Daftar Kerajaan Kerajaan Yang ada di Aceh


Ada Sebelum dan sesudah Tahun 1945.
Wilayah Pesisir Utara dan Timur
1.Kerajaan Siglie
2.Kerjaan Poyang Gighen
3.Kerajaan Meureudu
4.Kerajaan Samalanga
5.Kerajaan Peusangan
6.Kerajaan Nisam
7.Kerajaan Sawang
8.Kerajaan Cunda
9.Kerajaan Bayu
10.Kerajaan Krueng Pase
11.Kerajaan Keureutoe
12.Kerajaan Lhoksukon
13.Kerajaan Bakongan
14.Kerajaan Idi
15.Kerajaan Langsa
16.Kerajaan Peureulak
17.Kerajaan Karang
18.Kerajaan Benua Raja
19.Kerajaan Seruway

Wilayah Pesisir Barat
1.Kerajaan Daya (Lamno)
2.Kerajaan Rigaih
3.Kerajaan Teunom
4.Kerajaan Woyla
5.Kerajaan Meulaboh
6.Kerajaan Seunagan
7.Kerajaan Bubon

Wilayah Pesisir Selatan
1.Kerajaan Susoh
2.Kerajaan Tapak Tuan
3.Kerajaan Trenom
4.Kerajaan Singkil

Wilayah Pedalaman
1.Kerajaan Laut Tawar
2.Kerajaan Bambel
3.Kerajaan Beutong Benggalan
4.Kerajaan Tangse

Kerajaan Kuno
1.Kerajaan Jeumpa
2.Kerajaan Lamuri
3.Kerajaan Indra Purba
4.Kerajaan Peudir
5.Kerajaan Lingge
6.Kerajaan Tamiang
7.Kerajaan Bandar Peureulak/Khalifah

Kerajaan Sebelum 1945
1.Kerajaan Darusallam
2.Kerajaan Samudra Pasai
3.Kerajaan PO Teumeureuhom

Bertemu T Chik Raja Haji Muda (Maharaja Jeumpa) di wilayah Raja Lingge.

T. Muhammad Hasan (DiMaharaja Jeumpa) Mempunyai Anak :
1. T Chik Syamaun
2. T Muda Peusangan Maharaja Jeumpa (Keturunan Trah Garis Tengah Pengurus wilayah pusat Peusangan)
3. T Chik Raja Haji Muda  (Maharaja Jeumpa – Penguasa Peusangan Selatan)
4. T Chik Muda Cut.


Aceh.
Batalyon NCSB menerima telegram dari Kato Radja, tertanggal 24 Oktober, yang berbunyi:

1. Menurut laporan yang diterima dari Peusangan, pasukan Van Daalen, yang mengejar penantang tahta di Gayulands, telah menembus wilayah Raja Lingge.
Rombongan tersebut bertemu dengan seorang Raja yang tampaknya sedang dalam suasana hati yang baik.
Raja-raja yang tersisa telah melarikan diri. Surat kabar tersebut mencatat hal-hal berikut:
Pada : Pasukan Van Daalen, yang telah menembus wilayah Raja Lingge, dengan demikian memasuki wilayah yang mungkin belum pernah diinjak oleh orang Eropa sebelumnya. Setelah melewati wilayah Raja Boeki, pasukan yang bersemangat itu kemungkinan besar bergerak ke arah tenggara mengelilingi Danau Tawar yang panjangnya 25 kilometer, untuk mencapai dataran tinggi besar, yang menurut peta, seharusnya terletak di arah Kota utama terletak di dataran tinggi itu.

Barry menarik sebuah peti kosong ke meja kayu yang kasar dan duduk.
“Aku sudah menduganya,” katanya dengan tenang. “Sekarang, sebelum kau melanjutkan, ceritakan padaku kisah sebenarnya tentang kematian Tracey.”
“Demi Tuhan, aku akan menceritakan semuanya kepadamu—semuanya. Tracey bukanlah seorang pilot; dia adalah kapten dan pemilik Mahina.”
“Aku tahu—aku sudah tahu sejak lama; tapi bagaimana dia meninggal?” “Rawlings menembaknya. Suatu hari, ketika kami berlabuh di Sydney, Tracey datang ke kapal tanpa diduga dan menemukannya di kabinnya, di mana dia sedang menyalin peta laguna ini. Aku mendengar beberapa kata dipertukarkan dengan nada keras dan panas, lalu terdengar tembakan. Aku langsung turun dan menemukan Tracey sudah mati—Rawlings menembaknya tepat di kepala. Itu dua hari sebelum kau naik ke kapal. Tapi izinkan aku menceritakan semuanya dari awal.”

“Kurasa sebaiknya kau kembali ke kapal sekarang, Barradas,” kata Barry setengah jam kemudian. “Aku percaya kau akan membantuku memperbaiki beberapa kesalahan yang telah dilakukan,” dan dia mengulurkan tangannya kepada orang Spanyol itu.

Dia membuka penutup kepalanya. “Aku bersumpah kepadamu bahwa aku akan setia kepadamu dan Nyonya Tracey. Kapan aku boleh bertemu dengannya?”

Lingge, kediaman sang pangeran, tempat sang penuntut tahta berharap menemukan tempat perlindungan yang damai bagi istri-istrinya, sehingga melindungi mereka dari pengembaraan tanpa akhir yang dipaksakan oleh pasukan kita kepada sang penuntut tahta dan rombongannya. Akan menjadi pil pahit bagi pengungsi pangeran itu untuk ditelan, bahwa ia mungkin tidak akan menemukan kedamaian yang sangat ia harapkan di sini juga.

Sekarang setelah Mayor Van Daalen dan polisi militernya mengikuti jejaknya, dia akan segera melepaskan diri lagi.

Dalam telegram yang diterima dari salah satu gubernur dependensi Aceh, tertanggal 24 Oktober, berikut ini dikutip dalam Jav. Ct.:

Marechaussee di Samalangan berpatroli di Peudada dan Djeujapa (Peu-sangan) dan mencatat populasi lanskap tersebut. appen.

Dia mendirikan di Peusangan Teunko Mahmoet Ateuë dari Sagi dari XXVI moekim. Kelompok musuh membiarkan

Delapan orang tewas di tangan kita. Maharadja Djeúmpa melaporkan bahwa kolom Van Daalen sekarang berada di Lingge.
terletak.
Raja-raja Boekit dan Linggo telah melarikan diri.

Penjelasan dan kesimpulan
1. Konteks Militer: Ekspedisi Van Daalen di Aceh Bagian ini mencatat pergerakan pasukan kolonial Belanda (Marechaussee) di bawah pimpinan Mayor Van Daalen pada Oktober 1904.

Pengejaran Penantang Takhta: Pasukan Van Daalen melakukan pengejaran terhadap tokoh perlawanan (penantang takhta) yang melarikan diri ke wilayah Gayo.

Penembusan Wilayah Baru: Pasukan berhasil menembus wilayah Raja Linggo dan sekitar Danau Tawar, wilayah yang saat itu dianggap belum pernah dijamah orang Eropa.

Pelarian Para Raja: Raja-raja lokal (Raja Boekit dan Raja Lingge) melarikan diri saat pasukan mendekat. Harapan penantang takhta untuk menemukan perlindungan bagi keluarganya di Lingge pun sirna.

Situasi Keamanan: Terjadi patroli ketat di wilayah Peudada dan Samalangan yang memakan korban jiwa di pihak musuh (perlawanan lokal).

2. Konteks Narasi: Konflik Barry dan Barradas
Bagian ini menceritakan dialog antara tokoh bernama Barry dan seorang pria Spanyol bernama Barradas mengenai sebuah pengkhianatan.

Kebenaran Kematian Tracey: Terungkap bahwa Tracey (pemilik kapal Mahina) bukan mati karena kecelakaan, melainkan ditembak di kepala oleh seseorang bernama Rawlings.

Motif Pembunuhan: Rawlings membunuh Tracey karena ketahuan sedang mencuri/menyalin peta rahasia sebuah laguna saat kapal berlabuh di Sydney.

Aliansi Baru: Barradas mengakui keterlibatannya, namun akhirnya bersumpah untuk setia kepada Barry dan Nyonya Tracey untuk memperbaiki kesalahan masa lalu.

Kesimpulan Inti
Secara keseluruhan, teks ini menggambarkan tekanan dan keruntuhan:

Di satu sisi, keruntuhan pertahanan penguasa lokal di Aceh akibat pengejaran militer Van Daalen.

Di sisi lain, keruntuhan kebohongan dalam sebuah kelompok petualang yang mengungkap konspirasi pembunuhan demi sebuah peta harta atau wilayah (laguna).

hubungan antara Maharaja Jeumpa Di Wilayah Peusangan, dan Sagi XXVI Mukim berkaitan dengan upaya konsolidasi kekuasaan kolonial Belanda di Aceh setelah pengejaran militer.

Berikut adalah rincian hubungannya:

1. Peran di wilayah Peusangan (Maharaja Jeumpa) sebagai Sumber Informasi
Dalam teks tersebut, Peusangan menjadi titik intelijen bagi Belanda. Laporan yang diterima Batalyon NCSB (tertanggal 24 Oktober) berasal dari Peusangan. Laporan ini mengonfirmasi bahwa pasukan Mayor Van Daalen telah berhasil menembus wilayah Raja Lingge di Dataran Tinggi Gayo.

2. Penunjukan Teunko Mahmoet Ateuë
Ada hubungan administratif dan politis yang disebutkan:

Wilayah: Sagi dari XXVI Mukim (26 Mukim) adalah salah satu wilayah federasi tradisional di Aceh Besar dan menyebar sampai ke perlak.

Tokoh: Belanda (melalui Marechaussee di Samalangan) mendirikan atau menetapkan Teunko Mahmoet Ateuë di Peusangan.

Konteks: Penunjukan ini biasanya dilakukan untuk menstabilkan wilayah yang sudah “dibersihkan” dari kelompok perlawanan atau untuk mengganti penguasa lama yang membelot/melarikan diri.

3. Pemutusan Jalur Pelarian
Hubungan strategisnya adalah sebagai berikut:

Pengepungan: Sementara Van Daalen bergerak di pedalaman (Lingge dan Danau Tawar), patroli Marechaussee di wilayah pesisir seperti Peusangan, Samalangan, dan Peudada berfungsi untuk menutup ruang gerak para pejuang.

Hasil: Delapan orang dari kelompok musuh tewas dalam patroli ini, menunjukkan bahwa wilayah Peusangan dan sekitarnya menjadi zona pembersihan bagi pasukan Belanda saat raja-raja di pedalaman (Boekit dan Lingge) melarikan diri.

Ringkasan Tabel Hubungan
Entitas Peran/Status dalam Teks
Peusangan  Lokasi asal laporan intelijen dan basis administrasi baru Belanda oleh Maharaja Jeumpa yang berkuasa sebagian wilayah Peusangan.
Sagi XXVI Mukim Wilayah asal Teunko Mahmoet Ateuë yang ditempatkan di Peusangan.
Pasukan Van Daalen Kekuatan militer yang bergerak dari Peusangan menuju pedalaman Gayo (Lingge).
Maharadja Djeumpa Pihak yang melaporkan posisi terkini kolom Van Daalen di Lingge.

TENGKU HAJI CHIK PEUSANGAN (Ampon Chik Peusangan) DAN IRONI REVOLUSI SOSIAL ACEH

Revolusi Sosial Aceh tahun 1945 bukan sekadar pergolakan politik pascakemerdekaan, melainkan juga tragedi kemanusiaan yang mengubah peta kekuasaan dan memutus garis sejarah bangsawan Aceh.

Dalam pusaran peristiwa itu, sejumlah tokoh yang sebelumnya berada dalam lingkar dukungan gerakan PUSA justru menjadi korban arus revolusi yang mereka bantu lahirkan. Salah satu kisah paling getir adalah tragedi yang menimpa keluarga bangsawan Keureutau yang juga keluarga Tengku Haji Chik peusangan Teuku Muhammad Johan Alamsyah

Gelombang revolusi yang dipengaruhi oleh jaringan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) menyasar struktur uleebalang yang selama era kolonial memegang otoritas teritorial.

Dalam suasana penuh kecurigaan dan dendam sosial, banyak bangsawan ditangkap, diadili secara revolusioner, bahkan dieksekusi tanpa proses hukum formal.

Tengku Tjhik Muhammad Basjah—Keponakan Dari Pihak Istri Tengku Haji Tjhik Muhammad Djohan Alamsyah—menemui ajalnya di Blang Siguci. Ia dipancung oleh algojo PUSA yang dikenal sebagai Mandoe Eit, sosok yang ironisnya pernah menjadi ajudannya sendiri.

Dalam historiografi lokal, peristiwa ini sering dikaitkan dengan dinamika kekuasaan di Lhok Sukon, ketika Hasan Ibrahim Krueng Pase—panglima Markas Rakyat setempat—memerintahkan penangkapan sejumlah uleebalang dan pejabat republik di wilayah kewedanaan (gunco) Lhok Sukon.

Perintah tersebut secara resmi dilaksanakan oleh Kapten Hasbi Wahidi, komandan batalyon TKR Lhok Sukon. Namun di balik alasan revolusioner untuk “membersihkan sisa feodalisme”, terselip pula konflik pribadi dan persaingan sosial.

Dua tokoh yang menjadi sasaran utama—T. Bentara Puteh dari Seuleumak dan Tengku Tjhik Muhammad Basjah—disebut sebagai musuh bebuyutan Hasan Ibrahim. Narasi lokal bahkan mengaitkan permusuhan itu dengan persoalan lamaran yang ditolak terhadap seorang janda bangsawan kaya, Tjut Njak Nur, adik kandung T. Tjhik Muhammad Basjah.

Setelah eksekusi terjadi dan para pesaingnya tersingkir, Hasan Ibrahim dikabarkan berhasil mempersunting janda kaya Ule balang tersebut. Harta kekayaannya kemudian menjadi bagian dari kisah kelam yang memperlihatkan bagaimana revolusi sosial kadang bercampur dengan ambisi pribadi.

Sejarah di titik ini menjadi abu-abu: antara idealisme pembaruan sosial dan kepentingan individual yang memanfaatkan situasi.
Namun tragedi tidak berhenti pada generasi itu.

Putra T. Tjhik Muhammad Basjah, Cucu Ampon Chik Di Peusangan (Teuku Ramsjah)—calon pewaris Keureutau—menjalani hidup dalam bayang-bayang sejarah yang patah.

Pada tahun 1978, di tengah keramaian Pasar Glodok, Jakarta, ia secara tak terduga bertemu dengan Dr. Ida Bagus Bagiastra.(Seorang dokter asal Bali yng bertugas di Aceh masa itu.yang kemudian menjabat sebagai Dirut rumah skit Zainoel Abidin mengantikan dr Zainoel abidin) Dengan pakaian sederhana dan penampilan yang jauh dari citra bangsawan, ia memperkenalkan diri sebagai putra uleebalang Keureutau.

Kerabat ibunya yang menduduki posisi penting di Republik Indonesia—Letnan Jenderal Polisi Teuku Abdul Aziz (Wapangab RI) dan Letnan Jenderal TNI Dr. T. Sjarif Thajeb, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan—pernah menawarkan kepadanya jabatan bupati di wilayah NKRI.

Tawaran itu ditolaknya dengan senyum tenang. Bagi sebagian orang, keputusan tersebut tampak ganjil. Namun bagi yang mengenalnya, Teuku Ramsjah telah memilih jalan spiritual, menjauh dari hiruk-pikuk kekuasaan duniawi.
Akhir hidupnya berlangsung sederhana.

Ia wafat pada 11 Maret 1990 di Medan akibat gagal ginjal. Putra mahkota Keureutau itu dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Sultan Deli, di samping Masjid Raya Al-Maksum, Medan—dekat pusara kakeknya, T. Tjhik Muhammad Djohan Alamsyah.

Dalam simbolisme sejarah, ia kembali ke pangkuan leluhur, tetapi bukan sebagai penguasa wilayah, melainkan sebagai pribadi yang memilih jalan sunyi.

Kisah Ampon Chik Peusangan dan keluarga Keureutau memperlihatkan paradoks Revolusi Sosial Aceh. Gerakan yang awalnya mengusung cita-cita pembaruan dan keadilan sosial berubah menjadi pusaran kekerasan yang menelan anak zamannya sendiri.

Ia menjadi pengingat bahwa revolusi, betapapun luhur tujuannya, selalu menyimpan risiko ketika dendam, ambisi, dan kekuasaan bercampur tanpa kendali moral.
Sejarah tidak pernah sepenuhnya hitam atau putih.

Ia adalah rangkaian keputusan manusia—dengan segala kelemahan dan kepentingannya. Dalam konteks Aceh, revolusi sosial 1945 meninggalkan warisan yang kompleks: pembongkaran feodalisme di satu sisi, tetapi juga luka mendalam dalam memori kolektif masyarakat di sisi lain bagi korban kekejaman Pusa tak terperikan.

SUKU QURAISY FAM ALMUDASYI

FAM Al Mudasyi : (Penuh Kasih Sayang) Dengan Makna Penuh Kecintaan Dalam Ibadah),

FAM AlMudasyi Ini berasal dari D.I. ACEH Dimana Leluhur nya dari FAM Al Qusyasyi  (Syech Syarif Ahmad AlQusyasyi Bin Syech Syarif Muhammad Al Madani)

Awal Lahir FAM Almudasyi Dari Bernisbah Kepada PYM Diradja AsySyarif Tengku Alwan Thufail Almudasyi (Diradja Peusangan Jeumpa XIV / Sri Paduka Bujang Muda) Bin Tengku Syarif Salman Alfariz Al Qusyasyi, Cicit dari Praja Badarudin Syah (Praja Jahid Peudada / Ja Kata / Meurah Syah) Bin Syech Syarif Burhanuddin AlQusyasyi Yang Menikah Dengan Putri Dwi Ratna Wangsa Binti Sultan Alaidin Riayat Syah Sayyidil Mukamil, Beliau Merupakan Generasi ke 40 Dari Dzurriyat Rasulullah SAW.

Disaat masa kala itu PYM Diradja AsySyarif Tengku Alwan Thufail Gemar , peduli dan Menjaga terhadap Sejarah dan Arakata keluarga (Silsilah) Dari situ awal nama gelar yang dikenal menjadikan satu FAM Baru dari Suku Quraisy Pada Tahun 1432 Hijriyah.

Dimana AlMudasyi itu sendiri mempunyai dua makna secara harfiah dalam bahasa lokal (Aceh) dan bahasa arab, yang mana Muda Berarti Orang Yang Muda (Dalam Bahasa Lokal) Dan berarti Kasih Sayang / Cinta (Dalam Bahasa Arab) Dan Syi Berarti Merujuka Kepada Daerah Asal Yaitu Al Asyi (Isbah Bahasa Lokal Menandakan Suatu Wilayah) Sedangkan Syi Juga Berarti Merujuk Kepada Keturunan Ali Bin Abi Thalib (Dalam History Sejarah Bani Alawi dan Syi’ah).

GLUMPANG DUA (PEUSANGAN JEUMPA)


Oleh pemerintah kolonial dimasukkan dalam Onderafdeeling Lhokseumawe (Telok Seumawe). Glumpang Dua pernah dipimpin oleh T. Muda Dalam Mahmud Syah (Panglima Prang Mahmud), yang digantikan oleh putranya, T. Bentara Nyak Banta Muda/Uma. Namun semasa meletusnya. Perang Aceh, kekuasaan dipegang oleh ibunya, yakni Pocut/Nyakcut Ummy Nain. Meskipun demikian, ia lantas diminta menyerahkan kekuasaan pada kemenakan almarhum suaminya, yakni T. Ben Pro. Kekuasaan lantas beralih pada Teuku Bentara Setia Muda, yang dikukuhkan kedudukannya tanggal 19 Oktober 1880 dan 26 Maret 1881. Uleebalang bernama Teuku Bentara Seria Muda Peureudan menandatangani kontrak pada 21 Januari 1903.

Uleebalang Peusangan Jeumpa Sumber: Landschappen en Volkstypen van Nederlandsch-Indië

SEJARAH BERDIRINYA ASTANA KERAJAAN SAWANG DI KRUENG MANE, ACEH UTARA.


SAWANG- Gambar dibawah ini adalah kondisi terakhir dan gambar berwarna adalah kondisi terkini astana kerajaan sawang di krueng mane, kec. Muara batu, kab. aceh utara, tepatnya terletak di persimpangan krueng mane, gampong keude mane, jl. B. Aceh – medan. (Photo insert. Kondisi Istana kerajaan Sawang saat ini, th 2016, krueng mane, aceh utara, courtesy pribadi). Bandingkan kondisinya pada masa lalu, saat ini astana telah diklaim dan diduduki secara illegal oleh pihak yg tak bertanggung jawab dgn ditanami tumbuhan jagung dan palawija. Diperkirakan luas tanahnya ± 4000 m2. 

Mereka mengklaim bahwa, lahan ini adalah milik warisan leluhur mereka yg dirampas sewaktu T. Keujruen Ali berkuasa (1900 – 1933). Lahan tanah astana saat Ini dimiliki oleh pewaris sah yaitu T. Luthfi SH, MH, skrg menjabat sbg kepala kejaksanaan negeri (Kajari) batu, malang, jawa timur dan sdh mendapatkan pengakuan sah dari kantor agraria/BPN aceh utara dalam bentuk sertifikat tanah. Beliau merupakan. Anak Alm T. Nasruddin SH, MH bin T. Hasan bin T.Loethan bin T. Keujruen Ali,  mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh (Kajati) periode 1994 – 1996.

Berikut flashback sejarah kerajaan sawang, krueng mane, aceh utara :
Dalam masa berkecamuknya perang antara Kerajaan Aceh melawan Belanda (1873-1903), Sawang memegang peranan penting dalam perjuangan, Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah dalam bergerilya selama perang aceh berkecamuk. Kota ini didirikan oleh ayahanda beliau, sultan Alaiddin Mansyursyah  yg disebut dengan Kuta Sawang dan mengangkat seorang penguasanya T. Laksamana Sawang (1870 – 1882).

Berdasarkan catatan yg dimiliki pemerintah kolonial belanda pd th 1900, negeri Sawang merupakan sebuah daerah yg berada dibawah perlindungan kerajaan Peusangan. Sebelum tahun 1870 negeri Sawang masih menyatakan tunduk kepada kerajaan Peusangan, tetapi kemudian menjadi sebuah negeri yg merdeka sebelum akhirnya disahkan menjadi satu kerajaan oleh Sultan Alaiddin Mansyursyah.

Pada tahun 1882 terjadi perselisihan dalam anggota keluarga kerajaan Sawang dalam proses suksesi pergantian raja Sawang. Penguasa Sawang saat itu, T. Laksamana Sawang) lebih suka anaknya T. Pang Benseh (dikenal sbg Pang Buta krn sebelah matanya buta atau juga dikenal dgn Panglima Nyak Ben) menggantikannya sebagai raja, tetapi mendapat tantangan dari paman beliau, T. Keujruen Gok Terjadilah perseteruan antara paman dan kemenakan ini dimana mengakibatkan pamannya T. Keujruen Gok Terbunuh. Akhirnya T. Pang Benseh (Pang Buta) naik tahta menjadi Raja Sawang yg berkuasa selama periode 1882 – 1884. Pada tahun antara 1884/5, Pang Benseh (Pang Buta) wafat dan digantikan oleh paman beliau Pang Sawang II, Teuku Pang Mahmud , Panglima Mahmud atau Teuku Pang Mahmud  dibuang oleh pemerintah belanda ke pulau jawa pada tahun 1906 setelah terjadinya penyerbuan ke benteng kuta batee, sawang pd tgl 14 mei 1899 oleh pasukan marsose belanda yg dipimpin oleh letnan Hans Cristoffel..

Pada tahun 1898, Pang Mahmud tewas dalam pertempuran mempertahankan benteng Kuta Sawang dari serbuan tentara marsose kolone macan dibawah pimpinan letnan Crisstoffel, tetapi pasukan tsb gagal menangkap Sultan dan Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah berhasil meloloskan diri dari kepungan tentara marsose melalui wilayah Nisam (Blang Panyang). Sempat terjadi kevakuman kekuasaan di kerajaan sawang, roda pemerintahan lumpuh total.

Belanda sedikit kebingungan utk menentukan suksesornya kelak yg akan memimpin kerajaan sawang selanjutnya. Dari informasi yg diperoleh pihak belanda, bahwa panglima mahmud sawang, masih mempunyai seorang adik laki yg masih remaja dari lain ibu yaitu T. Keujruen Ali. Diputuskan oleh pihak belanda utk mencari dan mengangkat org yg bernama T. Keujruen Ali sbg suksesor, hal ini dilakukan agar pihak belanda mendapat legitimasi dan pengakuan dari rakyat  sawang, setelah sebelumnya belanda membombardir dan membumihanguskan kuta sawang.

Awalnya T. Keujruen Ali menolak tawaran dari pihak belanda tsb. Tapi atas dasar pertimbangan sbg satu2x anak bungsu laki-laki yg masih hidup sbg penerus dinasty (trah) T. Laksamana Sawang, akhirnya menerima tawaran dari pihak belanda. Pd th 1904 pemerintah belanda menyiapkan infrastruktur di krueng mane sbg ibukota persiapan paska kuta sawang dibumihanguskan dan juga menyediakan sebuah tempat tinggal permanen istana resident utk suksesor pemimpin kerajaan sawang, T. Keujruen Ali lengkap dengan fasilitasnya (photo insert kondisi istana residen ulee balang sawang di krueng mane th. 1933, kitlv courtesy).

Hal ini dilakukan pemerintah belanda agar memudahkan utk melakukan pengawasan dan kontrol thd suksesor baru T. Keujreuen Ali. Selanjutnya pada th 1905 ibukota Sawang resmi di pindahkan ke Krueng Mane. Pada th 1933, kekuasaan beralih ke tangan anak tertuanya T. Loethan yg menjabat sbg Ulee Balang terakhir kerajaan Sawang di Krueng Mane (1933 – 1954). Pada tahun 1954 T. Loethan wafat karena sakit setelah terlebih dahulu kedua putranya T.M. Noer dan T.M Usman yg masih beranjak remaja dibantai pd revolusi sosial Aceh (perang cumboek) tahun 1946, berakhirlah masa kekuasaan dynasty (trah) Keujruen Ali.

Jadi dari uraian sejarah di atas, dapat disimpulkan bahwa astana kerajaan sawang di krueng mane merupakan asset peninggalan milik pemerintah hindia belanda yg diberikan kepada zelfbesstuder  sawang setelah ibukota sawang dipindahkan ke krueng mane pd th 1905 dan telah disahkan oleh kantor agraria/BPN aceh utara pd th 1991 menjadi milik sah ahli waris T. Nasruddin SH,MH. (Ttd. Maymunsyah, social surfer).

Sejarah Singkat Universitas Almuslim


Yayasan Almuslim Peusangan Bireuen Provinsi Aceh Didirikan pada Tanggal 21 Jumadil akhir 1348 H, bertepatan dengan tanggal 24 Nopember 1929 M. Pada mulanya bernama Jami’ah Almuslim, dengan tokoh pendirinya Tgk. Chiek Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan) dan Adik Nya T. Bustaman, Tgk. Abdurrahman Meunasah Meucap, Tgk. H. Ibrahim Meunasah Barat, Tgk. Abbas Bardan, Tgk. Abed Idham, Habib Muhammad, Tgk. Ridwan dan Lain-lain.
Pendirian Almuslim Peusangan pada Tahun 1929 dilakukan dalam situasi peperangan antara putra-putra Aceh dengan serdadu-serdadu Belanda untuk mewujudkan perjuangan membela Kemerdekaan yang dikepalai oleh Tgk. Abdurrahman Meunasah Meucap. Selama dalam pertarungan yang berlarut-larut ini, mereka melihat, merasakan dan menyadari optimisme yang semakin menciut untuk menggondol suatu kemenangan, disebabkan oleh berubahnya situasi dan kondisi yang pada gilirannya membawa taktik dan strategi yang hanya dimanfaatkan oleh pihak lawan. Karena pihak lawan bertempur jauh di luar tanah airnya, sehingga di negerinya mereka dapat berpikir dengan tenang sambil mengkonsolidir diri mereka dengan mengadakan sumber-sumber kekuatan baru, baik ilmu-ilmu pengetahuan ataupun hasil-hasil produknya untuk diterjunkan ke medan perang. Situasi ini berbanding terbalik dengan kondisi para pejuang Aceh dimana saat itu mereka berpikir dan menyiapkan berbagai strategi dalam kondisi sambil bekerja. Akibatnya segalanya menjadi terbengkalai baik segi; perekonomian, kehidupan bernegara, termasuk dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dalam situasi yang demikian Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Tgk. Abdurrahman Meunasah Meucap dan kawan-kawan berkesimpulan bahwa semua itu disebabkan oleh gambaran, oleh karena itu mereka mencari jalan lain yaitu membangun dan menyalakan pelita di tengah kegelapan malam, untuk menerangkan jalan yang akan mereka tempuh ke arah yang memberi jawaban terhadap tantangan ini dengan membangun Pendidikan atau Yayasan Almuslim Peusangan dengan Kurikulum pendidikan sesuai kebutuhan pada masa itu dengan sistem terpadu dan menyeluruh, yakni suatu Kurikulum yang konfrehensif, sehingga ijazahnya pada saat itu menjadi ahli-ahli di berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Sejak Almuslim Peusangan berdiri dalam kurun waktu yang cukup lama, tentunya ada masa jaya dan suram. Namun setelah dilaksanakan Musyawarah Besar Almuslim pada bulan Nopember 1979, kelembagaan Almuslim dan tata cara operasionalnya telah dipulihkan dengan Akte Notaris Nomor: 14/Lsm/AU/1993, tanggal 16 April 1998 dan telah terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Bireuen. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 63 tahun 2008, tentang Pelaksanaan Undang-undang tentang Yayasan yang tertuang dalam lembaran Negara Republik Indonesia nomor 134 tahun 2008 dan tambahan lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4894, Yayasan Almuslim Peusangan harus berbentuk badan hukum dan berdasarkan Akte Notaris nomor 32 tanggal 21 Juni 2010 dan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia nomor AHU.3258.AH.01.04 tahun 2010 tanggal 09 Agustus 2010, Yayasan Almuslim Peusangan telah terdaftar sebagai Yayasan yang berbadan hukum.
Keikut sertaan Yayasan Almuslim Peusangan mencerdaskan bangsa dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Aceh dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Perlu diketahui bahwa saat ini Yayasan Almuslim telah mengembangkan 2 (dua) lembaga pendidikan yaitu :
1. Lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah :
– Madrasah Tsanawiyah (MTs).
– Madrasah Aliyah (MAS).
– Sekolah Menengah Umum (SMU).
2. Lembaga pendidikan tinggi :
– Universitas Almuslim (Umuslim).
– Institut Agama Islam (IAI) Almuslim.

B. Sejarah Universitas Almuslim (Umuslim)
Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen – Provinsi Aceh merupakan satu-satunya Universitas di Kabupaten Bireuen, dengan SK Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 02/D/O/2003 yang merupakan perubahan bentuk dari Sekolah-sekolah Tinggi dan Akademi dalam lingkup Perguruan Tinggi Almuslim yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STP), Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP), dan Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) yang pada tanggal 14 Zulqaidah 1406 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Agustus 1985 M. Universitas Almuslim pada usia ke 12 tahun memiliki 8.149 Mahasiswa aktif, telah mewisudakan 18.239 Sarjana, memiliki 517 orang dosen yang sebagian bergelar Magister dan Doktor, 250 orang tenaga Administrasi dan Tenaga Perbantuan Lainnya. Saat ini juga terdapat 73 orang dosen yang sedang menyelesaikan studi S2 dan S3 di berbagai Universitas dalam dan luar Negeri dengan Beasiswa BPPS dari Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Beasiswa dari Universitas Almuslim.

Dalam upaya pengembangan kegiatan Proses Belajar Mengajar, Universitas Almuslim telah melaksanakan :
a. Penyusunan kurikulum berbasis kompetensi.
B. Penambahan buku-buku di perpustakaan kampus.
C. Membangun serta melengkapi fasilitas-fasilitas penunjang pendidikan.
D. Koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat.
e. Konsultasi dengan Direktorat Pendidikan Tinggi di Jakarta serta Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah XIII Aceh di Banda Aceh.

Silsilah T. Chik Syamaun Kuta Panjoe Peusangan Jeumpa

Catatan Keluarga


Tengku Chik Syamaun Istri Pertama (Pocut Sabriah)
1. Pocut Zahra
2. Pocut Beuleun

Tengku Chik Syamaun Istri Kedua (Pocut Unggah)
1. Putri Syaribanun
2. T. Muhammad Djohan Alamsyah (Ampon Chiek Peusangan)
3. T. Bustaman

Anak dari pada Ampon Chiek Peusangan
Dengan Pocut Rajeu
1. Ali Alam Syah Ampon Prang
2. Muhammad Ali Akbar

Peninggalan Catatan Silsilah Nasab Zahir Jalur Kesultanan Peusangan Jeumpa

Syech Syarif Ahmad AlQusyasyi punya anak
1. Ali
2. Wahba
3. Muhammad
4. Husen

Ali punya anak
1. Abdullah
2. Jamaluddin
3. Hamzah
4. Hailah

Jamaluddin punya anak
1. Abdurrahman
2. Abu saadan
3. Abu maali

Abu maali punya anak
1. Muhammad
2. Ahmad abu saadan

Ahmad Abu Saadan punya anak
1. Syech Syarif Burhanuddin.

Syekh Syahrif Burhanuddin (Praja Jahid Muluk) bin Ahmad Abu Sa’adan (Praja Jahid Yaman) bin Abu Ma’a Ali  (Sulthan Pocut Meurah) bin Syahrif Jamaluddin (Sulthan A’lim Cut Husen) bin Syahrif Ali Al Qushasyi (Sultan Asta Haiwal) bin Syekh Syahrif Ahmad Al Qushasyi.
Menikah dengan
Putri Dwi Ratna Wangsa Binti Sultan Alauddin Riayat Syah As-Sayyid Al-Mukammil Al-Qadiri Al-Jailani / Al-Kailani Al-Hasani Bin Al Malik Firman Syah Ibrahim Malikuzzahir Bin Muzaffar Syah Ahmad Bin Sultan Syamsu Syah Abdurrahim Bin Sultan Munawar Syah Abu Bakar Bin Sultan Muhammad Syah Lamri Nuruddin Ats-Tsani Bin Yahya Ad-Darwisyi Bin Hussamuddin Bin Nuruddin Al-Awwal Bin Waliyuddin Bin Zainuddin Bin Syarafuddin Bin Syamsuddin Bin Muhammad Al Hattak Bin Abdul Aziz Gilani Bin Abdul Qadir AlJailani Bin Abu Sholeh Musa Bin Janaky Dausat Khandakush Bin Abdillah Bin Yahya Az Zahid Bin Muhammad Bin Daud Bin Musa At Tsani Bin Abdullah As Saleh Bin Musa Al Jaun Bin Abdullah Al Kamil Al Mahdi Bin Hasan Al Mutshanna Bin Imam Hasan Ra Bin Rasulullah Saw.

Punya Anak
1.Praja Badaruddin Syah (Praja Jahid Po Had (Wilayah Fassangan) / Ja Kata / Meurah Syah)
2.Praja Jahid Muda (Keujreun Ulim)
3.Meurah Qusyasyi
4.Meurah Tok Seubat Andarul Fathir Samsul Alam
5.Meurah Hitam
6. Meurah Puteh
7.Meurah Fattani (Tu Ja Nah)
8.Sulthan Alaidin Mengkuta Djohar Alam Syah
9.Maharaja Muda Tjut
10.Tu Yusuf

Praja Badaruddin Syah (Praja Jahid Po Had Wilayah Fassangan / Ja Kata / Meurah Syah) Mempunyai Anak :
1.Praja Bujang Diajad (Ja Najid / Keujruen Chik Seutya Fassangan Diradja /Ponyak Djat)
2. Praja Bungoeng
3.Praja Prabu
4.Praja Sumut
5.Tengku Hadiya di Utara

Praja Bujang Diajad (Ja Najid /Keujruen Chik Seutya Fassangan Diradja / Ponyak Djat) Mempunyai Anak :
1.Tengku Monga Khasim
2.Tengku Chik Meunasah
3.Tengku Chik Lampoh
4.Tengku Chik Kuanta Husein Syah  (Tgk Chik Nyak Muda Krueng Baro / Keujreun Puteh Bulee Gitiek)

Tengku Chik Kuanta Husein Syah (Tgk Chik Nyak Muda Krueng Baro Setia Diraja / Keujreun Puteh Bulee Gitiek) Memiliki Anak :
1.Tengku Chik Muhammad Hasan (Dimaharaja Peusangan Jeumpa)
2.Tengku Bentara Mahmud Kuta Panjoe

Tengku Chik Muhammad Hasan Memiliki Anak :
1.Tengku Nyak Muda Yusuf (Tengku Muda Peusangan Maharaja Jeumpa)
2.Tengku Chik Syamaun
3.Tengku Chik Muda Lateif

Tengku Nyak Muda Yusuf (Tengku Muda Peusangan Maharaja Jeump) Memiliki Anak :
1. T. Muda Dalam Mahmud (Sri Panglima Prang Mahmud)
2. T. Muda Latief
3. T. Muda Nyak

T. Muda Dalam Mahmud Menikah dengan Cut Nyak Syarifah Mayang, Memiliki Anak :
1.T. Nyak Banta Muda (T. Banta Uma / Sri Paduka Imam Muda Sagi XXVI MUKIM)
2. Keujreun Tengku Ali
3. Tengku Jafran Meureudu Tambu
4. Keujreun Kuneng
5.Tengku Ibrahim (Teh)

T. Nyak Banta Muda ( T. Banta Uma)  Menikah dengan Cut Nyak Sarah Rayeuk, Memiliki Anak :
1. T. Muhammad Yusuf Qusyasyi
2. Nyakcut Asmah Wati
3. Tengku Nyak Ariputeh

Tengku Muhammad Yusuf Qusyasyi Bin Tengku Nyak Banta Muda Bin Tengku Muda Dalam Syah Bin Tengku Nyak Muda Yusuf Bin Tengku Chik Muhammad Hasan Bin Tengku Chik Bentara Kuanta Husen Syah (Tengku Chik Nyak Muda Krueeng Baroe) Bin Praja Bujang Diajad (Ja Najid) Bin Praja Badaruddin Syah (Praja Jahid Peudada / Ja Kata) Bin Syarif Burhanuddin (Praja Jahid Bintan Mulok).
Menikah dengan
Syarifah Cut Dzainab Binti Tengku Malem Sulaiman Bin Tengku Ma’ad Aron Bin Tengku Al Haji Syech Bin Tengku Abdul Jamal Bin Abdussalam Bin Bujang Puteh Bin Syarif Burhanuddin (Praja Jahid Bintan Mulok).

Memiliki Anak :
1. Syarif Tengku Daud Yusuf
2. Tengku Syarif Ahmad

Syarif Tengku Daud Yusuf Menikah dengan Nur Syarifah Said, Memiliki Anak :
1. Tengku Syarif
2. Tengku Abdurahman
3. T. Amri
4. T. Muslim
5. T. Adnan
6. T. Syarwan
7. Tengku Syarif Salman Alfarisi

Tengku Syarif Salman Alfarisi Menikah dengan Nyakcut Sabriah, Memiliki Anak :
1. AsySyarif Tengku Alwan Thufail Al Mudasyi

Nasab Jalur Ibu Fam Al-Qadiri Al-Jailani / Al-Kailani Al-Hasani.

14. Syech Abdul Qodir Al Jaelani
15. Abdul Aziz Gilani
16. Muhammad Al-Hatak
17. Syamsuddin
18. Syarafuddin
19. Zainuddin
20. Waliyuddin
21. Nuruddin Al-Awwal
22. Hussamuddin
23. Yahya Ad-Darwisy
24. Sultan Muhammad Syah Lamri Nuruddin Ats-Tsani
25. Sultan Munawar Syah Abu Bakar
26. Sultan Syamsu Syah Abdurrahim
27. Sultan Muzaffar Syah Ahmad
28. Sultan Al Malik Firman Syah Ibrahim Malikuzzahir
29. Sultan Alauddin Riayat Syah As-Sayyid Al-Mukammil
30. Putri Dwi Ratna Wangsa..

Salinan Manuskrip Tahun 245 Hijriyah, Salinan Manuskrip Tahun 748 dan 1040 – 1420 Hijriyah, diperbaharui Ulang Tahun 1443 Hijriyah Hingga sekarang.

Sumber :  YM Diraja Asysyarif Tengku Alwan Thufail Almudasyi (Sri Paduka Bujang Muda / Sultan Peusangan Jeumpa XIV)

Sultan Peusangan Jeumpa XIV

Biografi T. Muhammad Djohan Alamsyah ( Ampon Chiek Peusangan)

T. Muhammad Djohan Alamsyah atau dikenal dengan gelar Ampon Chiek Peusangan Lahir 25 Juni 1890 Di Desa Paloh Iboh,
Ampon Chiek Peusangan merupakan Anak dari T. Chik Syamaun Merupakan Abang dari T. Nyak Muda Yusuf (T .Muda Peusangan Maharaja Jeumpa/ T. Muda Tji Peusangan)
Pada tahun 1879 T.Chik Syamaun wafat dipeusangan selatan akibat penyakit dideritanya Setelah itu tak lama peperangan berakhir, Di kala saat itu T. Chik Syamaun Berwasiat Kepada Adiknya T .Muda Peusangan Maharaja Jeumpa Mengakat dan menjadikan pemimpin Wilayah Peusangan Baru dan T. Chik Syamaun meminta kepada T .Muda Peusangan Maharaja Jeumpa setelah dewasa nya T. Muhammad Djohan Alamsyah maka di serahkan kembali kepimpinan Ulee balang wilayah Peusangan barat kepada Ampon Chiek Peusangan.
Pada saat itu Ampon Chiek Peusangan Berusia 8 Tahun usia nya, dikarenakan Ampon Chiek Peusangan masih dini untuk memimpin maka kepimpinan di serahkan kepada T. Nyak Muda Yusuf paman nya.
Kemudian T .Muda Peusangan Naik Tahta menggantikan sebagai ulee balang peusangan dengan gelar “TENGKU MAHARAJA PEUSANGAN JEUMPA ATAU T. MUDA PEUSANGAN MAHARAJA JEUMPA” sesuai dengan kesepakatan yang dibuat bersama pihak belanda mengingat putra mahkotanya T. Muhammad Djohan Alamsyah masih dibawah Umur. Pada Tahun 1897 perlawanan Sultan Muhammad Daud Syah berakhir dengan menyerahnya beliau di lhokseumawe. Pada Tahun 1905 belanda mulai membentuk pemerintah otonom daerah yang disebut besturder yang dikepalai oleh seorang wedana. Sebelumnya daerah ini disebut onderhoijgeden yaitu kerajaan kerajaan otonom yg masih dibawah kontrol pemerintah belanda. Ada 103 wedana yg dibentuk di bekas wilayah kesultanan aceh. Tahun 1879 Belanda mengangkat Tengku Muda Peusangan Maharaja Jeumpa Sebagai wedana pertama peusangan. Pada Tahun 1908, Teuku Muhammd Johan Alamsyah menamatkan pendidikan di Normal School kutaraja, sesuai dgn kesepakatan yang dibuat waktu itu, T.Muhammad Johan Alamsyah menggantikan pamannya sebagai wedana peusangan. Selanjutnya T Muda Peusangan hanya memegang kendali sebagai ulee balang cut (peutuha) Jeumpa Bireuen. Pada Tahun 1917 beliau wafat dan dimakamkan di Cot Glee, Keude Matang berdekatan dengan Kampus Al Muslim, Peusangan Bireuen, Dan pada tahun 1920 Ampon Chiek Peusangan wafat, maka penerusan Ulee balang pada tahun 1920 pun pergantian tahta kerajaan di gantikan oleh salah satu putranya T. Muda Peusangan Maharaja Jeumpa Yaitu Tengku Muda Dalam Mahmud (Panglima Prang Mahmud) sebagai penerus kesultanan Peusangan Jeumpa dan pada saat itu Tahun 1923 T. Muda Dalam berasil mendirikan wilayah baru daerah Simpang Ulim dan sekitar Desa Madat wilayah Aceh Timur saat ini.