Aceh Sepanjang Abad

MUKADIMAH KITAB SIRATTAL MUSTAQIM (JALAN YANG LURUS) KARYA SYECH NURUDDIN ARRANIRY
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa
Kitab Sirattal Mustaqim merupakan salah satu kitab tertua yg ditulis oleh Syech Nuruddin Arraniry, seorang ulama besar di zaman itu yg pernah menjadi mufti besar kesultanan Aceh Darussalam semasa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani berkuasa (1637-1641) sampai Sultanah Sri Ratu Tajjul Alam Safiatuddinsyah (1641-1676). Beliau berasal dari negeri Ranir, kepulauan Malabar, India. Kepulauan Malabar termasuk dalam gugusan kepulauan Nikobar dan Maladewa (Maldives) yg terletak diantara Lautan Hindia dan laut Andaman di utara pulau Sumatera. Dalam peta Jalur Sutera perdagangan dunia, kepulauan Malabar merupakan pelabuhan strategis sebelum menuju masuk ke Bandar Aceh Darussalam dan Selat Malaka kepulauan Nusa Antara, Semenanjung Malaya (Malayan Peninsula). Banyak ulama2x besar aceh berasal dari negeri malabar spt Syech Ali Gazhiyuddin di Samudra Pasai dan Syech Abdul Kadir Al Malabari.
Kitab ini ditulis pada tahun 1641 pada awal masa pemerintahan Sultanah Sri Ratu ShafiatuddinSyah berkuasa. menggunakan aksara jawi kuno dan bahasa melayu asli.
Selain kitab Sirattal Mustaqim karya beliau yg lain diantaranya adalah :
1.Daar Al-Faraidh (Membahas tentang Tauhid dan Falsafah keimanan).
2.Lata’ih Al-Asrar.
3.Hall Al-Dzill Ma’a Sahabihi.
4.Umdat Al-I’tiqad.
5.Hujah Al-Siddiq.
6.Jauhar Al-‘Ulum..
7.Ma’al Hayat.
8. Bustanus Al-Salatin (Istana Para Raja) Nama lengkapnya kitab tersebut adalah “(Bustanu Al-Salatin fi Al-Awwaliin wa Al-Akhirin)”. Kitab tersebut disusun atas permintaan Sultan Iskandar Tsani,yang berisi masalah Ketatanegaraan dan Sejarah.
Kitab Sirattal Mustaqim karangan Arraniry di tulis dalam 3 Bab yaitu :
1. Bab I berisi Mukadimah. (Pembukaan)
2. Bab II berisi tentang Penyimpangan2x tentang ajaran ketauhidan yg dilakukan oleh anak cucu Adam As spt Qabil, Samiryun (Berhala) Ahriman (Majusi), Yehuda (Yahudi) dan Nasara (Nasrani), masa dimana sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW pd th 571 M.
3. Bab III berisi tentang 73 firqah (golongan) umat Muhammad SAW yg terpecah spt paham Syiah, Wahdah Al Wujud (Wujudiyah), dsb, dimana masing2x golongan tsb. menganggap ajaran merekalah yg paling benar. Masa dimana paska Nabi Muhammad wafat pd th 23 H sampai th 1641 saat dituliskan kitab tsb oleh Arraniry.
Pd masa Sultan Iskandar Tsani berkuasa (1637- 1641) terjadi pergolakan politik yg sangat besar ketika mufti besar kesultanan Aceh Darussalam Syech Nuruddin Arraniry mengeluarkan fatwa haram terhadap paham Wujudiyah yg dibawa oleh Syech Hamzah Fansury yg merupakan murid dari Syech Syamsuddin Assumatrany melalui karya2x beliau spt syair perahu, syair burung gelatik dsb. Syech Hamzah Fansury di panggil Sultan ke hadapan Majelis Kerajaan Mufti Empat yg di pimpin oleh Syech Nuruddin Arraniry untuk berdebat di hadapan Sultan tentang ajaran Wahdatul Wujud yg dibawa oleh beliau. Syech Hamzah Fansury tdk dpt mempertanggung jawabkan ajarannya dan akhirnya kalah berdebat di Majelis Mufti Empat di Hadapan Sultan Iskandar Tsani. Akibatnya Kerajaan mengeluarkan fatwa haram terhadap paham ini dan diputuskan oleh majelis tertinggi kerajaan Syech Hamzah Fansury harus dihukum mati dan seluruh karya2xnya dimusnahkan oleh kerajaan. Jabatan Mufti Besar yg di sandang Syech Nuruddin Arraniry berlanjut sampai pd masa peralihan kekuasaan Sultan Iskandar Tsani kepada Istrinya Sultanah Tajjul Alam Shafiatuddinsyah. Di akhir masa pemerintahan Sultanah Sri Ratu SafiatuddinSyah, kedudukan Syech Nuruddin Arraniry digantikan oleh Syech Abdurauf Assingkily. Beliau kemudian kembali ke kampung halamannya di Ranir dan wafat disana. Atas jasa2xnya, nama kedua ulama besar ini ditabalkan pd dua universitas terbesar di Aceh.
Berikut terjemahannya kedalam bahasa melayu mukadimah kitab Sirattal Mustaqim karya Arraniry sbb :
“Bismillahiirahmanniirahiim
Dengan nama Allah jua aku memulai membaca kitab ini ia jua tuhan yang penyayang pada memberi rezeki akan segala hambanya mukmin dalam negeri dunia lagi yang mengasihani hambanya mukmin dalam negeri akhirat.
Segala puji pujian bagi Allah Tuhan yang menurunkan Qur’an atas hambanya dan di jadikannya dalamnya ilmu Al Awal dan akhir dan di nyatakannya beberapa bayan. Dan tiada juga tinggal daripada suatu perkataan melainkan adalah di nyatakan segala kenyataan daripada hadratnyalah hidayah dan rahmat dan adalah di jadikannya dengan kebajikan akan segala yang membawa iman.
Maka mereka itulah bertambah2x yakin dan nur dan wahidan inilah anugerah Haq Ta’ala akan segala hambanya dengan semata2x kebajikan. Dan di mansuhkan Haq Ta’ala dengan Qur’an itu akan sekalian kitab dan agama supaya bedalah yang benar daripada yang sesat dari kerana inilah di namai akan dia Furqan. Dan di suruhkan Haq Ta’ala segala rasul dan anbianya pada tiap2x masa dan zaman di tunjuk mereka itu akan segala manusia daripada jalan yang sesat dan durhaka.
Dan demikian lagi di jadikan Haq Ta’ala akan segala ulama seperti anbianya daripada segala yang ahli al makrifat dan di taklifkan mereka itu beberapa kitab dan di nyatakannya beberapa mazhab yang sesat. Dan dirikan mereka itu beberapa dalil dan shahih dan beberapa kenyataan akan menyalahkan segala kafir dan wujudiyah yang malahid pada tiap2x masa dan zaman.
Mereka itulah yang di luputkan Allah dan segala rasulnya dan segala malaikat dengan beberapa laknat dari karena bahwasanya mereka itu menghuraikan dengan peri yang tiada layak pada hadratnya yang maha suci. Rahmat Allah dan salamnya atas sekelian anbia dan atas penghulu segala manusia dan atas segala keluarganya dan sahabatnya dan segala tentaranya mereka itulah atas jalan tuhan yang bernama Rahman.
Adapun kemudian dari itu maka berkata hamba yang makhtaj kepada Allah yang mahakaya lagi besar yaitu Sheikh Nuruddin ibnu Ali ibnu Hasanji ibnu Muhammad Hamid nama bangsanya.
Maka tatkala zahirlah kaum wujudiyah yang zindiq malahid lagi sesat yaitu daripada murid Shamsyudin As Sumatrany (Syech Hamzah Fansury) yang sesat. Maka berbantahlah mereka itu dengan kami beberapa hari di hadapan hadrat Sultan yang terlebih shaleh pada masanya di diamkan Allah Ta’ala kiranya akan dia pada sama tengah syurga yaitu Maulana Al Sultan Iskandar Tsani Alaiddin Mughayat Syah yang bergelar Marhum Di Darussalam yang mendirikan agama Allah dengan keteguhan yang amat ajaib.
Dan serta kata mereka itu bahwasanya Allah Ta ’ala diri kamu dan wujud kamu dan kamu dirinya dan wujudnya. Maka kukarang pada membatalkan kata mereka itu yang salah dan segala iktikad mereka itu yang sia2x suatu risalah pada menyatakan bayang bayang dengan yang empunya bayang bayang.
Dan kukata akan mereka itu “Bahwasanya kamu mendakwa diri kamu ketuhanan seperti dakwa Fir’aun katanya akulah tuhan kamu yang maha tinggi. Bahwasanya adalah kamu kaum yang kafir maka masamlah muka mereka itu serta di tundukkan mereka itulah kepalanya dan adalah mereka itu musyrik.
Maka memberi fatwalah segala islam atas kafir mereka itu dan akan membunuh dia dan setengah daripada mereka itu memberi fatwa akan kafirnya dirinya dan setengahnya taubat dan setengahnya tiada mahu taubat dan setengahnya daripada mereka itu yang taubat itu murtad pula ia kembali kepada iktikadnya yang dahulu itu jua.
Kemudian daripada wafat Marhum Di Darussalam maka menitahkan daku sultan yang maha besar dan khafan yang maha mulia ialah yang mendirikan agama Allaha dan memeliharakan syariat rasul Allah yaitu Sultanah Tajjull Alam ShafiatuddinSyah Berdaulat Zhilullah Fiil Alam Inayat Al Sultan Iskandar Muda Johan Berdaulat Inayat Al Sultan Ali Riayat Syah ibnu Al Sultan Alaiddin Riayat Syah ibnu Al Sultan Firman Syah ibnu Al Sultan Muzafar Syah ibnu Al Sultan Inayat Syah (Sultan Ali Mughayat Syah).
Maka menaklifkan suatu kitab yang jamaa’ pada menyatakan segala mazhab dan agama supaya di peliharakan segala mereka itu yang beriman akan iktikadnya daripada tergelincir dan salah. Maka menaklifkan suatu kitab dengan bahasa Jawi dan kunamai akan dia Tabi’in Fii Makrifatul Adiin artinya menyatakan makrifat akan segala agama maka adalah ia seolah2x air yang amat sejuk memuaskan hati yang dahaga kepada jalan Tuhan yang bernama Rahman.
Dan kepada Allah jua aku memohonkan bahwa di jadikan kiranya kitab ini semata2x karena hadratnya dan di tetapkan kiranya akan daku dan akan sekalian Islam atas agama kekasihnya Muhammad SAW maka kujadikan kitab ini dua (2) bab”.
Demikianlah Mukadimah yg tertera pd kitab Sirattal Mustaqim karya Syech Nuruddin Arraniry. Dari mukadimah tsb, kita bisa mengetahui peristiwa apa yg terjadi pd saat itu antara kedua tokoh tsb (Photo, Kitab Sirattal Mustaqim, th 1641, koleksi. Museum Banda Aceh), trm. Ttd Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.

Tinggalkan Komentar