SEJARAH ULEE BALANG GLOEMPANG DOEWA GEUREUGOK.
(Analisa Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp.Doewa)
Berdasarkan catatan belanda “Mededelingen Betrefende De Atjehsche Onderhoorigheden” atau laporan tentang daerah taklukan di Aceh yg dibuat pd tgl 14 mei 1901 mengenai negeri Gloempang Doewa yg merupakan pecahan dari Keujruen Peusangan Raya Letak geografisnya wilayah negeri Gloempang Doewa sbb ; disebelah timur berbatasan dgn ulee balang Sawang, sebelah selatan berbatasan dgn wilayah ulee balang Lingge Gayo, sebelah barat dgn berbatasan dengan ulee balang Peusangan sedangkan sebelah utara berbatasan dgn Selat Malaka.
Dahulu ulee balang ini disebut dgn Keujruen Meusyi merupakan kombinasi kata dari bahasa aceh dan arab “meuasyi” artinya ber aceh. Orang tua kita dahulu menyebutnya dgn kata “meuse”, terletak di wilayah Krueng Panjoe sekarang dgn pusat pemerintahan di Kuta Panjoe. Keujruen Meusyi merupakan cikal bakal ulee balang Gloempang Doewa, Geureugok. Didirikan oleh Teuku Bentara Mahmud Kuta. Panjoe putra dari Teuku Bentara Kuanta atau Tgk Chik Nyak Krueng mantan penguasa Keujruen Peusangan Raya. Tgk Chik Nyak Krueng merupakan putra bungsu Teuku Keujruen Chik Peusangan Seutya Raja yg bernama Teuku Panglima Perang Dihadjat Pasee yg lebih dikenal dgn nama “Bujang Diajat”. Teuku Bentara Mahmud Kuta Panjoe juga merupakan mertua dari Teuku Laksamana Sawang pendiri Negeri Sawang.
Menurut arakata Pasee, silsilah Bujang Diajat bersambung ke Maharaja Fassangan Meurah Syah penguasa sungai Fassangan (Peusangan) dari hulu sampai ke hilir Kuala Ceurapee. Maharaja Fassangan Meurah Syah jalur nasabnya bersambung ke Tgk Meurah Madereih (Tu Poraja Syik Malik Bintan Hulu) yg melahirkan ulee balang mukim tujoeh di seluruh wilayah aceh. Tgk Meurah Madereih merupakan putra dari Tu Poraja Syik Yamani Pasee penguasa Kenegerian Pasai sejak runtuhnya Kesultanan Samudera Pasai th 1524.
Keturunan Tgk Meurah (Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu) yg jadi raja pada th 1040 H yaitu :
1.Meurah Seundri atau Tu Poraja Chik Mereudue.
2. Meurah Seubat atau Tok Nabib Andarul Fathir Syamsul Alam, yg menurunkan ulee balang Cunda, Buloeh, Meuraksa Bayu dan Pasai.
3.Meurah Puteh, yg menurunkan ulee balang wilayah Meulaboh, Labuhan haji, Tapak tuan, Susoh dan Daya.
4. Meurah Itam, raja karang hulu Tamiang, Isaq, Lokop, Serbojadi, Samarkilang, dan Pining wilayah Aceh Tengah bagian timur.
5. Meurah Al Qusyaqsyi, raja Gayo Lingge, Bener Meriah Aceh Tengah bag. Barat.
6. Meurah Syah atau Ja Kuta di Peusangan, Jeumpa, yg menurunkan ulee balang di wilayah Peusangan, Peudada, Gluempang Dua, Geurugok, Sawang dan Nisam
7. Meurah Fattani atau Teuku Raja Fattani, Kuala Simpang dan pesisir timur, yg menurunkan ulee balang Krueng Pasee Geudong, Samakuroek, Bluek dan Blang me.
Dalam hikayat malem dagang disebutkan sewaktu Sultan Iskandar Muda melakukan penyerbuan ke Malaka, beliau melakukan perjalanan darat dari Bandar Aceh Darusalam sampai ke Jamboe Aye Panton Labu dalam rangka mengumpulkan armada perang dan pasukan. Dalam muhibahnya di pantai Utara Aceh beliau di dampingi penasehatnya Ja Pakeh, Panglima Pidie Maharaja Indra, Panglima Malem Dagang dan Raja Raden dari Negeri Pahang. Dalam perjalanannya singgah di negeri Fassangan selama 7 hari dan di jamu oleh Maharaja Fassangan Meurah Syah dan Sultan meminta untuk menyediakan armada laut fassangan utk ikut rombongan kapal induk Cakradonya. Maharaja Fassangan Meurah Syah menyanggupinya dengan mengirimkan 5 buah ghali (kapal besar) dan puluhan jung (perahu) lengkap dgn sejumlah panglima perang dan pasukan tempurnya. Setelah beberapa hari menetap di Fassangan, sultan kemudian melanjutkan perjalanannya melalui jalan darat diikuti rombongan Cakradonya dari pantai. Cakradonya atau Espanto del Mundo merujuk kepada istilah yg dipakai koran perancis “Mercure De Francaise”.berdasarkan kesaksian seorang pelaut perancis kapten Agustine De Beaulieu.
Habib Bugak Al Asyi atau Habib Abdurrahman Alwi Al Habsyi yg mewakafkan harta beliau di masjidil haram juga berasal dari wilayah Bugak Krueng Matee yg dahulunya merujuk ke wilayah Keujruen Meusyi Fassangan. Dalam perjalanan sejarahnya Keujruen Meusyi kemudian berubah nama menjadi ulee balang Gloempang Doewa yg berpusat di Keude Geurugok sekarang kecamatan gandapura. (Photo, Cap Stempel Korte Velklaring Ulee Balang Gloempang Doewa, Geureugok th 1882, Sumber KITLV), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya Gloempang Doewa.