MENELUSURI JEJAK SEJARAH KUTA KRUENG PASEE, PUSAT PEMERINTAHAN KENEGERIAN PASAI.
(Analisis Sejarah Aceh by. Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp Doewa)
Nama Kuta Krueng yg terletak di kuala krueng Pasee, Blang Me Geudong didirikan oleh Tu Poraja Chik Yamani Pasee pd th 1524, merupakan pusat pemerintahan kenegerian Pasai. Dahulu pusat pemerintahan ini bernama Bandar Samatera, pertama sekali dikunjungi oleh seorang pelaut Italia Marco Polo pd th 1267. Pada saat itu kerajaan Samudera Pasai masih diperintah oleh Sultan Malikussaleh.
Dalam Kartografi Barat, Bandar Samatera ditandai dengan nomenklatur Ponte of Dumonde (Diamond Point) artinya Pulau Manikam yg merupakan titik ujung timur dari Jalur Sutera (Silk Road) perdagangan dunia pd masa itu. Seiring runtuhnya kerajaan Samudera Pasai nama Bandar Samatera kemudian berganti nama menjadi Bandar Kuala Pasai dimana Kuta Krueng menjadi pusat pemerintahan Kenegerian Pasai.
Salah seorang putra dari Maharaja Fassangan Meurah Syah (Ja Kuta) yg pernah menjadi pemimpin kenegerian Pasai setelah era Maharaja Tujoeh atau Raja Tujuh adalah Tgk Raja Malem atau Poraja Wan di Krueng Pasee Tanjung Pala yg berkedudukan di Kuta Krueng, Blang Me, Geudong. Tgk Raja Malem merupakan putra dari Maharaja Fassangan Meurah Syah (Ja Kuta) bin Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee wali negeri Pasai. Tgk Raja Malem mempunyai 10 org putra yg tersebar di wilayah ini yaitu :
1. Poraja Tu Maut
2. Penghulu Siddeq (Pangulee Sidee Merdue)
3. Imuem Hamani di Buloh Siwah (Buloeh Rayeuk)
4. Keuchik Ibnu Malik
5. Keuchik Manah
6. Mayma Poteu
7. Keuchik Tuan Beringen (Gp. Beringen, Blang Me, Geudong)
8. Keuchik Banih Mbang (Geureudong Pasee)
9. Tgk di Leubuel (Leubue Kuta Makmur, Gandapura)
10. Tgk Beunuwa di Matang Raya Sekali (Peusangan) atau Tgk Al Khatib di Rum (Turkiye).
Dari arakata ini kita dapat mengetahui bahwa Tgk Beunuwa bin Tgk Raja Malem yg berasal dari Matang Glumpang Dua pernah menjadi khatib jum’at di negeri benua Rum Turkiye. Itu terjadi pd saat beliau selesai melaksanakan ibadah haji di Mekkah kemudian dalam perjalanan pulangnya singgah di benua Rum Turki dan menjadi khatib jum’at disalah satu mesjid disana. Kapan tepatnya waktu kejadian tsb tak dijelaskan dalam Arakata ini. Diperkirakan itu terjadi di penghujung abad ke 18 semasa Habib Bugak mewakafkan sebidang tanah di kota Mekkah yg diberi nama Baitul Asyi seperti yg tertera dalam dokumen akta waqaf yang sah dicap oleh faqir kepada Allah Ta’ala Qadhi Makkah pada 18 Rabi’ul Akhir 1224 Hijriah (Jum’at, 2 Juni 1809), atas nama pewaqaf yaitu Haji Habib bin Bugak Al Asyi Atau Habib Abdurrahman bin Alwi Al Habsyi, kejadian itu terjadi sebelum arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826) dan Tgk Beunuwa diberi gelar Tgk Al Khatib di Rum karena pernah singgah di negeri benua Rum Turkiye utk diminta kesediaannya menjadi Khatib jum’at disana. Ini menunjukkan bahwa pada saat itu banyak orang2x dari wilayah Pasai khususnya dari Peusangan hilir mudik menunaikan ibadah haji di Masjidil Haram, Mekkah.
Dari arakata Pasee ini juga dapat diketahui bahwa generasi ke V dari Tu Poraja Chiek Tamani Pasee utk pertama kali mulai mengisi pimpinan kepala pemerintahan di tingkat paling rendah yaitu tingkat Gampoeng atau Meunasah spt gelar Keuchik (Kepala Gampoeng), Pangulee (Penghulu), Hariya (petugas pajak), Keurani (juru tulis), dsb. (Photo, Arakata Pasee, th 1243 H), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Langkoeta, Meunasah Barat, Keujreuen Meusyi, Glp Doewa, Peusangan Raya.
Arsip Penulis: Cempala Kuneng News .Com
Menelururi Sosok Maharaja Peusangan Jeumpa
MENGUAK TABIR SOSOK MAHARAJA FASSANGAN MEURAH SYAH SANG PENGUASA KEUJRUEN PEUSANGAN 1040 H.
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya).
Banyak ahli sejarah aceh mengatakan bahwa negeri Samalanga merupakan satu wilayah kerajaan otonom yg dibentuk oleh Sultan Iskardar Muda. Memang benar keturunan Ulee balang Samalanga dan ulee balang Ulee Glee merupakan keturunan dari Datok Bendahara Johor Tun Sri Lanang, akan tetapi siapakah penguasa Negeri Samalanga sebelum Datoek Bendahara Tun Sri Lanang hadir di Samalanga…? Saya akan menjawab pertanyaan tsb berdasarkan fakta dan data sejarah karena ini ada hubungannya dengan sejarah kenegerian Pasai dan khususnya negeri Fassangan.
Dalam Hikayat Malem Dagang Karangan Tgk Ismail bin Yakub (Tgk Chik Pante Geulima) th 1896 disebutkan bahwa setelah Sultan Iskandar Muda berpamitan kpd permaisuri Putri Pahang dalam rangka menangkap Raja Si Ujud. Beliau berangkat bersama Raja Raden dari Bandar Aceh Darussalam bersama pasukannya dan armada Cakradonya pd tgl 27 Zulkaidah (th 1615 M) menjemput Panglima Pidie Maharaja Indra dan pasukan yg telah menunggu di Sigli. Setelah menginap beberapa hari, rombongan sultan kembali menuju Mereudu melalui jalan darat untuk. menjemput Ja Madinah dan Panglima Malem Dagang dan pasukan yg telah siaga di Meureudu. Semua perbekalan dan ransum makanan utk berperang ke Johor Lama dinaikkan ke atas armada kapal Cakradonya. Kemudian rombongan sultan yg didampingi oleh Raja Raden, Panglima Pidie Maharaja Indra, Ja Madinah serta Panglima Malem Dagang tiba di kota Langkapuri, tepi kuala krueng Samalanga. Kedatangan rombongan Sultan disambut oleh penguasa setempat yg bergelar Orang Kaya Maharaja Samalanga. Pd saat itu Datuk Bendahara Tun Sri Lanang belum hadir di Samalanga dan masih menjabat sbg Bendahara Johor yg berkedudukan di Batu Sawar, Johor Lama. Dalam pertemuan itu, Sultan meminta kepada Maharaja Samalanga utk menyiapkan pasukannya dan perbekalan utk berperang ke Johor Lama. Setelah beberapa hari beristirahat di Samalanga, rombongan ini melanjutkan perjalanan ke Peudada. Sesampai di Peudada hanya disambut oleh peutuwa negeri karena Merhoem Peudada sedang pulang ke kampung halamannya di Peusangan menengok org tuanya yg sedang sakit. Setiap kali Sultan singgah di daerah Pasai, Sultan selalu menanyakan kepada Ja Madinah (Ja Fakeh) yg memang Pasai merupakan kampung halaman beliau. Ja Madinah merupakan putra dari Tu Poraja Chik Mereudu bin Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee, penguasa kenegerian Pasai.
Setelah menginap di Peudada, kemudian rombongan sultan melanjutkan perjalanan dan tiba di Blang Juli, Bireuen. Kedatangan sultan disambut oleh Raja Dereuma (Dharma) penguasa negeri Bireuen yg menikah dgn Putri Siti Bangsawan anak dari Merhoem Peudada. Setelah beristirahat di Bireuen selama beberapa hari, rombongan sultan kemudian menuju negeri Peusangan, tiba di Gampoeng Raya, Matang dan disambut oleh Maharaja Fassangan Meurah Syah atau Ja Kuta. Sama spt negeri Samalanga, negeri Peusangan mengirimkan sebanyak 5 armada kapal perangnya dan prajuritnya utk menyerang Johor Lama. Dari Matang Raya kemudian rombongan sultan ke Pante Iboih (Bugak). Kemudian singgah di Blang Minje (Kuta Blang). Kemudian melanjutkan perjalanan ke Leubue (Kuta Makmur) yg terkenal dgn keelokan dan kecantikan Putroe Leubue, selanjutnya ke Cot Jabet (Geureugok). Dari Cot Jabet rombongan Sultan Kr. Geukueh (Nisam). Kemudian menuju Blang Rancong (Batuphat), kemudian sampai di Kuta Trieng, Mon Geudong dan Pusoeng di Teluk Samawi. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sawang Kupuela (Cunda), kemudian singgah di Syamtalira. Kemudian tiba di Samakuroek (Jungka Gajah) dan terakhir perjalanan darat ini berakhir di Kuta Piadah Seunuddon. Dari hasil muhibah Sultan Iskandar Muda di wilayah Pasai. berhasil mengumpulkan armada sebanyak 700 bahtera, 17.000 pasukan dgn dipimpin kapal induk Cakradonya sbg tempat pusat komando dan bersemayam sultan dan para panglima perang selama perang di Johor Lama. Digeladak kapal Cakradonya inilah Panglima Malem Dagang diangkat sbg Laksamana Laut pada saat kapal Cakradonya berlabuh di Kuala Jambur Ayer, beliau menggantikan Panglima Pidie Maharaja Indra. Dari kuala Jambur Ayer armada kesultanan Aceh langsung menuju Teluk Aru utk menaklukkan Raja Muda Aru. Penyerangan ke Batu Sawar, Johor Lama memakan waktu selama 2 kali puasa ramadhan (2 tahun) sejak pasukan kesultanan Aceh bergerak pd tgl 27 Zulkaidah dari Bandar Aceh Darussalam sampai kembali lagi ke Nanggroe Aceh.
Dalam Hikayat Hakim Misei Peut disebutkan bahwa setelah Orang Kaya Maharaja Samalanga wafat dan beliau tdk punya keturunan sbg penerusnya sehingga terjadi krisis kepemimpinan di wilayah tsb. Atas mufakat bersama para Hakim Peut Misei sbg tuha peut negeri Samalanga utk maka diputuskan utk menghadap Sultan Iskandar Muda di Bandar. Aceh Darussalam, tapi sayangnya semua Peutuwa Empat Negeri Samalanga di eksekusi mati oleh Sultan karena dianggap tdk bisa menyelesaikan masalah internal dalam rumah tangga kerajaan Samalanga. Atas saran dari Putroe Pahang yg bergelar Ahlul Hikmatudinnissya (Kanun Bak Putroe Phang), maka diangkatlah Datuk Bendahara Tun Sri Lanang sbg penguasa negeri Samalanga yg secara historis masih mempunyai hubungan kekerabatan dgn Putroe Pahang. Dari sinilah keturunan ulee balang Samalanga Teuku Chik Bugeh dan ulee balang Ulee Glee, Pidie Jaya Teuku Chik Keureumbak Djauhar Perkasa berasal.
Salah satu fokus saya adalah membantu menelusuri jejak sejarah Negeri Fassangan dan keturunannya. Jejak negeri ini hampir sama dgn Keujruen Kanang (Kandang), Cunda sangatlah kabur dgn banyaknya silsilah keluarga ahli waris antara satu ahli waris dan ahli waris tdk singkron dan tak jelas sanad penulisan silsilahnya karena tdk ditulis dengan kaidah2x sanad ilmu salasilah.
Siapa sebenarnya tokoh penguasa Keujruen Peusangan ini..? Jawabannya dpt ditemukan berdasarkan manuskrip yg terdapat pada mukadimah arakata di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam waladu) bin Tu Poraja Chik Malik (Tu Poraja Chik Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu, merupakan salah seorang tuha peut di Keujruen Kandang Cunda. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah menjadi Sultan Aceh. Dalam mukadimah arakata ini dijelaskan siapa sosok tokoh Tu Poraja Chik Yamani Pasee.
Tu Poraja Chik Yamani Pasee atau nama aslinya Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani lahir di kota Ta’rim Hadramaut, Yaman. Tdk diketahui kapan tepatnya, tanggal lahirnya tp diperkirakan pada pertengahan abad ke XV Masehi. Beliau merupakan putra Sultan Asta, Raja Yaman yg memerintah pd th 827 H (1432 M). Beliau menanggalkan gelar bangsawannya dan lebih memilih menjadi pendakwah islam. Hijrah ke Negeri Pasai pada th 868 H (1473) di masa kerajaan Samudera Pasai di perintah oleh Sultan Zainal Abidin Ra Ubabdar (1477-1500) dan menikah dgn salah seorang kerabat Sultan Samudera Pasai, kemudian di masa pemerintahan Sultan Zain Al Abidin bin Zainal Abidin Ra Ubabdar (1513-1518) diangkat sbg mufti besar kerajaan Samudera Pasai.
Beliau bergelar Maharaja Fasangan Meurah Syah atau Ja Kuta yg merupakan putra dari Tu Poraja Chik Bintan Hulu bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Ja Kata mempunyai 6 org putra yg tersebar di wilayah ini yaitu :
1.Praja Bujang Diajad, dipeusangan jeumpa.
2.Datuk Tumenggung di Tamiyang, Seruway (Kuala Simpang)
3. Panglima Po Jawarah di Merdu (Pidie Jaya).
4. Hakim Chik Poteu Meusyi Auliya Samalanga (Samalanga)
5. Keujruen Ali Puteh Geutiek Peusangan (Peusangan)
6. Tgk Raja Malim atau Hakim Po Raja Wan di Krueng Pasee, Tanjung Pala di Krueng (Blang Mee Geudong).
Berdasarkan Statblad (Dokumen pemerintah Hindia Belanda) yg dikeluarkan pemerintah belanda pd tgl 14 Mei 1901 tentang negeri Peusangan disebutkan bahwa pd th 1182 H, Praja Bujang Diajad atau Teuku Panglima Perang Dihadjat Pasee mendapat hadiah sarakata dari Sultan Aceh dgn Gelar Tengku Keujruen Chik Peusangan Seutya Raja sbg Ulee balang negeri Peusangan. Ponyak Djat mempunyai 4 putera yaitu :
1. Teuku Mongga Kasim
2. Tgk Chik Meunasah
3. Tgk Chik Lampoeh U
4. Si Bungsu Tgk Chik Nyak Krueng.
Dari keempat putranya tsb, hanya satu yg tak menjabat sbg ulee balang karena mengalami cacat mental yaitu putra sulungnya Teuku Mongga Kasim. (Photo Arakata Pasee Sanad 1243 H), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Langkoeta, Meunasah Barat, Keujreuen Meusyi, Glp Doewa, Peusangan Raya)
Mengkuak Tabir Sosok Datoek Nabib Andarul Fathir Syamaul Alam
MENGUAK TABIR SOSOK DATOEK NABIB ANDARUL FATHIR SYAMSUL ALAM. SANG PENGUASA NEGERI KEUJRUEN KANDANG, CUNDA DI KENEGERIAN PASAI (1524-1873)
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp.Doewa)
Salah satu cabang dalam Ilmu Sejarah yg sangat penting adalah Pedigrologi. Apa itu pedigrologi…? Pedigrologi adalah salah satu cabang ilmu Sejarah yg mempelajari tentang silsilah keluarga yg ditulis secara turun temurun berdasarkan sanad ilmu salasilah. Dari sini kita dapat mengetahui seorang tokoh pada masa lalu, siapa tokoh tsb dan apa yg dilakukan pd saat itu. Dari sini juga kita dapat mengetahui waktu dan tempat kejadian pada saat itu. Dari sini juga kita dapat mengetahui makam2x tokoh anonim yg terdapat di zona wilayah kekuasaannya berdasarkan silsilah tsb.
Pada masa dahulu silsilah digunakan oleh para pembesar negeri utk menjaga nasab keluarga terutama dalam hal sejarah keluarga serta menyambung kembali silaturahmi dan perjodohan.
Sebagian para ahli sejarah berpendapat bahwa kesultanan Samudera Pasai dan Kenegerian Pasai merupakan suatu entitas yg sama. Padahall sejatinya adalah dua hal yg berbeda, ibarat satu keping uang logam dgn dua sisi yg berbeda, satu sisi menunjukkan kesultanan Samudera Pasai dan sisi lainnya menunjukkan kenegerian pasai. Banyak terdapat perbedaan antara dua kerajaan ini walaupun secara de facto wilayah teritorial kenegerian pasai memang mewarisi bekas wilayah kesultanan Samudera Pasai,
diantara perbedaannya yaitu :
1. Kesultanan Samudera Pasai dikuasai oleh dinasty Malikulsaleh yg dipimpin oleh Sultan Malik Al Shalih sedangkan Kenegerian Pasai dikuasai oleh dinasty Yamani yg dipimpin oleh Tu Poraja Yamani Pasee atau Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani yg berasal dari negeri Yaman.
2. Kesultanan Samudera Pasai dipimpin oleh seorang Sultan yg berdaulat penuh atas wilayah kekuasaannya sedang kenegerian Pasai di pimpin oleh seorang Wali Negeri yg tugas dan wewenangnya setingkat Raja, kenegerian Pasai juga merupakan wilayah protektorat kesultanan Aceh Darussalam.
3. Era kesultanan Samudera Pasai dari th 1267-1518 M, diambil th 1267 sbg tonggak sejarah (milestone) kesultanan Samudera Pasai ketika Marco Polo seorang penjelajah dunia mengunjungi Bandar Samatera pertama kalinya pd tahun tersebut, sdgkan th 1518 menunjukkan th wafat Sultan Zainal Abidin IV,sultan terakhir Samudera Pasai .
4. Era Kenegerian Pasai dimulai th 1524-1873, diambilnya th 1524 sbg tonggak sejarah (milestone) ketika Tu Poraja Chik Yamani Pasee dilantik oleh Sultan Ali Mughayatsyah sbg Wali Negeri Pasai sampai masuknya era pemerintahan kolonial Belanda th 1873. Walaupun demikian pemerintahan kolonial. Belanda masih mempertahankan struktur pemerintan kesultanan Aceh dgn membentuk pemerintahan setingkat Zelfbesturder (Wedana) dan kepala Lansekap dgn Uleebalang sbg pimpinan tertingginya. Begitu juga di masa pemerintahan Dai Nippon, Jepang (1942-1945), pemerintah fasis jepang membentuk pemerintahan setingkat Gyunchoe (Wedana) dan Syonchoe (lurah) dgn ulee balang setempat sbg pemimpin tertingginya.
Dahulu negeri ini bernama Keujruen Kanang atau sekarang lebih dikenal sbg negeri Cunda. Didirikan oleh Teuku Ja Intan (Tgk Chik Di Glee), beliau merupakan keturunan dari bekas penguasa Kenegerian Pasai Meurah Seubat atau yg lebih dikenal Tok Nabib Andarul Fathir Syamsul Alam, dengan pusat pemerintahannya di Buloeh Raya, Sp. Kramat. Adapun istilah Kanang atau belakangan disebut dgn Kandang karena pengaruh lafal Arab. Diambil dari bahasa melayu sanskrit yg berarti “tempat makam raja2x” yg memang disekitar wilayah tersebut banyak ditemukan situs2x makam raja kenegerian Pasai paska runtuh kerajaan Samudera Pasai, spt : kompleks makam raja-raja kenegerian pasai di gampong Luboek Kliep dan Luboek Tuwi di Sp, Kramat atau Makam Teuku Ja Intan dan keturunannya di Gampoeng Buloeh Mancang (Buloeh Rayeuk atau Buloeh Raya), dsb. Menelusuri jejak kenegerian pasai sangatlah pelik dan rumit karena banyak bukti2x otentik di bawa kabur oleh belanda baik itu berupa manuskrip tua ataupun situs2x nisan kuno yg berada diwilayah pasai sehingga menyulitkan utk dilakukan penelusuran karena banyak situs sejarah kenegerian Pasai diboyong ke belanda utk disimpan sbg arsip Museum Leiden, Belanda. Ketika itu pemerintah Hindia Belanda utk pertama sekali melakukan Ekspedisi Arkeologi pd th 1910 yg dipimpin oleh Federic Wilhem Stammenhause, seorang kepala Dinas Arkeologi dan Purbakala Hindia Belanda. Stammenhause yg juga seorang kurator benda bersejarah bukanlah org baru di Aceh. Dia lahir di Lamlo, Sigli pd tahun 1878, jadi sangat familiar dgn kehidupan rakyat Aceh. Ayahnya Stammenhause merupakan seorang perwira belanda yg ditugaskan di Lamlo, Sigli. Stammenhause merupakan lulusan universitas Leiden Fakultas Antropologi jurusan Sastra Arab sekaligus juga muridnya Dr. Snoucke Hurgronye yg pd th 1906 kembali ke Belanda utk melanjutkan study S3 nya. Dari hasil ekspedisi arkeologi di wilayah Pasai ini, Stammenhause banyak memboyong artefak2x kuno milik makam raja2x kenegerian Pasai terutama nisan2x kuno baik itu yg terdapat di kompleks kuburan Kuta Kareung, Cunda ataupun komplek makam raja2x kenegerian Pasai di Kuta Trieng, Keude Aceh (kompleks SKB dan SDN 10 Lsm) dan Kompleks makam Raja2x di Kp. Jawa Lama (SMK 4 Lsm) yg dijadikan Kherkofen prajurit belanda yg tewas dalam perang Aceh di Teluk Samawi. Belum lagi nisan makam raja2x kenegerian pasai yg tergusur akibat pembangunan infrastruktur spt pembangunan stasiun KA dan lintasan relnya serta bivak prajurit KNIL yg menggusur makam kuno tsb. Kemudian situs2x peninggalan belanda spt Stasiun KA Lhokseumawe dan seluruh fasilitasnya digusur kembali oleh pemerintah setempat setelah era kemerdekaan RI. Oleh karena itu kota Lhokseumawe sampai saat ini sangat minim dgn situs sejarah seolah-olah bagaikan kota mati tanpa jejak sejarah dibandingkan dengan nama Bandar Teluk Samawi dahulunya yg begitu masyur dipenjuru dunia magrib dan masriq.
Salah satu fokus saya adalah membantu menelusuri jejak sejarah negeri Cunda. Jejak negeri ini sangatlah kabur dgn banyaknya silsilah keluarga ahli waris antara satu ahli waris dan ahli waris tdk singkron dan tak jelas sanad penulisan silsilahnya karena tdk ditulis dengan kaidah2x sanad ilmu salasilah.
Siapa sebenarnya tokoh penguasa Keujruen Kandang, Pasee ini..? Jawabannya dpt ditemukan berdasarkan manuskrip yg terdapat pada mukadimah arakata di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam waladu) bin Tu Poraja Chik Malik (Tu Poraja Chik Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu, merupakan salah seorang tuha peut di Keujruen Kandang Cunda. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah menjadi Sultan Aceh. Dalam mukadimah arakata ini dijelaskan siapa sosok tokoh Tu Poraja Chik Yamani Pasee.
Tu Poraja Chik Yamani Pasee atau nama aslinya Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani lahir di kota Ta’rim Hadramaut, Yaman. Tdk diketahui kapan tepatnya, tanggal lahirnya tp diperkirakan pada pertengahan abad ke XV Masehi. Beliau merupakan putra Sultan Asta, Raja Yaman yg memerintah pd th 827 H (1432 M). Beliau menanggalkan gelar bangsawannya dan lebih memilih menjadi pendakwah islam. Hijrah ke Negeri Pasai pada th 868 H (1473) di masa kerajaan Samudera Pasai di perintah oleh Sultan Zainal Abidin Ra Ubabdar (1477-1500) dan menikah dgn salah seorang kerabat Sultan Samudera Pasai, kemudian di masa pemerintahan Sultan Zain Al Abidin bin Zainal Abidin Ra Ubabdar (1513-1518) diangkat sbg mufti besar kerajaan Samudera Pasai.
Beliau bernama Datoek Nabib Andarul Fathir Syamsul Alam atau Meurah Seubat atau Tu Seubah merupakan putra dari Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu (Tgk Chik Ahmad Idris), Cucu dari Tu Poraja Chik Yamani Pasee (Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani) Wali Negeri Pasai. Tu Seubah atau Datuk Nabib Andarul Fathir Syamsul Alam mempunyai 9 org putra yg tersebar di wilayah ini yaitu :
1. Ja Samboeng di Mbang (Geureudong Pasee)
2. Ja Bangun di Arun (Sp. Mueling)
3. Ja Pojagung di Niboeng (Blang Jruen)
4. Ja Samangkoe di Bangkau (Bangka, Cunda)
5. Ja Auliya Ghali Siwah di Buloeh Blang Ara
6. Ja Auliya Ghali di Blang Mangat (Puentut)
7. Ja Pojangga di Buloeh Rayeuk (Sp. Kramat)
8. Ja Purba di Samakuroek (Jungka Gajah)
9. Ja Intan di Buloeh Rayeuk (Sp. Kramat).
Jikalau ditemukan situs makam kuno bertarik di atas abad X Hijriyah di wilayah zonasi yg telah disebutkan diatas dipastikan itu adalah makam raja2x Kenegerian Pasai keturunan Tu Poraja Chik Yamani Pasee, trm. (Photo, Arakata Pasee, sanad 1243 H). Ttd, Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp.Doewa.
Sejarah Keturunan Raja Tujoh Atau Mukim Tujoh
Berdasarkan manuskrip yg terdapat pada mukadimah arakata di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam waladu) bin Tu Poraja Chik Muluk (Tu Poraja Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu, Aceh Utara. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah adik. dari Sultan Jauharul Alamsyah menjadi Sultan Aceh.
Dalam arakata ini disebutkan bahwa keturunan Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani atau Tu Poraja Chik Yamani Pasee (1524) yg menyebar ke 7 wilayah yaitu Tamiang, Lingge Gayo, Tapak Tuan, Daya (Lamno), Meureudue pidie, Pasee dan Peusangan Jeumpa.
Paska Tu Poraja Chik Yamani wafat, kemudian digantikan oleh putranya Tgk Chik Ahmad Idris atau Tu Poraja Chik Muluk Bintan Hulu. Berikut petikannya yg sudah dikonversikan dari tulisan melayu jawi kedalam tulisan latin :
“Keturunan Tu poraja syik muluk yg jadi raja : sanat 1040 hijriah. Tu poraja syhik mereudue
Datok nabib andarul fatir syamsyi alam
Meurah puteh di meulaboh
Meurah hitam di aceh mukim sikureung atau yusak
Meurah alqusyaksyi di gayo lingga raja lingga
Meurah Syah atau ja kuta di peusangan
Meurah Fatani kuala simpang tamiang
Poeteu meureuhom mahkota alam jauhar alam syah al maharaja muda aceh pada hijrah nabi shallallahu ‘alaihi wassallam seribu empat puluh tahun pada enam hari bulan rajab pada hari ahad dan kemudian dari itu pada dua puluh hari bulan syawal maka titahkan raja yang maha mulia pada fakir dengan titahnya dengan tiap masing – masing dia. Yaitu sultan iskandar sani alaiddin muhayat syah jauhar berdaulat dalallah fi il ‘alam sentiasalah daulat bahagia nya. Dan dilanjut pedangnya pada segala pihak negeri.
Tuanku maulana sultan mansur billah syah ibnu sultan jauhar ‘alamsyah berperang dalam tahun seribu dua ratus enam puluh enam tahun hijriah” demikian bunyi arakata tsb.
Keturunan Tu Poraja Chik Muluk Bintan Hulu yg jadi raja pada th 1040 H (1631 M) yaitu :
1.Tu Poraja Chik Mereudue, Pidie (Ja Seundri) yg menurunkan ulee balang negeri Meureudue
2.Meurah Seubat atau Tok Nabat Andarul Fathir Syamsul Alam (Tok Nabath Indra Patra Syamsul Alam Bahar Amin), yg menurunkan ulee balang di wilayah Meuraksa, Pasee, Cunda, Buloeh dsb.
3.Meurah Puteh, yg menurunkan ulee balang wilayah meulaboh (labuhan haji, tapak tuan, susoh dan daya)
4 Merah Hitam, raja karang hulu tamiang yg menurunkan ulee balang balang Isaq, Pining, Samarkilang, Serbojadi dan Lokop wilayah Aceh Tengah.
5. Meurah Al Qusyaqsyi, raja gayo lingge yg menurunkan ulee balang wilayah Lingge Gayo..
6. Meurah Syah atau Ja Kuta di Peusangan, Jeumpa, yg menurunkan ulee balang di wilayah Peusangan, Gluempang Dua Geurugok, Sawang dan Nisam)
7. Meurah Fattani atau Teuku Raja Fattani, kuala simpang, yg menurunkan ulee balang Geudong, Bluek, Samakuroek dan Blang Me.
Juga disini disebutkan Sultan Jauhar Alamsyah masih keturunan dari Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Sultan Jauhar Alamsyah pernah di kudeta oleh Sultan Syarif Saiful Alam dari dinasty arab jamalullail ketika terjadi hura-hara dan perebutan kekuasaan pd th 1815. Hal ini memaksa Sultan Alaiddin Jauhar Alamsyah menyingkir ke wilayah Pasee, Teluk Samawi dan mendirikan pemerintahan sementara disana selama kurun waktu (1815- 1818) dan mengangkat Tuanku Maharaja Abdullah (Tuanku Karot) sbg Mangkubumi kerajaan Aceh. Beliau kakeknya dari Sri Maharaja Mangkubumi Abdul Hamid. Di wilayah Teluk Samawi ini Sultan Jauharul Alamsyah membentuk pemerintahan sementara selama 4 tahun. Disini beliau sempat mencetak mata uang kerajaan aceh pd th 1229 H yg bertuliskan nama beliau dan Teluk Samawi.
Pada tahun 1818 dengan bantuan pasukan dari wilayah Pasee, istana Darud Donya berhasil dikuasai kembali oleh sultan sampai th 1824 M kemudian beliau turun tahta dan digantikan oleh adiknya Sultan Muhammad SaidSyah.
Dari arakata ini juga bisa dijelaskan keberadaan makam Tuanku Muhammad Taher yg berada di desa tambon baroeh, sp krueng geukueh yg merupakan kerabat dekat dari Sultan Jauhar Alamsyah, juga mertua dari Maharaja Teluk Samawi Sri Maharaja Mangkubumi Abdul Hamid.
Dari arakata ini disebutkan bahwa Meurah Hitam raja wilayah hulu sungai Tamiang, Samarkilang, Pining, Lokop dan Isaq (Aceh Tengah) mempunyai 11 orang anak di tahun 1040 H (1632 M) di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Berikut petikannya :
1.Maharaja meurah, 2. Ja padang, 3. Ja sambong, 4. Ja kalam (Tok Po kalam), 5. Ja Udam (Tgk Syech Hudam), 6. Ja Lahat, 7. Ja Beurahat, 8. Ja Beurangin, 9. Ja Santing/Santang (Ja Sandang), 10. Ja Ratiq. 11. Ja Faqih turun dari muluk” (Tu Poraja Chik Muluk)
Dari arakata ini disebut Ja kalam atau Tok Po Kalam, merupakan Raja Pereulak yg menurunkan ulee balang mukim sikurueng (ulee balang IX) di wilayah perlak, Idi aceh timur, sp. Ulim, Kuta Piadah Seuneuddon, ulee balang dibuah Sampoinit, Uleebalang Blang Kabue dan sebagian Aceh Utara bagian timur.
Dari arakata ini disebutkan juga nama Ja Udam (Tgk Syech Hudam). Dalam mithologi Aceh disebutkan sbg suami Putroe Neng (putri Lian Nio) yg berasal dari china yg makamnya terdapat di Blang Panyang , Muara Dua, Lhokseumawe. Dalam mithologi tersebut digambarkan Tgk Syech Hudam adalah suami ke 100 Putro Neng, yg berhasil menaklukkan Putroe Neng dgn ilmu yg dimiliki. Mitos tsb tidaklah benar karena Putro Neng dan Ja Udam (Tgk Syehc Hudam) tdk hidup sezaman. Putroe Neng hidup di jaman Samudera pasai sedang Tgk Syech Hudam hidup di jaman masa Sultan Iskandar Muda.
Dalam arakata ini juga disebutkan bahwa Ja fakih (Syech Jalaluddin) yg merupakan wazir dari Sultan Iskandar Muda (1607-1636), bukanlah berasal dari bugis, beliau merupakan keponakan dari Ja Seundri (Tu Poraja Chik Mereudue). Dari Ja Fakih inilah diturunkan uleebalang mereudue Tgk Chik Mahmud dan keturunannya.
Dalam arakata ini disebut nama Ja Santing/Santang (Ja Sandang) yg dalam sejarah belanda disebut sbg pria hindia pendatang asal benua keling yg masih beragama hindu, yg suka mabuk-mabukan, bekerja sbg penderes air nira, pada arakata ini sekaligus membantah narasi yg tak bertanggung jawab tsb.
Demikianlah penjelasan dari arakata Pasee semoga dpt menjadi ikhtibar. (Photo, Arakata Pasee, th 1243 H, koleksi Keluarga) trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp Doewa.
SEJARAH TERBENTUKNYA GAMPOENG DI IDI RAYEUK
Menurut HM. Zainuddin dalam bukunya yg berjudul “Singa Atjeh” nama Idi berasal dari istilah Aceh ”Ie Dhiet” yg berarti “Air Sedikit”. Dahulunya kuala Idi disebut dgn Bandar Basma atau Bismi yg ditulis dengan karakter huruf melayu Jawi, tetapi sejak dibukanya Bandar Pulau Pinang pd th 1805 oleh Raffles, Bandar Basma lebih dikenal sbg Kuala Idi. Wilayah Idi merupakan daerah penyangga batas antara kenegerian Peureulak dan Simpang Ulim yg mana wilayah ini yg tak punya nilai strategis bagi kedua belah pihak tsb. Kalau ditelusuri berdasarkan catatan sejarah memang di sepanjang wilayah timur pantai aceh sulit sekali mendapat air bersih untuk konsumsi rumah tangga. Hal ini disebabkan struktur tanah diwilayah tsb lebih banyak mengandung unsur kimia carbon fossilnya sehingga airnya cenderung berminyak. Hal ini pernah dibuktikan oleh penelitian yg dilakukan oleh Batafche Venotchaap Maschappi (BVM) pd th 1910, sebuah perusahaan pengeboran minyak milik pemerintah Hindia Belanda (Royal Ducht Company) yg sekarang menjadi perusahaan minyak terbesar di dunia Shell Oil Company. BVM berhasil menemukan ladang minyak terbesar pertama di wilayah Idi Rayeuk Aceh. Dari hasil penemuan sumur minyak ini, membuat BVM utk segera mendirikan pabrik kilang minyak pertamanya di wilayah Pangkalan Brandan, Deli Serdang dimana sumur minyak Idi sbg pemasok minyak mentahnya. Sampai saat ini wilayah Idi Aceh Timur masih banyak terdapat sumur2x minyak tua peninggalan belanda yg dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat.
Gampoeng Aceh dahulunya adalah sebuah seuneboek perkebunan lada yg didirikan oleh pemukim dari Peusangan ketika pd th 1805, Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles menjadikan pulau Temasek (Singapura) dan pulau Pinang (Malaysia) sbg pelabuhan perdagangan rempah2x dunia. Wilayah Idi Rayeuk yg hanya berseberangan dgn Pulau Pinang, Malaysia ini sangat diuntung karena letak geostrategis tsb, maka dengan sendirinya pelabuhan Kuala Idi mulai ramai dgn kehadiran para pedagang yg dapat membangkitkan perekonomian masyarakat setempat. Idi juga merupakan penghasil lada terbesar di wilayah aceh, maka wilayah negeri Idi yg dahulu sepi kini menjadi ramai oleh para pendatang yg mencari kehidupan di wilayah tsb dgn lada sebagai komoditas utama perdagangannya. Sejak saat itu maka mulailah berduyun-duyun berdatangan para pendatang dari pelosok aceh terutama dari Pasai, Peusangan, Mereudu, Pidie dan Aceh Rayeuk
Masih menurut H M Zainuddin, dalam bukunya Singa Atjeh, cetakan th 1966 tercatat ada empat rombongan besar kabilah yg tiba di Idi Rayeuk.
Menurut sebuah sumber yang diperoleh dari sahibul hikayat Teuku Syahbandar Sulaiman, salah seorang syahbandar di pelabuhan Kuala Idi. Rombongan kabilah yg pertama kali datang ke Idi adalah kabilah dari Blang me Pasai yg dipimpin Teuku Panglima Prang Nyak Yasin, seorang mantan Panglima Prang Keujruen Blang Me, Pasai beserta Tok Nale dan Teuku Panglima Kawom Kabue, dari Blang Kabue Geudong. Rombongan kabilah dari Pasai ini membuka perkebunan lada di sebelah timur Keude Idi. Pada waktu mengolah tanah perkebunan ini mereka menemukan sebuah terbikar kuno yg berbentuk Guci, oleh sebab itu lahan perkebunan itu dinamakan dgn “Blang Siguci”. Sejak saat itu Blang Siguci menjadi pusat pemerintahan negeri Idi Rayeuk setelah mendapat sarakata dari Sultan Aceh. Kemudian disusul kedatangan rombongan kedua kabilah dari wilayah Keujruen Meusyi Peusangan yg dipimpin oleh Teuku Panglima Rayeuk. Para pemukim dari Peusangan ini membuka perkebunan lada di sebelah barat keude Idi dan mereka mendirikan perkampungan baru disana dgn nama Gampoeng Meusyi utk menunjukkan asal negeri mereka disana. Nama Meusyi sendiri berasal dari istilah arab “MeuAsyi” yg artinya ber-aceh. Sejak saat itu perkampungan kabilah Peusangan di Idi disebut dgn Gampong Aceh. Teuku Panglima Rayeuk merupakan anak dari Teuku Panglima Prang Barat Seutya yg berasal dari Langkuta, Meunasah Barat, Krueng Panjoe, Keujruen Meusyi Peusangan. Ulee balang. Gampoeng Aceh Teuku Zainul Abidin Idi merupakan putra dari Teuku Panglima Rayeuk yg sampai sekarang ahli warisnya masih ada di Gampoeng Aceh Idi Rayeuk.
Kemudian rombongan ketiga dari negeri Pidie dan Mereudu yg di Pimpin oleh Teuku Panglima Malem Suloeh Pidie dan dan Teuku Buket Batee Pidie serta Teuku Panglima Itam dari Kuta Baroeh Meureudu. Rombongan kabilah ini langsung bergabung dgn rombongan kabilah dari Blang Me Pasai. Tok Nale, membuka lahan dengan menebas hutan di daerah Kuta Batee yaitu di daerah rumah Teuku Muhammad Daudsyah Idi, residen Aceh di Kutaraja .
Panglima Muda Kleng, membuka lahan di daerah Rambung di bagian timur stadion Idi. Sementara T Itam yang berasal dari daerah Kuta Baroh Negeri Muereudu membuka lahan di Blang Siguci. Kemudian Teuku Buket Batee yang berasal dari Pidie membuka lahan di Keude Dua dengan mengangkat Peutua Nyak Se sebagai Peutua Seuneubok yang mengurus perladangan.
Selanjut rombongan kabilah keempat yg berasal dari Aceh Rayeuk yg di pimpin oleh Said Idrus. Sementara Tgk Di Buket keturunan Said Idrus membuka ladang di Gampong Baro dekat stadion Idi. Perkebunan dibuka mulai dari Buket Pala hingga ke perbatasan Idi Cut. Pembukaan lahan itu dilakukan oleh Teuku Cut Lambo ayah dari Teuku Usman Idi Cut. Kemudian di bagian utara, perkebunan dibuka oleh Teuku Di Gureb ayah dari Banta Gureb. Lalu ke selatan Dama Pulo dibuka lahan oleh Tgk Paya Raman juga masih keturunan Said Idrus.
Akibat dari persaingan utk memperebutkan lahan perkebunan lada di wilayah Idi Rayeuk ini menimbulkan konflik horizontal. Kedua belah pihak yg bertikai terbelah menjadi dua kubu yaitu kubu Pasai yg didukung oleh ulee balang Blang Me, Peusangan, Meureudue dan Pidie melawan kubu kabilah Aceh Rayeuk yg dipimpin oleh Teuku Di Gureb putra Said Idrus. Oleh sebab itu konflik antara dua kelompok besar ini disebut dgn “Perang Gureb”. Apa itu Perang Gureb..? Perang Gureb perang yg muncul akibat persaingan dagang biji lada antara kabilah Pasai yg didukung ulee balang. Blang Me, Peusangan, Meureudue dan Pidie melawan kabilah Aceh Rayeuk Teuku di Gureb keturunan dari Said Idrus yg didukung ulee balang Peureulak, Julok dan Sp. Ulim. Perang ini bermula dari perselisihan kecil dan hal sepele antara orang-orang Pasai dengan Aceh Rayeuk. Disebabkan orang Aceh Rayeuk mengatakan sama orang Pasai “Pasee sikin brok” yg artinya ” Orang Pasai Rencong buruk” dan karena itu orang Pasai marah lalu mencari org yg berasal dari aceh rayeuk sampai masuk ke kedai-kedai kopi, siapa saja yang ditemuinya disuruh sebut kata “Breueh”, dgn kalimat bahasa aceh fasih, jikalau tidak bisa sebut kata “Breueh” maka akan diamuk dan akibatnya banyak orang Aceh Rayeuk yang terbunuh akibat sentimen SARA ini, karena logat bicaranya orang Aceh Rayeuk mudah ditandai.
Hal itu membuat Teuku Paya Raman Uleebalang Tanjung Seumantok keturunan Said Idrus marah dan menuntut balas, maka terjadilah perang antara Teuku Paya Raman melawan Teuku Nyak Yasin (Teuku Chik Idi). Pasukan Teuku Chik Idi membuat Kota pertahanan di Bukit Leusong. Kapal (seukuna ) milik Teuku Paya Raman yang bernama Djikasi dan Djambi, dirampas oleh orang Idi, oleh sebab itu T. Paya Raman kalah lalu lari ke Aceh Besar. Sebagian pasukan Teuku Paya Raman melarikan diri ke Krueng Rayeu (Sungai Yu), Peureulak dan Sebagian lagi melarikan diri ke wilayah Julok, Sp. Ulim. Mula-mula Teuku Paya Raman ditolong oleh Keujruen Julok, tapi karena kemudian melihat Idi sudah lebih kuat, maka Julok pun beralih mendukung Idi. Sesudah kalah Teuku Paya Raman, maka negeri Tanjung Seumantok diberikan kepada Teuku Muda Ahmad Angkasah Blang Me sbg balas budi atas bantuan yg diberikan kepada ulee balang Idi Rayeuk. Sedangkan sisa pasukan Teuku Paya Raman yg melarikan diri ke Krueng Rayeu, Peureulak kemudian mendirikan wilayah baru yg disebut dgn Ulee Balang Sungai Yu.
Setelah Teuku Chik Idi (Teuku Panglima Perang Nyak Yasin Blang Me) wafat maka jabatan ulee balang. Idi Rayeuk digantikan oleh putra tertuanya Teuku Bentara Siguci, trm. (Foto, Mesjid Jamik Idi Rayeuk, Blang Arun, th 1912, koleksi Rikjmuseum, Leiden). Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.
Menurut HM. Zainuddin dalam bukunya yg berjudul “Singa Atjeh” nama Idi berasal dari istilah Aceh ”Ie Dhiet” yg berarti “Air Sedikit”. Dahulunya kuala Idi disebut dgn Bandar Basma atau Bismi yg ditulis dengan karakter huruf melayu Jawi, tetapi sejak dibukanya Bandar Pulau Pinang pd th 1805 oleh Raffles, Bandar Basma lebih dikenal sbg Kuala Idi. Wilayah Idi merupakan daerah penyangga batas antara kenegerian Peureulak dan Simpang Ulim yg mana wilayah ini yg tak punya nilai strategis bagi kedua belah pihak tsb. Kalau ditelusuri berdasarkan catatan sejarah memang di sepanjang wilayah timur pantai aceh sulit sekali mendapat air bersih untuk konsumsi rumah tangga. Hal ini disebabkan struktur tanah diwilayah tsb lebih banyak mengandung unsur kimia carbon fossilnya sehingga airnya cenderung berminyak. Hal ini pernah dibuktikan oleh penelitian yg dilakukan oleh Batafche Venotchaap Maschappi (BVM) pd th 1910, sebuah perusahaan pengeboran minyak milik pemerintah Hindia Belanda (Royal Ducht Company) yg sekarang menjadi perusahaan minyak terbesar di dunia Shell Oil Company. BVM berhasil menemukan ladang minyak terbesar pertama di wilayah Idi Rayeuk Aceh. Dari hasil penemuan sumur minyak ini, membuat BVM utk segera mendirikan pabrik kilang minyak pertamanya di wilayah Pangkalan Brandan, Deli Serdang dimana sumur minyak Idi sbg pemasok minyak mentahnya. Sampai saat ini wilayah Idi Aceh Timur masih banyak terdapat sumur2x minyak tua peninggalan belanda yg dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat.
Gampoeng Aceh dahulunya adalah sebuah seuneboek perkebunan lada yg didirikan oleh pemukim dari Peusangan ketika pd th 1805, Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles menjadikan pulau Temasek (Singapura) dan pulau Pinang (Malaysia) sbg pelabuhan perdagangan rempah2x dunia. Wilayah Idi Rayeuk yg hanya berseberangan dgn Pulau Pinang, Malaysia ini sangat diuntung karena letak geostrategis tsb, maka dengan sendirinya pelabuhan Kuala Idi mulai ramai dgn kehadiran para pedagang yg dapat membangkitkan perekonomian masyarakat setempat. Idi juga merupakan penghasil lada terbesar di wilayah aceh, maka wilayah negeri Idi yg dahulu sepi kini menjadi ramai oleh para pendatang yg mencari kehidupan di wilayah tsb dgn lada sebagai komoditas utama perdagangannya. Sejak saat itu maka mulailah berduyun-duyun berdatangan para pendatang dari pelosok aceh terutama dari Pasai, Peusangan, Mereudu, Pidie dan Aceh Rayeuk
Masih menurut H M Zainuddin, dalam bukunya Singa Atjeh, cetakan th 1966 tercatat ada empat rombongan besar kabilah yg tiba di Idi Rayeuk.
Menurut sebuah sumber yang diperoleh dari sahibul hikayat Teuku Syahbandar Sulaiman, salah seorang syahbandar di pelabuhan Kuala Idi. Rombongan kabilah yg pertama kali datang ke Idi adalah kabilah dari Blang me Pasai yg dipimpin Teuku Panglima Prang Nyak Yasin, seorang mantan Panglima Prang Keujruen Blang Me, Pasai beserta Tok Nale dan Teuku Panglima Kawom Kabue, dari Blang Kabue Geudong. Rombongan kabilah dari Pasai ini membuka perkebunan lada di sebelah timur Keude Idi. Pada waktu mengolah tanah perkebunan ini mereka menemukan sebuah terbikar kuno yg berbentuk Guci, oleh sebab itu lahan perkebunan itu dinamakan dgn “Blang Siguci”. Sejak saat itu Blang Siguci menjadi pusat pemerintahan negeri Idi Rayeuk setelah mendapat sarakata dari Sultan Aceh. Kemudian disusul kedatangan rombongan kedua kabilah dari wilayah Keujruen Meusyi Peusangan yg dipimpin oleh Teuku Panglima Rayeuk. Para pemukim dari Peusangan ini membuka perkebunan lada di sebelah barat keude Idi dan mereka mendirikan perkampungan baru disana dgn nama Gampoeng Meusyi utk menunjukkan asal negeri mereka disana. Nama Meusyi sendiri berasal dari istilah arab “MeuAsyi” yg artinya ber-aceh. Sejak saat itu perkampungan kabilah Peusangan di Idi disebut dgn Gampong Aceh. Teuku Panglima Rayeuk merupakan anak dari Teuku Panglima Prang Barat Seutya yg berasal dari Langkuta, Meunasah Barat, Krueng Panjoe, Keujruen Meusyi Peusangan. Ulee balang. Gampoeng Aceh Teuku Zainul Abidin Idi merupakan putra dari Teuku Panglima Rayeuk yg sampai sekarang ahli warisnya masih ada di Gampoeng Aceh Idi Rayeuk.
Kemudian rombongan ketiga dari negeri Pidie dan Mereudu yg di Pimpin oleh Teuku Panglima Malem Suloeh Pidie dan dan Teuku Buket Batee Pidie serta Teuku Panglima Itam dari Kuta Baroeh Meureudu. Rombongan kabilah ini langsung bergabung dgn rombongan kabilah dari Blang Me Pasai. Tok Nale, membuka lahan dengan menebas hutan di daerah Kuta Batee yaitu di daerah rumah Teuku Muhammad Daudsyah Idi, residen Aceh di Kutaraja .
Panglima Muda Kleng, membuka lahan di daerah Rambung di bagian timur stadion Idi. Sementara T Itam yang berasal dari daerah Kuta Baroh Negeri Muereudu membuka lahan di Blang Siguci. Kemudian Teuku Buket Batee yang berasal dari Pidie membuka lahan di Keude Dua dengan mengangkat Peutua Nyak Se sebagai Peutua Seuneubok yang mengurus perladangan.
Selanjut rombongan kabilah keempat yg berasal dari Aceh Rayeuk yg di pimpin oleh Said Idrus. Sementara Tgk Di Buket keturunan Said Idrus membuka ladang di Gampong Baro dekat stadion Idi. Perkebunan dibuka mulai dari Buket Pala hingga ke perbatasan Idi Cut. Pembukaan lahan itu dilakukan oleh Teuku Cut Lambo ayah dari Teuku Usman Idi Cut. Kemudian di bagian utara, perkebunan dibuka oleh Teuku Di Gureb ayah dari Banta Gureb. Lalu ke selatan Dama Pulo dibuka lahan oleh Tgk Paya Raman juga masih keturunan Said Idrus.
Akibat dari persaingan utk memperebutkan lahan perkebunan lada di wilayah Idi Rayeuk ini menimbulkan konflik horizontal. Kedua belah pihak yg bertikai terbelah menjadi dua kubu yaitu kubu Pasai yg didukung oleh ulee balang Blang Me, Peusangan, Meureudue dan Pidie melawan kubu kabilah Aceh Rayeuk yg dipimpin oleh Teuku Di Gureb putra Said Idrus. Oleh sebab itu konflik antara dua kelompok besar ini disebut dgn “Perang Gureb”. Apa itu Perang Gureb..? Perang Gureb perang yg muncul akibat persaingan dagang biji lada antara kabilah Pasai yg didukung ulee balang. Blang Me, Peusangan, Meureudue dan Pidie melawan kabilah Aceh Rayeuk Teuku di Gureb keturunan dari Said Idrus yg didukung ulee balang Peureulak, Julok dan Sp. Ulim. Perang ini bermula dari perselisihan kecil dan hal sepele antara orang-orang Pasai dengan Aceh Rayeuk. Disebabkan orang Aceh Rayeuk mengatakan sama orang Pasai “Pasee sikin brok” yg artinya ” Orang Pasai Rencong buruk” dan karena itu orang Pasai marah lalu mencari org yg berasal dari aceh rayeuk sampai masuk ke kedai-kedai kopi, siapa saja yang ditemuinya disuruh sebut kata “Breueh”, dgn kalimat bahasa aceh fasih, jikalau tidak bisa sebut kata “Breueh” maka akan diamuk dan akibatnya banyak orang Aceh Rayeuk yang terbunuh akibat sentimen SARA ini, karena logat bicaranya orang Aceh Rayeuk mudah ditandai.
Hal itu membuat Teuku Paya Raman Uleebalang Tanjung Seumantok keturunan Said Idrus marah dan menuntut balas, maka terjadilah perang antara Teuku Paya Raman melawan Teuku Nyak Yasin (Teuku Chik Idi). Pasukan Teuku Chik Idi membuat Kota pertahanan di Bukit Leusong. Kapal (seukuna ) milik Teuku Paya Raman yang bernama Djikasi dan Djambi, dirampas oleh orang Idi, oleh sebab itu T. Paya Raman kalah lalu lari ke Aceh Besar. Sebagian pasukan Teuku Paya Raman melarikan diri ke Krueng Rayeu (Sungai Yu), Peureulak dan Sebagian lagi melarikan diri ke wilayah Julok, Sp. Ulim. Mula-mula Teuku Paya Raman ditolong oleh Keujruen Julok, tapi karena kemudian melihat Idi sudah lebih kuat, maka Julok pun beralih mendukung Idi. Sesudah kalah Teuku Paya Raman, maka negeri Tanjung Seumantok diberikan kepada Teuku Muda Ahmad Angkasah Blang Me sbg balas budi atas bantuan yg diberikan kepada ulee balang Idi Rayeuk. Sedangkan sisa pasukan Teuku Paya Raman yg melarikan diri ke Krueng Rayeu, Peureulak kemudian mendirikan wilayah baru yg disebut dgn Ulee Balang Sungai Yu.
Setelah Teuku Chik Idi (Teuku Panglima Perang Nyak Yasin Blang Me) wafat maka jabatan ulee balang. Idi Rayeuk digantikan oleh putra tertuanya Teuku Bentara Siguci, trm. (Foto, Mesjid Jamik Idi Rayeuk, Blang Arun, th 1912, koleksi Rikjmuseum, Leiden). Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.

Asal Usul Mula Nama Sungai Peusangan
Sungai Peusangan dan sungai Jambur Ayer (Jamboe Aye) merupakan dua sungai terbesar dan tertua yg terletak di pantai utara Aceh. Hulu kedua sungai ini langsung bersambung ke Danau Lut Tawar, Gayo, Aceh Tengah. Kalau sebelah timur Danau Lut Tawar adalah hulu sungai Jambur Ayer sedangkan sebelah barat hulu sungai Peusangan. Sungai Jambur Ayer dan Sungai Peusangan terbentuk bersamaan dgn terbentuknya kawah Lut Tawar di dataran tinggi Gayo karena aktivitas gempa vulkanik yg terjadi ribuan tahun yg lalu akibat pergeseran subduksi lempeng Euroasia – IndoAustralia yg menghasikan kawah Toba dan Kawah Lut Tawar. Kawah Toba dan Lut Tawar kemudian menjadi Danau yg terletak di garis patahan cincin api (Ring of Fire) Sumatera yg disebut dgn patahan Semangko atau patahan yg berada dijalur garis cincin api Bukit Barisan Sumatera yg membentang dari ujung timur sampai ujung barat pulau sumatera. Berbeda dgn sungai yg lainnya di Aceh dimana Daerah Aliran Sungainya (DAS) dibentuk oleh dari luas wilayah tangkapan air hujan (Rain Catchment Area), sungai Peusangan dan Jambur Ayer debit airnya selalu stabil walaupun dalam keadaan musim kemarau sekalipun karena selain mempunyai daerah tangkapan hujan (Rain Catchment Area), sungai ini juga menerima suplai air sungai yg berasal dari limpahan air Danau Lut Tawar, Aceh Tengah karena faktor utama inilah pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) terbesar di Aceh dgn nama PLTA Peusangan yg terletak di hulu Sungai Peusangan, Aceh Utara.
Pada jaman dahulu sungai merupakan salah satu media transportasi utama yg menghubungkan masyarakat pedalaman dan pesisir. Hampir semua kerajaan di nusantara menempatkan pusat pemerintahannya di tepi dan muara sungai. Sungai juga merupakan urat nadi perdagangan pada masa itu dgn mendirikan bandar pelabuhan hampir di seluruh muara sungai.
Nama Peusangan sendiri berasal dari bahasa melayu sanskrit “Pacang” yg berarti naik karena debit air sungainya yg selalu stabil dan “pasang” walaupun dalam keadaan musim kemarau sekalipun. Sama seperti halnya kosa kata aceh lainnya yg telah. mengalami proses asimilasi (penyesuaian) dgn bahasa arab, spt : Acha, Urdu (Asyih, Arab) Krang, Champa (Krueng, Aceh), Taming, Sanskrit (Tamiyang, Melayu Jawi), Samanda (Samandra atau Samudra), Simirlang, Sanskrit (Samarlanga atau Samalanga), Parlak (Pereulak), Rimba Jerun (Blang Jruen), Rimba Balik (Sp. Balek, Bener Meriah), Cawang, Sanskrit (Sawang, Melayu Jawi), Calangkor, Champa (Selangor, Malaya), Asu, Sanskrit (Asee, Aceh), Manuk, Sanskrit (Manok, Aceh), dsb. Akibat pengaruh budaya arab maka istilah Pacang berubah fonemiknya (bunyi) menjadi Fassangan karena dalam aksara arab hijaiyah tdk mengenal aksara P, aksara O, aksara E dan aksara C. Sama seperti aksara Kanji Jepang yg tdk mengenal huruf L dan aksara Mandarin China yg tidak mengenal huruf R. Akibat masuknya pengaruh islam yg dibawa pedagang dari Semenanjung Arab ini, sejak saat itu istilah “Pacang” berubah menjadi Fassangan yg dalam bahasa arab dikenal dgn hukum Ikhfa atau bunyi samar-samar. Menurut penelitian, sebagian besar kosakata bahasa aceh mayoritas berasal dari bahasa Arab, selain bahasa Urdu India, bahasa Melayu Sanskrit, bahasa Champa Siam, bahasa Gayo dan Alas yg membentuk entitas bahasa Aceh. Demikian juga dgn bahasa Indonesia,yg sebagian besar kosa katanya berasal dari bahasa Arab. Jumlahnya diperkirakan mencapai 2000 – 3000 kosa kata karena memang bahasa indonesia berasal dari bahasa melayu yg banyak mengadopsi kosa kata bahasa Arab bahkan aksara Melayu Jawi berasal dari huruf Hijaiyah Arab. Sebagian kosa kata Arab ini masih utuh, dalam artian sama antara pengucapan lafal dan maknanya, dan ada sebagian lagi yang berubah. Jika diklasifikasikan dari segi perubahannya, maka bisa di bagi menjadi tiga golongan yaitu :
- Lafal dan artinya sesuai dengan aslinya artinya masih tetap.
- Lafal dan arti berubah dari lafal dan arti semula.
- Lafalnya benar artinya sdh berubah.
Dalam bahasa Indonesia, ilmu yg mempelajari tentang asal-usul kata dan bunyi (suara) disebut dgn FONETIK.
Dalam ilmu Kartografi (peta kuno) baik itu dari kartografi Arab, nama Peusangan ditulis dgn ” Bandar Fassangan”. Sedangkan dalam kartografi barat (Portugis), nama Peusangan ditulis dgn “Passange”.
Timbul satu pertanyaan, mana lebih dulu hadir antara Peusangan dan Pasee…? Utk menjawab pertanyaan tsb, saya akan menguraikannya berdasarkan fakta sejarah yg ada yaitu : - Entitas melayu yg menjadi entitas kerajaan Samudera Pasai lebih dulu hadir daripada entitas Aceh. Entitas melayu hadir di kepulauan nusantara sejak abad ke IX hal ini bisa dibuktikan dari bentuk nisan makam Sultan Malik Al Shalih yg masih berbentuk mahkota pucuk rebung (betung bambu) sunting melayu yg menjadi ciri khas entitas melayu nusantara. Sedangkan entitas Aceh hadir di akhir abad ke XV dgn didirikannya kesultanan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayatsyah.
- Secara geografis Sungai Pasee merupakan satu anak sungai yg bentuk oleh DAS induk Jambur Ayer, Panton Labu yg berhulu ke Danau Lut Tawar.
- Dalam jenjang struktur hirarki/kepangkatan dan jabatan dalam sistem monarki kerajaan Aceh masih banyak mewarisi gelar hirarki/kepangkatan dan jabatan menggunakan bahasa Melayu Sanskrit sama seperti gelar yg digunakan kerajaan monarki melayu lainnya kecuali gelar SULTAN yg berasal dari bahasa Arab.
- Bahasa Aceh resmi digunakan sebagai bahasa resmi negara ketika utusan Syarif Mekkah yg juga suami dari Sultanah Ratu Zakiatuddinsyah yaitu Syarif Hasyim Jamallulail dari dinasti Arab naik tahta pd th 1699 menjadi Sultan Aceh menggantikan Sultanah Ratu Keumalatsyah sedangkan bahasa melayu masih tetap digunakan sebagai bahasa regional di kawasan Semenanjung Melayu dan Aceh.
Dalam Hikayat Raja2x Pasai disebutkan Sungai Fassangan lebih dulu disebutkan dari pada sungai Pasee. Sungai Fassangan merupakan tempat pertama sekali Meurah Siloe mencari nafkah sebagai nelayan. Ketika kedua org tuanya. Meurah Gajah dan Putri Betung tewas, kedua kakak beradik yaitu Meurah Soem dan Meurah Siloe kemudian pergi mengembara dari negeri asalnya Rimba Balek (Sp.Balek, Bener Meriah) menuju ke arah matahari terbenam di ufukbarat yaitu negeri Jeumpa. Meurah Soem kemudian menjadi raja di negeri Jeumpa, Bireuen sedangkan Meurah Siloe memulai kehidupan barunya di sungai Fassangan sbg nelayan penangkap ikan. Cara yg digunakan utk menangkap ikan yaitu dgn cara membuat LUKAH di sepanjang bantaran sungai Fassangan. Lukah dalam bahasa Melayu Sanskrit atau Kulah dalam bahasa Aceh merupakan jebakan ikan yg berbentuk empang yg berukuran kecil yg dibuat dari gundukan tanah liat dan susunan batu dimana pintu airnya ditancapkan ranting2x pohon untuk menjaring ikan ketika air sungai kembali surut. Jebakan ikan tsb dipasang pada waktu pagi hari ketika air sungai pasang dan hasilnya dipanen sore hari ketika air sungai Fassangan mulai surut. Pada masa itu belum dikenal tehnologi menangkap ikan dgn menggunakan bubu atau jaring.
Masih dalam Hikayat Raja-Raja Pasai disebutkan bahwa, nama Pasee diambil dari nama anjing kesayangan Meurah Siloe yg diberi nama Si Pasee yg mati ketika Meurah Siloe bertempur melawan Raja Semut di tepi pantai, dari sinilah muncul istilah SEMUTERA asal kata Sumatera atau Samudera pertama kalinya. Sedangkan untuk menghormati anjing kesayangannya yg mati, tempat tsb ditabalkan dengan nama PASEE utk menghormati hewan kesayangannya tsb sekaligus menabalkan dirinya sebagai Raja Samudera Pasee pertama.
Dalam buku De Kronieken Samoedra of Samandra th1915, mengenai nama “Samudera” dan “Pasai”, muncul sejumlah pendapat yang mencoba mengurai asal-usul penggunaan kedua nama tersebut. Pedagang2x dari Arab menyebutkan Pulau Perca (Andalas) dgn sebutan Syumutrah sedangkan para pedagang dari Eropa menyebutnya dgn Soematra. Salah satunya adalah seperti teori yang dikemukakan oleh sarjana Eropa, J.L. Moens, yang menyebut bahwa kata “Pasai” berasal dari istilah “Parsi”. Menurut Moens, kaum pedagang yang datang dari Persia (Parsi) mengucapkan kata “Pasai” dengan lafal “Pa‘Se” yg berasal dari kata “Parsi” dimana menunjukkan komunitas org Persia yg pertama sekali mendiami wilayah pesisir tsb. Analisis Moens ini bisa jadi berlaku dengan catatan bahwa sejak abad ke-7 Masehi para saudagar yang datang dari Persia sudah tiba terlebih dahulu dan singgah di wilayah pesisir yang kemudian menjadi tempat berdirinya Kesultanan Samudera Pasai. Pendapat ini mungkin ada benarnya juga merujuk kepada nama Pangeran SyahrianSyah dari dinasti Sasanid Persia yg tiba pertama dikerajaan Jeumpa, Bireuen.
Menurut G.P. Rouffaer, salah seorang sarjana Belanda yang serius menyelidiki tentang sejarah Kesultanan Samudera Pasai, mengatakan bahwa letak Pasai mula-mula berada di sebelah barat Sungai Pasee, sementara Samudera terletak di timur sungai tsb. Namun, lama-kelamaan, kedua tempat ini terhimpun menjadi satu dan kemudian dijadikan tempat berdirinya sebuah kerajaan besar, yakni Kesultanan Samudera Pasai seperti dikutip Prof. T. Ibrahim Alfian, dalam bukunya Kronika Pasai. Hal ini sejalan dengan pendapat org tua dahulu yg mengatakan bahwa kata Pasie atau Pasee atau Passay berasal dari singkatan dari kata “Passangan” atau “Fassangan” yg ditulis dgn karakter huruf melayu jawi. Teori ini mungkin juga benar kalau merujuk kpd Hikayat Raja2x Pasai yg menyebutkan sungai Passangan merupakan tempat pertama kalinya Meurah Siloe mencari nafkah setelah menjadi yatim-piatu. (Photo, Peta Kartografi Versi Barat Dan Timur, th 1721), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.


Siapa Sosok Tu Ja Kalam.?
MENYUNGKAP TABIR SOSOK TU JA KALAM (TOK PO KALAM) PENDIRI NEGERI PEUREULAK, ACEH TIMUR…?
(Analisis Sejarah Aceh byTeuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa).
Nama Tok Po Kalam atau Tu Ja Kalam, disebut2x dalam arakata ulee balang Sp. Ulim, Julok (Bagok dan Bugeng), dan Peureulak sbg indatunya keturunan ulee balang diwilayah tsb. Dalam arakata tsb tdk diketahui siapa sosok tokoh ini, para ahli warisnya hanya menyebutnya dgn Tok Po Kalam atau Tu Ja Kalam. Siapa sebenarnya tokoh ini…? Jawabannya dpt ditemukan berdasarkan manuskrip yg terdapat pada mukadimah arakata di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam waladu) bin Tu Poraja Chik Malik (Tu Poraja Chik Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah menjadi Sultan Aceh. Dalam mukadimah arakata ini dijelaskan siapa sosok tokoh Tu Poraja Chik Yamani Pasee.
Tu Poraja Chik Yamani Pasee atau nama aslinya Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani lahir di kota Ta’rim Hadramaut, Yaman. Tdk diketahui kapan tepatnya, tanggal lahirnya tp diperkirakan pada pertengahan abad ke XV Masehi. Beliau merupakan putra Sultan Asta, Raja Yaman yg memerintah pd th 827 H (1432 M). Beliau menanggalkan gelar bangsawannya dan lebih memilih menjadi pendakwah islam. Hijrah ke negeri pasai pada th 868 H (1473) di masa kerajaan Samudera Pasai di perintah oleh Sultan Zainal Abidin Ra Ubabdar (1477-1500) dan menikah dgn salah seorang kerabat Sultan Samudera Pasai, kemudian di masa pemerintahan Sultan Zain Al Abidin bin Zainal Abidin Ra Ubabdar (1513-1518) diangkat sbg mufti besar kerajaan Samudera Pasai.
Pada tahun 1524 Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani resmi di tunjuk oleh Sultan Aceh sbg wali negeri Pasai dgn gelar “Tu Poraja Chik Yamani Pasee”. Dari sinilah keturunan ulee balang wilayah Pasee, Jeumpa, Tamiang, Peureulak, Mereudue Pidie, Daya, Lingge Gayo, Meulaboh dan Tapak Tuan diturunkan dgn sebutan “Keturunan Hulubalang Mukim Tujuh”. Menurut arakata di bawah ini keturunan Tu Poraja Chik Yamani menyebar ke 7 wilayah (hulubalang mukim 7) yaitu Hulu Sungai Miang (Tamiang Kuala Simpang), Peureulak, Lingge Gayo, Tapak Tuan, Susoeh, Malabuh Haji (Labuhan Haji), Meulaboh kemudiaan Keujruen Meulala Negeri Daya, kemudian Pidie, Keujruen Tirusieb, Keujruen Mereudue, Ie Leubue, Paloeh pidie, dan Gigieng, kemudian Meusee Krueng Panjoe (Keujruen Meusyi) Peusangan Jeumpa (Jempah), kemudian wilayah Pasee (Pasi) dan Teluk Samawi (Lhokseumawe) diantaranya Meuraksa Bayu, Blang Mangat, Teupin Puenti, Cunda, Samakurok, Geudong, Keureutoe, Simpang Mulieng.
Tok Po Kalam merupakan ayah dari Teuku Chik Peureulak (Teuku Chik Nyak Plieng) pendiri negeri Peureulak. Teuku Chik Peureulak (Teuku Chik Nyak Plieng) merupakan indatu dari DR Syarief Thayeb mantan mendikbud zaman orde baru dan Prof. Hadi Thayeb mantan Gubernur Aceh. Tok Po Kalam juga merupakan indatunya Teuku Nyak Malem ayah dari Teuku Muda Yusuf ulee balang, Sp. Ulim, Aceh Timur. Tok Po Kalam merupakan putra dari Meurah Itam, Maharaja Karang Hulu sungai Tamiang. Dari Tok Po Kalam inilah keturunan ulee balang IX (ub. sikureung) Aceh Timur diturunkan. Meurah Itam Maharaja Karang Hulu Tamiang mempunyai 11 org putra yaitu :
1. Maharaja Meurah
2. Aja Padang
3. Ja Sambang
4. Ja Kalam
5. Ja Beurahat
6. Ja Udam
7. Ja Lahad
8. Ja Beuringen
9. Ja Santang (Ja Sandang)
10. Ja Ratiq
11. Ja Fakih yg semuanya turun dari Muluk (Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu. Nasab lengkapnya Tok Po Kalam (Tu Ja Kalam) bin Meurah Itam Maharaja Karang Hulu Tamiang bin Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu (Tgk Chik Ahmad Idris) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee atau Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani. (Photo. Arakata Tok Po Kalam dan keturunannya, koleksi pribadi), trm. Ttd.Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.


Sejarah Ulee Balang Idi Rayeuk
Berdasarkan catatan belanda “Mededelingen Betrefende De Atjehsche Onderhoorigheden” atau laporan tentang daerah taklukan di Aceh yg dibuat pd tgl 14 mei 1901 mengenai negeri Idi Rayeuk. Letak geografisnya wilayah ulee balang Idi Rayeuk, disebelah timur berbatasan dgn ulee balang silang, tamiang sebelah selatan berbatasan dgn wilayah karang hulu (Isaq gayo), sebelah barat berbatasan dgn ulee balang Keureutoe, sedangkan sebelah utara adalah pantai selat malaka.
Kenegerian Idi Rayeuk didirikan oleh Teuku Panglima Prang Nyak Yasin yg berasal dari Blang Me, Pasai.
Pengangkatan beliau sbg ulee balang Idi Rayeuk atas Saran dari Panglima Besar Teuku Muda Cut Latif Mereudue kpd Sultan Alaiddin Ibrahim MansyurSyah (1856-1870) maka dikeluarkan sarakata (cap sikuerueng) kpd Teuku Panglima Prang Nyak Yasin untuk mendirikan Kenegerian Idi Rayeuk dgn pusat pemerintahannya di Blang Siguci, Idi Rayeuk. Dan mengangkat Teuku Panglima Kawom Kabue, Blang Me serta Teuku Malem Suloe dari pidie sbg penasehatnya.
Teuku Panglima Prang Nyak Yasin merupakan bekas panglima perang wilayah Blang Me, Geudong yg juga merupakan sepupu dari ulee balang Blang Me Teuku Muda Ahmad Angkasah, ayah dari Teuku Chik Abdul Latif (Teuku Muda Lateih) ulee balang Blang Me terakhir. Pd th 1938 Teuku Chik Abdul Latief (Teuku Muda Lateih) wafat di makamkan di Blang Siguci, Idi Rayeuk sedangkan Zelfbesturder Blang Me digabung ke Zelfbesturder Geudong yg dipimpin oleh Teuku Abdul Latief Moely.
Teuku Panglima Prang Nyak Yasin pernah terlibat peperangan besar dengan seterunya ulee balang Geudong ketika memperebut bandar kuala pasai menghadapi pasukan yg dipimpin oleh Tgk Imuem Chik Nyak Peukan. Ketika itu Keujruen Pasai masih diperintah oleh Tgk Imuem Chik Raja Itam. Akibat perang saudara tersebut wilayah keujruen pasai terbelah menjadi 2 bagian yaitu ulee balang geudang diserahkan kpd Tgk Imuem Chik Nyak Peukan sedangkan ulee balang Blang Me diserahkan kpd adiknya Teuku Muda Ahmad Angkasah.
Teuku Panglima Prang Nyak Yasin menikah dengan Pocut Haji Rampang yg merupakan kakak dari Teuku Bentara Jamalul Beureugang ulee balang Buloeh Beureugang dan juga kakak dari Pocut Asyiah istri ulee balang Keureutoe Teuku Chik Muhammad Ali.
Dari hasil perkawinan dgn Pocut Haji Rampang beliau mempunyai 2 org putra yaitu ;
1. Teuku Bentara Siguci.
2. Teuku Panglima Banta.
Pada waktu belanda hadir di aceh pd th 1873, ulee balang idi rayeuk dipimpin oleh Teuku Bentara Siguci. Ulee Balang Idi Rayeuk tak berdaya menghadapi belanda yg menyerbu kuala idi sehingga harus menanda tangani surat takluk (korte Velklaring) kpd belanda. Sebelum menyerang bandar aceh pd tgl 26 maret 1873 pasukan belanda sudah menguasai pelabuhan kuala Idi dan mendirikan benteng pertahanan disana.
Teuku Bentara Siguci mempunyai 4 org putra yaitu ;
1. Teuku Raja Nagur Syah
2. Teuku Muhammad Said
3. Teuku M. Hasan Ibrahim.
4. Teuku M. Hanafiah.
Setelah Teuku Bentara Siguci Wafat maka pimpinan ulee balang Idi Rayeuk digantikan oleh putra sulungnya T. Raja Nagur Syah. Salah seorang putri T.Raja Nagur Syah yg bernama Cut Nyak Bismi menikah dengan Teuku Abdul Latif Moely ulee balang terakhir Geudong. Setelah Teuku Raja Nagur Syah turun tahta kemudian digantikan oleh adiknya T. Muhammad Said. Sayangnya tak lama setelah itu beliau meninggal secara misterius. Pihak belanda menuduh adiknya T.M. Hasan Ibrahim yg meracuninya sehingga beliau terpaksa melarikan diri dari kejaran belanda ke pulau pinang, malaysia.
Karena kekosongan pemerintahan di Idi Rayeuk maka belanda menunjuk putra bungsu T. M. Hanafiah sebagai Zelfbesturder Idi rayeuk menggantikan abangnya Teuku M. Said. Selanjutnya pada th 1935, T. M. Hanafiah wafat kemudian digantikan oleh putra beliau Teuku Muhammad Daudsyah. Pd th 1942 Teuku Muhammad Daudsyah diangkat oleh pemerintah jepang menjadi Asisten Residen Aceh (Guncho) di kutaraja banda aceh menggantikan Teuku Nyak Arif yg tewas akibat huru-hara di kutaraja pd masa peralihan kekuasaan penjajahan belanda ke jepang. Beliau juga pernah menjadi wakil Amir Husin Al mujahid dalam struktur organisasi pemuda Pesindo Aceh. (Photo, Ulee Balang Idi Rayeuk, T.M.Hanafiah, Idi Rayeuk, 1930, KITLV), trm. Ttd, Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Glp Doewa.

MENGUAK TABIR MAKAM PENDIRI NEGERI BANDAR TELUK SAMAWIMENGUAK TABIR MAKAM PENDIRI NEGERI BANDAR TELUK SAMAWI
Sama spt hal makam Sayid Syarif yg terletak di Jl. Banda Aceh – Medan, Gampoeng Mancang, Geudong, Kec. Samudra. Kab. Aceh Utara. Makam ini oleh masyarakat setempat disebut dgn makam Tgk Syareh. Beda dgn makam Sayyid Syarif yg terletak di Geudong, Aceh Utara, makam ini belum mendapat perhatian dari Pemkot Lhokseumawe dan belum masuk dalam daftar Situs Warisan Cagar Budaya Pemerintah RI. Terlihat dari kondisinya yg belum ada terdapat plank/papan nama dilokasi. Makam ini terletak di Jl. Tgk Syarif, Dusun Kuta Trieng, kp. Kramat, Simpang IV, Lhokseumawe, tepatnya di belakang stasiun kereta api Lhokseumawe. Jaraknya ±100 M dari komplek kerkhof kuburan tentara belanda yg sekarang menjadi Gedung SKB dan SDN 10, Lhokseumawe. Kalau kita melihat rekam jejak pemerintah belanda yg menjadikan komplek makam raja2x Peutjut di Kutaraja sbg kuburan ± 2000 prajurit belanda yg tewas dalam perang aceh. Besar kemungkinan kuburan kherkof ini dahulunya bekas kuburan keturunan raja2x kenegerian Pasai yg dijadikan kuburan kherkof prajuritnya yg tewas selama perang aceh di wilayah pantai utara aceh oleh belanda.
Kalau dilihat dari segi Historiografisnya, makam ini merupakan makam satu2xnya yg paling tua yg terletak di tengah kota Lhokseumawe. Dahulu. Masyarakat setempat menyebut dgn Makam Tgk Syareh, seorang ulama besar yg mendirikan negeri Teluk Samawi yg juga disebut sbg Tgk Di Teluk Samawi (Tgk Di Lhokseumawe). Makam ini telah di pugar secara Swadaya oleh masyarakat setempat. Bentuk nisannya yg bertypologi pasai serta tanpa ada tulisan kaligrafi dan hyroglif pemilik makam sehingga makam ini sama seperti makam Sayyid Syarif di Geudong, Aceh Utara yg disebut dgn Makam Anonim (tanpa nama). Siapakah pemilik makam tsb..? Untuk menjawab pertanyaan tsb, saya akan menjawab berdasarkan fakta sejarah yg ada
Dalam kitab Bustanussalatin karangan Syech Nuruddin Arraniry. Yg ditulis pada masa Sultan Iskandar Tsani berkuasa (1637-1641) disebutkan bahwa setelah beliau dilantik sebagai Sultan Aceh, beliau melakukan muhibah pertamanya ke negeri Teluk Samawi dgn menunggang gajah selama 7 hari. Beliau melakukan perjalanan dalam rangka melihat potensi alam yg dimiliki oleh Bandar Negeri Teluk Samawi.
Dalam Hikayat Malem Dagang karangan Tgk Yakub bin Ismail (Tgk Chik Pante Geulima) th 1896 disebutkan Ketika Sultan Iskandar Muda melakukan penyerangan ke negeri Banang (Batu Sawar, Johor) pd th 1615 beliau didampingi oleh Raja Raden adik dari Raja Si Ujud, Panglima Pidie Maharaja Indra, Ja Madinah (Ja Fakih) sbg pemimpin spiritual pasukan dan Panglima Malem Dagang si Anak Jeumpa dari Meureudu. Perjalanan darat ini sesuai permintaan permaisuri Putroe Phang kepada baginda Sultan, ada lima point permintaan beliau kepada suaminya Sultan Iskandar Muda yaitu:
1. Agar sudilah kiranya sultan untuk menghimpun pasukan dari tiap negeri yg disinggahinya oleh sebab itu Sultan Iskandar Muda melakukan perjalanan darat dari Bandar Aceh Darusalam sampai ke Kuala Jamboe Ayer, Panton Labu sedangkan kapal induk Cakradonya ikut rombongan sultan menyusuri tepi pantai. Dalam perjalanannya di teluk samawi beliau singgah di Kuta Trieng, Mon Geudong dan Sawang Keupuela, Negeri. Cunda.
2. Agar Sudilah kiranya Sultan utk berhati-hati di kuala Jamboe Ayer (Kuta Piadah, Seunuddon) karenanya air kualanya sangat deras.
3. Jikalau tiba di negeri Banang (Batu Sawar, Johor), janganlah menembakkan meriam karena hulu meriam akan pecah sebab diyakini negeri Banang banyak dihuni oleh para Aulia. Pada masa itu tembakan meriam sbg tanda bahasa sandi di bidang maritim. Apabila satu kali tembakan meriam dari kapal tamu akan di jawab dgn satu kali tembakan meriam tuan rumah maka akan diterima dgn secara damai, tetapi apabila dijawab dgn dua kali tembakan meriam atau lebih yg dibalas secara beruntun itu berarti siap perang.
4. Berhati-hatilah terhadap Raja Muda Haru karena disana banyak perompaknya. Oleh sebab itu Sultan Iskandar Muda sebelum menyerang Batu Sawar, Johor lebih dulu menaklukkan Kerajaan Haru, Deli.
5. Agar memilih Panglima Perang yg cakap melawan Raja Si Ujud yg terkenal akan ilmu silatnya. Oleh sebab itu sebelum bertolak ke negeri Haru dgn kapall induk Cakra Donya di Kuala Jamboe Ayer, beliau menunjuk Malem Dagang sbg Panglima Perang. Atas petunjuk dari Putroe Phang, Panglima Malem Dagang berhasil mengalahkan Raja Si Ujud si penguasa 5 negeri (Johor Lama, Johor Bali, Malaka, Banang Pahang dan Gowa Bugis). Sejak saat itulah, Sultan apabila memutuskan suatu perkara selalu minta petunjuk dan saran dari istrinya. Dari sinilah muncul tamsilan di masyarakat aceh
“Kanun bak Putroe Phang”.
Berdasarkan catatan Kapten Von Schmidt, seorang kapten laut Belanda, mencatat dalam bukunya Telok Semawe, de Beste Haven op Atjeh’s Noordkust (Teluk Samawi, Pelabuhan Terbaik di Pantai Utara Aceh), th 1887, bahwa Teluk Samawi terletak sekitar 6 mil sebelah barat Diamont Point (titik timur laut pulau Sumatra), dan telah diperuntukkan untuk perdagangan. Pantai sebelah baratnya merupakan kedudukan dari Negeri Teluk Samawi.
Sambil memuat sebuah peta Teluk Samawi dalam bukunya itu, Kapten laut Belanda ini juga menyatakan bahwa Teluk Samawi memiliki lokasi yang bagus, di mana dalam waktu yang sama, ratusan kapal besar dapat menemukan tempat berlabuh yang bagus, dan kapal-kapal kecil dalam jumlah yang banyak dapat bersandar di dekat pantai. Bahkan, dalam kondisi angin timur laut yang bertiup terus menerus, rumpun-rumpun bambu (pereudee trieng) dan pantai dapat bertahan di sepanjang laguna (danau) yang tidak hanya cocok untuk kapal-kapal kecil, tapi juga untuk kapal yang dapat dilayari. Oleh sebab itu pemerintah Belanda menjadikan pulau seluas 11 km2 sebagai pusat pertahanannya yg paling strategis di pantai timur Aceh. Dipulau ini belanda membangun infrastruktur spt stasiun kereta api terbesar yg terintegrasi dengan pelabuhan laut, pos dan telekomunikasi, penjara, bivak prajurit, markas komando KNIL serta rumah residen kontrolir.
Stamenhoose, seorang kepala Dinas Arkeologi dan Purbakala pemerintah Hindia Belanda di Aceh yg pernah melakukan penelitian terhadap makam-makam kuno pd th 1910 diwilayah Pasai gagal mengidentifikasi makam anonim yg terletak di belakang stasiun kereta api tsb. Stamenhoose hanya mendapatkan informasi dari masyarakat setempat bahwa itu adalah makam Tgk Syareh.
Siapa sebenarnya tokoh ini..? Jawabannya dpt ditemukan berdasarkan manuskrip yg terdapat pada mukadimah arakata di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam waladu) bin Tu Poraja Chik Malik (Tu Poraja Chik Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah menjadi Sultan Aceh. Dalam mukadimah arakata ini dijelaskan siapa sosok tokoh Tu Poraja Chik Yamani Pasee.
Tu Poraja Chik Yamani Pasee atau nama aslinya Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani lahir di kota Ta’rim Hadramaut, Yaman. Tdk diketahui kapan tepatnya, tanggal lahirnya tp diperkirakan pada pertengahan abad ke XV Masehi. Beliau merupakan putra Sultan Asta, Raja Yaman yg memerintah pd th 827 H (1432 M). Beliau menanggalkan gelar bangsawannya dan lebih memilih menjadi pendakwah islam. Hijrah ke negeri pasai pada th 868 H (1473) di masa kerajaan Samudera Pasai di perintah oleh Sultan Zainal Abidin Ra Ubabdar (1477-1500) dan menikah dgn salah seorang kerabat Sultan Samudera Pasai, kemudian di masa pemerintahan Sultan Zain Al Abidin bin Zainal Abidin Ra Ubabdar (1513-1518) diangkat sbg mufti besar kerajaan Samudera Pasai.
Pemilik makam tersebut bernama Muhammad Syarif putra dari Tu Poraja Chik Meureudu. Muhamad Syarif merupakan abang kandung dari Ja Madinah (Ja Fakih), keduanya merupakan adik dari Ali Abdul Manaf berdasarkan arakata Pasee yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Cut Nyak Husein sanat 1243 Hijriyah. Nasab lengkapnya Tgk Muhammad Syarif bin Tu Poraja Chik Meureudue bin Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu (Tgk Chik Ahmad Idris) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee atau Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani. (Photo, Makam Tgk Muhammad Syarif, Kp. Kramat, Lsm, th 2023, Koleksi Pribadi), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Glp. Doewa.


MENGUAK TABIR MAKAM PENDIRI KENEGERIAN PASAI TH 1524 M…?MENGUAK TABIR MAKAM PENDIRI KENEGERIAN PASAI TH 1524 M…?
Pada Manuskrip kitab Bustanussalatin (Istana Para Raja) karangan Syech Nuruddin bin Muhammad Ali Arranir bin Hasanji bin Muhammad Hamid yg ditulis pada masa Sultan Iskandar Tsani (1637-1641) disebutkan bahwa keturunan raja-raja Pasai terdiri dari 3 jalur nasabnya, yaitu :
1. Langsung dari negeri Hadramaut Yaman melalui Tu Poraja Chiek Yamani Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani bertarikh 868 Hijriyah cicit Saydina Hasan RA.
2. Melalui jalur marga Al Habsyi, yg berasal dari Dinasty Abbasiyah Irak.
3. Jalur dinasty Sasanid persia (negeri Rum) melalui Pangeran Shahriansyah Salman dari Kerajaan Jeumpa (877 M), yg bercampur dgn klan dinasty Abbasiyah, Irak ketiga jalur tersebut bermuara pada Bani Hasyim dan Dinasti Mamluk di Afrika Utara dan negeri Syam Yaman yg membentuk keturunan raja2x di Aceh. Ketiga jalur nasab inilah yg membentuk Sukee Tok Batee salah satu suku yg membentuk etnis Aceh selain Sukee Lhee Reutoeh (Gayo dan Alas), Sukee Peut Reutoeh (Hindi Dravida) dan Sukee Imeum Peut (akulturasi 3 suku tsb).
Dalam arakata Pasee sanat 1243 Hijriyah yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Cut Nyak Husein, salah seorang Tuha Peut dari negeri Keujruen Kanang (Keujruen Kandang), Cunda disebutkan bahwa Tu Poraja Chik Yamani Pasee merupakan bapak pendiri Kenegerian Pasai setelah era dinasty Samudera Pasai. Kenegerian Pasai merupakan salah satu negeri otonom dimasa era Kesultanan Aceh Darusalam yg didirikan pd th 1524 M. Tentunya dalam hal ini timbul pertanyaan, kalau memang benar Tu Poraja Chik Yamani Pasee tokoh pendiri kenegeriaan Pasai, dimana letak makamnya sekarang…? Untuk menjawab pertanyaan tsb, saya coba menganalisis berdasarkan sesuai fakta sejarah yg ada.
Dalam arakata ulee balang Blang Me, Geudong, tokoh ini disebut dgn Syech Syareh Yamani. Dalam arakata ulee balang Samakuroek, Blang Jruen, tokoh ini disebut dgn Tgk Syareh Yamani. Dalam arakata negeri Geudong, tokoh ini disebut Tgk MadSyech. Dalam kitab Bustanussalatin yg membahas tentang Sejarah dan Ketatanegaraan Kerajaan Aceh Darussalam tokoh ini disebut dgn nama Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani. Dalam Hikayat Tanah-Tanah Besar Melayu fasal Negeri Perak (Kedah, Malaysia ) dimana Sultan Perak pertama yg dilantik langsung oleh Sultanah Sri Ratu Safiatuddinsyah juga masih keturunannya disebut dgn Syech Muhammad Yamani. Dalam Hikayat ini disebutkan bahwa suku Angkola dan Mandailing yg menetap di Sumatera Timur disebut dgn Batak Yamani. Apakah mereka juga masih keturunan Syech Muhammad Yamani belum ditemukan bukti yg shahih tetapi yg jelas mereka mengenal agama islam karena di bawa oleh musafir dari negeri Yaman. Dalam Lembaran negara. (Statblaad) pemerintah Hindia Belanda, tokoh ini disebut dgn Tgk Syareh. Bahkan Stamenhoose sendiri, seorang kepala Dinas Arkeologi dan Purbakala pemerintah Hindia Belanda di Aceh yg pernah melakukan penelitian terhadap makam-makam kuno pd th 1910 diwilayah Pasai tdk berhasil mengidentifikasi kaligrafi dan epitaf yg tertulis di nisan tsb. Stamenhoose hanya mendapatkan informasi dari masyarakat setempat bahwa itu adalah makam Tgk Syareh seorang ulama besar yg berasal dari Negeri Yaman. Sejarahwan Aceh yg juga. Guru Besar Sejarah UGM Alm. Prof. Teuku Ibrahim Alfian juga gagal mengidentifikasi makam anonim tsb yg terletak di Jalan Medan- Banda Aceh, Meunasah Mancang, Geudong, Aceh Utara.
Sedangkan menurut versi pemerintah kabupaten Aceh Utara Cq pemerintah Republik Indonesia makam anonim tersebut diberi nama (nomenklatur) dgn Makam Sayyid Syarief sbg tanda telah ditetapkan situs warisan cagar budaya non benda oleh pemerintah setempat.
Bentuk nisan Tgk Syareh yg berbentuk keranda batu hampir sama dgn bentuk nisan Ratu Nahrasiyah bin Sultan Zainal Abidin I dan Nisan Pangeran Saidi Abdullah Muhammad Shabilul Al Khabir keturunan Sultan Mu’tazim Billah, sultan terakhir dari Dinasty Abbasiyah, Irak. Beliau hijrah ke pasai pada abad ke 15 Masehi yg kuburannya terletak di Gampoeng Blang Me, Geudong.
Dari semua sumber yg disebutkan di atas semua tdk dijelaskan siapa tokoh ini dan hanya menyebutkan tokoh dalam arakata tsb adalah indatu dan moyang mereka di wilayah Pasee.
Siapa sebenarnya tokoh ini..? Jawabannya dpt ditemukan berdasarkan manuskrip yg terdapat pada mukadimah arakata di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam waladu) bin Tu Poraja Chik Malik (Tu Poraja Chik Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah menjadi Sultan Aceh. Dalam mukadimah arakata ini dijelaskan siapa sosok tokoh Tu Poraja Chik Yamani Pasee.
Tu Poraja Chik Yamani Pasee atau nama aslinya Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani lahir di kota Ta’rim Hadramaut, Yaman. Tdk diketahui kapan tepatnya, tanggal lahirnya tp diperkirakan pada pertengahan abad ke XV Masehi. Beliau merupakan putra Sultan Asta, Raja Yaman yg memerintah pd th 827 H (1432 M). Beliau menanggalkan gelar bangsawannya dan lebih memilih menjadi pendakwah islam. Hijrah ke negeri pasai pada th 868 H (1473) di masa kerajaan Samudera Pasai di perintah oleh Sultan Zainal Abidin Ra Ubabdar (1477-1500) dan menikah dgn salah seorang kerabat Sultan Samudera Pasai, kemudian di masa pemerintahan Sultan Zain Al Abidin bin Zainal Abidin Ra Ubabdar (1513-1518) diangkat sbg mufti besar kerajaan Samudera Pasai.
Pada th 1518 Sultan Zainal Abidin wafat dan berakhirlah era kesultanan Samudera Pasai dgn muncul kesultanan baru Kesultanan Aceh Darusalam pd th 1512 yg berpusat di Bandar Aceh Darussalam yg didirikan oleh Raja Sherla (Tgk Chik Sherla) bin Sultan SyamsuSyah dgn gelar Sultan Ali Mughayatsyah Zillullah Fil Alam. Raja Sherla Merupakan abang kandung dari Raja Ibrahim. Raja Ibrahim juga merupakan ayahanda dari Putroe Beutong, permaisuri Sultan Zainal Abidin III Ra Ubabdar yg tak lain adalah ibunda dari Sultan Zainal Abidin IV, sultan terakhir Kerajaan Samudera Pasai yg wafat pd th 1518. Menurut Manuskrip Hikayat Atjeh, Raja Ibrahim berseteru dgn kemenakannya sendiri Sultan Salahuddin hingga beliau dibunuh oleh kemenakannya.
Pada tahun 1524 Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani resmi di tunjuk oleh Sultan Aceh sbg wali negeri Pasai dgn gelar “Tu Poraja Chik Yamani Pasee”. Dari sinilah keturunan ulee balang wilayah Pasee, Jeumpa, Tamiang, Mereudue Pidie, Daya, Lingge Gayo, Meulaboh dan Tapak Tuan diturunkan dgn sebutan “Keturunan Hulubalang Mukim Tujuh”. Menurut arakata di bawah ini keturunan Tu Poraja Chik Yamani menyebar ke 7 wilayah (hulubalang mukim 7) yaitu Hulu Sungai Miang (Tamiang Kuala Simpang), Lingge Gayo, Tapak Tuan, Susoeh, Malabuh Haji (Labuhan Haji), Meulaboh kemudiaan Keujruen Meulala Negeri Daya, kemudian Pidie, Keujruen Tirusieb, Keujruen Mereudue, Ie Leubue, Paloeh pidie, dan Gigieng, kemudian Meusee Krueng Panjoe (Keujruen Meusyi) Peusangan Jeumpa (Jempah), kemudian wilayah Pasee (Pasi) dan Teluk Samawi (Lhokseumawe) diantaranya Meuraksa Bayu, Blang Mangat, Teupin Puenti, Cunda, Samakurok, Geudong, Keureutoe, Simpang Mulieng. Dalam arakata Pasee ini juga disebut Sultan Aceh Pocut Husein atau Sultan Jauharul Alamsyah (1796-1824) juga masih keturunan Tu Poraja Chik Yamani Pasee dari Jalur ibundanya Pocut Di Pasee yg merupakan permaisuri Sultan Muhammad Syah. Sultan. Jauharul Alamsyah juga disebut sbg sultan yg mengistiadatkan Kerajaan Aceh Darussalam karena beliau termasuk sultan yg menduduki tahta kerajaan terlama selama kurun waktu hampir 29 tahun (1796-1824) walaupun sempat menjalankan pemerintahan selama 5 tahun (1814-1818) di pemerintahan pengasingan Teluk Samawi, Lhokseumawe.
Tu Poraja Chik Yamani Pasee Merupakan ayah dari Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu atau Tgk Chik Ahmad Idris (Tgk Madeireih). Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu Punya 44 anak dari empat orang istrinya. Dari 44 org anak, keturunan Poraja Chik Malik yg jadi akan Hulubalang 7 org yg disebut dgn Hulubalang Mukim Tujuh, jadi akan Sultan 1 org,jadi akan Raja 12 orang, jadi akan Aulia (ulama besar) 4 org, jadi akan Menteri 5 orang, jadi akan Panglima 3 orang, jadi akan Imam 14 orang, jadi akan Bujang (Pengawal Sultan) 7 orang, yg menjadi tandil (Hulubalang Istana) 1 org, jadi akan keujruen 1 org, 1 org jadi akan hakim dan pulang berlayar ke negeri Yaman 2 orang yaitu Abdurrahman dan. Ali Akbar. (Foto, Komplek Kuburan Syech Syareh Yamani dan keturunannya, th 1910, fotographer Stamenhoose, kepala Dinas Arkeologi dan Purbakala Hindia Belanda, koleksi Rijkmuseum, Leiden), trm. (Ttd, Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.