Sejarah Ulee Balang Nisam

SEJARAH ULEE BALANG NISAM
(Analisa Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)
Berdasarkan catatan belanda “Mededelingen Betrefende De Atjehsche Onderhoorigheden” atau laporan tentang daerah taklukan di Aceh yg dibuat pd tgl 14 mei 1901 mengenai negeri Nisam. Letak geografisnya wilayah ulee balang Nizam (Nisam), disebelah timur berbatasan dgn ulee balang cunda, sebelah selatan berbatasan dgn wilayah lingge gayo, sebelah barat berbatasan dgn ulee balang Sawang, sedangkan sebelah utara adalah pantai selat malaka.
Sejarah berdirinya kenegerian nisam (kec. Dewantara dan nisam sekarang) tak terlepas dari peran Sultan Alaiddin Ibrahim MansyurSyah (1856-1870) sbg seorang Sultan Aceh yg adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Pada masa pemerintahan beliaulah Kesultanan Aceh menjadi sebuah kerajaan yg aman, damai, makmur, sejahtera dan sentosa (baldatun thayyibatun warabbun ghafur), karena berhasil mendamaikan persaingan antara dua dinasty kesultanan aceh yaitu dinasty Alaiddin dan dinasty Jamalullail paska Sultanah terakhir Keumalatsyah lengser pd tahun 1699. Selama kurun waktu 157 tahun (1699- 1856) perebutan kekuasaan dan kudeta berdarah silih berganti terjadi antara kedua dinasty ini. Ketika Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah naik tahta pd th 1856 beliau berhasil mendamaikan kedua kubu dengan mengangkat Tuanku Hasyim Banta Muda dari kubu dinasty Alaiddin sebagai Panglima Perang Besar (Wazirul Harb) kerajaan Aceh Darusalam dan Sayid Abdullah Al Jamalullail (Wan Di Meulek) sbg bendahara dan sekretaris kerajaan (Wazirul Rama Setia) sehingga persaingan dan dendam warisan dpt dihentikan oleh sultan.
Pada masa Sultan Alaiddin Ibrahim MansyurSyah berkuasa beliau berhasil membuka isolasi daerah dgn mendirikan beberapa daerah otonomi baru spt j ulee balang Sawang, dan Nisam di Aceh Utara, ulee balang Idi Rayeuk di Aceh Timur, ulee balang Beutong dan Kaway XVI di Aceh Barat, dsb.
Adapun istilah “Nisam atau Nizam” diambil dari salah satu kata yg berasal dari istilah arab “Nazam” yg artinya keinginan atau kehendak dan harapan dari Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah kpd wilayah tsb.
Dahulunya wilayah ini masuk dalam wilayah pemerintahan Keujruen Peusangan yg disebut dgn kemukiman Blang Panyang yg diperintah oleh Tgk Chik Lampoeh U yg pernah menjadi penguasa keujruen Peusangan. Beliau juga merupakan wali dari Teuku Bentara Kuanta (Tgk Chik Nyak Krueng) selama dalam perwalian kekuasaan sampai beliau dewasa utk diangkat menjadi Raja Peusangan. Setelah Tgk Chik Lampoeh U turun tahta, beliau hanya mendapatkan wilayah kekuasaan yg lebih kecil yaitu Blang Panyang. Mengingat jasa2x beliau kpd sultan yg pernah membantu sultan aceh selama masa kudeta kerajaan, atas bantuan Pangoelee Peunaroe Teuku Bentara Keumangan yg juga sekaligus cucu Tgk Chik Lampoeh U maka ditunjuklah Teuku Mahmud sbg Ulee Balang Nisam dengan gelar Teuku Sri Mahmud Nisam atau yg lebih dikenal Teuku Rhi Mahmud Nisam dgn pusat pemerintahan di Keude Amplah, Nisam. Bersamaan dengan itu Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah juga memberikan izin konsesi lahan kpd pamannya Tuanku Muhammad Taher utk membuka usaha perkebunan lada di Lhok Puepaleh, Kr. Geukueh yg saat ini lahan tersebut telah didirikan Industri pupuk milik PT. Pupuk Iskandar Muda.
Teuku Rhi Mahmud Nisam mempunyai 14 orang anak dari 2 org istri.
Dari pernikahan dgn Pocut Di Meuse, putri Ulee Balang Gloempang Doewa mempunyai 7 org anak yaitu :
1. Teuku Muhammad. Syam
2. Teuku Meuse
3. Teuku Raja Muhammad Ali (Teuku Raja Ma’ Ali)
4. Cut Nyak Faridon
5. Cut Nyak Ruhoy
6. Teuku Lateih (Teuku Latif)
7. Teuku Raja Puteh.
Sedangkan dari Pernikahan dengan Cut Nyak Putroe, putri ulee balang Cunda Teuku Chik Mat Kasa mempunyai 7 org anak yaitu :
1. Teuku M. Zain
2. Teuku Deuruh (Teuku Idrus)
3. Cut Nyak Fatimah Glp. Sulu
4. Teuku Raja Bujang (Bujang Salim)
5. Cut Nyak Ayan
6. Teuku Lutan (Teuku Banta Lutan)
7. Teuku Ali Agam.
Pd th 1873 saat belanda hadir di aceh, ulee balang Nisam masih di pimpin oleh Teuku Rhi Mahmud. Pd tgl 8 Agustus 1874 ulee balang Nisam bersama ulee balang Peusangan, Gloempang Doewa dan Sawang menanda tangani traktat pendek (Korte Velklaring) dgn belanda. Pd th 1882 ketika pecah perang Peusangan Raya karena konflik tapal batas antara Peusangan dan Gloempang Doewa. Ulee balang Nisam bersama Sawang, Cunda, Bayu dan Gloempang Doewa membentuk aliansi yg disebut dgn ulee balang limong (5). Sedangkan ulee balang Peusangan dibantu oleh ulee balang Geudong dan Lingge gayo. Atas Prakarsa Kapten Vermeulen kontrolir belanda di Lhokseumawe, maka pd th 1887 di buatlah deklarasi damai di Keude Amplah, Nisam utk menghentikan pertempuran kedua belah pihak yg bertikai. Perang Peusangan Raya tsb baru berhenti setelah Teuku Chik Syamaun ulee balang Peusangan wafat pd tahun 1899.
Pd th 1901 Teuku Rhi Mahmud wafat, kemudian di gantikan oleh putranya Teuku Raja Ma’ Ali yg juga sekaligus menjabat Zelfbesturder Nisam sampai th 1913. Beliau juga pernah menjabat sbg Zelfbesturder Blang Mangat pd th 1930. Selanjutnya Teuku Raja Ma’ Ali digantikan oleh adiknya Teuku Raja Bujang (Bujang Salim) sampai th 1921. Dikarenakan keterlibatannya dgn pergerakan Sarekat Islam (SI) yg didirikan oleh HOS Cokroaminoto dan oleh pemerintah Belanda beliau diasingkan ke Tanah Merah, Boven Digul Papua. Kemudian Jabatan Zelfbesturder Nisam digantikan oleh adiknya Teuku Banta Lutan sampai berakhirnya era penjajahan belanda. (Photo, Cap Stempel Teuku Sri Mahmud Nizam, th 1891, Koleksi Tropen Museum), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp Doewa.

Tinggalkan Komentar