Sejarah Maharaja Lhokseumawe

SEJARAH KEMAHARAJAAN LHOKSEUMAWE
(Analisa Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)
Berdasarkan catatan belanda “Mededelingen Betrefende De Atjehsche Onderhoorigheden” atau laporan tentang daerah taklukan di Aceh yg dibuat pd tgl 14 mei 1901 mengenai negeri Lho’Semawe. Letak geografisnya wilayah negeri Lho’semawe sbb ; disebelah timur berbatasan dgn teluk Pusoeng, Kuala Meuraksa ulee balang Bayu, sebelah selatan berbatasan dgn Krueng Cunda wilayah ulee balang Cunda, sebelah barat dgn Kuala Mampelam ulee balang Blang Lancang sedangkan sebelah utara adalah pantai Selat Malaka. Pulau lho’semawe yg hanya mempunyai luas daratan ±11 km2 menyatakan takluk kpd belanda pd tgl 23 juli 1874 setelah wilayah pesisir timur aceh juga lebih dulu takluk.
Dahulu pulau ini disebut dgn Bandar Teluk Samawi yg artinya “pelabuhan teluk langitan” yg diambil dari istilah bahasa arab “samawi” yg artinya langit. Tak bisa dipastikan kapan Bandar Teluk Samawi muncul pertama kalinya tapi yg pastinya Bandar Teluk Samawi sudah ada sejak jaman kerajaan Samudera Pasai. Bahkan Bandar Teluk Samawi lebih duluan hadir keberadaannya dgn Bandar Malaka yg didirikan oleh Parameswara (Sultan IskandarSyah) pada awal abad ke 14.
Kapten Von Schmidt, seorang kapten laut Belanda, mencatat dalam bukunya, Telok Semawe, de Beste Haven op Atjeh’s Noordkust (Teluk Samawi, Pelabuhan Terbaik di Pantai Utara Aceh), 1887, bahwa Teluk Samawi terletak sekitar 6 mil sebelah barat Diamont Point (titik timur laut pulau Sumatra), dan telah diperuntukkan untuk perdagangan. Pantai sebelah baratnya merupakan kedudukan dari Negeri Teluk Samawi.
Sambil memuat sebuah peta Teluk Samawi dalam bukunya itu, Kapten laut Belanda ini juga menyatakan bahwa Teluk Samawi memiliki lokasi yang bagus, di mana dalam waktu yang sama, ratusan kapal besar dapat menemukan tempat berlabuh yang bagus, dan kapal-kapal kecil dalam jumlah yang banyak dapat bersandar di dekat pantai. Bahkan, dalam kondisi angin timur laut yang bertiup terus menerus, rumpun-rumpun bambu dan pantai dapat bertahan di sepanjang laguna (danau) yang tidak hanya cocok untuk kapal-kapal kecil, tapi juga untuk kapal yang dapat dilayari.
Kemaharajaan Teluk Samawi didirikan oleh Teuku Sri Maharaja Mangkubumi Abdullah pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Jauharul Alamsyah berkuasa (1795-1824) dgn pusat pemerintahan di gampong Kuta Blang, Lhokseumawe.
Bandar Teluk Samawi memegang peranan penting ketika pernah menjadi pusat pemerintahan sementara kesultanan Aceh Darussalam selama kurun waktu 1815-1818. Ketika itu pd th 1815 pemerintahh Sultan Alaiddin Jauharul Alamsyah di kudeta oleh Sultan Syarif Saiful Alamsyah Al Jamalullail sehingga memaksa sultan mengungsi ke Teluk Samawi, di sanalah kemudian Sultan Alaiddin Jauhar Alamsyah menerbitkan mata uang “keuh” atas namanya dengan disertai tahun 1229 H dan negeri tempat dicetak yaitu Teluk Samawi. Selama kurang lebih empat tahun Sultan Jauharul Alamsyah menjalankan pemerintahan di pengasingan maka utk mendukung jalannya pemerintahan di pengasingan, sultan mengangkat seorang kerabat beliau yg bernama Tuanku Maharaja Abdullah sbg Perdana Menteri di pengasingan dgn gelar Teuku Sri Maharaja Mangkubumi Teluk Samawi. Sejak saat itu Teluk Samawi menjadi wilayah Vassal Sultan Aceh dimana Teuku Sri Maharaja Mangkubumi Teluk Samawi bertanggung jawab langsung kpd Sultan Aceh. Teuku Sri Maharaja Mangkubumi Teluk Samawi memegang kekuasaan bea cukai (pajak dan upeti) atas negeri-negeri di sepanjang pesisir timur dan utara kerajaan Aceh, serta bertindak sebagai wakil Sultan Aceh dalam mengumpulkan pembayaran pajak dan upeti utk diserahkan kpd Sultan Aceh.
Pd th 1818 dgn dibantu oleh pasukan dari wilayah pasai dan pidie, istana darud donya dapat dikuasai kembali oleh Sultan Alaiddin Jauharul Alamsyah sehingga sultan kembali menaiki tahta kerajaan utk yg kedua kalinya (1818-1824) kemudian setelah beliau turun tahta digantikan oleh adiknya Sultan Muhammad SaidSyah.
Setelah Maharaja Abdullah wafat maka beliau digantikan oleh anaknya Teuku Maharaja Muhammad Said sbg Maharaja Teluk Samawi. Beliau menikah dgn Cut Nyak Manyak puteri dari ulee balang Geudong Tgk Imoem Tjhik Banta Sultan. (Tgk Chik di Geudong). Dari perkawinan ini beliau punya 3 org anak yaitu ;
1. Teuku Poe Rayeuk
2. Teuku Sri Maharaja Mangkubumi Abdul Hamid
3. Pocut Oebit.
Pd tgl 23 juli 1874 Maharaja Teluk Samawi yg pd masa itu dipegang oleh Teuku Sri Maharaja Muhammad Said menyatakan takluk kpd belanda, setahun setelah agresi I thd kerajaan aceh
Setelah Teuku Maharaja Muhammad Said Wafat beliau digantikan oleh putra keduanya Teuku Sri Maharaja Mangkubumi Abdul Hamid yg juga merangkap sbg Zelfbesturder Lho’semawe. Beliau merupakan Maharaja Terakhir Teluk Samawi yg wafat pd th 1954 dan dikubur di kompleks pemakaman maharaja disamping ayahnya di gampong Mon Geudong tepatnya bersebelahan dgn Meunasah Gampong Mon Geudong. (Photo, Teuku Sri Maharaja Mangkubumi Abdul Hamid, Kuta blang Lhokseumawe, th 1925, koleksi Tropen museumy, trm. Ttd Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.

Sejarah Ulee Balang Keureutoe

SEJARAH ULEE BALANG KEUREUTOE
(Analisa Sejarah Aceh byTeuku Panglima Prang Barat Seutya Glp Doewa)


Berdasarkan catatan belanda “Mededelingen Betrefende De Atjehsche Onderhoorigheden” atau laporan tentang daerah taklukan di Aceh yg dibuat pd tgl 14 mei 1901 mengenai negeri Keureutoe. Letak geografisnya wilayah ulee balang Keureutoe, disebelah timur berbatasan dgn ulee balang Idi Rayeuk, Aceh Timur, sebelah selatan berbatasan dgn wilayah Lingge gayo, sebelah barat bersinggungan dgn ulee balang Blang Me dan Geudong sedangkan sebelah utara adalah pantai selat malaka.
Pada awalnya negeri ini bernama Keujruen Mueling, didirikan oleh Teuku Keujruen Mulieng Poteu Amat atau Teuku Keujreun Lalat, putra dari Teuku Bujang Puteh (Tgk Abdul Salam Walad), cucu dari bekas penguasa kenegerian Pasai Meurah Seubat atau yg lebih dikenal Tok Nabat Andarul Fathir Syamsul Alam. Dengan pusat pemerintahannya di keude mueling, Sp. Mueling.
Teuku Keujruen Mueling Poteu Amat mempunyai dua orang anak yaitu :
1. Teuku Chik Mueling Abdul Madjid.
2. Teuku Chik Mueling Muhammad Ali Basyah.
Setelah Teuku Keujreun Mueling Poteu Amat wafat, maka beliau digantikan oleh putra sulungnya Teuku Chik Mueling Abdul Madjid. Pada th 1873 belanda hadir di aceh dan mendirikan benteng pertahanan di kuala Idi setelah ulee balang Idi Rayeuk Teuku Bentara Siguci menyatakan takluk kepada belanda dan pd tgl 7 April 1874 bersama Teuku Chik Mueling Abdul Madjid dan Teuku Muda Ahmad Angkasah Blang Me menandatangani perjanjian damai dengan pihak belanda, kemudian menyusul wilayah pantai utara lainnya spt sungai Yu, pereulak, teluk samawi dan peusangan.
Setelah Teuku Chik Mueling Abdul Madjid wafat maka digantikan oleh adiknya Teuku Chik Mueling Muhammad Alibasyah. Beliau menikah dengan Cut Nyak Asyiah putri ulee balang Buloeh Beureugang, dari pernikahan ini mempunyai 2 org anak tp sayangnya kedua anak ini meninggal dunia. Maka utk mengobati rasa sepinya, diangkatlah 2 org anak yg juga merupakan keponakannya sendiri dari abg beliau Teuku Bentara Jamalul Beureugang. Kedua anak laki-laki ini adalah :
1, Teuku Bentara Muhammad Syamsyarif (Teuku Chik Di Baroeh)
2. Teuku Pocut Muhammad (Tgk Chik Di Tunong).
Setelah Teuku Chik Mueling Alibasyah wafat maka kendali pemerintahan dipegang langsung oleh Cut Nyak Asyiah. Beliau memindahkan pusat pemerintahan yg pd awalnya berada di keude mulieng, sp. Mueling pindah ke arah hilir sungai kereutoe yaitu kuala keureutoe, Lapang Tanah Pasir, hal ini dilakukan utk memudahkan pengiriman hasil pertanian kenegerian kereutoe ke pulau pinang, malaysia. Sejak saat itu Keujruen Mueling berubah menjadi Kenegerian Keureutoe. Wilayah Kenegerian Keureutoe dibentuk oleh delapan ( 8 ) ulee balang cut yg disebut dgn uleebalang lapan ( 8 ) yaitu :
1.Ub. Matang koeli
2.Ub. Pirak
3.Ub. Dibuah, Sampoinit
4.Ub. Peutoe
5,Ub. Krueng Pasee
6.Ub Kuta Piadah, Seunuddon
7.Ub. Ara Bungkok, Lhoksukon
8.Ub. Seuleumak.
Disebabkan kondisi Cut Nyak Asyiah yg telah uzur. Maka segala urusan pemerintahan diserahkan kepada putra tertuanya Teuku Bentara Muhammad Syamsyarif yang kelak diberi gelar Teuku Chik Di Baroeh. Awal mulanya Teuku Chik Di Baroeh pernah menikahi Cut Meutia, putri Ulee Balang Pirak Teuku Bentara Daud Pirak. Pada tgl 26 juni 1900, Teuku Chik Di Baroeh menandatangani Korte Velklaring dgn belanda hal ini membuat Cut Nyak Meutia berang dan memutuskan perkawinan dengan beliau dan menikah kemudian dgn Teuku Pocut Muhammad adiknya yg lebih memilih melawan belanda.
Dalam melakukan perlawanan dengan Belanda, Teuku Pocut Muhammad bergabung dengan pasukan Teuku Bentara Muhammad Daud Dibuah, ulee balang Sampoinit baktya. Sebelumnya Teuku Pocut Muhammad berperang bersama dengan Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah pada waktu Sultan dan Panglima Polem menjadikan Pasee dan Aceh Utara sebagai pusat pertahanan. Atas jasa- jasanya itu, akhirnya Teuku Pocut Muhammad diangkat sebagai uleebalang Keuruetoe dgn mendapatkan sarakata (cap sikeureung) dari Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah dengan pusat pemerintahan di hulu sungai keureutoe di Jeurat Manyang, Matang kuli. Oleh sebab itu Kenegerian Keureutoe terdapat dua uleebalang yg berkuasa, yaitu Teuku Bentara Muhammad Syamsyarif yang diangkat oleh Belanda sebagai uleebalang Kereutoe Baroh (yang dikenal dengan nama Teuku Chik Di Baroeh dan Teuku Pocut Muhammad yang diangkat oleh sultan sebagai uleebalang Keureutoe Tunong yang kemudian diberi gelar Teuku Chik Di Tunong.
Dari hasil perkawinan Cut Nyak Meutia beliau mempunyai seorang putra yg bernama Teuku Raja Sabi.
Pada tanggal 25 Maret 1905 pagi Tgk Chik Di Tunong (Teuku Pocut Muhammad) ulee balang keureutoe dan Tgk Chik Di Buah (Teuku Muhammad Daud Di Buah) Ulee balang Sampoinit di hukum mati karena terlibat penyerangan tangsi belanda di paya meurandeh, panton labu yg menewaskan 8 prajurit belanda. Mereka dieksekusi di tepi pantai lhokseumawe di Kampung Jawa Lama. (Zentgraff, 1982: 122). Atas permintaan Maharaja teluk samawi Sri Maharaja Mangkubumi Abdul Hamid, keduanya dimakamkan di kompleks makam Maharaja Teluk Samawi desa Mon Geudong, Lhokseumawe,
Kemudian tgl 24 oktober 1910, menyusul syahid Cut Nyak Meutia, gugur dalam pertempuran dimatang kuli dan dikuburkan digampong pirak, matang kuli sedangkan suami ketiganya Teuku Pang Nanggroe bersama Teuku Pang Lateih dikuburkan ditempat terpisah di Meunasah Baroe, Lhoksukon. Pang Nanggroe dimakamkan dgn kepala terpisah dgn tubuhnya. Kepala Pang Nanggroe di bawa ke kutaraja oleh kontrolir belanda di lhoksukon, kapten HNW. Swart untuk ditunjukkan sebagai bukti kpd gubernur militer belanda di aceh jendral Van Heuzt. Atas prestasi ini, pemerintah belanda mempromosikan kapten HNW. Swart menjadi gubernur militer belanda di aceh menggantikan Jendral Van Daalen yg pensiun.
Sejak Cut Nyak Meutia syahid, Teuku Raja Sabi diasuh oleh Pamannya Teuku Bentara Muhammad Syamsyarif. Kemudian beliau bersama sepupunya Teuku Muhammad Basyah putra Teuku Bentara Muhammad Syamsyarif disekolahkan pd selolah belanda Normal Kwiekscool di kutaraja, Banda Aceh. Pd th 1946 saat terjadi revolusi sosial di Aceh, Teuku Raja Sabi hilang tak diketahui rimbanya ketika melakukan perjalanan naik kereta api dari stasiun Lhoksukon ke stasiun Lhokseumawe. Beliau diculik oleh org tak dikenal yg diyakini itu adalah kelompok Pesindo. Sedangkan sepupunya Teuku Muhammad Basyah menikah dengan Pocut Ramlah putri Teuku Chik Muhammad Johan Alamsyah (Ampoen Chik Peusangan) bin Teuku Chik Syamaun.
Teuku Muhammad Basyah mengganntikan posisi ayahnya Teuku Bentara Muhammad Syamsyarif sebagai Zelfbesturder Keureutoe sampai berakhirnya masa penjajahan belanda di Aceh. Pada saat pemerintahan Jepang berkuasa Teuku Muhammad Basyah pernah diangkat sbg Asisten Residen (Guncho) di Lhokseumawe.
Ulee Balang Pirak sendiri di pimpin oleh Teuku Bentara Daud Pirak bin Teuku Bentara Keuramat , Seuleumak, beliau mempunyai 5 orang anak yaitu ;
1. Teuku M. Ali
2, Teuku Madsyah
3. Cut Nyak Meutia
4. Teuku Cut Hasan
5. Teuku Cut Beurahim
Dari Teuku Cut Beurahim inilah, zelfbesturder wilayah keuretoe diturunkan, Teuku Cut Beurahim mempunyai 6 orang anak yaitu ;
1. Teuku Raja Mahmud
2. Teuku Meukuta (Teuku Chik Matang Kuli)
3. Teuku Ali Basyah
4. Teuku Hanafiah
5. Cut Maryam
6. Cut Asiah.
Berdasarkan sarakata Ulee balang pirak dan daftar zelfbesturder wilayah matangkuli berikut hubungan nasab pahlawan nasional Cut Nyak Meutia dan zelfbesturder wilayah Keureutoe tsb ;
1. Zelfbesturder Krueng Pase yg di lantik pada tgl 25 april 1927, Teuku Radja Machmud.
2. Zelfbesturder Matangkoeli yg dilantik pd tgl 1 agustus 1927, Teuku Meukuta (Tgk Chik Matangkuli)
3. Zelfbesturder Peutoe yg dilantik pd tgl 5 desember 1913, Teuku Ali Basyah.
Demikianlah sejarah dari ulee balang kenegerian keureutoe, trm.
(Photo, Teuku Bentara Muhammad Syamsyarif, sumber KITLV). Ttd, Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp Doewa.

Sejarah Ulee Balang Sawang

PHOTO BERSAMA KELUARGA ULEE BALANG SAWANG TAHUN 1934, KRUENG MANE.
Dari kiri ke kanan :
1.Putra kedua Teuku M. Noer Bin Teuku Luthan
2.Putra pertama Teuku Usman Bin Teuku Luthan.
3.Putra Bungsu (dalam gendongan) Teuku M. Husein Bin Teuku Luthan.
4.Ibu, Pocut Intan Binti Teuku Bentara Istia Muda pereudan, geureugok bin Teuku Bentara Bugeh Geuruegok Bin Teuku Bentara Husein Glp. Doewa Bin Teuku Bentara Machmud Kuta Panjoe, Meusee bin Teuku Bentara Kuanta (Tgk Chik Nyak Krueng), Peusangan bin Teuku Keudjruen Chik Peusangan Seutya Raja (Teuku Panglima Perang Di Hadjat Pasee).
5. Ayah, Teuku Luthan Bin Teuku Keujruen Ali Bin Teuku Laksamana Sawang Banggalang bin Teuku Meuntroe Banggalang, ribee delima, pidie bin Teuku Mentroe Singahraja.
6 Putri keempat Pocut Atikah Binti Teuku Luthan
7. Putri ketiga Pocut Aisyiah Binti Teuku Luthan
8. Putra kelima, T. M. Hassan Bin Teuku Luthan.
9. Adik Teuku Luthan (bersandar di mobil), Teuku Syamaun Kuta Barat Bin Teuku Keujruen Ali
10. Mobil BL 172 Y merek Benz keluaran th 1930, produksi Daimler Jerman.
Demikianlah keterangan gambar pada photo diatas tsb, trm. (Ttd, Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Glp Doewa)

FILOSOFI MARGA ALANGGAWI HABASI

Syahrif / Sayyid Yusuf, atau lengkapnya Asta Sayyid Yusuf AlAnggawi Habasi bin Ali bin Abdullah Anggawi Al-Hasani, adalah seorang Sayyid yang sholih, berasal dari kota Makkah. Dalam suatu catatan ia disebutkan lahir di kota suci itu tahun 1198 H/ 1784 M, Habib Yusuf berasal dari keluarga Anggawi cabang keluarga syarif Abu Numai, keturunan Rasulullah dari jalur Sayyidina Hasan RA. Karenanya ia juga dikenal dengan nama Sayyid Yusuf bin Ali Al-Hasani.Setelah banyak berkelana menuntut ilmu, dari kota Makkah hingga Hadramaut Yaman, Habib Yusuf hijrah ke Nusantara. Di sini, negeri yang pertama kalinya dimasuki adalah Palembang.Di Palembang ia sempat tinggal beberapa waktu lamanya, bahkan hingga dinikahkan oleh Sultan Palembang, Sultan Ahmad Najmudin, dengan salah satu putri pembesar kesultanan Palembang. Diantara putra Habib Yusuf  dari pernikahanya itu adalah Sayyid Muhammad. Nama Sayyid Muhammad Azzakariya bin Yusuf dan Abdullah Bin Yusuf ,tercatat dalam sejarah perperangan kesultanan Palembang sebagai salah satu panglima perang saat melawan pasukan penjajah Belanda.Dari Palembang ia melanjutkan perjalananya ke Pulau Jawa, Madura, Banten dan Aceh. Sepanjang perjalananya ia berdakwah. Di akhir masa hidupnya, ia masuk ke pedalaman dan kemudian menetap di wilayah Telango Pulau Puteran, hingga wafat dan dimakamkan di wilayah itu.Keturunannya, keluraga Anggawi terbanyak di Pekalongan Jawa-Tengah, sebagian kecilnya di Kuningan, Cirebon, Aceh, Palembang, Jakarta, serta sejumlah daerah lainya.

MANAQIB SYAHRIF/ SAYYID ASTA YUSUF BIN ALI BIN ABDULLAH AL ANQAWI

Talango – bagi anda yang berkunjung ke Sumenep , kurang lengkap rasanya kalau belum menyempatkan diri untuk berziarah ke Asta Sayyid Yusuf sebuah pesarean atau Makam seorang seorang Waliyullah yang berada di Pulau Poteran Talango Sumenep. dengan jarak sekitar 1 km dari pelabuhan Talango menuju Asta Yusuf

asta yusuf konon Asta Yusuf ditemukan oleh Raja Sumenep Sri Sultan Abdurrahman Pangkutaningrat saat ingin berangkat ke pulau Bali sekitar tahun 1791 M atau 1212 H. dalam perjalanannya itu Sultan Abdurrahman dan pengikutnya di kejutkan dengan cahaya terang yang jatuh. dengan rasa penasaran akhirnya sultan mendatangi tempat jatuhnya cahaya tersebut, dan ditemukan sebuah makan, tak lama kemudian sultan Abdurrahman bermunajat kepada Allah, dan beliau mendapat ilham nama itu adalah Sayyid Maulana/ Muhammad Yusuf Bin Ali Bin Abdullah Al Hasani.
Sayyid Yusuf termasuk salah satu Wali allah yang mempunyai sifat – sifat agung dan sifat – sifat yang mulia, beliau adalah seorang imam Al Arif Billah Al Alim Allamah yang mempunyai lisan kebenaran yang kembali pada penelitian dalam hakikat, dan laut penelitian yang belum pernah meninggalkan sesuatu yang musykil, beliau seorang Wali Kutub Assulthon Al Waliyul Khoir Al Ghouts yang terkenal dengan banyak Karomah karomah dan bukti yang nyata. beliau adalah Syech Yusuf Jamaluddin Abul Mahasin Di Kenal Dalam Nama Pentarekat Sedang Kan Nama Aslinya Sayyid Asta Muhammad Yusuf Angkowi Habasi bin Ali bin Abdullah bin Jarullah Abdul Aziz bin Muhammad bin Athifah bin Abi Dzabih Muhammad bin Abi Nami bin Hasan bin Ali bin Qafadah bin Idris bin Mutha’in bin Abdul Karim bin Isa bin Husin bin Sulaiman bin Ali bin Abdullah bin Imam Muhammad Ats-Tsa-ir bin Musa bin Abdullah Al-kiram bin Musa Al-jaun bin Imam Abdullah Al-kamil bin Imam Husin Al-Mutsanni bin Imam Hasan As-sibith bin Imam Ali bin Abi Thalib.
Beliau dilahirkan di Mekkah Almukarromah pada malam sabtu tanggal 12 Jumadil Ula tahun 1198 Hijriyah dan beliau dibesarkan dan menuntut ilmu dimekkah dan belajar Al-qur’an pada Syeh Ahmad bin Muhammad Al-halwani di Damaskus, seorang Syeh / guru Qurra’ di Masjidil Haram, dan beliau belajar Fiqih pada seorang Faqih ( ahli fiqih ) : Adullah bin Abdurrahman Assiraj Alhanafi dan belajar hadits pada seorang ahli hadits : Ali bin Abdullah Al-qal’iy dan juga pada Sayyid Ali bin Abdul Bar Al-Wana-i Al-hasani dan juga pada Syeh Ahmad bin Ubaid Al-atthar dari Damaskus, kemudian beliau pergi ke Yaman dan banyak belajar disana dari ulama-ulama besar kemudian beliau belajar dari Sayyid Ahmad bin Muhammad seorang Maqbul yang berlabuh dan Sayyid Abdur Razzaq Al-Bakkari dan Sayyid Abdul Qasim bin Sulaiman Al-hajjam. Dan kemudian beliau berlayar ke India kemudian kembali lagi ke Mekkah dan belajar disana pada seorang ahli Fiqih, Al-faqih Ibrahim bin Ahmad Alkhatib, kemudian berjumpa juga di Mekkah dengan Habib Hamid bin Alwi Al Haddad kemudian oleh Habib Hamid beliau dibawa ke Palembang kemudian bersahabat dengan Habib Abdurrahman bin Husin bin Hasan bin Alwi bin Ahmad Al-idrus yang terkenal dengan seorang yang mempunyai banyak kekuasaan, yang wafat di Palembang pada tahun 1211 Hijriyah dan Habib Alwi bin Ahmad Al Kaf.
Kemudian beliau menetap di Palembang beberapa lama kemudian beliau dimulyakan oleh Sultan Ahmad Najmuddin dan beliau dikawinkan dengan salah seorang wanita yang mulya, dan beliau dikaruniai beberapa orang anak, yang diantara mereka ada yang bernama Muhammad, beliau seorang yang alim, yang mulya, yang shaleh, banyak shalat dan wiridnya, mempunyai banyak kekeramatan yang diluar kebiasaan dan tampak kasyafnya, berbicara tentang lintasan-lintasan hati dan menghabarkan tentang apa yang ada dalam hati, beliau juga berbudi luhur dan adab yang sopan, sangat dermawan, mencintai orang yang faqir dan miskin dan para sholihin dan banyak membantu mereka dan banyak memberikan sedekah baik pada kerabat dekat dan jauh dan beliau banyak mengadakan perjalanan dan beliau selalu menutup diri dengan lain.
Kemudian beliau dari Palembang pergi ke Surabaya, kemudian beliau tinggal dirumah Habib Al Matsri Agil bin Idrus bin Agil, kemudian beliau pergi ke Madura dan tinggal dengan Sultan Abdurrahman bin Muhammad Jabir Raja Sumenep, kemudian beliau pergi ke Bangkalan dan beliau di mulyakan disana. Dan adanya beliau r.a seorang yang alim, tawadhu’, berwibawa disisi Raja-raja dan pemimpin-pemimpin, tembus perkataan, baik dalam berpolitik dan pengaturan, kesatria dan juga berjiwa mulia, lalu beliau wafat di Telango salah satu pulau di Madura pada malam senin tanggal 15 Rabiul Akhir tahun 1252 Hijriyah.
Beliau meninggalkan beberapa orang putra mudah-mudahan Allah meridhai beliau, dan memberikan rahmatnya sebagaimana yang telah diberikannya pada orang-orang yang baik dan menempatkan beliau di dalam surganya bersama ulama-ulama salaf yang baik. Amin.
Semoga Allah selalu mencurahkan rahmatnya pada junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarganya dan para sahabatnya. Amin-amin-amin Ya Rubbal Alamin.
Manaqib ini diterjemahkan
Oleh Al Faqir Ahmad Lutfi bin Umar Bahabazy
dari karya :
( yang menulis manaqib ini )
1.) Sayyid Salim bin Ahmad bin Jindan.
2.) Habib Alwi bin Abi Bakri bin Bil Faqqi.

Sejarah Perjalanan Hidup Syekh Yusuf Jamaluddin Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani Atau Dikenal Dengan Asta Sayyid Yusuf

Syekh Yusuf Jamaluddin Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makasari Al-Bantani Atau Kerap dikenal Asta Sayyid Yusuf Alanggawi Habasi Bin Ali Bin Abdullah (3 Juli 1629 – 23 Mei 1699) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia . Ia juga menggelari Tuanta Salamaka ri Gowa (“tuan guru penyelamat kita dari Gowa”) oleh pendukungnya di kalangan rakyat Sulawesi Selatan .

Seorang tokoh yang masih mempunyai daya tarik untuk ditelusuri adalah Syekh Yusuf dari Makassar, Sulawesi Selatan. Syekh Yusuf hidup pada Abad ke-17 dan menjadi seorang ulama, sufi serta pejuang politik yang termasyhur baik di Indonesia maupun di luar negeri, misalnya di Sri Lanka dan Afrika Selatan. Sampai sekarang. Beliau masih dianggap sebagai seorang pahlawan maka cerita mengenai Syekh Yusuf masih dikenang secara turun-temurun.

Sejak masa kecilnya Syaikh Asta Yusuf telah menampakkan kecintaannya pada Pengetahuan Keislaman, terlihat dengan dimulainya pendidikan agama yang diperolehnya dari Daeng ri Tassamang, guru agama kerajaan Gowa. Kitab-kitab seperti Fiqih dan Tauhid sudah selesai dipelajari Syech Asta Sayyid Yusuf dalam waktu beberapa tahun, tetapi yang paling menarik perhatiannya adalah ilmu Tasawuf. Syekh Yusuf belajar dipesantren kepada Al-Allamah Habib Sayyid Alwi Jalaluddin Bafagih(Keturunan Imam Maula Aidid Hadramaut Yaman Keturunan Nabi Saw.), Syekh Yusuf mempelajari Dasar Sanad Thariqah Baharunnur Ba’alawi kepada beliau.

Syaikh Yusuf Al-Makassari banyak melakukan  perjalanan ke berbagai tempat untuk memperdalam ilmunya. Beliau menuju Aceh setelah cukup menimba ilmu di Banten. Beberapa tempat selain Banten dan Aceh yang dikunjungi Syaikh Yusuf AlMakassari antara lain Yaman, Mekkah, dan Damaskus sebelum kembali lagi ke Banten. Pada usia 38  tahun, Syaikh Yusuf Al-Makassari berangkat dari Mekkah ke Banten pada tahun 1664.

Padahal ia sudah mendapatkan tiga gelar tarekat dan sempat berguru kepada para syekh tarekat yang terkenal saat itu. Syekh Yusuf tidak puas dengan ilmunya tersebut maka ia memutuskan untuk pergi ke negeri Syam (Suriah) untuk menemui seorang syekh yang paling terkenal dengan kebijaksanaannya, yaitu Syekh Abu al Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al-Qurasyi. Syekh Yusuf diberi gelar tarekat Khalwatiyah serta silsilah oleh syekh karena kemajuan amal syariah dan amal kebenaran yang diraihnya. Selain itu, karena pengalaman Syekh Yusuf, ia dikukuhkan dengan gelar ‘Tajul Khalwati Hadiyatullah’ dan hingga kini sering disebut sebagai “Syekh Yusuf al-Taj al-Khalwat al-Maqassari.

Sebelum pergi ke Mekkah untuk berhaji Syekh Yusuf pergi ke negara Yaman, di mana ia belajar di bawah dua anggota tarekat, yaitu Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi dan Syekh Maulana Sayed Ali. Dari sang syekh, ia diberi gelar Tarekat Naqsyabandi sekaligus gelar Tarekat Al-Baalawiyah.Selain lima aliran tarekat tersebut, Syekh Yusuf pernah belajar lebih dari dua belas jenis tarekat lain dan juga diberikan hak mengajar Tarekat. Sebagai akibat dari berbagai jenis aliran yang dipelajarinya, pengetahuan yang tinggi, luas dan mendalam dicapainya sehingga beliau sangat dihormati oleh karena hal itu.

Selain lima aliran tarekat tersebut, Syekh Yusuf pernah belajar lebih dari dua belas jenis tarekat lain dan juga diberikan hak mengajar Tarekat. Sebagai akibat dari berbagai jenis aliran yang dipelajarinya, pengetahuan yang tinggi, luas dan mendalam dicapainya sehingga beliau sangat dihormati oleh karena hal itu.

Ketika musim haji dimulai, Syekh Yusuf pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji kemudian pindah ke kota Madinah untuk melanjutkan studinya. Di sana ia belajar di bawah seorang syekh terkenal bernama Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kurani dan kemudian diberi gelar Syattariyah.

Syekh Yusuf berangkat lagi ke Timur Tengah. Di daerah itu, Syekh Yusuf bermaksud untuk menambah ilmu Islam dan menunaikan rukun haji, ia berangkat pada tahun 1649 dan membutuhkan waktu lima puluh enam hari untuk mencapai Timur Tengah, Hidup, dalam pandangan Syekh Yusuf, bukan hanya untuk menciptakan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi. Namun, kehidupan ini harus dikandungi cita-cita dan tujuan hidup menuju pencapaian anugerah Tuhan.

Syech Asta Yusuf telah lama ingin menuntut ilmu lebih lanjut di Timur Tengah dan guru-gurunya yang di Timur Tengah diharapkan dapat memberinya dorongan lebih jauh mengenai kemajuan-kemajuan pengetahuan Islam di sana. Tujuan pertama Yusuf untuk menuntut ilmu adalah menuju pusat Islam di Mekah pada tanggal 22 September 1644 dalam usia 18 tahun. Syech Asta Sayyid Yusuf berangkat menumpang kapal Melayu dan menuju Banten. Syech Yusuf kemudian tertarik untuk menuntut ilmu di Banten dan menjalin persahabatan dengan kalangan kerajaan Banten, antara lain dengan pangeran Surya, yang kelak menggantikan ayahnya dengan nama resmi Abdul Fatah yang terkenal kemudian dengan gelar Sultan Ageng Tirtayasa. Syaikh Yusuf kemudian merantau ke Aceh untuk berguru kepada Syaikh
Nuruddin al-Raniri. Setelah menerima ijazah tarekat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin, Syekh Yusuf berusaha ke Timur Tengah. Beliau ke Arab Saudi melalui Srilanka. Di Arab Saudi, mula-mula Syekh Yusuf mengunjungi negeri Yaman, berguru pada Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi. Ia dianugerahi ijazah tarekat Naqsyabandi dari gurunya ini.

Syekh Yusuf di Afrika Selatan
Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.

Perjalanan Syekh Yusuf dilanjutkan ke Zubaid, masih di negeri Yaman, menemui Syekh Maulana Sayed Ali Al-Zahli.. Dari gurunya ini Syekh Yusuf mendapatkan ijazah tarekat Assa’adah Al-Baalawiyah. Setelah tiba musim haji, beliau ke Mekah menunaikan ibadah haji. Syaikh Yusuf melanjutkan perjalannya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji, dan ke Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW.

Dilanjutkan ke Madinah, berguru pada syekh terkenal masa itu yaitu Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin Al-Kurdi Al-Kaurani. Dari Syekh ini diterimanya ijazah tarekat Syattariyah. Belum juga puas dengan ilmu yang didapat, Syekh Yusuf pergi ke negeri Syam (Damaskus) menemui Syekh Abu Al Barakat Ayyub Al-Khalwati Al-Qurasyi. Gurunya ini memberikan ijazah tarekat Khalwatiyah & Gelar tertinggi, Al-Taj Al-Khalawati Hadiatullah setelah dilihat kemajuan amal syariat dan amal Hakikat yang dialami oleh Syekh Yusuf.


Sebelum pulang ke Indonesia, Syekh Yusuf pernah menikah di Mekkah, tetapi istrinya meninggal waktu melahirkan Syech Muhammad Zakariyah . Beliau menikah lagi di Jeddah dengan seorang putri yang juga asli Makassar.

Selama berada di Timur Tengah beliau sempat berguru pada ahli agama terkenal. terutama ahli Tarekat, dan pengetahuan beliau terhadap agama Islam semakin bertambah. Megenai lamanya waktu Syekh Yusuf merantau, ada dua pendapat. yaitu pendapat Abu Hamid yang mengatakan bahwa beliau kembali ke Indonesia.

Ajaran Syekh Yusuf mengenai proses awal penyucian batin menempuh cara-cara moderat. Kehidupan dunia ini bukanlah harus ditinggalkan dan hawa nafsu harus dimatikan sama sekali. Melainkan hidup ini harus dimanfaatkan guna menuju Tuhan. Gejolak hawa nafsu harus dikuasai melalui tata tertib hidup, disiplin diri dan penguasaan diri atas dasar orientasi ketuhanan yang senantiasa melingkupi kehidupan manusia.

Khalawatiyah Syekh Yusuf al-Makassary, adalah tarekat yang dinisbatkan kepada Syekh Yusuf Abu alMahasin Tajul Khalwatiy al-Makassary atau yang dikenal dengan nama lain Tuanta Salamaka, seorang sufi ulama dan pejuang Makassar abad ke-17. Syekh
Yusuf tidak saja pengaruhnya di bumi nusantara, melainkan sampai ke Timur Tengah, Srilangka, dan ke Afrika Selatan.
Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassary mengalami perkembangan pesat pada masa mursyid Allahu Yarham Puang Ramma sejak tahun 1950-an. Agar keber-lanjutannya bertahan dan terorganisir maka tarekat Syekh Yusuf pasca Puang Ramma, yakni sejak masa kemursyidan Puang Makka pada tahun 2004 dibentuklah sebuah Jam’iyah, yakni Jam’iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassary.

Kerajaan Gowa-Tallo merupakan dua kerajaan kembar, pada pertengahan abad ke-16 M raja Makkasar membagi kerajaan ini kepada kedua puteranya menjadi dua. Yang tua menjadi raja di Gowa/Manga’rangi Daeng Manrabbina (raja ke-14 Gowa), dan Sultan Alaudin adalah nama raja Gowa setelah masuk Islam, sedangkan yang muda menjadi raja di Tallo setelah masuk Islam. Kedua raja tersebut merupakan raja pertama yang masuk Islam pada awal abad ke-17 dan diikuti seluruh rakyat Sulawesi, Raja Manga’rangi Daeng Manrabbina masuk Islam pada Jumat siang tanggal 20 September 1605 M (9 Jumadil Awal 1005 H) dari Khatib Tunggal Abdul Makmur dengan gelarnya yaitu Datok ri Bandang. Datok ri Bandang (Abdul Makmur), Datok Suleman (Sulaiman) dan Datok ni Tio (Abdul Jawad) dari Minangkabau, Aceh diminta raja Gowa untuk mengajarkan Islam di Sulawesi.7 Akhirnya seluruh raja besar dan kecil di Sulawesi Selatan berhasil diislamkan oleh ketiga Datok tersebut, walaupun kemudian muncul perang antara kerajaan Makkasar (kerajaan Gowa-Tallo) dengan kerajaan Bugis (kerajaan Bone, Soppeng, dan Wajo) yang menolak ajakan pengislaman.Masyarakat Bugis menganggap perang tersebut sebagai perang islamisasi (perkenalan) yang menimbulkan banyak korban jiwa dan rasa dendam. Pada awal abad ke-17, Kerajaan Gowa mengalami berbagai peristiwa berupa perang damai dan juga perjanjian damai dengan kerajaan tetangga.

Dalam situasi tersebut, kemudian lahir seorang putera Makasar yang terkenal dengan sebutan Taunta Salamaka (junjungan kita yang membawa keselamatan). Lahir pada tanggal 8 Syawal 1036 H atau 3 Juli 1629 M. Taunta Salamaka merupakan putera daerah Makasar. Ia adalah Syaikh Yusuf Taj al-Khalwati al-Makassari. Syaikh Yusuf al-Makassari hidup pada abad ke-17 (1629-1699 H) dan wafat di negeri pengasingan (Afrika Selatan) sebagai orang buangan kompeni Belanda, Syaikh Yusuf al-Makassari merupakan seorang sufi dan syaikh tarekat. Selain itu beliau adalah seorang ulama, mufti, dan seorang penulis.10 Semua karya Syaikh Yusuf ditulis mengunakan bahasa Arab dengan pengalamanya belajar ke Yaman, Mekah, Baghdad dan lain-lain. Untuk mendalami ilmunya. Sedangkan nama aslinya adalah (Asta) Muhammad Yusuf Angkowi Habasi dan terkenal dengan sebutan asy-Syaikh al-Hujj Yusuf Abu Mahasin Hadiyahtullah Taj al-Khalawati al-Makassari al-Bantani. serta telah memperkenalkan tarekat Khaltawiyah di Makasar sesuai dengan ijazah yang diterimanya yaitu ijazah Tajul Khalwati. Kemudian beliau meningalkan Makasar dan pergi haji tahun 1644 H ketika Syaikh Yusuf di Madinah, beliau menerima tarekat khaltawiyah dari ‘Abd al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati al- Qurasyi di Damaskus. Kemudian berguru dan berbai’ah menjadi khalifah Tarekat Khaltawiyah dan mendapat ijaza untuk mengajarkan tarekat ini khusunya kepada masyarakat Makasar.

Setelah pulang dari haji tahun 1670 H, Syaikh Yusuf tidak langsung pulang ke Makasar, akan tetapi beliau singgah dulu di Baten. Karena sebelum ia pergi ke Timur Tengah, Syaikh Yusuf sudah bersahabat dengan Sultan Ageng Tirtayasa (Abdul Fatah) yang merupakan putra Sultan Abu al-Mafakhir Abdul Kadir (1598-1650), penguasa kerajaan Banten. Agar persahabatan Sultan Ageng dengan Syaikh Yusuf tetap terjalin maka Syaikh Yusuf al-Makassari dinikahkan dengan puteri Sultan Ageng. Sultan Ageng Tirtayasa mempunyai dua orang putera yaitu pangeran Purbaya dan ‘abd al-Qahhar .

Untuk amalan ketarekahan, maka diperlukan
mursyid, yakni pemimpin spiritual yang membimbing jamaah. Diyakini dalam dunia tarekat bahwa mursyid sekaligus imam dan guru yang dapat mengantarkan jamaah untuk sampai kepada Allah (ma’rifatullah) sesuai ajaran al-Qur’an dan Sunnah. Mursyid ini lazimnya juga disebut syekh, kedudukannya sebagai imam yang bisa menunjukkan jamaahnya ke jalan benar dan menuntun Jamaah dalam beribadah kepada Allah swt secara baik dan benar serta mencintai rasul-Nya. Mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf pasca Syekh Yusuf Rahimahumullah yang fokus menjadi kajian penelitian dalam buku ini, adalah dari jalur Abul Fatih Abdul Bashir Tuang Rappang. Beliau khalifah Syekh Yusuf yang pertama kali menyebarkan tarekatnya pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-19, Sultan Abd al-Jalil (1677-1709). Tuang Rappang kemudian mengangkat Sultan Abdul Qadir Karaeng Majannang sebagai badal khalifah, yang kelak kemudian hari menjadi mangkubumi Kerajaan Gowa pada masa raja ke 24, I Mallawa Gau Sultan Abdul Khaer (1735-1737). Karaeng Majannang inilah memiliki peran penting dalam mengembangkan Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf di petinggi Kerajaan Gowa dan di kalangan masyarakat makassar pasca Tuang Rappang. Di istana Kerajaan Bone, Tuang Rappang mengangkat Sultan Alimuddin Idris Lapatau sebagai badal khalifah, Raja Bone ke-15 (1696-1714), kemenakan Arung Palakka yang memiliki peran penting dalam menyebarkan tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf di daerah Bugis.Di kalangan ilmuan/ulama, Tuan Rappang mengangkat Syekh Abu Said al-Fadhil sebagai badal khalifah, selanjutnya diwariskannya ke Syekh Abd. Majid Nuruddin. Keduanya ulama berasal Aceh, Sumatera yang belajar di Bontoala tahun 1770-an. Syekh Abd. Majid Nuruddin kemudian memindahkan sekaligus mengembalikan ijazah tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf ke cucu Sayyid Ba’Alwi Assegaf, guru Syekh Yusuf Rahimahumullah, yakni Sayyid Abdul Gaffar Assegaf sebagai pelanjut kakeknya. Sayyid Abdul Gaffar Assegaf sebagai mursyid dan Qadhi Bontoala (1759-1814), sekaligus pengasuh pengajian tasawuf di Bontoala, sebuah lembaga pendidikan tempat Syekh Yusuf Rahimahumullah belajar sebelumnya, meng-ijazahkan tongkat
kemursyidan kepada anaknya, Sayyid Muhammad Zainuddin bin Abdul Gaffar Assegaf. Sayyid Zainuddin Assegaf kemudian
mengijazahkan kemursyidan Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf kepada putra-putranya. Di antaranya adalah Sayyid Abd. Qadir al-Saqqaf, ke Sayyid Abd. Rahman al-Saqqaf ke Sayyid Badi’ al-Samawat alAsseqaf ke Sayyid Abd. Rahim bin Thalib Al-Asseqaf ke Sayyid Muhammad Husain Asseqaf ke Syekh Sayyid
Abd al-Muththalib Assegaf Puang Lallo.

Dengan demikian Syekh Yusuf mengajarkan kepada muridnya untuk menemukan kebebasan dalam menempatkan Allah Yang Mahaesa sebagai pusat orientasi dan inti dari cita, karena hal ini akan memberi tujuan hidup itu sendiri.

Hal itu merisaukan Belanda. Mereka menganggap Syekh Yusuf tetap merupakan ancaman, sebab dia bisa dengan mudah mempengaruhi pengikutnya untuk tetap memberontak kepada Belanda. Lalu dibuatlah skenario baru; lokasi pembuangannya diperjauh, ke Afrika Selatan.

Kendati putra Nusantara, namanya justru berkibar di Afrika Selatan. Ia dianggap sebagai sesepuh penyebaran Islam di negara di benua Afrika itu. Tiap tahun, tanggal kematiannya diperingati secara meriah di Afrika Selatan, bahkan menjadi semacam acara kenegaraan. Bahkan, Nelson Mandela yang saat itu masih menjabat presiden Afsel, menjulukinya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.

Menekuni jalan dakwah

Bulan Juli 1693 adalah kali pertama bagi Syekh Yusuf dan 49 pengikutnya menginjakkan kaki di Afrika Selatan. Mereka sampai di Tanjung Harapan dengan kapal De Voetboog dan ditempatkan di daerah Zandvliet dekat pantai (tempat ini kemudian disebut Madagaskar).Di negeri baru ini, ia kembali menekuni jalan dakwah. Saat itu, Islam di Afrika Selatan tengah berkembang. Salah satu pelopor penyebaran Islam di Afrika Selatan, Imam Abdullah ibn Kadi Abdus Salaam atau lebih dikenal dengan julukan Tuan Guru(mister teacher).Tuan Guru lahir di Tidore. Tahun 1780, ia dibuang ke Afrika Selatan karena aktivitasnya menentang penjajah Belanda. Selama 13 tahun ia mendekam sebagai tahanan di Pulau Robben, sebelum akhirnya dipindah ke Cape Town. Kendati hidup sebagai tahanan, aktivitas dakwah pimpinan perlawanan rakyat di Indonesia Timur ini tak pernah surut.

Jalan yang sama ditempuh Syekh Yusuf. Dalam waktu singkat ia telah mengumpulkan banyak pengikut. Selama enam tahun di Afrika Selatan, tak banyak yang diketahui tentang dirinya, sebab dia tidak bisa lagi bertemu dengan jamaah haji dari Nusantara. Usianya pun saat itu telah lanjut, 67 tahun.

Beliau tinggal di Tanjung Harapan sampai wafat tanggal 23 Mei 1699 dalam usia 73 tahun. Oleh pengikutnya, bangunan bekas tempat tinggalnya dijadikan bangunan peringatan. Sultan Banten dan Raja Gowa meminta kepada Belanda agar jenazah Syekh Yusuf dikembalikan, tapi tak diindahkan. Baru setelah tahun 1704, atas permintaan Sultan Abdul Jalil, Belanda pengabulkan permintaan itu. Tanggal 5 April 1705 kerandanya tiba di Gowa untuk kemudian dimakamkan di Lakiung keesokan harinya.

Melalui haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh dari Sri Lanka ke Ceylon, Afrika Selatan, pada 22 jamaah Desember 1694 .Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi’an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.

Masa perjuangan
Ketika Kesultanan Gowa mengalami kekalahan perang terhadap Belanda , Syekh Yusuf pindah ke Banten dan diangkat menjadi mufti di sana. Pada periode ini Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam, dan Syekh Yusuf memiliki murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai.

Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682 , Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Srilanka pada bulan September 1684.

Kedatangan Syech Yusuf
Di Sri Lanka , Syekh Yusuf aktif dalam menyebarkan agama Islam. Ia memiliki ratusan murid, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi’an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.

Melalui haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh dari Sri Lanka ke Ceylon, Afrika Selatan, pada 22 jamaah Desember 1694 .Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi’an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.

Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh, Afrika Selatan, pada bulan Juli 1693.

Murid-murid Syekh Yusuf yang menganut tarekat Khalwatiyah terdapat di Banten, Srilanka, Cape Town, dan beberapa negara di sekitarnya. Mayoritas orang-orang Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan masih mengamalkan ajarannya sampai sekarang ini.

Dimensi tasawuf Syekh Yusuf bergerak dalam konsep keyakinan terhadap Allah, mengelaborasi konsep tauhid sebagai pintu masuk untuk mengenal dzat yang Maha Besar, Allah Maha Agung. Inilah jalan pembuka, yang disadari Syekh Yusuf sebagai pelajaran awal bagi pengikutnya untuk mengenal Allah, mengenal Sang Pencipta.

Dalam risalah al-Futuhah al-Ilahiyyah, Syekh Yusuf merinci rukun tasawuf dalam sepuluh perkara. Bagi Syekh Yusuf rukun tasawuf ini, menjadi penting bagi salik untuk berada dalam garis perjalanan mendekat menuju-Nya. Sepuluh rukun tasawuf, yakni:

Pertama, Tahrid al-Tauhid, memurnikan ketauhidan kepada Allah, dengan memahami makna keesaan Allah, yang disarikan dari kandungan surat al-Ikhlas. Selain itu, meyakini Allah dengan menjauhi sifat tasybih dan tajsim.

Bagi Syekh Yusuf, manusia yang sempurna (al-insan al-kamil) merupakan manusia yang sampai ke makam ma’rifat. Bukan hanya manusia biasa yang berislam secara dangkal. Syekh Yusuf memberi penekanan tentang hakikat ma’rifat dalam kekhususan tingkatan manusia sebagai al-insan al-kamil. Manusia sempurna akan ingat Allah dalam segala urusan, kapanpun dan di manapun berada.

PENDIDIKAN
Lahir di tanah Bugis, Syekh Yusuf mendapat tempaan pendidikan Islam dari keluarga dan ulama di kampungnya. Beliau mengaji al-Qur’an kepada Daeng ri Tamassang. Setelah itu, ia berkelana ke pesantren Bontoala untuk mengaji ilmu-ilmu bahasa, semisal Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan mantiq.

Pada waktu itu, Syekh Yusuf mengaji kepada ulama asal Yaman, Syed Ba’alawi bin Abdullah, yang dikenal sebagai al-allamah Tahir, pengasuh pesantren Bontoala. Setelah menamatkan belajar di Bontoala, Syekh Yusuf melanjutkan mengaji kepada Syekh Jalaluddin Aidit, ulama asal Aceh yang mengembara ke Bugis. Di bawah asuhan Syekh Jalaluddin, di pesantren Cikoang, belajar selama beberapa tahun. Syekh Jalaluddin kemudian mengutus Syekh Yusuf untuk belajar ke tanah Hijaz, untuk mengaji lebih intens kepada ulama-ulama Haramain.

Tak lama berselang, pada 22 September 1644, Syekh Yusuf berangkat menuju Hijaz, dengan menggunakan kapal penumpang. Pada waktu itu, transportasi laut dari kawasan timur Nusantara melalui Banten untuk menyusuri selat Malaka, hingga menembus ke kawasan pesisir Arab.

Ketika singgah di Banten, Syekh Yusuf berkenalan dengan putra mahkota kerajaan Banten, Abdul Fattah, yang merupakan putra Sultan Abu al-Mafakhir Abdul Kadir (1598-1650), penguasa kerajaan Banten.

Selain Banten, dalam perjalanannya, Syekh Yusuf singgah di Aceh. Di kawasan Serambi Makkah ini, Syekh Yusuf melakukan komunikasi dengan ulama dan pemimpin thariqah al-Qadiriyah di Aceh, Syekh Muhammad Jilani bin Hasan bin Muhammad Hamid al-Raniry. Ketika singgah di Banten dan Aceh, Syekh Yusuf menghabiskan waktu selama sekitar 5 tahun, untuk melakukan interaksi dengan ulama setempat.

Dalam perjalanan panjangnya, Syekh Yusuf singgah di Yaman, atas saran dari gurunya selama di Aceh, Syekh Muhammad Jilani. Di Yaman, Syekh Yusuf berguru kepada Syekh Abu Abdillah Muhammad Abdul Baqi (w. 1664), ulama terkenal di Yaman, khalifah tarekat an-Naqsyabandiyah. Syekh Yusuf tidak berhenti di satu titik, di satu guru. Ia terus berupaya menyegarkan dahaga spritual, dahaga pengetahuannya. Dalam pengembaraannya, Syekh Yusuf meneruskan perjalanan ke Bandara al-Zubaid, berguru ke Syed Ali al-Zubaidy (w. 1084), seorang muhaddits dan sufi. Dengan Syed Ali, Syekh Yusuf mendapatkan ijazah thariqah dari silsilah keluarga al-Sadah al-Ba’alawiyah.

Perjalanan panjang di Yaman, diteruskan menembus Makkah untuk menunaikan ibadah Haji. Kemudian, Syekh Yusuf menuju Madinah untuk ziarah ke makam Rasulullah Saw. Di kota ini, Syekh Yusuf berguru kepada Syekh Ahmad al-Qusysyi (w. 1661), Mullah Ibrahim al-Kawrany (w. 1690), dan Hassan al-Ajamy (w. 1701). Tiga ulama inilah, yang menjadi referensi keilmuan dan tradisi tasawuf yang menyambungkan jaringan ulama Nusantara dengan ulama Haramain.

Syekh Yusuf masih belum puas dengan dahaga pengetahuan, dan kehausan akan guru yang mencerahkan. Ia terus berjalan menuju Syam (Damaskus) dan Turki. Di Syam, Syekh Yusuf memperdalam pengetahuan, dan mengasah kepekaan bathin, kepada beberapa guru. Di antaranya, Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad al-Khalwaty al-Quraishi. Setelah berkelana Syam dan Turki, Syekh Yusuf kembali ke Makkah, untuk mengaji dan mengajar.

Ketika musim haji tiba, Syekh Yusuf mengajar santri-santri Nusantara, terutama yang berasal dari kawasan Bugis. Di antara murid-muridnya, ialah Syaih Abu al-Fath Abdul Basir al-Darir (Tuan Rappang), Abdul Hamid Karaeng Karunrung dan Abdul Kadir Majeneng, merekalah yang kemudian meneruskan ajaran tarekat Khalwatiyyah Syekh Yusuf di tanah Bugis.

SOSOK SUFI
Bagaimana sufisme Syekh Yusuf, yang diwariskan kepada keturunan dan pengikutnya? Dalam pandangan Syekh Yusuf, Allah tidak ada yang menyerupai, tidak ada yang menandingi.

إ نه تعالى هو المو صوف بأ ية : ليس كمثله شى ء وسورة الأ خلاص

“Sesungguhnya, Allah Ta’ala disifati dengan ayat al-Qur’an al-Shura ayat II, yang bermaksud: Tiada Tuhan apapun yang menyerupai-Nya”.

Konsep tauhid Syekh Yusuf tidak lepas dari konsep tauhid ahl as-sunnah wal-jama’ah yang menetapkan zat dan sifat bagi Allah, sebagaimana yang terkandung dalam al-Qur’an. Syekh Yusuf menyebutnya sebagai um al-i’tiqad, induk dari keimanan. Baginya, ayat tersebut menegaskan bahwa dasar Tauhid yang sebenarnya mesti dipegangi dan diyakini. Bahwa, unsur-unsur ketauhidan yang mesti diyakini orang yang menjalani suluk (pendekatan), di antaranya:

(1) Tauhid al-Ahad, meyakini bahwa sesungguhnya Allah adalah wujud Qadim (tidak berpemulaan), qadim bi-nafsih (berdiri sendiri), muqawwim lighairih (mengadakan selain-Nya). Allah Maha Tunggal, tidak bermula wujud-Nya, tiada ujung-Nya, dan tiada serupa-Nya.

(2) Tauhid al-Af’al, meyakini bahwa sesungguhnya Allah, pencipta segala sesuatu. Dialah yang memberi daya dan kekuatan dalam melaksanakan segala urusan. Allah berkehendak, dan semua kehendak manusia berada dalam kehendak Allah.

(3) Tauhid al-Ma’iyyah, meyakini bahwa sesungguhnya Allah bersama hamba-Nya, di manapun berada.

(4) Tauhid al-Ihatah, meyakini bahwa sesungguhnya Allah meliputi segala sesuatu.

Dimensi tasawuf Syekh Yusuf bergerak dalam konsep keyakinan terhadap Allah, mengelaborasi konsep tauhid sebagai pintu masuk untuk mengenal dzat yang Maha Besar, Allah Maha Agung. Inilah jalan pembuka, yang disadari Syekh Yusuf sebagai pelajaran awal bagi pengikutnya untuk mengenal Allah, mengenal Sang Pencipta.

Dalam risalah al-Futuhah al-Ilahiyyah, Syekh Yusuf merinci rukun tasawuf dalam sepuluh perkara. Bagi Syekh Yusuf rukun tasawuf ini, menjadi penting bagi salik untuk berada dalam garis perjalanan mendekat menuju-Nya. Sepuluh rukun tasawuf, yakni:

Pertama, Tahrid al-Tauhid, memurnikan ketauhidan kepada Allah, dengan memahami makna keesaan Allah, yang disarikan dari kandungan surat al-Ikhlas. Selain itu, meyakini Allah dengan menjauhi sifat tasybih dan tajsim.

Kedua, faham al-Sima’i, bermaksud memahami tata cara menyimak petunjuk dan bimbingan Syekh Mursyid dalam menjalani pendekatan diri, kepada Allah.

Ketiga, Husn al-Ishra, bermaksud memperbaiki hubungan silaturahmi dan pergaulan.

Keempat, Ithar al-Ithar, bermaksud mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri demi mewujudkan persaudaraan yang kukuh.

Kelima, tark al-ikhtiyar, bermaksud berserah diri kepada Allah tanpa i’timad kepada ikhtiar sendiri.

Keenam, surat al-wujd, memahami secara jernih hati nurani yang seiring kehendak al-Haq.

Ketujuh, al-kahf an al-khawatir, bermaksud membedakan yang benar dan salah.

Kedelapan, khatrat al-safar, bermaksud melalukan perjalanan untuk mengambil i’tibar dan melatih ketahanan jiwa.

Kesembilan, tark al-iktisab, bermaksud mengandalkan usaha sendiri, akan tetapi lebih bertawakkal kepada Allah setelah berusaha. Kesepuluh, tahrim al-iddihar, bermaksud tidak mengandalkan pada amal yang telah dilakukan, melainkan tumpuan harapannya kepada Allah.

Bagi Syekh Yusuf, manusia yang sempurna (al-insan al-kamil) merupakan manusia yang sampai ke makam ma’rifat. Bukan hanya manusia biasa yang berislam secara dangkal. Syekh Yusuf memberi penekanan tentang hakikat ma’rifat dalam kekhususan tingkatan manusia sebagai al-insan al-kamil. Manusia sempurna akan ingat Allah dalam segala urusan, kapanpun dan di manapun berada.

SOSOK PEJUANG
Kisah perjuangan Syekh Yusuf dalam mempertahankan kedaulatan di bumi Nusantara menjadikan dirinya diasingkan di Ceylon (Srilangka) dan Afrika Selatan. Syekh Yusuf tidak hanya milik masyarakat Bugis, namun juga warga muslim Nusantara, Ceylon dan Afrika.

Presiden Afrika Selatan, pada 1994, menetapkan Syekh Yusuf sebagai pejuang kemanusiaan. Sementara, di negeri ini, Syekh Yusuf dianggap sebagai waliyullah yang menyambungkan sanad keilmuan, menggerakkan perjuangan melawan kolonialisme hingga mewariskan jejaring tarekat yang dianut keluarga dan muridnya hingga kini.

Pada masa hidupnya, Syekh Yusuf membawa perubahan penting dalam perjuangan dakwah yang diembannya. Syekh Yusuf dikenal di Kesultanan Banten, Tanah Bugis (Sulawesi Selatan), Ceylon (Sri Langka), dan Cape Town (Afrika Selatan). Dalam pengasingan di Ceylon dan Capetown, Syekh Yusuf mengembangkan Islam dengan mengajar warga, hingga menjadi komunitas muslim di negeri tersebut. Jejak komunitas muslim dan keturunan Syekh Yusuf di Ceylon dan Capetown masih dapat dilacak hingga kini.

Silsilah Beliau Syech Asta Yusuf AlAnggawi Habasi Bin Ali Bin Abdullah Bin Jarullah Bin Abd Aziz Bin Muhammad Bin Ahmad Al Angkowi (Al Anggawi) / Angga.

WAFAT
Syekh Yusuf wafat pada 23 Mei 1699 di Capetown, Afrika Selatan. Beliau dikenang sebagai pejuang, jembatan Ulama Nusantara dan Timur Tengah, serta sufi yang mengajarkan lautan ilmu kepada murid-muridnya

PENGHARGAAN
Pada 2009, Syekh Yusuf mendapatkan penghargaan Oliver Thambo, penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan. Penghargaan ini penting untuk mengenang sosok Syekh Yusuf di dataran Afrika, atas jasa besarnya dan menjadi inspirasi warga. Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki, menyerahkan penghargaan langsung kepada tiga ahli warisnya, di antaranya Andi Makmun dan Syachib Sulton. Wapres Jusuf Kalla menyaksikan langsung prosesi penyerahan penghargaan ini, di Union Building, Pretoria, Afrika Utara

Makam Syekh Yusuf di Cape Town
Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela , mantan presiden Afrika Selatan , menyebutnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.

Makam & Gelar Pahlawan Nasional
Jenazah Syekh Yusuf Tajul Khalwati dibawa ke Gowa atas permintaan Sultan Abdul Jalil (1677-1709) dan dimakamkan kembali di Lakiung, pada April 1705. Kemudian Syekh Yusuf Allahu yarham dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto dengan SK Presiden : Keppres No. 071 / TK /1995, Tgl. 7 Agustus 1995. [7] Pada tahun 2005, Syekh Yusuf dianugerahi penghargaan Supreme Companion OR Tambo in gold, untuk kepala negara dan, dalam kasus khusus, kepala pemerintahan (SCOT) pada 27 September 2005 kepada ahli warisnya yang disaksikan oleh Wapres RI. M. Yusuf Kalla di Pretoria Afrika Selatan.

Sudah Putuskah Dzurriah Rasulullah ? Di Aceh

Penjelasan Perbedaan Ahlul Bait Dan Dzurriah dan Sejarah Singkat Gelar Keturunan Yang Ada Di Aceh .

Ahlul Bait itu keturunan 7 keatas dan 7 kebawah di karenakan 7 keturunan kebawah tidak ada atau terputus maka tidak ada lagi ahlul bait peninjau nya karenan Rasulluah keturunan anak laki laki pada wafat semua , dan ada berpendapat lain bahwa Ahlul bait atau keluarga Nabi hanya terbatas pada lima orang saja, yaitu Rasulullah , Fathimah, Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husain.

sehingga pada masa itu Rasullulah di perolok olok oleh orang orang yang tidak suka kepada Rasullulah, Sehingga ada hadis yang berbunyi menjelaskan bahwa Hasan dan Husen adalah keturunan Rasulullah saw. Misalnya, “Kedua anakku ini (sambil menunjuk Hasan dan Husen) adalah kesturi dan kedua anakku ini adalah pemimpin (sayyid), baik ketika berdiri, maupun ketika duduk”.
Riwayat ini dapat dibaca misalnya dalam karya (1) Khatib al-Khawarizmi dalam “al-Manaqib”; (2) Mir Sayid Ali al-Hamdani al-Syafi’i dalam “Mawaddah al-Qurba”; (3) Imam Ahmad bin Hambal dalam “musnad”-nya; dan (4) Sulaiman al-Hanafi al-Balkhi dalam “Yanabi al-Mawaddah”. Dan Riwayat lain Bahwa mengatakan bahwa Kedua anakku ini (sambil menunjuk Hasan dan Husen) adalah kesturi dan kedua anakku ini adalah anak nya fatima dan nasab nya kepada ku “

Sehingga dari hadis tersebut kita tau kalau dari keturunan Imam Hasan dan Imam Husen Itu adalah Dzurriah Rasullulah..

ada pertanyaan .(Diskusi Antar Said Munir dan Tgk Aiyub)..


“Apakah sayyid dan syarifah itu keturunan Nabi saw?”, beliau membuka diskusi.

Saya sedikit terkejut dengan pertanyaan sederhana dan singkat ini, namun berat untuk dijawab. Lama saya menatap beliau. Agak malu juga untuk menjawab apalagi mengaku-ngaku sebagai keturunan Nabi saw. Walau bagaimanapun saya harus menjawab.

“Ya benar. sayyid dan syarifah adalah keturunan Rasulullah saw”, jawab saya singkat.

Tgk. Aiyub kembali menanggapi secara kritis, “Mengapa sayyid dan syarifah disebut keturunan Nabi saw? Bukankah Nabi saw tidak memiliki keturunan? Sebab keturunan itu dari pihak laki-laki, bukan dari pihak perempuan.”

Menurut tgk. Ayub, sayyid dan syarifah terlahirkan dari putri Nabi saw, jadi bukan keturunan dari putra Nabi saw, karena Nabi saw tidak punya putra. Jadi, sayyid dan syarifah adalah keturunan putri Nabi saw, bukan keturunan Nabi saw. sayyid dan syarifah bukan anak Rasulullah saw, tetapi bernasab kepada Ali bin Abi Thalib kwh”.

“Sayyid”, Cucu sekaligus Keturunan Nabi saw. Mendapat tanggapan menarik ini, saya kembali menjawab: “Kami pribadi dengan rendah hati sebenarnya tidak berani mengakui diri sebagai keturunan imamul mukminin Ali bin Abi Thalib, apalagi keturunan manusia sempurna Muhammad bin Abdullah. Ini dikarenakan akhlak kami yang masih jauh dari apa yang mereka teladankan. Banyak dari kami yang kalian lihat sendiri melakukan maksiat. Terlalu berat mengemban nama besar mereka. Namun karena ini bagian dari diskusi agama yang baik, maka yang benar harus kami sampaikan.”

Maka kemudian saya meminta izin untuk menjawab pertanyaan tersebut atas dasar kebutuhan pencerahan intelektual, sehingga kita dapat memahami sesuatu dengan lebih baik. Penting bagi kita ummat Islam yang beriman kepada Nabi saw untuk memiliki pengetahuan tentang Beliau, keluarga dan keturunannya. Jawaban saya semoga tidak berdasarkan nafsu apalagi atas dasar arogansi nasab keturunan. Saya akan menggunakan dalil agama, baik yang bersumber dari alQur’an maupun Hadist. Serta dari beberapa literatur yang dishahihkan oleh para ulama yang menjelaskan bahwa sayyid dan syarifah tidak hanya cucu Rasulullah saw, tapi juga keturunan Beliau.

“Kalau sayyid dan syarifah adalah cucu Nabi saw itu sudah jelas benar. Karena yang namanya cucu tidak hanya dari anak laki-laki, tapi juga dari anak perempuan. Kalau anda punya anak perempuan. Lalu anak perempuan anda punya anak. Sudah jelas, anak dari anak perempuan anda tersebut adalah cucu anda. Jadi sayyid dan syarifah adalah cucu Nabi saw, tidak perlu dibantah lagi. Karena mereka adalah anak turunan dari anak perempuan Nabi saw”, saya menjelaskan. “Tetapi sayyid dan syarifah tidak hanya cucu Nabi, bahkan juga keturunan Nabi saw dari jalur anak perempuan beliau, Fathimah”. Berikut penjelasannya.

Pertama, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim…. dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya.… dan dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Isa, dan Ilyas semuanya termasuk orang-orang yang saleh” (QS. alAn’am -6: 83-85).

Ayat ini berbicara tentang sejumlah nabi dan anak keturunannya. Disitu juga disebutkan nama Isa as. Lalu siapa ayah nabi Isa as? Tentu Isa as tidak memiliki ayah. Tetapi, dalam ayat tersebut Allah swt menisbatkan Isa as kepada keturunan para Nabi melalui garis ibunya, Maryam. Demikian juga sayyid, Rasul sendiri yang menisbatkan mereka kepada beliau melalui ibu mereka Fathimah. Hadist tentang penisbatan keturunan para sayyid melalui garis Fathimah akan saya jelaskan kemudian.

Kemudian, dalam ayat lain Allah swt juga berfirman, “Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu yang meyakinkanmu, maka katakanlah (kepadanya), “marilah kita memanggil anak-anak kami (abna ana) dan anak-anak kamu, perempuan kami (nisa ana) dan perempuan kamu, diri kami (anfusana) dan diri kamu. Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta” (QS. Ali ‘Imran -3: 61).

Ayat ini turun ketika Nabi saw bermubahalah dengan kaum Nasrani, yang menyertakan Ali, Fathimah, Hasan, dan Husen dalam jubah atau kain kisa. Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa arti dari kalimat abna ana (anak-anak kami) dalam ayat ini adalah Hasan dan Husen. Sementara arti dari nisa ana (perempuan kami) adalah Fathimah. Serta anfusana (diri kami) adalah imam Ali.

Sejumlah ulama ketika menafsirkan surah Ali ‘Imran ayat 61 tersebut mengatakan bahwa Hasan dan Husen adalah keturunan Rasulullah saw karena dalam ayat ini Allah menjadikan Isa as sebagai keturunan Ibrahim. Padahal, Isa as tidak memiliki nasab dari Ayah. Dari garis ibunyalah Isa as bernasab kepada Ibrahim as. Demikian juga Hasan dan Husen sebagai keturunan Rasulullah saw dari garis ibu. Hal ini diantaranya dijelaskan dalam Tafsir “al-Kabir” karya Imam Fakhrurrazi, jilid 7, juz 13, hlm.66, (2). Kitab “al-Ihtijaj”, juz 2, diskusi No.271, hal.335, (3). Syarah “Nahjul Balaghah” oleh Abu Bakar alRazi.

Banyak hadist-hadist mu’tabar yang Rasul saw menyatakan bahwa Hasan dan Husen sebagai anak-anaknya. Sering nabi memperkenalkan kepada sahabat-sahabat beliau sambil berkata, “inilah kedua anakku”. Penasaban mereka sebagai anak-anak Nabi saw tentu menjadi penasaban istimewa dalam Islam. Dan inilah kelebihan dan hak prerogratif Rasul. Apa yang diucapkan Rasul menjadi hukum dalam Islam. Dan hal ini menjadi hukum penasaban khusus dalam agama Islam. Hukum khusus lainnya dapat dilihat dalam semua mazhab Islam dimana sayyid dan syarifah adalah golongan yang haram menerima dan memakan zakat, semiskin apapun mereka. Ini hadist, perintah Nabi saw yang menjadi hukum Islam.

Kenapa mesti ada pengecualian khusus? Begitulah Rasul saw ingin menjelaskan kekhususan keturunannya melalui Ali bin Abi Thalib dan Fathimah azZahra. Dalam hal ini Nabi sekaligus ingin menyatakan bahwa beliau tidak menuntut upah dan harta apapun atas pekerjaannya berdakwah untuk umat (QS. asySyura -42: 23). Demikian juga beliau perintahkan kepada keluarga dan keturunan beliau melalui Fathimah untuk tidak menerima sedekah dan zakat.

Dalam hadist lainnya Rasulullah saw bersabda, “Allah azza wajalla menjadikan keturunanku dalam sulbi Ali bin Abi Thalib”. Ini hadist dengan sanad dari Jabir bin Abdullah al-Anshari yang dapat ditemukan dalam (1) “Kifayah al-Thalib” karya Allamah Kanji (Muhammad bin Yusuf al-Syafi’i); (2). Riwayat Ibn Hajar al-Makki dalam “al-Shawa’iq al-Muhriqah”, hal.79 & 94, dari at-Thabrani dari Jabir bin Abdulah al-Anshari; dan (3) Riwayat Khatib al-Khawarizmi dalam “Manaqib ibn Abbas”.

Pada kesempatan lain ketika Nabi saw sedang duduk dengan Abbas, Ali datang menemui Rasul. Setelah menjawab salam Ali, lalu Rasul merangkul dan mencium kening Ali. Melihat ini, Abbas bertanya pada Rasul, “Apakah anda mencintainya?”. Rasul menjawab, “Wahai paman, demi Allah, Allah lebih mencintainya daripada aku. Allah menjadikan keturunanku dalam sulbi orang ini”. Hadist ini disebutkan at-Thabrani dalam “al-Mu’jam al-Kabir”.

Tentu ada yang membantah, bagaimana bisa keturunan Nabi saw adalah melalui imam Ali. Seharusnya melalui Fathimah. Sementara keturunan melalui Fathimah adalah keturunan melalui anak perempuan. Maka keturunan melalui anak perempuan bukan keturunan ayahnya. Mereka yang membantah ayat dan hadist yang telah tersebutkan di atas, biasanya berpegang pada syair berikut ini: “Putra-putri kita adalah anak putra kita, anak putri kita adalah anak orang lain”. Sejumlah ulama telah membantah bahwa syair ini tidak berlaku untuk Nabi (S.M alMusawi, “Mazhab Pecinta Keluarga Nabi”, MPress & Alhuda, 2009).

Keturunan Nabi saw “Terputus”? Dalam sejarah awal Islam, selain Yahudi, ada satu kelompok yang paling senang ketika mengetahui Nabi saw tidak punya anak laki-laki yang hidup sebagai penerus keturunan (tiga putra Nabi; Qasim, Abdullah dan Ibrahim semuanya meninggal saat masih kecil). Mereka adalah Bani Umayyah. Sebagaimana diketahui, Bani Umayyah adalah pesaing utama Bani Hasyim klan-nya Nabi saw. Padahal kedua mereka ini (Hasyim dan Umayyah) adalah sama-sama dari suku Quraisy, anak dari Abdu Manaf. Sejak masa jahiliah, kedua kelompok yang sebenarnya bersaudara ini telah bersaing memperebutkan kepemimpinan kota Mekkah, termasuk dalam hal penjagaan Kakbah. Tetapi Bani Hasyim lebih dicintai oleh masyarakat sehingga memenangkan leadership kota Makkah, baik secara politik maupun spiritual. Bahkan salah satu cicit Hasyim, yaitu Muhammad saw, merupakan sosok paling dicintai dan dipercayai oleh warga Mekkah karena kejujurannya (al-Amin). Anak turunan Bani Hasyim ini pula yang kemudian dipilih Tuhan menjadi pemimpin dunia.

Hal ini tentu semakin membuat sakit hati Bani Umayyah. Sehingga tidak heran, salah satu perlawanan terbesar terhadap risalah yang dibawa Muhammad saw datang dari Abu Sufyan dan anak-anaknya. Abu Sufyan termasuk orang yang paling akhir masuk Islam. Ia baru menerima kebenaran yang dibawa Muhammad saw ketika “futuh Mekkah”. Artinya, ia menerima Islam justru ketika sudah berada dalam posisi sangat tersudutkan dan tidak lagi punya kekuatan untuk melakukan perang terbuka. Padahal, kelompok Umayyah ini masih menyimpan hasrat untuk menjadi penguasa Arab dan Mekkah. Tapi kemunculan Islam dibawah Muhammad saw telah menghalangi impian mereka.

Itulah sebabnya, sindiran sering dilakukan kepada Muhammad saw karena tidak punya anak-laki. Mereka senang karena menganggap “trah” Muhammad saw sudah terputus. Atas sikap ini Allah swt mengutuk mereka, “… Sesungguhnya merekalah yang terputus” (QS. alKautsar -108: 3). Juga melalui lisan Nabi-Nya, baik melalui berbagai hadist baik yang sudah kita bahas maupun hadist-hadist lainnya, disebutkan bahwa keturunan Muhammad saw adalah dari anaknya Fathimah, serta tidak akan terputus sampai hari kiamat. Sebagaimana diriwayatkan, Rasul saw berkata, “Setiap hasab dan nasab terputus pada hari kiamat kecuali hasab dan nasabku”.

Hadist ini dapat ditelusuri dalam sejumlah karya seperti (1) Allamah al-Kanji dalam “Kifayah at-Thalib”, hal.380, riwayat at-Thabari dalam Tarjamah al-Hasan; (2) Sulaiman Hanafi dalam “Yanabi al-Mawaddah”; (3) Jalaluddin as-Suyuthi dalam “ Ihya al-Mayyit fi Fadhail Ahl Bayt”; (4) Abu Bakar bin Syihabuddin dalam “Rasyfah al-Shadi fi Bahr Fadhail Bani al-Nabi al-Hadi”, bab 3, cetakan Mesir; (5) Ibnu Hajar Haitami dalam “al-Shawaiq al-Muhriqah”, Bab 9, Pasal 8, Hadist No.17; dan (6) Ibn Hajar dalam “Shawaiq”, Bab 11, Pasal 1, ayat 9.

Dari hadist ini kita juga memahami mengapa kaum habib, sayyid, atau syarif termasuk kelompok yang paling rapi pencatatan nasabnya di muka bumi. Ada lembaga resmi yang mereka kelola sendiri untuk mencatat nasab keluarga di seluruh dunia, dan -atas izin Allah- tidak akan terputus sampai kiamat.

Keturunan Nabi saw dari Jalur Anak Perempuannya, Fathimah. Tentang betapa beliau memuliakan anaknya Fathimah sebagai penerus nasabnya sudah sering diceritakan dalam sejarah. Misalnya diriwayatkan bagaimana Nabi saw dengan bangga membawa Fathimah dikeramaian Mekkah sambil berteriak menyatakan bahwa ini adalah anaknya. Padahal, memiliki anak perempuan pada masa itu bukanlah sesuatu yang membanggakan. Bahkan ada kasus-kasus jahiliah yang membunuh anak perempuannya karena rasa malu. Bahkan sampai hari ini, masih banyak ayah yang kecewa jika yang terlahir dari rahim istrinya adalah anak perempuan.

Tetapi tidak demikian dengan Nabi saw. Selain bangga dengan anak perempuannya, beliau membuat pernyataan hukum yang mengejutkan, bahkan masih sulit diterima oleh sebagian orang sampai hari ini: “Keturunan ku adalah dari anak perempuan ku, Fathimah.” Seperti tersebut dalam hadist yang sanadnya dari Umar bin Khatab juga disebutkan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Semua anak dari perempuan bernasab kepada ayah mereka, kecuali yang dilahirkan Fathimah. Akulah ayah mereka”. Hadist ini dapat dibaca dalam Allamah al-Kanji dalam “Kifayah at-Thalib”, hal.381.

Ini termasuk pernyataaan tertinggi tentang gender dan emansipasi perempuan dalam Islam. Karena Nabi saw menyuarakan secara terbuka bahwa Fathimah adalah anak kebanggaannya, dan dari anak perempuannya ini pula keturuanannya berlanjut. Beliau mengangkat derajat anak perempuan justru pada era dimana perempuan tidak diakui dan sangat direndahkan. Garis keturunan yang biasanya mengikuti jalur laki-laki (patriarchal), tetapi khusus bagi dirinya Nabi saw menyatakan, keturunannya dari jalur anak perempuan.

Demikianlah. Penerus Nabi saw adalah dari sulbi Fathimah (dan Ali). mereka ini adalah: Hasan dan Husein. Kedua sayyyidusy syabab ahlul jannah inilah yang kemudian kembali menjadi saingan Bani Umayyah dan berusaha dihabiskan “trah”-nya oleh Muawiyah, Yazid, dan anak turunan Abu Sufyan lainnya dari klan Bani Umayyah.

Kontestasi politik untuk menguasai Arab dan memimpin dunia Islam pasca Muhammad saw terus berlanjut. Ketika Bani Umayyah berhasil mengkudeta khalifah Ali bin Abi Thalib (yang juga dari Bani Hasyim), mereka terus berusaha mengeleminir seluruh pengaruh Bani Hasyim. Secara politik terlihat berhasil untuk beberapa waktu, karena mampu menghilangkan kepemimpinan politik Bani Hasyim keturunan Nabi saw, khususnya kaum “sayyid” dari jazirah Arab. Sehingga dapat dipahami mengapa kaum sayyid anak cucu Rasul saw mengalami diaspora yang luar biasa ke berbagai belahan dunia. Mereka hijrah dari Makkah, ke Madinah, kemudian ke Irak, Iran, Yaman, dan seterusnya keberbagai belahan dunia (termasuk Indonesia) sambil berdakwah.

Hukum Penasaban Khusus (Lex Specialis). Kembali kembali ke topik utama. Maka jelas sudah, bahwa keturunan Nabi saw adalah Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein dari Sayyidah Fathimah. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an lainnya juga terdapat hujjah yang jelas tentang kekhususan penasaban Hasan dan Husen kepada Muhammad saw melalui ibu mereka Fathimah. Ini sebagaimana Isa yang sebelumnya telah dijelaskan, bersambung nasabnya kepada Nuh dari pihak ibunya Maryam (QS. alAn’am -6: 84-85). Artinya, penasaban Hasan dan Husen kepada Nabi saw, walaupun dari pihak ibu, tidak terhalang. Seperti penasaban Isa as kepada Nuh as melalui ibunya Sayyidah Maryam. Tentang ini turut dijelaskan at-Thabrani dalam “al-Mu’jam al-Kabir”.

Inilah hukum penasaban khusus yang bersifat lex specialis, hak istimewa Rasul saw, yang di jelaskan dalam ayat dan hadist. Kalau Rasul saw sudah mengatakan begitu, apakah mau kita bantah? Rasul saw sendiri bukan jenis orang yang asal ngomong. Beliau tidak berkata sembarangan, kecuali sesuatu yang diwahyukan, “wama yanthiqu ‘anil hawa, inhuwa illa wahyu yuuha” (QS. anNajm -53: 3-4).

Penutup. Jika kita memahami berbagai ayat dan hadist diatas, sebenarnya Rasulullah saw sendiri yang menyatakan Hasan dan Husen (yang dari keturunan mereka digelar sayyid, sayed, said, syed, seyyit, sidi, syarif, habib, dan lain sebagainya) sebagai keturunannya. Bukan kami para sayyid yang fakir-fakir ini yang memaksakan diri mengaku sebagai keturunan Rasul saw.

“Meskipun sayyid keturunan Rasul saw, namun dalam hal amal, Rasul saw tidak membedakan antara orang Arab dan orang ajam. Yang paling mulia disisi Allah adalah yang bertaqwa (QS. alHujurat -49: 13),

Keturunan Sayyid / Syahrif Awal mula di kenal sayyid untuk keturunan imam husen dan sedangan syahrif di kenal sebagai keturunan imam hasan.

Kasus gelar di aceh itu dari keturunan abdullah albahir alfarisi yang mempunyai anak yang bernama Syahriansyah Salman Alfarisi
Menurut penelitian Sayed Dahlan al-Habsyi, Syahri merupakan gelar pertama yg dipakai keturunan Nabi Muhammad di Nusantara sebelum memakai gelar Meurah, Habib, Sayid, Syarief, Sunan, Teuku, serta lainnya. Syahri diambil dari nama istri Sayyidina Husein bin Ali, Puteri Syahri banun, anak Maha Raja Persia terbaru yg ditaklukkan Islam.

Jadi Singkat saja dari gelar Sayid/Syahrif yang ada di aceh Menjadi Syahri, Dari Syahri Jadi Meurah Dari gelar Meurah menjadi Sultan , Dari Sultan Berubah Menajadi Teuku Chik (Pada Masa Perang Cumbok) Dari gelar sultan ke Teuku Chik banyak hilang keturunan Ulee Balang.
Singkat cerita dari keturunan Teuku Chik jadi lah gelar yang saat kita kenal ini adalah Dengan Sebutan Gelar Teuku…

Jadi kesimpulan nya Gak semua keturunan Ampon (Teuku) itu Dzurriah Tetapi ada Keturunan Ulee Balang (Ampon) atau Teuku Itu Keturunan Dzurriah Rasullulah .
dan banyak sekali keturunan Rasullulah dari jalur imam hasan dan imam husen Yang ada di aceh .

Dari Jalur imam husen melalui jalur persia atau Dari Syariansyah Salaman Alafarisi anak Abdullah AlBahir Alfarisi Bin Zainal Abidin Bin Husen Bin Ali dan dari Habib Abdurrahman bin Syech Alwy Al-Habsyi (fam / Marga : Jamalulay, Alhabsyi, al-Mahdali, Alaydrus Dll.)

Sedangkan Jalur Imam Hasan Dari Abdullah Al Kamil Bin Hasan Almuthanna , Dan Ada Juga Dari Keturunan Syech Muhammad Azzakariyah Qurnairni Habasi (Fam / Marga : Alanggawi, Habasi( Al-Asyi) , Lambaet / Baet (marga lokal) , AsySyahrif, Dll.
Dzuriah Nabi yang ada di aceh Melewati Jalur Perdagangan dan Kesultanan Atau Kerjaan atau ada juga yang Menjadi Mufti Kekerajaan.