Syekh Yusuf Jamaluddin Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani Atau Kerap dikenal Asta Sayyid Yusuf Alanggawi Habasi Bin Ali Bin Abdullah (3 Juli 1629 – 23 Mei 1699) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia . Ia juga menggelari Tuanta Salamaka ri Gowa (“tuan guru penyelamat kita dari Gowa”) oleh pendukungnya di kalangan rakyat Sulawesi Selatan .
Seorang tokoh yang masih mempunyai daya tarik untuk ditelusuri adalah Syekh Yusuf dari Makassar, Sulawesi Selatan. Syekh Yusuf hidup pada Abad ke-17 dan menjadi seorang ulama, sufi serta pejuang politik yang termasyhur baik di Indonesia maupun di luar negeri, misalnya di Sri Lanka dan Afrika Selatan. Sampai sekarang. Beliau masih dianggap sebagai seorang pahlawan maka cerita mengenai Syekh Yusuf masih dikenang secara turun-temurun.
Sejak masa kecilnya Syaikh Asta Yusuf telah menampakkan kecintaannya pada Pengetahuan Keislaman, terlihat dengan dimulainya pendidikan agama yang diperolehnya dari Daeng ri Tassamang, guru agama kerajaan Gowa. Kitab-kitab seperti Fiqih dan Tauhid sudah selesai dipelajari Syech Asta Sayyid Yusuf dalam waktu beberapa tahun, tetapi yang paling menarik perhatiannya adalah ilmu Tasawuf. Syekh Yusuf belajar dipesantren kepada Al-Allamah Habib Sayyid Alwi Jalaluddin Bafagih(Keturunan Imam Maula Aidid Hadramaut Yaman Keturunan Nabi Saw.), Syekh Yusuf mempelajari Dasar Sanad Thariqah Baharunnur Ba’alawi kepada beliau.
Syaikh Yusuf Al-Makassari banyak melakukan perjalanan ke berbagai tempat untuk memperdalam ilmunya. Beliau menuju Aceh setelah cukup menimba ilmu di Banten. Beberapa tempat selain Banten dan Aceh yang dikunjungi Syaikh Yusuf AlMakassari antara lain Yaman, Mekkah, dan Damaskus sebelum kembali lagi ke Banten. Pada usia 38 tahun, Syaikh Yusuf Al-Makassari berangkat dari Mekkah ke Banten pada tahun 1664.
Padahal ia sudah mendapatkan tiga gelar tarekat dan sempat berguru kepada para syekh tarekat yang terkenal saat itu. Syekh Yusuf tidak puas dengan ilmunya tersebut maka ia memutuskan untuk pergi ke negeri Syam (Suriah) untuk menemui seorang syekh yang paling terkenal dengan kebijaksanaannya, yaitu Syekh Abu al Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi. Syekh Yusuf diberi gelar tarekat Khalwatiyah serta silsilah oleh syekh karena kemajuan amal syariah dan amal kebenaran yang diraihnya. Selain itu, karena pengalaman Syekh Yusuf, ia dikukuhkan dengan gelar ‘Tajul Khalwati Hadiyatullah’ dan hingga kini sering disebut sebagai “Syekh Yusuf al-Taj al-Khalwat al-Maqassari.
Sebelum pergi ke Mekkah untuk berhaji Syekh Yusuf pergi ke negara Yaman, di mana ia belajar di bawah dua anggota tarekat, yaitu Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi dan Syekh Maulana Sayed Ali. Dari sang syekh, ia diberi gelar Tarekat Naqsyabandi sekaligus gelar Tarekat Al-Baalawiyah.Selain lima aliran tarekat tersebut, Syekh Yusuf pernah belajar lebih dari dua belas jenis tarekat lain dan juga diberikan hak mengajar Tarekat. Sebagai akibat dari berbagai jenis aliran yang dipelajarinya, pengetahuan yang tinggi, luas dan mendalam dicapainya sehingga beliau sangat dihormati oleh karena hal itu.
Selain lima aliran tarekat tersebut, Syekh Yusuf pernah belajar lebih dari dua belas jenis tarekat lain dan juga diberikan hak mengajar Tarekat. Sebagai akibat dari berbagai jenis aliran yang dipelajarinya, pengetahuan yang tinggi, luas dan mendalam dicapainya sehingga beliau sangat dihormati oleh karena hal itu.
Ketika musim haji dimulai, Syekh Yusuf pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji kemudian pindah ke kota Madinah untuk melanjutkan studinya. Di sana ia belajar di bawah seorang syekh terkenal bernama Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kurani dan kemudian diberi gelar Syattariyah.
Syekh Yusuf berangkat lagi ke Timur Tengah. Di daerah itu, Syekh Yusuf bermaksud untuk menambah ilmu Islam dan menunaikan rukun haji, ia berangkat pada tahun 1649 dan membutuhkan waktu lima puluh enam hari untuk mencapai Timur Tengah, Hidup, dalam pandangan Syekh Yusuf, bukan hanya untuk menciptakan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi. Namun, kehidupan ini harus dikandungi cita-cita dan tujuan hidup menuju pencapaian anugerah Tuhan.
Syech Asta Yusuf telah lama ingin menuntut ilmu lebih lanjut di Timur Tengah dan guru-gurunya yang di Timur Tengah diharapkan dapat memberinya dorongan lebih jauh mengenai kemajuan-kemajuan pengetahuan Islam di sana. Tujuan pertama Yusuf untuk menuntut ilmu adalah menuju pusat Islam di Mekah pada tanggal 22 September 1644 dalam usia 18 tahun. Syech Asta Sayyid Yusuf berangkat menumpang kapal Melayu dan menuju Banten. Syech Yusuf kemudian tertarik untuk menuntut ilmu di Banten dan menjalin persahabatan dengan kalangan kerajaan Banten, antara lain dengan pangeran Surya, yang kelak menggantikan ayahnya dengan nama resmi Abdul Fatah yang terkenal kemudian dengan gelar Sultan Ageng Tirtayasa. Syaikh Yusuf kemudian merantau ke Aceh untuk berguru kepada Syaikh
Nuruddin al-Raniri. Setelah menerima ijazah tarekat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin, Syekh Yusuf berusaha ke Timur Tengah. Beliau ke Arab Saudi melalui Srilanka. Di Arab Saudi, mula-mula Syekh Yusuf mengunjungi negeri Yaman, berguru pada Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi. Ia dianugerahi ijazah tarekat Naqsyabandi dari gurunya ini.
Syekh Yusuf di Afrika Selatan
Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.
Perjalanan Syekh Yusuf dilanjutkan ke Zubaid, masih di negeri Yaman, menemui Syekh Maulana Sayed Ali Al-Zahli.. Dari gurunya ini Syekh Yusuf mendapatkan ijazah tarekat Assa’adah Al-Baalawiyah. Setelah tiba musim haji, beliau ke Mekah menunaikan ibadah haji. Syaikh Yusuf melanjutkan perjalannya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji, dan ke Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW.
Dilanjutkan ke Madinah, berguru pada syekh terkenal masa itu yaitu Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin Al-Kurdi Al-Kaurani. Dari Syekh ini diterimanya ijazah tarekat Syattariyah. Belum juga puas dengan ilmu yang didapat, Syekh Yusuf pergi ke negeri Syam (Damaskus) menemui Syekh Abu Al Barakat Ayyub Al-Khalwati Al-Qurasyi. Gurunya ini memberikan ijazah tarekat Khalwatiyah & Gelar tertinggi, Al-Taj Al-Khalawati Hadiatullah setelah dilihat kemajuan amal syariat dan amal Hakikat yang dialami oleh Syekh Yusuf.
Sebelum pulang ke Indonesia, Syekh Yusuf pernah menikah di Mekkah, tetapi istrinya meninggal waktu melahirkan Syech Muhammad Zakariyah . Beliau menikah lagi di Jeddah dengan seorang putri yang juga asli Makassar.
Selama berada di Timur Tengah beliau sempat berguru pada ahli agama terkenal. terutama ahli Tarekat, dan pengetahuan beliau terhadap agama Islam semakin bertambah. Megenai lamanya waktu Syekh Yusuf merantau, ada dua pendapat. yaitu pendapat Abu Hamid yang mengatakan bahwa beliau kembali ke Indonesia.
Ajaran Syekh Yusuf mengenai proses awal penyucian batin menempuh cara-cara moderat. Kehidupan dunia ini bukanlah harus ditinggalkan dan hawa nafsu harus dimatikan sama sekali. Melainkan hidup ini harus dimanfaatkan guna menuju Tuhan. Gejolak hawa nafsu harus dikuasai melalui tata tertib hidup, disiplin diri dan penguasaan diri atas dasar orientasi ketuhanan yang senantiasa melingkupi kehidupan manusia.
Khalawatiyah Syekh Yusuf al-Makassary, adalah tarekat yang dinisbatkan kepada Syekh Yusuf Abu alMahasin Tajul Khalwatiy al-Makassary atau yang dikenal dengan nama lain Tuanta Salamaka, seorang sufi ulama dan pejuang Makassar abad ke-17. Syekh
Yusuf tidak saja pengaruhnya di bumi nusantara, melainkan sampai ke Timur Tengah, Srilangka, dan ke Afrika Selatan.
Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassary mengalami perkembangan pesat pada masa mursyid Allahu Yarham Puang Ramma sejak tahun 1950-an. Agar keber-lanjutannya bertahan dan terorganisir maka tarekat Syekh Yusuf pasca Puang Ramma, yakni sejak masa kemursyidan Puang Makka pada tahun 2004 dibentuklah sebuah Jam’iyah, yakni Jam’iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassary.
Kerajaan Gowa-Tallo merupakan dua kerajaan kembar, pada pertengahan abad ke-16 M raja Makkasar membagi kerajaan ini kepada kedua puteranya menjadi dua. Yang tua menjadi raja di Gowa/Manga’rangi Daeng Manrabbina (raja ke-14 Gowa), dan Sultan Alaudin adalah nama raja Gowa setelah masuk Islam, sedangkan yang muda menjadi raja di Tallo setelah masuk Islam. Kedua raja tersebut merupakan raja pertama yang masuk Islam pada awal abad ke-17 dan diikuti seluruh rakyat Sulawesi, Raja Manga’rangi Daeng Manrabbina masuk Islam pada Jumat siang tanggal 20 September 1605 M (9 Jumadil Awal 1005 H) dari Khatib Tunggal Abdul Makmur dengan gelarnya yaitu Datok ri Bandang. Datok ri Bandang (Abdul Makmur), Datok Suleman (Sulaiman) dan Datok ni Tio (Abdul Jawad) dari Minangkabau, Aceh diminta raja Gowa untuk mengajarkan Islam di Sulawesi.7 Akhirnya seluruh raja besar dan kecil di Sulawesi Selatan berhasil diislamkan oleh ketiga Datok tersebut, walaupun kemudian muncul perang antara kerajaan Makkasar (kerajaan Gowa-Tallo) dengan kerajaan Bugis (kerajaan Bone, Soppeng, dan Wajo) yang menolak ajakan pengislaman.Masyarakat Bugis menganggap perang tersebut sebagai perang islamisasi (perkenalan) yang menimbulkan banyak korban jiwa dan rasa dendam. Pada awal abad ke-17, Kerajaan Gowa mengalami berbagai peristiwa berupa perang damai dan juga perjanjian damai dengan kerajaan tetangga.
Dalam situasi tersebut, kemudian lahir seorang putera Makasar yang terkenal dengan sebutan Taunta Salamaka (junjungan kita yang membawa keselamatan). Lahir pada tanggal 8 Syawal 1036 H atau 3 Juli 1629 M. Taunta Salamaka merupakan putera daerah Makasar. Ia adalah Syaikh Yusuf Taj al-Khalwati al-Makassari. Syaikh Yusuf al-Makassari hidup pada abad ke-17 (1629-1699 H) dan wafat di negeri pengasingan (Afrika Selatan) sebagai orang buangan kompeni Belanda, Syaikh Yusuf al-Makassari merupakan seorang sufi dan syaikh tarekat. Selain itu beliau adalah seorang ulama, mufti, dan seorang penulis.10 Semua karya Syaikh Yusuf ditulis mengunakan bahasa Arab dengan pengalamanya belajar ke Yaman, Mekah, Baghdad dan lain-lain. Untuk mendalami ilmunya. Sedangkan nama aslinya adalah (Asta) Muhammad Yusuf Angkowi Habasi dan terkenal dengan sebutan asy-Syaikh al-Hujj Yusuf Abu Mahasin Hadiyahtullah Taj al-Khalawati al-Makassari al-Bantani. serta telah memperkenalkan tarekat Khaltawiyah di Makasar sesuai dengan ijazah yang diterimanya yaitu ijazah Tajul Khalwati. Kemudian beliau meningalkan Makasar dan pergi haji tahun 1644 H ketika Syaikh Yusuf di Madinah, beliau menerima tarekat khaltawiyah dari ‘Abd al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al- Qurasyi di Damaskus. Kemudian berguru dan berbai’ah menjadi khalifah Tarekat Khaltawiyah dan mendapat ijaza untuk mengajarkan tarekat ini khusunya kepada masyarakat Makasar.
Setelah pulang dari haji tahun 1670 H, Syaikh Yusuf tidak langsung pulang ke Makasar, akan tetapi beliau singgah dulu di Baten. Karena sebelum ia pergi ke Timur Tengah, Syaikh Yusuf sudah bersahabat dengan Sultan Ageng Tirtayasa (Abdul Fatah) yang merupakan putra Sultan Abu al-Mafakhir Abdul Kadir (1598-1650), penguasa kerajaan Banten. Agar persahabatan Sultan Ageng dengan Syaikh Yusuf tetap terjalin maka Syaikh Yusuf al-Makassari dinikahkan dengan puteri Sultan Ageng. Sultan Ageng Tirtayasa mempunyai dua orang putera yaitu pangeran Purbaya dan ‘abd al-Qahhar .
Untuk amalan ketarekahan, maka diperlukan
mursyid, yakni pemimpin spiritual yang membimbing jamaah. Diyakini dalam dunia tarekat bahwa mursyid sekaligus imam dan guru yang dapat mengantarkan jamaah untuk sampai kepada Allah (ma’rifatullah) sesuai ajaran al-Qur’an dan Sunnah. Mursyid ini lazimnya juga disebut syekh, kedudukannya sebagai imam yang bisa menunjukkan jamaahnya ke jalan benar dan menuntun Jamaah dalam beribadah kepada Allah swt secara baik dan benar serta mencintai rasul-Nya. Mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf pasca Syekh Yusuf Rahimahumullah yang fokus menjadi kajian penelitian dalam buku ini, adalah dari jalur Abul Fatih Abdul Bashir Tuang Rappang. Beliau khalifah Syekh Yusuf yang pertama kali menyebarkan tarekatnya pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-19, Sultan Abd al-Jalil (1677-1709). Tuang Rappang kemudian mengangkat Sultan Abdul Qadir Karaeng Majannang sebagai badal khalifah, yang kelak kemudian hari menjadi mangkubumi Kerajaan Gowa pada masa raja ke 24, I Mallawa Gau Sultan Abdul Khaer (1735-1737). Karaeng Majannang inilah memiliki peran penting dalam mengembangkan Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf di petinggi Kerajaan Gowa dan di kalangan masyarakat makassar pasca Tuang Rappang. Di istana Kerajaan Bone, Tuang Rappang mengangkat Sultan Alimuddin Idris Lapatau sebagai badal khalifah, Raja Bone ke-15 (1696-1714), kemenakan Arung Palakka yang memiliki peran penting dalam menyebarkan tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf di daerah Bugis.Di kalangan ilmuan/ulama, Tuan Rappang mengangkat Syekh Abu Said al-Fadhil sebagai badal khalifah, selanjutnya diwariskannya ke Syekh Abd. Majid Nuruddin. Keduanya ulama berasal Aceh, Sumatera yang belajar di Bontoala tahun 1770-an. Syekh Abd. Majid Nuruddin kemudian memindahkan sekaligus mengembalikan ijazah tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf ke cucu Sayyid Ba’Alwi Assegaf, guru Syekh Yusuf Rahimahumullah, yakni Sayyid Abdul Gaffar Assegaf sebagai pelanjut kakeknya. Sayyid Abdul Gaffar Assegaf sebagai mursyid dan Qadhi Bontoala (1759-1814), sekaligus pengasuh pengajian tasawuf di Bontoala, sebuah lembaga pendidikan tempat Syekh Yusuf Rahimahumullah belajar sebelumnya, meng-ijazahkan tongkat
kemursyidan kepada anaknya, Sayyid Muhammad Zainuddin bin Abdul Gaffar Assegaf. Sayyid Zainuddin Assegaf kemudian
mengijazahkan kemursyidan Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf kepada putra-putranya. Di antaranya adalah Sayyid Abd. Qadir al-Saqqaf, ke Sayyid Abd. Rahman al-Saqqaf ke Sayyid Badi’ al-Samawat alAsseqaf ke Sayyid Abd. Rahim bin Thalib Al-Asseqaf ke Sayyid Muhammad Husain Asseqaf ke Syekh Sayyid
Abd al-Muththalib Assegaf Puang Lallo.
Dengan demikian Syekh Yusuf mengajarkan kepada muridnya untuk menemukan kebebasan dalam menempatkan Allah Yang Mahaesa sebagai pusat orientasi dan inti dari cita, karena hal ini akan memberi tujuan hidup itu sendiri.
Hal itu merisaukan Belanda. Mereka menganggap Syekh Yusuf tetap merupakan ancaman, sebab dia bisa dengan mudah mempengaruhi pengikutnya untuk tetap memberontak kepada Belanda. Lalu dibuatlah skenario baru; lokasi pembuangannya diperjauh, ke Afrika Selatan.
Kendati putra Nusantara, namanya justru berkibar di Afrika Selatan. Ia dianggap sebagai sesepuh penyebaran Islam di negara di benua Afrika itu. Tiap tahun, tanggal kematiannya diperingati secara meriah di Afrika Selatan, bahkan menjadi semacam acara kenegaraan. Bahkan, Nelson Mandela yang saat itu masih menjabat presiden Afsel, menjulukinya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.
Menekuni jalan dakwah
Bulan Juli 1693 adalah kali pertama bagi Syekh Yusuf dan 49 pengikutnya menginjakkan kaki di Afrika Selatan. Mereka sampai di Tanjung Harapan dengan kapal De Voetboog dan ditempatkan di daerah Zandvliet dekat pantai (tempat ini kemudian disebut Madagaskar).Di negeri baru ini, ia kembali menekuni jalan dakwah. Saat itu, Islam di Afrika Selatan tengah berkembang. Salah satu pelopor penyebaran Islam di Afrika Selatan, Imam Abdullah ibn Kadi Abdus Salaam atau lebih dikenal dengan julukan Tuan Guru(mister teacher).Tuan Guru lahir di Tidore. Tahun 1780, ia dibuang ke Afrika Selatan karena aktivitasnya menentang penjajah Belanda. Selama 13 tahun ia mendekam sebagai tahanan di Pulau Robben, sebelum akhirnya dipindah ke Cape Town. Kendati hidup sebagai tahanan, aktivitas dakwah pimpinan perlawanan rakyat di Indonesia Timur ini tak pernah surut.
Jalan yang sama ditempuh Syekh Yusuf. Dalam waktu singkat ia telah mengumpulkan banyak pengikut. Selama enam tahun di Afrika Selatan, tak banyak yang diketahui tentang dirinya, sebab dia tidak bisa lagi bertemu dengan jamaah haji dari Nusantara. Usianya pun saat itu telah lanjut, 67 tahun.
Beliau tinggal di Tanjung Harapan sampai wafat tanggal 23 Mei 1699 dalam usia 73 tahun. Oleh pengikutnya, bangunan bekas tempat tinggalnya dijadikan bangunan peringatan. Sultan Banten dan Raja Gowa meminta kepada Belanda agar jenazah Syekh Yusuf dikembalikan, tapi tak diindahkan. Baru setelah tahun 1704, atas permintaan Sultan Abdul Jalil, Belanda pengabulkan permintaan itu. Tanggal 5 April 1705 kerandanya tiba di Gowa untuk kemudian dimakamkan di Lakiung keesokan harinya.
Melalui haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh dari Sri Lanka ke Ceylon, Afrika Selatan, pada 22 jamaah Desember 1694 .Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi’an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.
Masa perjuangan
Ketika Kesultanan Gowa mengalami kekalahan perang terhadap Belanda , Syekh Yusuf pindah ke Banten dan diangkat menjadi mufti di sana. Pada periode ini Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam, dan Syekh Yusuf memiliki murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai.
Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682 , Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Srilanka pada bulan September 1684.
Kedatangan Syech Yusuf
Di Sri Lanka , Syekh Yusuf aktif dalam menyebarkan agama Islam. Ia memiliki ratusan murid, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi’an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.
Melalui haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh dari Sri Lanka ke Ceylon, Afrika Selatan, pada 22 jamaah Desember 1694 .Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi’an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.
Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh, Afrika Selatan, pada bulan Juli 1693.
Murid-murid Syekh Yusuf yang menganut tarekat Khalwatiyah terdapat di Banten, Srilanka, Cape Town, dan beberapa negara di sekitarnya. Mayoritas orang-orang Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan masih mengamalkan ajarannya sampai sekarang ini.
Dimensi tasawuf Syekh Yusuf bergerak dalam konsep keyakinan terhadap Allah, mengelaborasi konsep tauhid sebagai pintu masuk untuk mengenal dzat yang Maha Besar, Allah Maha Agung. Inilah jalan pembuka, yang disadari Syekh Yusuf sebagai pelajaran awal bagi pengikutnya untuk mengenal Allah, mengenal Sang Pencipta.
Dalam risalah al-Futuhah al-Ilahiyyah, Syekh Yusuf merinci rukun tasawuf dalam sepuluh perkara. Bagi Syekh Yusuf rukun tasawuf ini, menjadi penting bagi salik untuk berada dalam garis perjalanan mendekat menuju-Nya. Sepuluh rukun tasawuf, yakni:
Pertama, Tahrid al-Tauhid, memurnikan ketauhidan kepada Allah, dengan memahami makna keesaan Allah, yang disarikan dari kandungan surat al-Ikhlas. Selain itu, meyakini Allah dengan menjauhi sifat tasybih dan tajsim.
Bagi Syekh Yusuf, manusia yang sempurna (al-insan al-kamil) merupakan manusia yang sampai ke makam ma’rifat. Bukan hanya manusia biasa yang berislam secara dangkal. Syekh Yusuf memberi penekanan tentang hakikat ma’rifat dalam kekhususan tingkatan manusia sebagai al-insan al-kamil. Manusia sempurna akan ingat Allah dalam segala urusan, kapanpun dan di manapun berada.
PENDIDIKAN
Lahir di tanah Bugis, Syekh Yusuf mendapat tempaan pendidikan Islam dari keluarga dan ulama di kampungnya. Beliau mengaji al-Qur’an kepada Daeng ri Tamassang. Setelah itu, ia berkelana ke pesantren Bontoala untuk mengaji ilmu-ilmu bahasa, semisal Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan mantiq.
Pada waktu itu, Syekh Yusuf mengaji kepada ulama asal Yaman, Syed Ba’alawi bin Abdullah, yang dikenal sebagai al-allamah Tahir, pengasuh pesantren Bontoala. Setelah menamatkan belajar di Bontoala, Syekh Yusuf melanjutkan mengaji kepada Syekh Jalaluddin Aidit, ulama asal Aceh yang mengembara ke Bugis. Di bawah asuhan Syekh Jalaluddin, di pesantren Cikoang, belajar selama beberapa tahun. Syekh Jalaluddin kemudian mengutus Syekh Yusuf untuk belajar ke tanah Hijaz, untuk mengaji lebih intens kepada ulama-ulama Haramain.
Tak lama berselang, pada 22 September 1644, Syekh Yusuf berangkat menuju Hijaz, dengan menggunakan kapal penumpang. Pada waktu itu, transportasi laut dari kawasan timur Nusantara melalui Banten untuk menyusuri selat Malaka, hingga menembus ke kawasan pesisir Arab.
Ketika singgah di Banten, Syekh Yusuf berkenalan dengan putra mahkota kerajaan Banten, Abdul Fattah, yang merupakan putra Sultan Abu al-Mafakhir Abdul Kadir (1598-1650), penguasa kerajaan Banten.
Selain Banten, dalam perjalanannya, Syekh Yusuf singgah di Aceh. Di kawasan Serambi Makkah ini, Syekh Yusuf melakukan komunikasi dengan ulama dan pemimpin thariqah al-Qadiriyah di Aceh, Syekh Muhammad Jilani bin Hasan bin Muhammad Hamid al-Raniry. Ketika singgah di Banten dan Aceh, Syekh Yusuf menghabiskan waktu selama sekitar 5 tahun, untuk melakukan interaksi dengan ulama setempat.
Dalam perjalanan panjangnya, Syekh Yusuf singgah di Yaman, atas saran dari gurunya selama di Aceh, Syekh Muhammad Jilani. Di Yaman, Syekh Yusuf berguru kepada Syekh Abu Abdillah Muhammad Abdul Baqi (w. 1664), ulama terkenal di Yaman, khalifah tarekat an-Naqsyabandiyah. Syekh Yusuf tidak berhenti di satu titik, di satu guru. Ia terus berupaya menyegarkan dahaga spritual, dahaga pengetahuannya. Dalam pengembaraannya, Syekh Yusuf meneruskan perjalanan ke Bandara al-Zubaid, berguru ke Syed Ali al-Zubaidy (w. 1084), seorang muhaddits dan sufi. Dengan Syed Ali, Syekh Yusuf mendapatkan ijazah thariqah dari silsilah keluarga al-Sadah al-Ba’alawiyah.
Perjalanan panjang di Yaman, diteruskan menembus Makkah untuk menunaikan ibadah Haji. Kemudian, Syekh Yusuf menuju Madinah untuk ziarah ke makam Rasulullah Saw. Di kota ini, Syekh Yusuf berguru kepada Syekh Ahmad al-Qusysyi (w. 1661), Mullah Ibrahim al-Kawrany (w. 1690), dan Hassan al-Ajamy (w. 1701). Tiga ulama inilah, yang menjadi referensi keilmuan dan tradisi tasawuf yang menyambungkan jaringan ulama Nusantara dengan ulama Haramain.
Syekh Yusuf masih belum puas dengan dahaga pengetahuan, dan kehausan akan guru yang mencerahkan. Ia terus berjalan menuju Syam (Damaskus) dan Turki. Di Syam, Syekh Yusuf memperdalam pengetahuan, dan mengasah kepekaan bathin, kepada beberapa guru. Di antaranya, Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad al-Khalwaty al-Quraishi. Setelah berkelana Syam dan Turki, Syekh Yusuf kembali ke Makkah, untuk mengaji dan mengajar.
Ketika musim haji tiba, Syekh Yusuf mengajar santri-santri Nusantara, terutama yang berasal dari kawasan Bugis. Di antara murid-muridnya, ialah Syaih Abu al-Fath Abdul Basir al-Darir (Tuan Rappang), Abdul Hamid Karaeng Karunrung dan Abdul Kadir Majeneng, merekalah yang kemudian meneruskan ajaran tarekat Khalwatiyyah Syekh Yusuf di tanah Bugis.
SOSOK SUFI
Bagaimana sufisme Syekh Yusuf, yang diwariskan kepada keturunan dan pengikutnya? Dalam pandangan Syekh Yusuf, Allah tidak ada yang menyerupai, tidak ada yang menandingi.
إ نه تعالى هو المو صوف بأ ية : ليس كمثله شى ء وسورة الأ خلاص
“Sesungguhnya, Allah Ta’ala disifati dengan ayat al-Qur’an al-Shura ayat II, yang bermaksud: Tiada Tuhan apapun yang menyerupai-Nya”.
Konsep tauhid Syekh Yusuf tidak lepas dari konsep tauhid ahl as-sunnah wal-jama’ah yang menetapkan zat dan sifat bagi Allah, sebagaimana yang terkandung dalam al-Qur’an. Syekh Yusuf menyebutnya sebagai um al-i’tiqad, induk dari keimanan. Baginya, ayat tersebut menegaskan bahwa dasar Tauhid yang sebenarnya mesti dipegangi dan diyakini. Bahwa, unsur-unsur ketauhidan yang mesti diyakini orang yang menjalani suluk (pendekatan), di antaranya:
(1) Tauhid al-Ahad, meyakini bahwa sesungguhnya Allah adalah wujud Qadim (tidak berpemulaan), qadim bi-nafsih (berdiri sendiri), muqawwim lighairih (mengadakan selain-Nya). Allah Maha Tunggal, tidak bermula wujud-Nya, tiada ujung-Nya, dan tiada serupa-Nya.
(2) Tauhid al-Af’al, meyakini bahwa sesungguhnya Allah, pencipta segala sesuatu. Dialah yang memberi daya dan kekuatan dalam melaksanakan segala urusan. Allah berkehendak, dan semua kehendak manusia berada dalam kehendak Allah.
(3) Tauhid al-Ma’iyyah, meyakini bahwa sesungguhnya Allah bersama hamba-Nya, di manapun berada.
(4) Tauhid al-Ihatah, meyakini bahwa sesungguhnya Allah meliputi segala sesuatu.
Dimensi tasawuf Syekh Yusuf bergerak dalam konsep keyakinan terhadap Allah, mengelaborasi konsep tauhid sebagai pintu masuk untuk mengenal dzat yang Maha Besar, Allah Maha Agung. Inilah jalan pembuka, yang disadari Syekh Yusuf sebagai pelajaran awal bagi pengikutnya untuk mengenal Allah, mengenal Sang Pencipta.
Dalam risalah al-Futuhah al-Ilahiyyah, Syekh Yusuf merinci rukun tasawuf dalam sepuluh perkara. Bagi Syekh Yusuf rukun tasawuf ini, menjadi penting bagi salik untuk berada dalam garis perjalanan mendekat menuju-Nya. Sepuluh rukun tasawuf, yakni:
Pertama, Tahrid al-Tauhid, memurnikan ketauhidan kepada Allah, dengan memahami makna keesaan Allah, yang disarikan dari kandungan surat al-Ikhlas. Selain itu, meyakini Allah dengan menjauhi sifat tasybih dan tajsim.
Kedua, faham al-Sima’i, bermaksud memahami tata cara menyimak petunjuk dan bimbingan Syekh Mursyid dalam menjalani pendekatan diri, kepada Allah.
Ketiga, Husn al-Ishra, bermaksud memperbaiki hubungan silaturahmi dan pergaulan.
Keempat, Ithar al-Ithar, bermaksud mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri demi mewujudkan persaudaraan yang kukuh.
Kelima, tark al-ikhtiyar, bermaksud berserah diri kepada Allah tanpa i’timad kepada ikhtiar sendiri.
Keenam, surat al-wujd, memahami secara jernih hati nurani yang seiring kehendak al-Haq.
Ketujuh, al-kahf an al-khawatir, bermaksud membedakan yang benar dan salah.
Kedelapan, khatrat al-safar, bermaksud melalukan perjalanan untuk mengambil i’tibar dan melatih ketahanan jiwa.
Kesembilan, tark al-iktisab, bermaksud mengandalkan usaha sendiri, akan tetapi lebih bertawakkal kepada Allah setelah berusaha. Kesepuluh, tahrim al-iddihar, bermaksud tidak mengandalkan pada amal yang telah dilakukan, melainkan tumpuan harapannya kepada Allah.
Bagi Syekh Yusuf, manusia yang sempurna (al-insan al-kamil) merupakan manusia yang sampai ke makam ma’rifat. Bukan hanya manusia biasa yang berislam secara dangkal. Syekh Yusuf memberi penekanan tentang hakikat ma’rifat dalam kekhususan tingkatan manusia sebagai al-insan al-kamil. Manusia sempurna akan ingat Allah dalam segala urusan, kapanpun dan di manapun berada.
SOSOK PEJUANG
Kisah perjuangan Syekh Yusuf dalam mempertahankan kedaulatan di bumi Nusantara menjadikan dirinya diasingkan di Ceylon (Srilangka) dan Afrika Selatan. Syekh Yusuf tidak hanya milik masyarakat Bugis, namun juga warga muslim Nusantara, Ceylon dan Afrika.
Presiden Afrika Selatan, pada 1994, menetapkan Syekh Yusuf sebagai pejuang kemanusiaan. Sementara, di negeri ini, Syekh Yusuf dianggap sebagai waliyullah yang menyambungkan sanad keilmuan, menggerakkan perjuangan melawan kolonialisme hingga mewariskan jejaring tarekat yang dianut keluarga dan muridnya hingga kini.
Pada masa hidupnya, Syekh Yusuf membawa perubahan penting dalam perjuangan dakwah yang diembannya. Syekh Yusuf dikenal di Kesultanan Banten, Tanah Bugis (Sulawesi Selatan), Ceylon (Sri Langka), dan Cape Town (Afrika Selatan). Dalam pengasingan di Ceylon dan Capetown, Syekh Yusuf mengembangkan Islam dengan mengajar warga, hingga menjadi komunitas muslim di negeri tersebut. Jejak komunitas muslim dan keturunan Syekh Yusuf di Ceylon dan Capetown masih dapat dilacak hingga kini.
Silsilah Beliau Syech Asta Yusuf AlAnggawi Habasi Bin Ali Bin Abdullah Bin Jarullah Bin Abd Aziz Bin Muhammad Bin Ahmad Al Angkowi (Al Anggawi) / Angga.
WAFAT
Syekh Yusuf wafat pada 23 Mei 1699 di Capetown, Afrika Selatan. Beliau dikenang sebagai pejuang, jembatan Ulama Nusantara dan Timur Tengah, serta sufi yang mengajarkan lautan ilmu kepada murid-muridnya
PENGHARGAAN
Pada 2009, Syekh Yusuf mendapatkan penghargaan Oliver Thambo, penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan. Penghargaan ini penting untuk mengenang sosok Syekh Yusuf di dataran Afrika, atas jasa besarnya dan menjadi inspirasi warga. Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki, menyerahkan penghargaan langsung kepada tiga ahli warisnya, di antaranya Andi Makmun dan Syachib Sulton. Wapres Jusuf Kalla menyaksikan langsung prosesi penyerahan penghargaan ini, di Union Building, Pretoria, Afrika Utara
Makam Syekh Yusuf di Cape Town
Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela , mantan presiden Afrika Selatan , menyebutnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.
Makam & Gelar Pahlawan Nasional
Jenazah Syekh Yusuf Tajul Khalwati dibawa ke Gowa atas permintaan Sultan Abdul Jalil (1677-1709) dan dimakamkan kembali di Lakiung, pada April 1705. Kemudian Syekh Yusuf Allahu yarham dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto dengan SK Presiden : Keppres No. 071 / TK /1995, Tgl. 7 Agustus 1995. [7] Pada tahun 2005, Syekh Yusuf dianugerahi penghargaan Supreme Companion OR Tambo in gold, untuk kepala negara dan, dalam kasus khusus, kepala pemerintahan (SCOT) pada 27 September 2005 kepada ahli warisnya yang disaksikan oleh Wapres RI. M. Yusuf Kalla di Pretoria Afrika Selatan.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.