SEJARAH ULEE BALANG CUNDA
(Analisa Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp.Doewa)
Berdasarkan catatan belanda “Mededelingen Betrefende De Atjehsche Onderhoorigheden” atau laporan tentang daerah taklukan di Aceh yg dibuat pd tgl 14 mei 1901 mengenai negeri Cunda. Letak geografisnya wilayah negeri Cunda sbb ; disebelah timur bersinggungan dgn ulee balang Blang Me dan Geudong, sebelah selatan berbatasan dgn wilayah ulee balang Lingge Gayo, sebelah barat dgn berbatasan dengan ulee balang Nisam sedangkan sebelah utara berbatasan dgn Krueng Cunda wilayah kemaharajaan Teluk Samawi.
Pada awalnya negeri ini bernama Keujruen Kanang didirikan oleh Teuku Ja Intan (Tgk Chik Di Glee), beliau merupakan putra dari bekas penguasa kenegerian pasai Meurah Seubat atau yg lebih dikenal Tok Nabat Andarul Fathir Syamsul Alam, dengan pusat pemerintahannya di Buloeh Raya (Buloeh Blang Ara). Adapun istilah Kanang diambil dari bahasa melayu sanskrit yg berarti “tempat makam raja2x” yg memang disekitar wilayah tersebut banyak ditemukan situs2x makam raja kenegerian Pasai paska runtuh kerajaan Samudera Pasai spt : kompleks makam raja-raja kenegerian pasai di gampong Luboek Kliep di Sp, Kramat dan Makam Teuku Ja Intan di Gampoeng Buloeh Mancang (Buloeh Rayeuk). Diksi ini sama halnya seperti nama makam raja aceh ditempat lain, spt Kanang Emas (Kandang Meuh) makam raja2x Lamuri di Lamuri, Aceh Besar atau Kanang XI (Kandang Siblah) makam raja2x Dinasty Alaiddin di daerah Neusu, Banda Aceh atau juga Kanang Tuanku (Kandang Tuanku) makam Tuanku Muhamad Taher, pamannya dari Sultan Alaiddin Ibrahim MansyurSyah (1856- 1870) yg membuka usaha perkebunan lada di Lhok Puepaleh, Krueng Geukueh (lokasi proyek PT. Pupuk Iskandar Muda skrg) yg akhirnya pd th 1980 dibongkar oleh pemerintah daerah dan dipindahkan ke desa Tambon Baroeh. Atau juga bisa merujuk ke Istana Presiden Philipina “Kemala Kanang (Mala Canang)” yg dibangun di atas kuburan raja2x melayu Dinasty Amanillah moyangnya kesultanan Sulu Mindanao. Disitulah penjajah Spanyol mendirikan tempat bersemayam raja Spanyol Philips yg kemudian kelak menjadi negara Philipina dgn ibukotanya Manila.
Belakangan karena pengaruh lafaz arab melayu maka istilah “Kanang” lebih populer dgn sebutan Kandang yg dipakai sebagai nama wilayah kemukiman di Cunda.
Setelah Teuku Ja Intan Wafat dan di makamkan di buloeh mancang (yg belakangan disebut dgn Simpang Kramat karena kuburan Teuku Ja Intan yg terdapat disana dianggap banyak membawa karomah pd masyarakat setempat), maka ulee balang keujruen kanang kemudian di pimpin oleh Teuku Chik Mat Kasa. Pada saat kepemimpinannya, beliau memindahkan pusat pemerintahan negeri Keujruen Kanang dari Buloeh Blang Ara ke Kuta Kareung, Kuala krueng Cunda. Hal ini disebabkan aktifitas bongkar muat di bandar pelabuhan Teluk Samawi yg terus meningkat seiring dgn banyaknya kapal dagang yg hilir mudik keluar masuk disana. Sejak Saat itu Keujruen Kanang berubah menjadi wilayah ulee balang Cunda.
Ulee balang Cunda sendiri dibentuk oleh delapan wilayah ulee balang cut yg disebut dgn ulee balang lapan ( 8 ) yaitu ;
1, Ub, Meuraksa, bayu
2, Ub. Seumasat, Blang Mangat, Puenteut
3. Ub. Mbang
4. Ub. Buloeh Mancang (Buloeh Rayeuk atau Buloeh Raya), Sp. Kramat
5 Ub. Buloeh Blang Ara
6.Ub. Buloeh Beureugang
7. Ub. Paloeh
8. Ub. Blang Lancang, Blang Teupat (belakangan wilayah ulee balang ini hilang dan pd th 1976 dijadikan lokasi Proyek LNG Arun).
Teuku Chik Mat Kasa mempunyai 7 org anak yaitu :
1. Teuku Chik Nyak Dusun, Kuta Kareung, Cunda
2. Teuku Panglima Prang Nisam (Teuku Datoe)
3. Teuku Panglima Prang Meuraksa (Teuku Batang)
4. Teuku Panglima Prang Oejoet (ayah dari Teuku Panglima Prang Agam)
5. Teuku Panglima Prang Tumpok Dalam
6. Cut Nyak Soerat (Cut Atjeh) yg kawin dengan Teuku Bentara Chik, ulee balang Bayu
7. Cut Nyak Putroe yg kawin dengan Teuku Rhi Mahmud Nisam, ulee balang negeri Nisam.
Pada waktu belanda hadir di aceh pd th 1873, ulee balang cunda dipimpin oleh Teuku Chik Nyak Dusun. Beliau juga yg menanda tangani korte volklaring pd tgl 23 juli 1874 berbarengan dgn Teuku Maharaja Mangkubumi Teluk Samawi. Pd th 1882 ketika pecah perang Peusangan Raya, wilayah cunda pernah diduduki oleh pasukan Peusangan yg dipimpin oleh Teuku Chik Muda Peusangan Maharaja Jeumpa sehingga memaksa ulee balang cunda Teuku Chik Johan Mengungsi ke Teluk Samawi. Ulee Balang Peusangan yg waktu itu dipimpin oleh Teuku Chik Syamaun menganggap wilayah Cunda sampai Kuala Meuraksa bagian dari teritorial ulee balang Peusangan berdasarkan sarakata yg dikeluarkan oleh Sultan Aceh kepada moyangnya Teuku Keujruen Chik Peusangan Seutya Raja (Teuku Panglima Perang Dihadjad Pasee bahwa batas negeri Peusangan dari kuala Pandrah sebelah barat sampai kuala Meuraksa sebelah timur.
Setelah wafat Teuku Chik Nyak Dusun maka langsung digantikan oleh cucunya Teuku Chik Johan bin Teuku Chik Lamguegop yg merangkap sbg Zelfbesturder Cunda. Teuku Chik Johan punya 3 org anak yaitu :
1. Teuku Raja Abdullah
2. Teuku Chik Mahmud
3. Teuku M.Said.
Kemudian Teuku Chik Johan digantikan oleh anaknya yg kedua Teuku Chik Mahmud dan Kemudian pd th 1935 jabatan Zelfbesturder cunda Teuku Chik Mahmud digantikan oleh adiknya Teuku M. Said. Disebabkan Teuku M.Said menjalankan pemerintahan yg selalu bertentangan dengan pemerintah Hindia Belanda maka beliau diasingkan ke Ternate, maluku. Kemudian posisi Jabatan ini digantikan oleh keponakannya Teuku Ibrahim Agung bin Teuku Chik Mahmud. Ketika pd tahun 1942 belanda angkat kaki dari indonesia, Teuku M. Said Kembali lagi ke Aceh. Atas jasa baik dari Teuku Muhammad Daudsyah Idi, yg menjadi Asisten Residen Aceh di Kutaraja, maka ditunjuklah Teuku M. Said sebagai Asisten Residen Sigli (Guncho) yg berkedudukan di Lamlo Sigli. Pd tgl 20 Desember. 1945 beliau tewas di Lamlo, Sigli dalam peristiwa huru-hara Perang Cumbok termasuk juga keponakan beliau, Teuku Ibrahim Agung yg hilang diculik di Lhokseumawe oleh pasukan TPR Pesindo. (Photo, Teuku Chik Mahmud, Lhokseumawe, th 1930, Koleksi KITLV), trm. Ttd, Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.
