Teuku Daud Cumbok

16 Januari 1946

Teuku Daud Cumbok beserta rombongannya tertangkap oleh pasukan Tgk Ahmad
Abdullah, dikaki gunung Seulawah Agam dan dibawa ke Sanggeu, untuk dieksekusi

Setelah Beurenuen jatuh (11 Januari 1946), dua orang anak laki-laki T Keumangan Umar (TR
Abdullah dan T Keumangan Muhammad) dibawa oleh PUSA dan dibunuh di Meureudu.
Keluarga-keluarga uleebalang Keumangan yang lain ditahan di Beureunuen

Kurang lebih sebulan kemudian, keluarga uleebalang Keumangan yang ada di Beureunuen, yaitu:

1. T Keumangan Pocut Umar, 75 tahun
2. T Abdul Rahman, anak (WMD TKR)
3. T Hasan, anak, usia 12 tahun
4. T Meurah Amin, anak, usia 7 tahun
5. T Abdul Latif, cucu,
6. T M Tahir, cucu, usia 5 tahun
7. Pocut Nuraimah, anak, usia 15 tahun
8. Cupo Bahren, istri
9. Cupo Aman, istri

ditangkap oleh pasukan pro PUSA dibawah pimpinan Husin Sab, pemimpin pasukan dari
Gigieng yang terkenal kejam dan dibawa ke Gigieng.

Para pria (T Abdul Rahman, T Abdul Latif, T Hasan dan T Meurah Amin), dibunuh di Paya Ie Luhop, Gigieng.

Teuku Keumangan Pocut Umar yang telah berusia lanjut (75 tahun?) dibunuh tersendiri dengan cara dikubur hidup-hidup dan diikat pada batang kelapa, karena tidak mempan dibunuh (catatan; info Tgk Putroe Syafiatuddin dari keterangan saksi mata)

Tawanan wanita dan anak kecil yaitu Pocut Nuraimah, Cupo Baren, Cupo Aman dan T M
Tahir dijemput oleh keluarga dari Samalanga (T H Husin dan T H Zainal Abidin) dan
dikembalikan kepada ibunya Pocut Haji Asma, Samalanga.

Dengan peristiwa Cumbok ini, maka seluruh anak lelaki Teuku Keumangan Pocut Umar,
termasuk yang masih anak-anak tewas dibunuh pendukung PUSA, dan tidak diketahui secara
pasti dimana kuburnya. Makam Teuku Keumangan Pocut Umar sendiri, ditemukan
berdasarkan informasi dari beberapa saksi mata, pada akhir tahun 1970-an.

Tuwanku Husin dan Tuwanku Musa (cucu), karena keturunan Tuwanku dari pihak ayah,
dilepaskan dan dikirim dengan kereta api ke Seulimum. Di Seulimum, dijemput oleh Tuwanku Mahmud (anggota Volkstaad) dan dibawa ke Kutaraja.

Di Kutaraja, pihak PUSA mencoba
untuk membunuh Tuwanku Husin dengan menembak beliau, tetapi dapat diselamatkan oleh tentara.

Merasa tidak aman di Kutaraja, Tuwanku Husin melarikan diri ke Medan dan membuat surat
terbuka kepada presiden Sukarno bersama dengan Said Ali.

Cucu Teuku Keumangan Umar dari anaknya Teuku Keumangan Muhammad (Teuku Ali
Akbar, Teuku Sulaiman, dan Teuku Amir Hamzah), diselamatkan oleh kakeknya dari pihak Ibu, yaitu Imeum dari Beureueh.

Makam Teuku Keumangan Pocut Umar
Gampong Gajah Mate, Gigieng
Anak-anak perempuan Teuku Keumangan Umar.

Pocut Aisyah wafat tahun 1952, terkena tumpahan air keras didalam bus dari Beureunuen ke Banda Aceh. Dimakamkan di komplek makam keluarga, Keudah, Banda Aceh.

Pocut Hamidah wafat pada bulan September 1983. Hilang pada saat berziarah di wilayah
Guha 7, Laweung, Sigli. Jenazahnya ditemukan kemudian dan dimakamkan di komplek
Mesjid Keumangan.

Pocut Nuraimah, wafat pada 23 Feb 2001 di Jakarta. Dimakamkan di TPU Kemiri, Rawa
Mangun, Jakarta (berdekatan dengan makam Sultan Muh Daudsyah).

Tinggalkan Komentar