WILAYAH ULEE BALANG PEUSANGAN DAN GLOEMPANG DOEWA
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp Doewa)
Dikutip Berdasarkan catatan belanda “Mededelingen Betrefende De Atjehsche Onderhoorigheden” atau laporan tentang daerah taklukan di Aceh yg dibuat pd tgl 14 mei 1901 mengenai negeri Peusangan yaitu :
Di bawah pimpinan uleebalang sebagai
pemimpin puncak daerah Peusangan dipimpin oleh beberapa pimpinan menengah,
di antaranya para tuha-peut (4) dan uleebalang nam (6) yang selanjutnya membawahi para peutuwa, keutji dan panglima.
Para tuha peuet Peusangan :
1. T. Keudjroun Moeda dari Pante Ara
2. T. Hakem dari Matang
3. T. Hakem Tji dari Rajat
4. T. Keudjroeen Kuala dari Boegak.
Menurut pengakuan dari sisi Gluempang Doewa, Boegak di masa lalu merupakan bagian darinya dan T. Keudjroeen Kuala (boegak) pada waktu itu adalah satu dari tuha peuet dari Gloempang-Dua. Pengakuan ini tentu saja ditolak oleh pihak Peusangan.
Para uleebalang nam (6) peusangan :
1. T. Bentara Peukan dari Djangka
2. T. Keudjroeen Seurawab (bin Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp Doewa) dari Langkoeta
3. T. lmeum Rajat dari Meunasah Meutjat
4. Pangoelee Side dari Bajoe
5. T. Hakim dari Roesip
6. Panglima Prang Pasoe dari Utheuen Gathom
Para tuha peuet adalah Hakim dari daerah, dan persetujuan mereka sangat diharapkan oleh oeleebalang pada saat pengambilan keputusan penting.
Mereka sudah ada sejak lama, sehingga menurut pengakuan penduduk lebih tinggi kedudukannya dari para oeleebalang-nam (6), yang baru saja dibentuk oleh T. Tji Seuma’on (bin Teuku Chik Muhammad Hasan).
Mereka adalah pelaksana dari perintah-perintah uleebalang, dan khususnya berfungsi sebagai panglima perang atau pemimpin (komandan) tempur. Pimpinan utama di bahagian barat Peusangan yang dibawahi oleh (T. Muda Peusangan Maharadja Djeumpa bin Teuku Chik Muhammad Hasan) adalah:
1. T. Keudjroeen dari Djeumpa
2. T. Keudjroeen dari Djuli Baroh
3. T. Keudjroeen Toenong dari Poelo Miroe
4. T. Imeum Rajat dari Bireuen
Daerah di Gluempang Doewa yang termasuk
tunduk pada uleebalang Peusangan adalah
Leuboe dan Lapehan
Oeleebalang dari Leuboe adalah T. Rih
Lapehan sebaliknya dipimpin oleh 3 peuteuwa, yang masing masing langsung menerima perintah dari Uleebalang Peusangan.
Mereka adalah:
1. T. Hakim dari Lapehan;
2. T. Moeda Bale dari Blang Koethang
3. T. Keutjik Pidie dari Gampong Meusejit, yang terakhir (T. Keutjik Pidie) karena usianya yang uzur tidak dapat lagi Memegang tampuk kekuasaan, dan perlahan lahan tersingkirkan oleh T. Bintara Blang (Teuku Keujruen Gok), yang berasal dari Sawang, trm.
(Photo, Silsilah Keluarga Teuku Panglima Prang Barat Seutya dan Cut Pinta serta garis keturunannya 27 safar 1359 H/ 7 April 1970, koleksi keluarga)
Ttd, Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Glp Doewa.

SEJARAH BERDIRINYA ISTANA GLOEMPANG DOEWA DI GEURUGOK, KAB. BIREUEN.
Gambar di bawah ini adalah kondisi terakhir bangunan istana Gloempang Doewa di Keude Geurugok, kec. Gandapura kab. Bireuen. Istana ini merupakan hadiah pemerintah belanda kepada wedana (zelfbesturder) Gloempang Doewa yg saat itu dipegang oleh Teuku Bintara Istia Muda Peureudan. Istana ini mulai dibangun pd tahun 1903 semenjak padamnya perlawanan Sultan Aceh. Dari arsitektur rumah tersebut jelas sekali mengadopsi rumah gaya mediteranian eropa klasik (gothic). Kondisi terkini rumah tersebut sangat menyedihkan. Dibeberapa sudut bangunan sdh lapuk termakan usia dan sebagian atapnya sdh pada berjatuhan. Bangunan ini sdh tak dihuni lagi sejak th 1984 setelah Cut Nyak Fatimah wafat, istri kedua dari Teuku Bintara Istia Muda Pereudan. Saat ini kepemilikan istana tsb jatuh kpd ahli waris almarhum Ir. T. Hanafiah, mantan dosen IPB bogor. Bahkan dikhabarkan rumah ini siap dijual, berdasarkan pamflet yg tertera di dinding rumah tsb.
Sebelum terjadi perang Peusangan Raya (1882-1899), istana ini dahulunya terletak di Kuta Panjoe, Keujruen Meuse. Dulu Kuta Panjoe adalah sbg pusat pemerintahan keujruen Peusangan yg didirikan oleh Teuku Dihadjat pasee pd th 1082 H (1675M), seorang Panglima Perang yg ditunjuk oleh Sultan Aceh utk memimpin sebuah negeri yg bernama Keujruen Peusangan Raya. Wilayah ini meliputi 6 kemukiman yaitu kemukiman Jeumpa, kemukiman Juli, Kemukiman Samuti Rayeuk, kemukiman Gloempang Doewa, kemukiman Blang Panyang (Nisam dan Sawang) dan kemukiman Peudada.
Sebelum belanda hadir di aceh, wilayah Keujruen Peusangan merupakan wilayah yg sangat makmur dgn pertanian dan nelayan sbg mata pencaharian penduduknya. Puncak emas kekuasaan keujruen peusangan semasa T.Chik Nyak Krueng berkuasa atau dikenal dgn Teuku Bentara Kuanta (1844 – 1868). Beliau merupakan putra bungsu dari Teuku Diadjat Pasee, pendiri negeri Peusangan Raya. Paska beliau wafat pd th 1868 dan digantikan oleh putra tertuanya Teuku Chik Muhammad Hasan, tak lama beliau memerintah hanya 3 tahun saja. Kemudian pd th 1873 beliau digantikan adiknya T. Bentara Mahmud Kuta Panjoe. Pada tahun 1874 Teuku Bentara Mahmud tiba2 wafat, Pd th 1875 beliau digantikan oleh keponakannya T.Chik Syamaun, sedikit demi sedikit perselisihan mulai terjadi dgn Penguasa kemukiman Gloempang Doewa yg tak lain adalah saudara sepupunya sendiri Teuku Bentara Husin.
Sementara itu pd th 1881, pasukan Belanda yg dipimpin jenderal Van der Heijden telah sampai di wilayah Samalanga, pecah perang tak dapat dihindari. Pocut Meuligoe adik dari Teuku Chik Bugis yg saat itu menunaikan ibadah haji memimpin pertempuran di front barat melawan pasukan belanda. Pasukan belanda sendiri mulai kewalahan menghadapi pasukan Pocut Meuligoe dan Habib Samalanga, situasi ini mulai dibaca oleh jenderal Van der Heijden, agar semangat perlawanan perang sabil di Samalanga jgn sampai menjalar ke Peusangan Raya maka taktik devide et impera mulai disebar di wilayah Peusangan. Ternyata perangkap yg dipasang belanda ini berhasil, maka pd th 1882 meletuslah perang antar ulee balang di wilayah Peusangan Raya. Puncaknya pd th 1883 pasukan Ampon Chik Syamaun menyerang Kuta Panjoe, pusat pemerintahan kemukiman Gloempang Doewa. Kuta Panjoe jatuh ke tangan pasukan Ampoen Chik Syamaun, penguasa Gloempang Doewa saat itu Teuku Bentara Husin melarikan diri ke wilayah Sawang. Beliau menyampaikan protes keras melalui Asisten Residen Belanda di teluk samawi G.A. Scherer. Sedikit demi sedikit belanda mulai memainkan perannya di Perang Peusangan Raya. Teuku Chik Syamaun di minta mundur dari Kuta Panjoe, Meusee oleh Scherer. Permintaan ini dipenuhi oleh Ampoen Chik Syamaun dgn beberapa persyaratan, utk sesaat perangpun mereda. Tak lama berselang, pd th 1884, pasukan Ampoen Chik Syamaun di bawah pimpinan sdikny Teuku Muda Peusangan Maharaja Jeumpa kembali menyerang Kuta Panjoe, Blang Panyang (nisam), Cunda dan Meuraksa Bayu dari darat dan laut yg melibatkan pasukan yg besar. Gloempang Doewa, Blang Panyang (Nisam) dan Cunda berhasil diduduki oleh pasukan Ampoen Chik Syamaun. Protes kembali dilayangkan kpd belanda atas perbuatan Ampoen Chik Syamaun, Belanda memang piawai dalam memainkan perannya di konflik ini. Atas inisiasi Residen Belanda G.A Scherer, pada tahun 1889 utk menyelesaikan konflik horizontal ini, dibuatlah satu pertemuan besar antar ulee balang di wilayah Keujruen Peusangan, bertempat di Keude Amplah Nisam yg disebut deklarasi Keude Amplah. Pihak-pihak ulee balang yg hadir dalam pertemuan tersebut yaitu : T. Muda Peusangan Maharaja Jeumpa dan T. Keujruen Nusyah Puloe iboih dari Peusangan Barat. Sedangkan T. Bintara Husein dan T. Bentara Istia Muda Peureudan dari Gloempang Doewa. Rhi Mahmud mewakili Blang Panyang, Nisam sbg tuan rumah dan Sawang diwakili oleh Panglima Prang Muda dan Teuku Puteh. Sedangkan dari Cunda dan meuraksa bayu diwakili oleh Teuku Mahmud dan T. Bentara Muda Chik. Deklarasi ini menghasilkan suatu keputusan bahwa batas demarkasi antara Peusangan Barat dan Peusangan Timur adalah Glee Mirah Poen, Cot Ijue. Tetapi sayangnya perjanjian damai ini gagal, karena pertempuran masih terjadi antara kedua belah pihak.
Pd th 1897 kembali dibuat suatu perjanjian damai di lhokseumawe yg di motori oleh Scherer. Kali ini perwakilan Peusangan Timur menunjuk Maharaja Mangkubumi Abdul Hamid sbg perwakilannya sedangkan Peusangan barat menunjuk T.Raja Itam Geudong sbg perwakilan arbitrasenya, Untuk hakim Arbitrase ditunjuk T. Muda Osoeih (T.Nyak Muda Yusuf) Sp. Oelim sbg hakim arbitrase mewakili assisten residen G.A. Scherer. Deklarasi Lhokseumawe ini menghasilkan keputusan bahwa batas demarkasi antara Peusangan Barat dan Peusangan Timur adalah Krueng Tingkeum Kuta Blang. Akibat dari konsekwensi perjanjian ini, pihak Peusangan Timur harus memindahkan ibukota Gloempang Doewa dari Kuta Panjoe, Meuse ke keude Geurugok.
Pd th 1903 belanda mulai membentuk pemerintah otonom (zelfbesturder) setingkat wedana dan menunjuk Teuku.Bintara Istia Muda Peureudan sbg wedana (Zelfbesturder) Gloempang Doewa dgn Geurugok sbg ibukota pemerintah berikut segala fasilitas pemerintah dan rumah dinasnya. (photo insert, kondisi terkini istana Gloempang Doewa, Geurugok, th 2019, koleksi pribadi), trm. Ttd Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.
