 laki 1 bini, dan yang duduk di Samakurok Ja Janah dan Ja Tu Seubah di Bayu (Meuraksa) anaknya dua, satu Ja Sangit 2. Ja Tu Madinah (Ja Fakeh) dan Ja Sangit anaknya satu Tu Puenti (Teupin Puenti) dan Ja Intan duduk di Mulieng (Sp. Mueling), anaknya tuan yang kedua (Ja Fakeh) di pidie daerah kuala Ie Leubue insya Allah ta’ala atas anak Poraja Syhik Muluk jadi akan raja 12 orang, jadi akan menteri 5 orang, jadi akan panglima 3 orang jadi akan imam 14 orang, jadi akan bujang 7 orang, dan pulang berlayar ke negeri Yaman 2 orang Abdurrahman dan ‘Ali Akbar yang berlayar dengan do’a ibu dan bapanya, Allah Allahiya saudara jangan berlebih sebagai datuk nenek2x, ini wali dan keluarga jangan lupa jika berlebih nenek potong tameh (tiang) ingat jadi terbalik kebawah seruan datuk nenek. insya Allah ta’ala yang keluar dari Poraja Syhik Muluk dan Poraja Syhik Yaman 44 orang jadi akan wali nikah jua insya Allah ta’ala. Mula2 yang di negeri Aceh ini adalah Syaikhuna Tengku Dalam Poyang dan Tengku Imum Lampaya dan Tengku Imum Sikrak dan Tengku Silang dan Tengku Meuraksa atau Cut Husin dan Tengku Imum Jentaha dan Tengku Imum Lamba’it dan Tengku Imum Jeumpah (jeumpa peusangan) dan Tengku Imum Lamteuba. Dinegeri Pidie mula2x Tengku yaitu Tengku Waladu yang bernama Syaikhuna Abdussalam dan Tengku Imum Paloh mukim tujuh dan Menteri Singahraja dan keujruen tiruesieb (Truseib Tiro) dan Tengku Imum Giging (Keumangan) inilah yang di Pidie anak Poraja Syhik Muluk, dan di Merdue Keujruen Ulim dan yang di negeri Pasi (Pasee) mula2x Ja Najit, 2.. Ja Janah 3. Ja Tu Seubah, 4. Ja Intan dan Keujruen Meusyi (Meusee Peusangan) peut walinya sebelas orang tembusan Tengku Meuraksa Cut Husin, dan yang asal di negeri Gayo raja Lingga keujruen Tamiang dan Tengku Syhik Paloh Tunong Teluk Samawi sudahlah sebelah timur. Sebelah barat mula2x Datuk Malaboh Haji, 2. Datuk Susoeh, 3. Datok Meulala (Keujruen Meulala) negeri Daya dan Syaikhuna Tengku Lhok Tapak Tuan keluar dari orang 44 jua adanya insya Allah ta’ala walhamdulillahi rabbil ‘alamin wala haula wala quwata illa billahil ‘aliyil ‘adhim.
Inilah alamat raja Aceh Sultan Pocut Husin (Sultan Jauharul Alamsyah) turun dari Tengku Meurah (Po Raja Chik Yamani Pasee) turun dari Sultan Yaman yakni Sultan Asta, sanat 827 hijriah.
Asal raja Gayo Lingga keujruen Tamiang turun dari Sultan Muluk (Poraja Chik Yamani Pasee) dari Sultan Yaman. Tuan Zainal Abidin (Sultan terakhir kerajaan Samudera Pasai), anaknya Almarhum Zainal Abidin (Sultan Zainal Abidin Ra Ubabdar) isteri nya Putroe Beutong anak Raja Ibrahim (adik Sultan Ali MughayatSyah), anaknya 2, Sulaiman dan Sultan Lingga Seri Bujaya dibunuh Syhik Sherla, kubur nya dilindungi gajah, sanat 907 hijriah.
(Amaba’du) fanal faqir alhaqir aldhaif alrahi allatif Alsyaikh Nuruddin bin ‘Ali Jinji Muhammad Hamid Al Rani Assyafi’i mazhab washali Bandar Asyi Darussalam. ( adapun ) kemudian dari pada itu maka bahwasanya hamba fakir yang hina lagi dhaif yang harap kepada tuhannya yang amat mengasihani yaitu Alsyaikh Nuruddin bin ‘Ali Jinji ibnu Muhammad Hamid Arrani di tempatnya syafi’i mazhabnya ( maka ) tatkala sampailah iya ke Bandar Aceh tepi sanah sab’i wa arbain ba’dal alif yaumil ahad …….(masih ada sambungannya gak ngerti bahasa arab)
Po Teumeureuhom Mahkota Alam Jauhar Alamsyah (Sultan Iskandar Muda) sanat 1040 Hijrah
Anaknya Tuanku Muhammad (Sultan Muhammad Syah) dan Sulthan Muhammad Dawodsyah (I)
Sulthan Ibrahim ibnu Sulthan Mansursyah (Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah).
‌Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wassalatu wassalamu ‘ala muhammadin nabiyi walmursalin wa’ala alihi wasahbihi ajmain, ama ba’du, inilah sehubungan silsilah datuk nenek, yaitu dari Tu Poraja Syhik Muluk hingga sampai kepada anaknya empat puluh empat jua hingga sampai kepada Syaikhuna Tengku Abdussalam Waladu, anaknya satu Abdul Jamal, dua Abdul Mukmin, tiga Tengku Syhik Dijalong, ke empat Tuan Alhaji Geudong, kelima Teuku Dimueling Keujruen Poteu Amat, ke enam Johan. (Bersambung)
(Photo, Arakata Pasee, Sanad 1243, Meuraksa bayu, koleksi keluarga),trm. Ttd, Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.

Silsilah Ulee Balang Kota Langsa Aceh

Silsilah Kenegrian Langsa Pertama di Pimpin Oleh Datuk Alam Malelo yang memerintah dari tahun 1700 – 1759 M, kemudian berturut-turut Kenegerian Langsa dari tahun 1760 M di Pimpin oleh Teuku Chiek Keujruen Banang (Uléébalang Langsa I) 1760 – 1781 M.
Teuku Chiek Raja Meulila (Uléébalang Langsa II), dan
Teuku Cut Muda Hasan (Uléébalang Langsa III).
Teuku Cut Bentara Blang (Uléébalang Langsa IV) di buang ke Belanda, dan kemudian diasingkan ke Ternate.
Teuku Cut Muda Lam Kuta (Uléébalang Langsa V).
Teuku Cut Banta Beureudan (Uléébalang Langsa VI), dan
Teuku Cut Ali Basyah (Uléébalang Langsa VII).

Sejarah Ulee Balang Nisam

SEJARAH ULEE BALANG NISAM
(Analisa Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)
Berdasarkan catatan belanda “Mededelingen Betrefende De Atjehsche Onderhoorigheden” atau laporan tentang daerah taklukan di Aceh yg dibuat pd tgl 14 mei 1901 mengenai negeri Nisam. Letak geografisnya wilayah ulee balang Nizam (Nisam), disebelah timur berbatasan dgn ulee balang cunda, sebelah selatan berbatasan dgn wilayah lingge gayo, sebelah barat berbatasan dgn ulee balang Sawang, sedangkan sebelah utara adalah pantai selat malaka.
Sejarah berdirinya kenegerian nisam (kec. Dewantara dan nisam sekarang) tak terlepas dari peran Sultan Alaiddin Ibrahim MansyurSyah (1856-1870) sbg seorang Sultan Aceh yg adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Pada masa pemerintahan beliaulah Kesultanan Aceh menjadi sebuah kerajaan yg aman, damai, makmur, sejahtera dan sentosa (baldatun thayyibatun warabbun ghafur), karena berhasil mendamaikan persaingan antara dua dinasty kesultanan aceh yaitu dinasty Alaiddin dan dinasty Jamalullail paska Sultanah terakhir Keumalatsyah lengser pd tahun 1699. Selama kurun waktu 157 tahun (1699- 1856) perebutan kekuasaan dan kudeta berdarah silih berganti terjadi antara kedua dinasty ini. Ketika Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah naik tahta pd th 1856 beliau berhasil mendamaikan kedua kubu dengan mengangkat Tuanku Hasyim Banta Muda dari kubu dinasty Alaiddin sebagai Panglima Perang Besar (Wazirul Harb) kerajaan Aceh Darusalam dan Sayid Abdullah Al Jamalullail (Wan Di Meulek) sbg bendahara dan sekretaris kerajaan (Wazirul Rama Setia) sehingga persaingan dan dendam warisan dpt dihentikan oleh sultan.
Pada masa Sultan Alaiddin Ibrahim MansyurSyah berkuasa beliau berhasil membuka isolasi daerah dgn mendirikan beberapa daerah otonomi baru spt j ulee balang Sawang, dan Nisam di Aceh Utara, ulee balang Idi Rayeuk di Aceh Timur, ulee balang Beutong dan Kaway XVI di Aceh Barat, dsb.
Adapun istilah “Nisam atau Nizam” diambil dari salah satu kata yg berasal dari istilah arab “Nazam” yg artinya keinginan atau kehendak dan harapan dari Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah kpd wilayah tsb.
Dahulunya wilayah ini masuk dalam wilayah pemerintahan Keujruen Peusangan yg disebut dgn kemukiman Blang Panyang yg diperintah oleh Tgk Chik Lampoeh U yg pernah menjadi penguasa keujruen Peusangan. Beliau juga merupakan wali dari Teuku Bentara Kuanta (Tgk Chik Nyak Krueng) selama dalam perwalian kekuasaan sampai beliau dewasa utk diangkat menjadi Raja Peusangan. Setelah Tgk Chik Lampoeh U turun tahta, beliau hanya mendapatkan wilayah kekuasaan yg lebih kecil yaitu Blang Panyang. Mengingat jasa2x beliau kpd sultan yg pernah membantu sultan aceh selama masa kudeta kerajaan, atas bantuan Pangoelee Peunaroe Teuku Bentara Keumangan yg juga sekaligus cucu Tgk Chik Lampoeh U maka ditunjuklah Teuku Mahmud sbg Ulee Balang Nisam dengan gelar Teuku Sri Mahmud Nisam atau yg lebih dikenal Teuku Rhi Mahmud Nisam dgn pusat pemerintahan di Keude Amplah, Nisam. Bersamaan dengan itu Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah juga memberikan izin konsesi lahan kpd pamannya Tuanku Muhammad Taher utk membuka usaha perkebunan lada di Lhok Puepaleh, Kr. Geukueh yg saat ini lahan tersebut telah didirikan Industri pupuk milik PT. Pupuk Iskandar Muda.
Teuku Rhi Mahmud Nisam mempunyai 14 orang anak dari 2 org istri.
Dari pernikahan dgn Pocut Di Meuse, putri Ulee Balang Gloempang Doewa mempunyai 7 org anak yaitu :
1. Teuku Muhammad. Syam
2. Teuku Meuse
3. Teuku Raja Muhammad Ali (Teuku Raja Ma’ Ali)
4. Cut Nyak Faridon
5. Cut Nyak Ruhoy
6. Teuku Lateih (Teuku Latif)
7. Teuku Raja Puteh.
Sedangkan dari Pernikahan dengan Cut Nyak Putroe, putri ulee balang Cunda Teuku Chik Mat Kasa mempunyai 7 org anak yaitu :
1. Teuku M. Zain
2. Teuku Deuruh (Teuku Idrus)
3. Cut Nyak Fatimah Glp. Sulu
4. Teuku Raja Bujang (Bujang Salim)
5. Cut Nyak Ayan
6. Teuku Lutan (Teuku Banta Lutan)
7. Teuku Ali Agam.
Pd th 1873 saat belanda hadir di aceh, ulee balang Nisam masih di pimpin oleh Teuku Rhi Mahmud. Pd tgl 8 Agustus 1874 ulee balang Nisam bersama ulee balang Peusangan, Gloempang Doewa dan Sawang menanda tangani traktat pendek (Korte Velklaring) dgn belanda. Pd th 1882 ketika pecah perang Peusangan Raya karena konflik tapal batas antara Peusangan dan Gloempang Doewa. Ulee balang Nisam bersama Sawang, Cunda, Bayu dan Gloempang Doewa membentuk aliansi yg disebut dgn ulee balang limong (5). Sedangkan ulee balang Peusangan dibantu oleh ulee balang Geudong dan Lingge gayo. Atas Prakarsa Kapten Vermeulen kontrolir belanda di Lhokseumawe, maka pd th 1887 di buatlah deklarasi damai di Keude Amplah, Nisam utk menghentikan pertempuran kedua belah pihak yg bertikai. Perang Peusangan Raya tsb baru berhenti setelah Teuku Chik Syamaun ulee balang Peusangan wafat pd tahun 1899.
Pd th 1901 Teuku Rhi Mahmud wafat, kemudian di gantikan oleh putranya Teuku Raja Ma’ Ali yg juga sekaligus menjabat Zelfbesturder Nisam sampai th 1913. Beliau juga pernah menjabat sbg Zelfbesturder Blang Mangat pd th 1930. Selanjutnya Teuku Raja Ma’ Ali digantikan oleh adiknya Teuku Raja Bujang (Bujang Salim) sampai th 1921. Dikarenakan keterlibatannya dgn pergerakan Sarekat Islam (SI) yg didirikan oleh HOS Cokroaminoto dan oleh pemerintah Belanda beliau diasingkan ke Tanah Merah, Boven Digul Papua. Kemudian Jabatan Zelfbesturder Nisam digantikan oleh adiknya Teuku Banta Lutan sampai berakhirnya era penjajahan belanda. (Photo, Cap Stempel Teuku Sri Mahmud Nizam, th 1891, Koleksi Tropen Museum), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp Doewa.

Sejarah Ulee Balang Cunda

SEJARAH ULEE BALANG CUNDA
(Analisa Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp.Doewa)
Berdasarkan catatan belanda “Mededelingen Betrefende De Atjehsche Onderhoorigheden” atau laporan tentang daerah taklukan di Aceh yg dibuat pd tgl 14 mei 1901 mengenai negeri Cunda. Letak geografisnya wilayah negeri Cunda sbb ; disebelah timur bersinggungan dgn ulee balang Blang Me dan Geudong, sebelah selatan berbatasan dgn wilayah ulee balang Lingge Gayo, sebelah barat dgn berbatasan dengan ulee balang Nisam sedangkan sebelah utara berbatasan dgn Krueng Cunda wilayah kemaharajaan Teluk Samawi.
Pada awalnya negeri ini bernama Keujruen Kanang didirikan oleh Teuku Ja Intan (Tgk Chik Di Glee), beliau merupakan putra dari bekas penguasa kenegerian pasai Meurah Seubat atau yg lebih dikenal Tok Nabat Andarul Fathir Syamsul Alam, dengan pusat pemerintahannya di Buloeh Raya (Buloeh Blang Ara). Adapun istilah Kanang diambil dari bahasa melayu sanskrit yg berarti “tempat makam raja2x” yg memang disekitar wilayah tersebut banyak ditemukan situs2x makam raja kenegerian Pasai paska runtuh kerajaan Samudera Pasai spt : kompleks makam raja-raja kenegerian pasai di gampong Luboek Kliep di Sp, Kramat dan Makam Teuku Ja Intan di Gampoeng Buloeh Mancang (Buloeh Rayeuk). Diksi ini sama halnya seperti nama makam raja aceh ditempat lain, spt Kanang Emas (Kandang Meuh) makam raja2x Lamuri di Lamuri, Aceh Besar atau Kanang XI (Kandang Siblah) makam raja2x Dinasty Alaiddin di daerah Neusu, Banda Aceh atau juga Kanang Tuanku (Kandang Tuanku) makam Tuanku Muhamad Taher, pamannya dari Sultan Alaiddin Ibrahim MansyurSyah (1856- 1870) yg membuka usaha perkebunan lada di Lhok Puepaleh, Krueng Geukueh (lokasi proyek PT. Pupuk Iskandar Muda skrg) yg akhirnya pd th 1980 dibongkar oleh pemerintah daerah dan dipindahkan ke desa Tambon Baroeh. Atau juga bisa merujuk ke Istana Presiden Philipina “Kemala Kanang (Mala Canang)” yg dibangun di atas kuburan raja2x melayu Dinasty Amanillah moyangnya kesultanan Sulu Mindanao. Disitulah penjajah Spanyol mendirikan tempat bersemayam raja Spanyol Philips yg kemudian kelak menjadi negara Philipina dgn ibukotanya Manila.
Belakangan karena pengaruh lafaz arab melayu maka istilah “Kanang” lebih populer dgn sebutan Kandang yg dipakai sebagai nama wilayah kemukiman di Cunda.
Setelah Teuku Ja Intan Wafat dan di makamkan di buloeh mancang (yg belakangan disebut dgn Simpang Kramat karena kuburan Teuku Ja Intan yg terdapat disana dianggap banyak membawa karomah pd masyarakat setempat), maka ulee balang keujruen kanang kemudian di pimpin oleh Teuku Chik Mat Kasa. Pada saat kepemimpinannya, beliau memindahkan pusat pemerintahan negeri Keujruen Kanang dari Buloeh Blang Ara ke Kuta Kareung, Kuala krueng Cunda. Hal ini disebabkan aktifitas bongkar muat di bandar pelabuhan Teluk Samawi yg terus meningkat seiring dgn banyaknya kapal dagang yg hilir mudik keluar masuk disana. Sejak Saat itu Keujruen Kanang berubah menjadi wilayah ulee balang Cunda.
Ulee balang Cunda sendiri dibentuk oleh delapan wilayah ulee balang cut yg disebut dgn ulee balang lapan ( 8 ) yaitu ;
1, Ub, Meuraksa, bayu
2, Ub. Seumasat, Blang Mangat, Puenteut
3. Ub. Mbang
4. Ub. Buloeh Mancang (Buloeh Rayeuk atau Buloeh Raya), Sp. Kramat
5 Ub. Buloeh Blang Ara
6.Ub. Buloeh Beureugang
7. Ub. Paloeh
8. Ub. Blang Lancang, Blang Teupat (belakangan wilayah ulee balang ini hilang dan pd th 1976 dijadikan lokasi Proyek LNG Arun).
Teuku Chik Mat Kasa mempunyai 7 org anak yaitu :
1. Teuku Chik Nyak Dusun, Kuta Kareung, Cunda
2. Teuku Panglima Prang Nisam (Teuku Datoe)
3. Teuku Panglima Prang Meuraksa (Teuku Batang)
4. Teuku Panglima Prang Oejoet (ayah dari Teuku Panglima Prang Agam)
5. Teuku Panglima Prang Tumpok Dalam
6. Cut Nyak Soerat (Cut Atjeh) yg kawin dengan Teuku Bentara Chik, ulee balang Bayu
7. Cut Nyak Putroe yg kawin dengan Teuku Rhi Mahmud Nisam, ulee balang negeri Nisam.
Pada waktu belanda hadir di aceh pd th 1873, ulee balang cunda dipimpin oleh Teuku Chik Nyak Dusun. Beliau juga yg menanda tangani korte volklaring pd tgl 23 juli 1874 berbarengan dgn Teuku Maharaja Mangkubumi Teluk Samawi. Pd th 1882 ketika pecah perang Peusangan Raya, wilayah cunda pernah diduduki oleh pasukan Peusangan yg dipimpin oleh Teuku Chik Muda Peusangan Maharaja Jeumpa sehingga memaksa ulee balang cunda Teuku Chik Johan Mengungsi ke Teluk Samawi. Ulee Balang Peusangan yg waktu itu dipimpin oleh Teuku Chik Syamaun menganggap wilayah Cunda sampai Kuala Meuraksa bagian dari teritorial ulee balang Peusangan berdasarkan sarakata yg dikeluarkan oleh Sultan Aceh kepada moyangnya Teuku Keujruen Chik Peusangan Seutya Raja (Teuku Panglima Perang Dihadjad Pasee bahwa batas negeri Peusangan dari kuala Pandrah sebelah barat sampai kuala Meuraksa sebelah timur.
Setelah wafat Teuku Chik Nyak Dusun maka langsung digantikan oleh cucunya Teuku Chik Johan bin Teuku Chik Lamguegop yg merangkap sbg Zelfbesturder Cunda. Teuku Chik Johan punya 3 org anak yaitu :
1. Teuku Raja Abdullah
2. Teuku Chik Mahmud
3. Teuku M.Said.
Kemudian Teuku Chik Johan digantikan oleh anaknya yg kedua Teuku Chik Mahmud dan Kemudian pd th 1935 jabatan Zelfbesturder cunda Teuku Chik Mahmud digantikan oleh adiknya Teuku M. Said. Disebabkan Teuku M.Said menjalankan pemerintahan yg selalu bertentangan dengan pemerintah Hindia Belanda maka beliau diasingkan ke Ternate, maluku. Kemudian posisi Jabatan ini digantikan oleh keponakannya Teuku Ibrahim Agung bin Teuku Chik Mahmud. Ketika pd tahun 1942 belanda angkat kaki dari indonesia, Teuku M. Said Kembali lagi ke Aceh. Atas jasa baik dari Teuku Muhammad Daudsyah Idi, yg menjadi Asisten Residen Aceh di Kutaraja, maka ditunjuklah Teuku M. Said sebagai Asisten Residen Sigli (Guncho) yg berkedudukan di Lamlo Sigli. Pd tgl 20 Desember. 1945 beliau tewas di Lamlo, Sigli dalam peristiwa huru-hara Perang Cumbok termasuk juga keponakan beliau, Teuku Ibrahim Agung yg hilang diculik di Lhokseumawe oleh pasukan TPR Pesindo. (Photo, Teuku Chik Mahmud, Lhokseumawe, th 1930, Koleksi KITLV), trm. Ttd, Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.