SEJARAH TERBENTUKNYA GAMPOENG DI IDI RAYEUK

Menurut HM. Zainuddin dalam bukunya yg berjudul “Singa Atjeh” nama Idi berasal dari istilah Aceh ”Ie Dhiet” yg berarti “Air Sedikit”. Dahulunya kuala Idi disebut dgn Bandar Basma atau Bismi yg ditulis dengan karakter huruf melayu Jawi, tetapi sejak dibukanya Bandar Pulau Pinang pd th 1805 oleh Raffles, Bandar Basma lebih dikenal sbg Kuala Idi. Wilayah Idi merupakan daerah penyangga batas antara kenegerian Peureulak dan Simpang Ulim yg mana wilayah ini yg tak punya nilai strategis bagi kedua belah pihak tsb. Kalau ditelusuri berdasarkan catatan sejarah memang di sepanjang wilayah timur pantai aceh sulit sekali mendapat air bersih untuk konsumsi rumah tangga. Hal ini disebabkan struktur tanah diwilayah tsb lebih banyak mengandung unsur kimia carbon fossilnya sehingga airnya cenderung berminyak. Hal ini pernah dibuktikan oleh penelitian yg dilakukan oleh Batafche Venotchaap Maschappi (BVM) pd th 1910, sebuah perusahaan pengeboran minyak milik pemerintah Hindia Belanda (Royal Ducht Company) yg sekarang menjadi perusahaan minyak terbesar di dunia Shell Oil Company. BVM berhasil menemukan ladang minyak terbesar pertama di wilayah Idi Rayeuk Aceh. Dari hasil penemuan sumur minyak ini, membuat BVM utk segera mendirikan pabrik kilang minyak pertamanya di wilayah Pangkalan Brandan, Deli Serdang dimana sumur minyak Idi sbg pemasok minyak mentahnya. Sampai saat ini wilayah Idi Aceh Timur masih banyak terdapat sumur2x minyak tua peninggalan belanda yg dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat.
Gampoeng Aceh dahulunya adalah sebuah seuneboek perkebunan lada yg didirikan oleh pemukim dari Peusangan ketika pd th 1805, Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles menjadikan pulau Temasek (Singapura) dan pulau Pinang (Malaysia) sbg pelabuhan perdagangan rempah2x dunia. Wilayah Idi Rayeuk yg hanya berseberangan dgn Pulau Pinang, Malaysia ini sangat diuntung karena letak geostrategis tsb, maka dengan sendirinya pelabuhan Kuala Idi mulai ramai dgn kehadiran para pedagang yg dapat membangkitkan perekonomian masyarakat setempat. Idi juga merupakan penghasil lada terbesar di wilayah aceh, maka wilayah negeri Idi yg dahulu sepi kini menjadi ramai oleh para pendatang yg mencari kehidupan di wilayah tsb dgn lada sebagai komoditas utama perdagangannya. Sejak saat itu maka mulailah berduyun-duyun berdatangan para pendatang dari pelosok aceh terutama dari Pasai, Peusangan, Mereudu, Pidie dan Aceh Rayeuk
Masih menurut H M Zainuddin, dalam bukunya Singa Atjeh, cetakan th 1966 tercatat ada empat rombongan besar kabilah yg tiba di Idi Rayeuk.
Menurut sebuah sumber yang diperoleh dari sahibul hikayat Teuku Syahbandar Sulaiman, salah seorang syahbandar di pelabuhan Kuala Idi. Rombongan kabilah yg pertama kali datang ke Idi adalah kabilah dari Blang me Pasai yg dipimpin Teuku Panglima Prang Nyak Yasin, seorang mantan Panglima Prang Keujruen Blang Me, Pasai beserta Tok Nale dan Teuku Panglima Kawom Kabue, dari Blang Kabue Geudong. Rombongan kabilah dari Pasai ini membuka perkebunan lada di sebelah timur Keude Idi. Pada waktu mengolah tanah perkebunan ini mereka menemukan sebuah terbikar kuno yg berbentuk Guci, oleh sebab itu lahan perkebunan itu dinamakan dgn “Blang Siguci”. Sejak saat itu Blang Siguci menjadi pusat pemerintahan negeri Idi Rayeuk setelah mendapat sarakata dari Sultan Aceh. Kemudian disusul kedatangan rombongan kedua kabilah dari wilayah Keujruen Meusyi Peusangan yg dipimpin oleh Teuku Panglima Rayeuk. Para pemukim dari Peusangan ini membuka perkebunan lada di sebelah barat keude Idi dan mereka mendirikan perkampungan baru disana dgn nama Gampoeng Meusyi utk menunjukkan asal negeri mereka disana. Nama Meusyi sendiri berasal dari istilah arab “MeuAsyi” yg artinya ber-aceh. Sejak saat itu perkampungan kabilah Peusangan di Idi disebut dgn Gampong Aceh. Teuku Panglima Rayeuk merupakan anak dari Teuku Panglima Prang Barat Seutya yg berasal dari Langkuta, Meunasah Barat, Krueng Panjoe, Keujruen Meusyi Peusangan. Ulee balang. Gampoeng Aceh Teuku Zainul Abidin Idi merupakan putra dari Teuku Panglima Rayeuk yg sampai sekarang ahli warisnya masih ada di Gampoeng Aceh Idi Rayeuk.
Kemudian rombongan ketiga dari negeri Pidie dan Mereudu yg di Pimpin oleh Teuku Panglima Malem Suloeh Pidie dan dan Teuku Buket Batee Pidie serta Teuku Panglima Itam dari Kuta Baroeh Meureudu. Rombongan kabilah ini langsung bergabung dgn rombongan kabilah dari Blang Me Pasai. Tok Nale, membuka lahan dengan menebas hutan di daerah Kuta Batee yaitu di daerah rumah Teuku Muhammad Daudsyah Idi, residen Aceh di Kutaraja .
Panglima Muda Kleng, membuka lahan di daerah Rambung di bagian timur stadion Idi. Sementara T Itam yang berasal dari daerah Kuta Baroh Negeri Muereudu membuka lahan di Blang Siguci. Kemudian Teuku Buket Batee yang berasal dari Pidie membuka lahan di Keude Dua dengan mengangkat Peutua Nyak Se sebagai Peutua Seuneubok yang mengurus perladangan.
Selanjut rombongan kabilah keempat yg berasal dari Aceh Rayeuk yg di pimpin oleh Said Idrus. Sementara Tgk Di Buket keturunan Said Idrus membuka ladang di Gampong Baro dekat stadion Idi. Perkebunan dibuka mulai dari Buket Pala hingga ke perbatasan Idi Cut. Pembukaan lahan itu dilakukan oleh Teuku Cut Lambo ayah dari Teuku Usman Idi Cut. Kemudian di bagian utara, perkebunan dibuka oleh Teuku Di Gureb ayah dari Banta Gureb. Lalu ke selatan Dama Pulo dibuka lahan oleh Tgk Paya Raman juga masih keturunan Said Idrus.
Akibat dari persaingan utk memperebutkan lahan perkebunan lada di wilayah Idi Rayeuk ini menimbulkan konflik horizontal. Kedua belah pihak yg bertikai terbelah menjadi dua kubu yaitu kubu Pasai yg didukung oleh ulee balang Blang Me, Peusangan, Meureudue dan Pidie melawan kubu kabilah Aceh Rayeuk yg dipimpin oleh Teuku Di Gureb putra Said Idrus. Oleh sebab itu konflik antara dua kelompok besar ini disebut dgn “Perang Gureb”. Apa itu Perang Gureb..? Perang Gureb perang yg muncul akibat persaingan dagang biji lada antara kabilah Pasai yg didukung ulee balang. Blang Me, Peusangan, Meureudue dan Pidie melawan kabilah Aceh Rayeuk Teuku di Gureb keturunan dari Said Idrus yg didukung ulee balang Peureulak, Julok dan Sp. Ulim. Perang ini bermula dari perselisihan kecil dan hal sepele antara orang-orang Pasai dengan Aceh Rayeuk. Disebabkan orang Aceh Rayeuk mengatakan sama orang Pasai “Pasee sikin brok” yg artinya ” Orang Pasai Rencong buruk” dan karena itu orang Pasai marah lalu mencari org yg berasal dari aceh rayeuk sampai masuk ke kedai-kedai kopi, siapa saja yang ditemuinya disuruh sebut kata “Breueh”, dgn kalimat bahasa aceh fasih, jikalau tidak bisa sebut kata “Breueh” maka akan diamuk dan akibatnya banyak orang Aceh Rayeuk yang terbunuh akibat sentimen SARA ini, karena logat bicaranya orang Aceh Rayeuk mudah ditandai.
Hal itu membuat Teuku Paya Raman Uleebalang Tanjung Seumantok keturunan Said Idrus marah dan menuntut balas, maka terjadilah perang antara Teuku Paya Raman melawan Teuku Nyak Yasin (Teuku Chik Idi). Pasukan Teuku Chik Idi membuat Kota pertahanan di Bukit Leusong. Kapal (seukuna ) milik Teuku Paya Raman yang bernama Djikasi dan Djambi, dirampas oleh orang Idi, oleh sebab itu T. Paya Raman kalah lalu lari ke Aceh Besar. Sebagian pasukan Teuku Paya Raman melarikan diri ke Krueng Rayeu (Sungai Yu), Peureulak dan Sebagian lagi melarikan diri ke wilayah Julok, Sp. Ulim. Mula-mula Teuku Paya Raman ditolong oleh Keujruen Julok, tapi karena kemudian melihat Idi sudah lebih kuat, maka Julok pun beralih mendukung Idi. Sesudah kalah Teuku Paya Raman, maka negeri Tanjung Seumantok diberikan kepada Teuku Muda Ahmad Angkasah Blang Me sbg balas budi atas bantuan yg diberikan kepada ulee balang Idi Rayeuk. Sedangkan sisa pasukan Teuku Paya Raman yg melarikan diri ke Krueng Rayeu, Peureulak kemudian mendirikan wilayah baru yg disebut dgn Ulee Balang Sungai Yu.
Setelah Teuku Chik Idi (Teuku Panglima Perang Nyak Yasin Blang Me) wafat maka jabatan ulee balang. Idi Rayeuk digantikan oleh putra tertuanya Teuku Bentara Siguci, trm. (Foto, Mesjid Jamik Idi Rayeuk, Blang Arun, th 1912, koleksi Rikjmuseum, Leiden). Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.

Menurut HM. Zainuddin dalam bukunya yg berjudul “Singa Atjeh” nama Idi berasal dari istilah Aceh ”Ie Dhiet” yg berarti “Air Sedikit”. Dahulunya kuala Idi disebut dgn Bandar Basma atau Bismi yg ditulis dengan karakter huruf melayu Jawi, tetapi sejak dibukanya Bandar Pulau Pinang pd th 1805 oleh Raffles, Bandar Basma lebih dikenal sbg Kuala Idi. Wilayah Idi merupakan daerah penyangga batas antara kenegerian Peureulak dan Simpang Ulim yg mana wilayah ini yg tak punya nilai strategis bagi kedua belah pihak tsb. Kalau ditelusuri berdasarkan catatan sejarah memang di sepanjang wilayah timur pantai aceh sulit sekali mendapat air bersih untuk konsumsi rumah tangga. Hal ini disebabkan struktur tanah diwilayah tsb lebih banyak mengandung unsur kimia carbon fossilnya sehingga airnya cenderung berminyak. Hal ini pernah dibuktikan oleh penelitian yg dilakukan oleh Batafche Venotchaap Maschappi (BVM) pd th 1910, sebuah perusahaan pengeboran minyak milik pemerintah Hindia Belanda (Royal Ducht Company) yg sekarang menjadi perusahaan minyak terbesar di dunia Shell Oil Company. BVM berhasil menemukan ladang minyak terbesar pertama di wilayah Idi Rayeuk Aceh. Dari hasil penemuan sumur minyak ini, membuat BVM utk segera mendirikan pabrik kilang minyak pertamanya di wilayah Pangkalan Brandan, Deli Serdang dimana sumur minyak Idi sbg pemasok minyak mentahnya. Sampai saat ini wilayah Idi Aceh Timur masih banyak terdapat sumur2x minyak tua peninggalan belanda yg dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat.
Gampoeng Aceh dahulunya adalah sebuah seuneboek perkebunan lada yg didirikan oleh pemukim dari Peusangan ketika pd th 1805, Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles menjadikan pulau Temasek (Singapura) dan pulau Pinang (Malaysia) sbg pelabuhan perdagangan rempah2x dunia. Wilayah Idi Rayeuk yg hanya berseberangan dgn Pulau Pinang, Malaysia ini sangat diuntung karena letak geostrategis tsb, maka dengan sendirinya pelabuhan Kuala Idi mulai ramai dgn kehadiran para pedagang yg dapat membangkitkan perekonomian masyarakat setempat. Idi juga merupakan penghasil lada terbesar di wilayah aceh, maka wilayah negeri Idi yg dahulu sepi kini menjadi ramai oleh para pendatang yg mencari kehidupan di wilayah tsb dgn lada sebagai komoditas utama perdagangannya. Sejak saat itu maka mulailah berduyun-duyun berdatangan para pendatang dari pelosok aceh terutama dari Pasai, Peusangan, Mereudu, Pidie dan Aceh Rayeuk
Masih menurut H M Zainuddin, dalam bukunya Singa Atjeh, cetakan th 1966 tercatat ada empat rombongan besar kabilah yg tiba di Idi Rayeuk.
Menurut sebuah sumber yang diperoleh dari sahibul hikayat Teuku Syahbandar Sulaiman, salah seorang syahbandar di pelabuhan Kuala Idi. Rombongan kabilah yg pertama kali datang ke Idi adalah kabilah dari Blang me Pasai yg dipimpin Teuku Panglima Prang Nyak Yasin, seorang mantan Panglima Prang Keujruen Blang Me, Pasai beserta Tok Nale dan Teuku Panglima Kawom Kabue, dari Blang Kabue Geudong. Rombongan kabilah dari Pasai ini membuka perkebunan lada di sebelah timur Keude Idi. Pada waktu mengolah tanah perkebunan ini mereka menemukan sebuah terbikar kuno yg berbentuk Guci, oleh sebab itu lahan perkebunan itu dinamakan dgn “Blang Siguci”. Sejak saat itu Blang Siguci menjadi pusat pemerintahan negeri Idi Rayeuk setelah mendapat sarakata dari Sultan Aceh. Kemudian disusul kedatangan rombongan kedua kabilah dari wilayah Keujruen Meusyi Peusangan yg dipimpin oleh Teuku Panglima Rayeuk. Para pemukim dari Peusangan ini membuka perkebunan lada di sebelah barat keude Idi dan mereka mendirikan perkampungan baru disana dgn nama Gampoeng Meusyi utk menunjukkan asal negeri mereka disana. Nama Meusyi sendiri berasal dari istilah arab “MeuAsyi” yg artinya ber-aceh. Sejak saat itu perkampungan kabilah Peusangan di Idi disebut dgn Gampong Aceh. Teuku Panglima Rayeuk merupakan anak dari Teuku Panglima Prang Barat Seutya yg berasal dari Langkuta, Meunasah Barat, Krueng Panjoe, Keujruen Meusyi Peusangan. Ulee balang. Gampoeng Aceh Teuku Zainul Abidin Idi merupakan putra dari Teuku Panglima Rayeuk yg sampai sekarang ahli warisnya masih ada di Gampoeng Aceh Idi Rayeuk.
Kemudian rombongan ketiga dari negeri Pidie dan Mereudu yg di Pimpin oleh Teuku Panglima Malem Suloeh Pidie dan dan Teuku Buket Batee Pidie serta Teuku Panglima Itam dari Kuta Baroeh Meureudu. Rombongan kabilah ini langsung bergabung dgn rombongan kabilah dari Blang Me Pasai. Tok Nale, membuka lahan dengan menebas hutan di daerah Kuta Batee yaitu di daerah rumah Teuku Muhammad Daudsyah Idi, residen Aceh di Kutaraja .
Panglima Muda Kleng, membuka lahan di daerah Rambung di bagian timur stadion Idi. Sementara T Itam yang berasal dari daerah Kuta Baroh Negeri Muereudu membuka lahan di Blang Siguci. Kemudian Teuku Buket Batee yang berasal dari Pidie membuka lahan di Keude Dua dengan mengangkat Peutua Nyak Se sebagai Peutua Seuneubok yang mengurus perladangan.
Selanjut rombongan kabilah keempat yg berasal dari Aceh Rayeuk yg di pimpin oleh Said Idrus. Sementara Tgk Di Buket keturunan Said Idrus membuka ladang di Gampong Baro dekat stadion Idi. Perkebunan dibuka mulai dari Buket Pala hingga ke perbatasan Idi Cut. Pembukaan lahan itu dilakukan oleh Teuku Cut Lambo ayah dari Teuku Usman Idi Cut. Kemudian di bagian utara, perkebunan dibuka oleh Teuku Di Gureb ayah dari Banta Gureb. Lalu ke selatan Dama Pulo dibuka lahan oleh Tgk Paya Raman juga masih keturunan Said Idrus.
Akibat dari persaingan utk memperebutkan lahan perkebunan lada di wilayah Idi Rayeuk ini menimbulkan konflik horizontal. Kedua belah pihak yg bertikai terbelah menjadi dua kubu yaitu kubu Pasai yg didukung oleh ulee balang Blang Me, Peusangan, Meureudue dan Pidie melawan kubu kabilah Aceh Rayeuk yg dipimpin oleh Teuku Di Gureb putra Said Idrus. Oleh sebab itu konflik antara dua kelompok besar ini disebut dgn “Perang Gureb”. Apa itu Perang Gureb..? Perang Gureb perang yg muncul akibat persaingan dagang biji lada antara kabilah Pasai yg didukung ulee balang. Blang Me, Peusangan, Meureudue dan Pidie melawan kabilah Aceh Rayeuk Teuku di Gureb keturunan dari Said Idrus yg didukung ulee balang Peureulak, Julok dan Sp. Ulim. Perang ini bermula dari perselisihan kecil dan hal sepele antara orang-orang Pasai dengan Aceh Rayeuk. Disebabkan orang Aceh Rayeuk mengatakan sama orang Pasai “Pasee sikin brok” yg artinya ” Orang Pasai Rencong buruk” dan karena itu orang Pasai marah lalu mencari org yg berasal dari aceh rayeuk sampai masuk ke kedai-kedai kopi, siapa saja yang ditemuinya disuruh sebut kata “Breueh”, dgn kalimat bahasa aceh fasih, jikalau tidak bisa sebut kata “Breueh” maka akan diamuk dan akibatnya banyak orang Aceh Rayeuk yang terbunuh akibat sentimen SARA ini, karena logat bicaranya orang Aceh Rayeuk mudah ditandai.
Hal itu membuat Teuku Paya Raman Uleebalang Tanjung Seumantok keturunan Said Idrus marah dan menuntut balas, maka terjadilah perang antara Teuku Paya Raman melawan Teuku Nyak Yasin (Teuku Chik Idi). Pasukan Teuku Chik Idi membuat Kota pertahanan di Bukit Leusong. Kapal (seukuna ) milik Teuku Paya Raman yang bernama Djikasi dan Djambi, dirampas oleh orang Idi, oleh sebab itu T. Paya Raman kalah lalu lari ke Aceh Besar. Sebagian pasukan Teuku Paya Raman melarikan diri ke Krueng Rayeu (Sungai Yu), Peureulak dan Sebagian lagi melarikan diri ke wilayah Julok, Sp. Ulim. Mula-mula Teuku Paya Raman ditolong oleh Keujruen Julok, tapi karena kemudian melihat Idi sudah lebih kuat, maka Julok pun beralih mendukung Idi. Sesudah kalah Teuku Paya Raman, maka negeri Tanjung Seumantok diberikan kepada Teuku Muda Ahmad Angkasah Blang Me sbg balas budi atas bantuan yg diberikan kepada ulee balang Idi Rayeuk. Sedangkan sisa pasukan Teuku Paya Raman yg melarikan diri ke Krueng Rayeu, Peureulak kemudian mendirikan wilayah baru yg disebut dgn Ulee Balang Sungai Yu.
Setelah Teuku Chik Idi (Teuku Panglima Perang Nyak Yasin Blang Me) wafat maka jabatan ulee balang. Idi Rayeuk digantikan oleh putra tertuanya Teuku Bentara Siguci, trm. (Foto, Mesjid Jamik Idi Rayeuk, Blang Arun, th 1912, koleksi Rikjmuseum, Leiden). Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa.

Tinggalkan Komentar