Sejarah Ulee Balang Idi Rayeuk


Berdasarkan catatan belanda “Mededelingen Betrefende De Atjehsche Onderhoorigheden” atau laporan tentang daerah taklukan di Aceh yg dibuat pd tgl 14 mei 1901 mengenai negeri Idi Rayeuk. Letak geografisnya wilayah ulee balang Idi Rayeuk, disebelah timur berbatasan dgn ulee balang silang, tamiang sebelah selatan berbatasan dgn wilayah karang hulu (Isaq gayo), sebelah barat berbatasan dgn ulee balang Keureutoe, sedangkan sebelah utara adalah pantai selat malaka.
Kenegerian Idi Rayeuk didirikan oleh Teuku Panglima Prang Nyak Yasin yg berasal dari Blang Me, Pasai.
Pengangkatan beliau sbg ulee balang Idi Rayeuk atas Saran dari Panglima Besar Teuku Muda Cut Latif Mereudue kpd Sultan Alaiddin Ibrahim MansyurSyah (1856-1870) maka dikeluarkan sarakata (cap sikuerueng) kpd Teuku Panglima Prang Nyak Yasin untuk mendirikan Kenegerian Idi Rayeuk dgn pusat pemerintahannya di Blang Siguci, Idi Rayeuk. Dan mengangkat Teuku Panglima Kawom Kabue, Blang Me serta Teuku Malem Suloe dari pidie sbg penasehatnya.
Teuku Panglima Prang Nyak Yasin merupakan bekas panglima perang wilayah Blang Me, Geudong yg juga merupakan sepupu dari ulee balang Blang Me Teuku Muda Ahmad Angkasah, ayah dari Teuku Chik Abdul Latif (Teuku Muda Lateih) ulee balang Blang Me terakhir. Pd th 1938 Teuku Chik Abdul Latief (Teuku Muda Lateih) wafat di makamkan di Blang Siguci, Idi Rayeuk sedangkan Zelfbesturder Blang Me digabung ke Zelfbesturder Geudong yg dipimpin oleh Teuku Abdul Latief Moely.
Teuku Panglima Prang Nyak Yasin pernah terlibat peperangan besar dengan seterunya ulee balang Geudong ketika memperebut bandar kuala pasai menghadapi pasukan yg dipimpin oleh Tgk Imuem Chik Nyak Peukan. Ketika itu Keujruen Pasai masih diperintah oleh Tgk Imuem Chik Raja Itam. Akibat perang saudara tersebut wilayah keujruen pasai terbelah menjadi 2 bagian yaitu ulee balang geudang diserahkan kpd Tgk Imuem Chik Nyak Peukan sedangkan ulee balang Blang Me diserahkan kpd adiknya Teuku Muda Ahmad Angkasah.
Teuku Panglima Prang Nyak Yasin menikah dengan Pocut Haji Rampang yg merupakan kakak dari Teuku Bentara Jamalul Beureugang ulee balang Buloeh Beureugang dan juga kakak dari Pocut Asyiah istri ulee balang Keureutoe Teuku Chik Muhammad Ali.
Dari hasil perkawinan dgn Pocut Haji Rampang beliau mempunyai 2 org putra yaitu ;
1. Teuku Bentara Siguci.
2. Teuku Panglima Banta.
Pada waktu belanda hadir di aceh pd th 1873, ulee balang idi rayeuk dipimpin oleh Teuku Bentara Siguci. Ulee Balang Idi Rayeuk tak berdaya menghadapi belanda yg menyerbu kuala idi sehingga harus menanda tangani surat takluk (korte Velklaring) kpd belanda. Sebelum menyerang bandar aceh pd tgl 26 maret 1873 pasukan belanda sudah menguasai pelabuhan kuala Idi dan mendirikan benteng pertahanan disana.
Teuku Bentara Siguci mempunyai 4 org putra yaitu ;
1. Teuku Raja Nagur Syah
2. Teuku Muhammad Said
3. Teuku M. Hasan Ibrahim.
4. Teuku M. Hanafiah.
Setelah Teuku Bentara Siguci Wafat maka pimpinan ulee balang Idi Rayeuk digantikan oleh putra sulungnya T. Raja Nagur Syah. Salah seorang putri T.Raja Nagur Syah yg bernama Cut Nyak Bismi menikah dengan Teuku Abdul Latif Moely ulee balang terakhir Geudong. Setelah Teuku Raja Nagur Syah turun tahta kemudian digantikan oleh adiknya T. Muhammad Said. Sayangnya tak lama setelah itu beliau meninggal secara misterius. Pihak belanda menuduh adiknya T.M. Hasan Ibrahim yg meracuninya sehingga beliau terpaksa melarikan diri dari kejaran belanda ke pulau pinang, malaysia.
Karena kekosongan pemerintahan di Idi Rayeuk maka belanda menunjuk putra bungsu T. M. Hanafiah sebagai Zelfbesturder Idi rayeuk menggantikan abangnya Teuku M. Said. Selanjutnya pada th 1935, T. M. Hanafiah wafat kemudian digantikan oleh putra beliau Teuku Muhammad Daudsyah. Pd th 1942 Teuku Muhammad Daudsyah diangkat oleh pemerintah jepang menjadi Asisten Residen Aceh (Guncho) di kutaraja banda aceh menggantikan Teuku Nyak Arif yg tewas akibat huru-hara di kutaraja pd masa peralihan kekuasaan penjajahan belanda ke jepang. Beliau juga pernah menjadi wakil Amir Husin Al mujahid dalam struktur organisasi pemuda Pesindo Aceh. (Photo, Ulee Balang Idi Rayeuk, T.M.Hanafiah, Idi Rayeuk, 1930, KITLV), trm. Ttd, Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Glp Doewa.

Tinggalkan Komentar