History Syech Muhammad Az Zakariya Quraini Habasi

MENELUSURI JEJAK TU PORAJA CHIEK YAMANI PASEE DALAM MANUSKRIPS MELAYU DI NEGERI JIRAN MALAYSIA.
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)


Banyak orang di luar sana yg meragukan akan eksisetensi keberadaan Tu Poraja Chiek Yamani Pasee atau Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani disebabkan karena nama tsb tdk pernah disebutkan dalam sejarah mainstream maupun sejarah kontemporer aceh ataupun versi sejarah yg ditulis oleh para pemenang perang. Padahal beliau satu tokoh besar pada masa itu yg menurunkan hampir seluruh keturunan ulee balang di wilayah Pasee dan sekitarnya. Nama Tu Poraja Chik Yamani Pasee banyak ditulis dalam Manuskrip2x tua melayu spt kitab Bustanussalatin karangan Syech Nuruddin Ar Raniry, hikayat Tanahx2 Besar Melayu Pasal Negeri Perak dan Arakata Pasee th 1243 hijriah yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein. Banyak manuskrips dan hikayat tua aceh sengaja dimusnahkan pd masa terjadinya revolusi sosial aceh th ’46 dgn tujuan menghapus jejak identitas mereka. Ini merupakan strategi kaum republiken utk menghilangkan jejak sistem aristokrasi aceh yg dijadikan role model pemerintahan dari masa ke masa dan telah berhasil membangun peradaban masyarakat aceh pd umumnya dgn bunyi. tamsilan aceh “Reusam bak Bentara”. Kesultanan Aceh dalam hal ini diwakili oleh uleebalang aceh sebagai penerus sistem feodalisme aceh yg dianggap oleh kaum republiken menghalangi berkembangnya sistem sosialisme yg dibawa oleh ormas Pesindo (Pemuda Sosialisme Indonesia) yg dipimpin Mr. Amir Syarifuddin, yg kemudian kelak menjadi Perdana Menteri RIS pertama th 1948 dan kemudian juga mendapat karma hukuman mati atas keterlibatannya dlm pemberontakan PKI Madiun.
Selain disebutkan dalam tiga manuskrips di atas, nama Tu Poraja Chiek Yamani Pasee atau Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani juga disebutkan dalam “Kitab Kisah Ambiya” yg kini tersimpan di Manuskrip Dewan Bahasa & Pustaka Melayu, University Kebangsaan Malaya, pada
Fasal yang ketiga belas (XIII) pada menyatakan tarikh segala raja2x yang kerajaan di negeri Aceh Darussalam. Berikut kutipannya :
“Kata yang empunya cerita bahwa yang pertama2x menghimpunkan kerajaan Aceh Darussalam itu Sultan Ali Mughayat Syah. Adalah ia kerajaan pada hari Ahad sehari bulan Jumadil Awal pada hijrah sembilan ratus tiga belas (913) tahun. Ialah yang pertama2x masuk agama islam dan mengeraskan agama nabi Muhammad Rasulullah Alaihi Wassalam dan yang terlalu perkasa mengalahkan Pedir (Pidie) dan Semendara (Samudra Pasee) dan beberapa negeri yang lain daripada segala negeri yang kecil2x.
Syahdan adalah lama ia dalam kerajaan empat belas (14) tahun tujuh (7) bulan. Setelah itu maka sultan itupun hilang pada hijrah sembilan ratus dua puluh delapan (928) tahun. Adapun dahulu daripada kerajaan sultan itu dalam negeri Aceh Darussalam tiada ada raja melainkan Meurah jua masing2x pada pertuah pada tempatnya.
Kemudian dari itu maka kerajaan Sultan Shalahuddin ibnu Sultan Ali Mughayat Syah hari Sabtu lima belas (15) hari bulan Ra’jab. Adalah ia dalam kerajaan tujuh belas (17) tahun sembilan (9) bulan. Setelah itu maka sultan itupun di mengazalkan saudaranya karena ia tiada tahu memerintahkan kerajaan pada hijrah sembilan ratus empat puluh enam (946) tahun. Adalah ia hidup pada kemudian daripada mengazalnya itu sembilan tahun (9) setelah itu maka iapun hilang.
Kemudian dari itu maka kerajaan Sultan Alaiddinn Riayat Syah (Al Qahhar) ibnu Sultan Ali Mughayat Syah pada hari Isnin waktu Dhuha dua puluh (20) hari bulan Zulqaidah. Ialah yang mengadatkan segala istiadat kerajaan Aceh Darussalam dan menyuruh utusan kepada sultan Rum (Turkiye) ke negeri Istanbul karena meneguhkan agama islam. Maka di kirim Sultan Rum (Turkiye) daripada jenis utas dan pandai yang tahu menuang bedil (meriam).
Maka pada zaman sultan itulah di tuang orang meriam yang besar2x (meriam lada sicuepak) dan ialah yang pertama berbuat kota di negeri Aceh Darussalam. Dan ialah yang pertama ghaza (melawan) dengan segala kafir hingga sendirinya berangkat menyerang Malaka dan adalah ia keras pada segala hukumnya dan amat hebat segala kelakuannya dari karena itulah di sebut orang akan dia Marhum Qahhar tetapi adalah sultan itu memberi nasihat akan segala rakyatnya lagi muafakat akan segala hamba Allah.
Bahwa ada baginya lima (5) orang anak laki2x, pertama Sultan Abdullah, kedua Sultan Husin, ketiga Sultan Mughal, keempat Sultan Abang Ta Ditangkap, kelima Abang Ta Abdul Jalil. Maka Sultan Abdullah itu di rajakan ke negeri Ghaury yaitu Haru dari kerana itulah di sebut orang akan dia Sultan Ghaury dan Sultan Mughal itu di rajakannya ke negeri Pariaman (Padang) dan Abang Ta Ditangkap itu di bunuh ayahnya dari karena amat sangat kuatnya daripada segala saudaranya pada masa itu seorang pun tiada di lawannya. Maka Sultan Husin dan Abang Ta Abdul Jalil itu bersama2x dengan ayahnya. Adalah ia dalam kerajaan dua puluh delapan (28) tahun sebelas (11) bulan setelah itu maka sultan itupun hilang pada hijrah sembilan ratus tujuh puluh lima (975) tahun.
Kemudian dari itu maka kerajaan Sultan Husin ibnu Sultan Alaiddin bergelar Sultan Ali Riayat Syah pada hari Ahad sehari bulan Safar. Ia yang sangat alim perangainya dan pengasih akan segala rakyatnya dan akan segala ulama lagi sepakat akan fakir dan miskin.
Maka pada zamannyalah datang seorang pendita (ulama) dari Mekkah bernama Muhammad Azhari yang bergelar Syech Nuruddin, Arab bangsanya, Mesir negerinya, Syafii mazhabnya. Syech itulah mengajar ilmu Maa’qulah dalam negeri Aceh Darussalam. Hataya berapa lamanya maka syech itu pun wafat dalam negeri Aceh Darussalam jua. Maka adalah lama sultan itu dalam kerajaan tujuh (7) tahun sebulan (1) lima belas (15) hari. Setelah itu maka sultan itupun hilang pada hijrah sembilan ratus delapan puluh tiga (983) tahun.
Kemudian maka kerajaan Sultan Muda ibnu Sultan Ali Riayat Syah pada hari Selasa lima belas (15) hari bulan Jumadil Akhir sultan kanak2x bahru empat (4) bulan umurnya adalah ia dalam kerajaan tujuh (7) bulan. Setelah itu maka sultan itupun hilang pada hijrah sembilan ratus delapan puluh empat (984) tahun.
Kemudian dari itu maka kerajaan Abang Ta raja Pariaman bergelar raja Seri Alam pada hari Ahad sepuluh (10) hari bulan Muharram adalah perangai raja itu sangat amarah tiada tahu memerintahkan kerajaan. Pada tiap2x segala pekerjaan tiada dengan periksanya adalah ia zalim kerajaan dua (2) bulan lima (5) hari kata setengah lima (5) bulan. Setelah itu maka raja itupun terbunuh pada hijrah itu jua.
Kemudian dari itu maka kerajaan Sultan Zainal Abidin Riayat Syah ibnu Sultan Abdullah ibnu Sultan Alaiddin Riayat Syah pada hari Khamis lima belas (15) hari bulan Rabiul Awal. Adalah perangai sultan itu saroe-saroe dan sangat amarah lagi pembunuh jikalau tiada ia melihat darah setitik pun tiada mahu. Adalah ia dalam kerajaan sepuluh (10) bulan sepuluh (10) hari kata setengah enam (6) bulan. Setelah itu maka sultan itupun terbunuh pada hijrah sembilan ratus delapan puluh lima (985) tahun.
Kemudian dari itu maka kerajaan Sultan Alaiddin Perak ibnu Sultan Ahmad pada hari Jum’at sepuluh (10) hari bulan Muharram. Adalah sultan itu amat shaleh dan mataqi lagi adil pada segala barang hukumnya dan keras pada segala barang perintahnya. Ialah yang mengasih segala ulama dan memeliharakan syariat nabi Muhammad SAW dan menyuruhkan segala hulubalangnya berjanggut dan memakai berjubah dan berserban dan menyuruhkan segala rakyatnya sembahyang lima waktu dan puasa Ramadhan dan puasa sunat dan memberi zakat.
Kelakian pada hijrah sembilan ratus sembilan puluh (990) tahun datang dua orang pendita (ulama) dari Mekkah seorang bernama Syech Abu Al Khairy ibnu Syech Abu Al Hajar ialah yang mengarang kitab yang bernama Saiful Qatha’a perkataan Ain Tsabitah dan mengajarkan ilmu fikih dalam negeri Aceh Darussalam. Kedua SYECH MUHAMMAD YAMANI ialah yang sangat tahu pada ilmu usul. Maka kedua syech itupun berbahas akan masalah Ain Tsabitah maka terhentilah bahas itu seorang pun tiada dapat memutuskan dia hataya maka kedua syech itupun berlayar.
Kemudian dari itu maka datang pula seorang pendita (ulama) dari benua Gujarat bernama Syech Muhammad Jailani ibnu Hasan ibnu Muhammad Hamid, nama kaumnya Quraisy bangsanya, Raniry nama negerinya, Syafii mazhabnya. Syech itulah yang mengajarkan ilmu Mantiq makna dan ilmu Baynal Budiaa’ dan ilmu usul dan ilmu fikih dalam negeri Aceh Darussalam.
Maka segala thalib Al Ulama pun hendak berajar ilmu tasawuf maka syech itupun bertangguh hingga sekali lagi ia datang hataya maka syech itupun berlayar ke Mekkah. Adalah lama sultan itu dalam kerajaan delapan (8) tahun sebelas (11) hari. Setelah itu maka sultan itupun terbunuh pada hari Isnin sepuluh (10) hari bulan Muharram waktu Dhuha pada hijrah sembilan ratus sembilan puluh tiga (993) tahun adalah sultan itu mati termazhulum.
Kemudian dari itu maka kerajaan Megat Buyung yang bergelar Sultan Ali Riayat Syah ibnu Sultan Munawar Shah pada hari Selasa sebelas (11) hari bulan Muharram adalah ia dalam tahta kerajaan dua (2) tahun sebelas (11) bulan. Setelah itu maka sultan itupun terbunuh pada hijrah sembilan ratus sembilan puluh enam (996) tahun.
Kemudian dari itu maka kerajaan Sultan Alaiddin Riayat Syah ibnu Sultan Nur Firman Syah pada hari Isnin lima belas (15) hari bulan Zulqaidah maka ada bagi sultan itu empat orang anak laki2x. Pertama Maharaja Al Diraja, kedua Sultan Muda, ketiga Sultan Husin, keempat Sultan Abang Ta Meurah Upah.
Maka Maharaja Al Diraja itu hilang pada zaman itu jua dan Sultan Muda itu bersama2x dengan ayahnya maka sultan Husin itu di rajakannya di negeri Pedir maka Meurah Upah itu hilang di Johor. Maka pada zaman itulah datang pula Syech Muhammad Jailani Hamid dari benua Gujarat.
Pada masa itulah syech itu mengajarkan ilmu tasawuf dalam negeri Aceh Darussalam dan memutuskan Ain Tsabitah yang di bahaskan Syech Abu Al Khairy dengan SYECH MUHAMMAD YAMANI. Adalah lama sultan itu dalam tahta kerajaan lima belas (15) tahun sepuluh (10) bulan lima belas (15) hari. Setelah itu maka iapun di mengazalkan anaknya pada hijrah seribu dua belas (1,012) tahun sebab terlanjur-lanjur hukumnya atas segala hamba Allaha. Adalah lama hidup kemudian daripada mengazalnya setahun ialah yang bergelar Marhum Sayyid Al Mukammil.
Kemudian dari itu maka kerajaan anaknya Sultan Muda yang bergelar Sultan Ali Riayat Syah ibnu Sultan Alaiddin Riayat Syah pada hari Isnin lima belas (15) hari bulan Zulqaidah. Pada masa itulah negeri pun terlalu qahat segala manusia banyak mati. Adalah lama sultan itu dalam tahta kerajaan dua (2) tahun sembilan (9) bulan setelah itu maka sultan itupun hilang pada hari Rabu ketika tengah hari pada hijrah seribu lima belas (1,015) tahun.
Kemudian dari itu maka kerajaan Sultan Raja Iskandar Muda Johan Berdaulat pada hari Rabu enam (6) hari bulan Zulhijjah ialah yang johan pahlawan lagi perkasa dan bijaksana pada segala barang perkataannya dan hebat pada segala kelakuannya dan terlalu elok sikapnya. Ialah yang termahsyur namanya pada segala negeri dan beberapa negeri di taklukkannya, pertama negeri Deli pada tatkala hijrah seribu dua puluh tahun (1,020).
Kemudian dari itu maka alah Johor pada tatkala hijrah seribu dua puluh dua tahun (1,022). Kemudian dari itu berangkat ke Bintan pada tatkala hijrah seribu dua puluh tiga (1,023) tahun pada ketika itulah tertawan daripada anak menantu waziry (Putri Pahang, Raja Raden dan Raja Husein atau Sultan Iskandar Tsani) dan beberapa daripada kapal dan gharib dan ghali terlalu amat banyak Peringgi (portugis). mati terbunuh dan tertawan tatkala perang di Batang Bintan (Riau).
Kemudian dari itu maka menaklukkan negeri Pahang pada tatkala hijrah seribu dua puluh enam (1,026) tahun. Adapun menaklukkan negeri Pahang itu adalah dalamnya hikmat Allah Ta’ala yang terlalu ajaib. Kemudian dari itu maka alah negeri Kedah pada tatkala hijrah seribu dua puluh sembilan (1,029) tahun.
Kemudian dari itu alah negeri Nias pada tatkala hijrah seribu tiga puluh empat (1,034) tahun. Kemudian dari itu maka di titahkan orang kaya2x Maharaja Seri Maharaja dan orang kaya2x Al Qasman menyerang Malaka pada tatkala hijrah seribu tiga puluh delapan (1,038) tahun tetapi tiada alah kerana berbantah antara dua orang panglima pada ketika itulah segala islam banyak mati syahid.
Syahdan pada masa itulah wafat Syech Syamsuddin ibnu Abdullah Al Sumatiry pada malam Isnin dua belas (12) hari bulan Rejab pada hijrah seribu tiga puluh sembilan (1,039) tahun. Adalah syech itu alim pada segala ilmu dan ialah yang termahsyur alimnya pada ilmu tasawuf dan beberapa kitab yang di taklifkannya.
Kemudian dari itu maka wafat Syech Ibrahim ibnu Abdullah Assyami Assyafii pada hari Rabu waktu Ashar dua belas hari bulan Muharam pada hijrah seribu empat puluh (1,040) tahun. Adalah syech itu alim pada segala ilmu dan ialah yang mahsyur alimnya pada ilmu fikih.
Kemudian dari itu maka alah pula negeri Pahang pada tatkala hijrah seribu empat puluh lima (1,045) tahun adalah masa itu mengdiam negeri Pahang itu raja Johor dan beberapa negeri yang lain di alahkannya daripada negeri yang kecil2x. Dan ialah yang berbuat masjid Baiturrahman dan beberapa masjid pada tiap2x manzil dan ialah yang mengeraskan agama islam dan menyuruhkan segala rakyat sembahyang lima waktu dan puasa Ramadhan dan puasa sunat dan menegahkan sekalian mereka itu minum arak dan berjudi.
Dan ialah yang memungutkan Baitul Maal dan ashur negeri Aceh Darussalam dan cukai pekan dan ialah yang sangat murah hatinya akan segala rakyatnya dan mengurnia sedekah akan segala fakir dan miskin pada tiap2x berangkat sembahyang Jum’at “. (Bersambung)
Sumber: Kitab Kisah Ambiya, Manuskrip Dewan Bahasa & Pustaka Melayu, UKM.
(Photo, Arakata Pasee Sanah 1243 H, manuskrips yg selamat dari revolusi sosial aceh ’46, koleksi pribadi), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Langkoeta, Meunasah Barat, Keujreuen Meusyi, Glp Doewa, Peusangan Raya)

ASAL MUASAL KEURAJEUN PEUSANGAN RAYA DIDIRIKAN OLEH CICIT SAIDINA HASAN RA

Di akhir pemerintahan sri ratu safiatuddin tepatnya pd th 1672, beliau menerbitkan sarakata (cap sikuereung) pendirian keujruen peusangan raya dan menunjuk Panglima perang Teuku Diadjat Pasee sbg. Keujruen Syik Peusangan Raya. Tak lama kemudian sri ratu wafat pd th 1675 karena diracun oleh lawan politiknya. Pada sarakata tsb disebutkan bahwa keturunan raja-raja Peusangan terdiri dari 3 jalur nasabnya, yaitu :

Langsung dari negeri Hadramaut Yaman melalui Tu Praja Chiek Yamani cicit Saydina Hasan ra.
Melalui dari jalur marga Al Habsyi, yg berasal dari Abbasiyah Irak.
3.Jalur Persia melalui pangeran Shahriansyah Salman dari kerajaan jeumpa, yg bercampur dgn klan dinasty Abbasiyah, Irak ketiga jalur tersebut bermuara pada Bani Hasyim dan dinasti Mamluk yg mendirikan kekhalifahan islam Maroko di Afrika Utara.
Pada sarakata tsb disebutkan, juga pd th 1182 H (1672/3 M), Panglima Teuku Diadjat Pasee atau PONYAK DJAT mendapat hadiah sarakata (surat pengakuan cap sikureung) dari sultan aceh yg pd masa itu diperintah oleh Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641 – 1675) dgn gelar “Keujruen Chik Peusangan Seutya Radja”.

Ponyak Djat atau Panglima Perang Teuku Diadjad Pasee adalah seorang panglima perang dari negeri pasee yg hijrah ke negeri peusangan dan di angkat jadi keujreun syiek di negeri peusangan raya oleh sultan aceh. Menurut yg tercatat dalam kitab sarakata sultan aceh beliau masih keturunan ahlulbait dari garis sayyidina Hasan ra yg berasal dari keturunan dinasti abbasiyah irak yg hijrah ke negeri pasai pada abad ke 13 Setelah sebelumnya kota 1001 malam ini dibumihanguskan oleh pasukan mongol dibawah pimpinan Hulagu khan (kubilai khan). Beliau juga masih keturunan dinasty raja pasai dari raja pasai terakhir Sultan zain Al Abidin (1513 – 1524).
Batas wilayah kekuasaan Keujruen Peusangan raya disebutkan terbentang dari wilayah timur Kuala Meuraksa Puenteut, Lhokseumawe sampai batas wilayah barat Glee Meunaleung, Cot Geuleungku, krueng pandrah Bireuen dan terbagi dalam 6 pemerintahan kemukiman yaitu :
Kemukiman Jeumpa termasuk dalam wilayah ini adalah wilayah Bireuen, July, peudada (jeunib).
Kemukiman glumpang dua yg termasuk dalam wilayah ini adalah matang glumpang dua, krueng panjo, kuta blang dan geuruegok.
Dataran tinggi kemukiman sawang.
Dataran rendah kemukiman blang panyang yg meliputi nisam, keude bungkaih, krueng geukueh, batuphat dan keude paloh.
Kemukiman cunda, wilayah ini meliputi pekan cunda, buloeh dan kandang.
Kemukiman bayu meuraksa wilayah ini meliputi, meuraksa, keude bayu dan keude puenteut.

Tak banyak yg tahu tentang sejarah berdirinya kota geudong ini sehingga sampai saat ini bisa  menjadi sebuah pemerintahan yg berbentuk kecamatan. Sejarah kota geudong sendiri tak terlepas dari peran Tgk Imuem Chik Raja Itam bin Teuku Chik Raja Moely bin Meurah Fattani bin Tgk Meurah Madereih (tu poraja syikh malik bintan hulu bin Tu poraja syikh yamani pasee), penguasa bandar pelabuhan kuala pasee. Menurut Ibnu Batutah, seorang pengembara muslim dari negeri Maghribi, Maroko, dalam catatannya mengatakan bahwa ia sempat mengunjungi Pasai pada 1345 M. Ibnu Batutah yang pernah singgah di kuala Pasai selama 15 hari, menggambarkan Kesultanan Samudera Pasai sebagai “sebuah negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah”. Dalam catatan perjalanan berjudul “Tuhfat Al-Nazha”, Ibnu Batutah menuturkan, pada masa itu Pasai telah menjelma sebagai pusat studi Islam di Asia Tenggara. Paska runtuhnya kerajaan samudera pasai, pada tahun 1524 kenegerian pasai mulai di perintah oleh Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani atau yg lebih di kenal Tu Praja Chik Yamani, seorang mantan mufti besar kesultanan samudera pasai yg ditunjuk oleh sultan aceh utk memimpin negeri Pasai dgn pusat pemerintahan di Kuta krueng, kuala pasai. Nama kuta krueng sendiri di tabalkan oleh beliau yg diartikan sebagai benteng (kuta) yg terletak di krueng pasee. Paska wafat Tu praja Chik Yamani, pemerintahan di kuta krueng dilanjutkan oleh putranya Tu Praja Chik Madereih (Tgk Chik Ahmad Idris). Pd tahun 1082 H (1671), wilayah kekuasaan kerajaan pasai mulai dibagikan kepada ketiga putranya. Untuk wilayah krueng pasee diberikan kepada putra sulungnya Teuku Raja Fattani, sedangkan untuk wilayah krueng keureutoe diberikan kepada Tok Nabath Indra Patra Syamsul Alam atau Teuku Bahar Amien. Dan utk wilayah krueng Peusangan diberikan kepada putranya yg lain Meurah Syah (Ja Kata). Selanjutnya pd th 1702 pemerintahan di kuta krueng pasee dilanjutkan oleh putra teuku Raja Fattani yaitu Tgk Imuem Chik Raja Moely. Ada hal yg menarik di sejarah ulee balang krueng pasee, sejak sultan aceh dinasti jamallulail (badrul munir syarif hasyim jamalullail) seorang ulama yg berasal dari mekkah naik tahta, beliau membuat kebijakan baru dimana semua ulee balang yg menggunakan gelar “Teuku Raja” harus diganti menggunakan gelar “Tgk Imoem Chik”. Makanya dalam arakata ulee balang Geudong, hampir semua ulee balang menggunakan gelar ini. Paska wafatnya Tgk Imuem Chik Raja Moely, beliau digantikan oleh putranya Tgk Imuem Chiek Raja Itam atau yg lebih di kenal Tgk Chik di Pasie karena beliau masih bermukim di kuta krueng pasee. Teuku Chik Muhammad Djohan Alamsyah atau dikenal sebagai “Ampoen Chiek Peusangan” ( 25 Juni 1890 – 11 Maret 1990) ialah seorang Uleebalang di Nanggroe Peusangan dan merupakan turunan generasi ke- 9 pengungsi imperiurn Abbasiyah yang terdampar di Banda Aceh pada abad ke-13 itu. Beliau keturunan ulee balang dan putra dari pasangan Teuku Chik Syamaun dan Pocut Unggaih. Ayah beliau seorang uleebalang kerajaan Peusangan pada masa itu sedangkan ibunya seorang putri uleebalang di Meureudu.

Kemudian setelah memegang jabatan uleebalang dan menunaikan ibadah haji, cucu Teuku Chik Muhammad Hasan itu diberi nama, Teuku Haji Chik Muhammad Djohan Alamsjah Perkasa Alam. Dalam perjalanan sejarah Aceh abad ke-XX, Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah tampil sebagai salah seorang uleebalang Aceh terkemuka.

Istana Nanggroe Peusangan
Pulo Iboh, tempat kelahiran dan tempat Teuku Muhammad Djohan Alamsjah dibesarkan, adalah juga tempat kediaman resmi uleebalang Peusangan. Pulo Iboh juga disebut kuta uleebalang (istana) nanggroe Peusangan. Desa Iboh juga memegang kunci penting dalam sejarah revolusi sosial Aceh tahun 1945-1946.Menyangkut Iboh ada cerita lainnya. Dari desa inilah orang tua Teungku Amir Husin Al Mujahid berasal. Ketika perang Aceh dengan Belanda sedang mencapai puncaknya dipantai utara Aceh, keluarga orang tua Husin al Mujahid mengungsi ke nanggroe Idi, yang telah menjadi sahabat kerajaan Belanda jauh hari sebelum Perang Aceh–Belanda dimulai. Orang Aceh memberi gelar yang agung untuk Amir Husin al Mujahid, Napoleon Bonaparte Aceh, karena keberhasilannya meruntuhkan dan membantai seluruh uleebalang Aceh hanya dalam waktu beberapa hari saja. Tanpa pernah bertempur guru sekolah dasar madrasah di Idi-Aceh Timur ini, dapat mengecoh Residen Aceh/ Jenderal Mayor TKR/TNI Teuku Njak Arief dan menggiringnya ke kamp tahanan di Takengon. Napoleon Bonaparte Aceh dengan lasykarnya TPR (tentara perjuangan rakyat) dengan ganas membantai seluruh uleebalang Aceh beserta pengikutnya.

Menempuh Pendidikan
Selama 3 tahun Teuku Muhammad Djohan Alamsjah bersama Abdul Karim belajar di sekolah Rakyat Guru Djam di Kutaradja.Guru Muhammad Djam, orang Minangkabau ini sangat profesional dibidangnya. Secara privat kedua anak muda Aceh itu dididik dan diajarinya dengan sabar. Mata pelajaran dasar yang diajarkan terutama matematik, membaca dan menulis huruf Latin, bahasa Melayu, etiket pergaulan masyarakat Belanda, ilmu sejarah dan politik Hindia Belanda.

Kedua anak muda Aceh itu menyambut kesungguhan gurunya. Keduanya belajar dengan giat dan mengambil alih seluruh pengetahuan yang diperolehnya. Gubernur Belanda di Aceh, Jenderal van Heutz sangat puas terhadap kinerja Guru Djam. Untuk mengenang jasa-jasa Guru Muhammad Djam dalam bidang pendidikan, pemerintahan Hindia Belanda di Aceh kemudian hari menamai jalan dimuka sekolah itu, jalan Guru Muhammad Djam.


Teuku Johan Alamsyah dan Jenderal Swart berfoto bersama keluarga pada tahun 1928.
Setelah menjalani masa pendidikan yang dikehandaki Belanda, Teuku Muhammad Djohan Alamsjah serta kawan dan pengawalnya yang setia diantar kembali ke nanggroe Peusangan. Jenderal van Heutz menganggap uleebalang muda Aceh ini sudah cukup berhasil dijinakkannya. Kepada Teuku Muhammad Djohan Alamsjah dipercayakan kembali jabatan uleebalang Peusangan yang dipangkunya sesuai sarakata Sultan Aceh. Dalam pelaksanaan tugasnya uleebalang muda ini dibimbing oleh pamannya, Teuku Djeumpa. Pada hakekatnya pamannya inilah yang bertindak selaku uleebalang nanggroe Peusangan.

Menjadi Uleebalang
Sepeninggalan Teuku Chik Syamaun, Nanggroe Peusangan memasuki era baru di bawah kepemimpinan Teuku Chik Muhammad Johan Alamsyah (dengan panggilan Ampon Chik Peusangan). Ekonomi nanggroe yang krisis karena terpengaruh perang melawan Belanda di masa Teuku Chik Syamaun, menjadi tantangan tersendiri bagi Ampon Chik Peusangan untuk menata kembali ekonomi negerinya.

Ampon Chik Peusangan dikukuhkan sebagai Uleebalang Peusangan oleh Sultan Aceh, Tuanku Muhammad Daud Syah pada usia 10 tahun. Pengukuhan ini dilakukan secara diam-diam di sela kunjungan Sultan Aceh ke Matangglumpang Dua, ibu kota Nanggroe Peusangan. Setelah mendapat berita dari utusan Teuku Chik Syamaun bahwa uleebalang yang sedang berada di hutan sedang mengalami sakit berat, maka dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Ampon Chik langsung dilantik tanpa sepengetahuan Belanda.

Jiwa kepemimpinan dan diplomasi mengalir dalam diri Ampon Chik Peusangan. Pendekatan yang dilakukan berbeda dengan apa yang telah dilakukan orang tuanya. Ia tidak memilih konflik secara frontal dengan Belanda yang justru akan menjadi korban dan menderita adalah rakyatnya sendiri. Ia lebih fokus membangun ekonomi negerinya dan memulai memajukan dunia pendidikan. Di tengah suasana tenang, ia lakukan inisiasi, pemindahan makam orang tuanya, Teuku Chik Syamaun, dari dalam hutan ke Gle Sabe di Matangglumpang Dua. Di samping bukit tersebut terdatang pasar tradisional Matang. Pengangkatan itu dimuat diatas surat resmi Keputusan Kerajaan Aceh. Surat pengangkatan yang disebut “Surat Tjap Sikureung” itu diserahkan langsung kepada Teuku Muhammad Djohan Alamsjah. Pada hal, pada saat pengangkatannya, uleebalang muda itu baru berumur 10 tahun.

Beliau bersama Sang Ibu
Usai pelantikan itu, sambil menghindari incaran Jenderal van Heutz terhadapnya, Sultan Aceh bergegas melanjutkan perjalanan-kerjanya ke wilayah Pasai, untuk menyusun kembali markas komanandonya. Sunguh ironis, perjuangan Teuku Tjhik Sjamaun melawan penjajah Belanda kandas dalam waktu singkat. Beberapa bulan setelah Teuku Tjhik Sjamaun wafat, paman Teuku Tjhik Djohan Alamsjah yang tertua yang bernama Teuku Maharadja Djeumpa melapor diri (mel) kepada Belanda minta berdamai.

Bagaikan mendapatkan durian runtuh, Jenderal van Heutz langsung menyambut uluran tangan Teuku Djeumpa itu. Utusan Belanda datang ke Pulo Iboh menemui Potjut Unggaih. Belanda membujuk permaisuri uleebalang Peusangan itu untuk mengizinkan putranya dibawa ke Kutaradja untuk disekolahkan. Belanda bermaksud mendidik uleebalang muda itu menurut kepentingannya, disekolah model Belanda. Dengan tegas permintaan Belanda itu ditolaknya, karena Potjut Unggaih tidak ingin putranya menjadi orang kafir. Berulang kali utusan Belanda datang bersama dengan Teuku Djeumpa, membujuk Pocut Unggaih.

Setelah bermusyawarah dengan seluruh handai taulannya, Pocut Unggaih dengan berat hati mengijinkan putranya dibawa Belanda ke Kutaraja, pusat kekuasaan Belanda di Aceh. Ibunda Teuku Djohan Alamsjah itu mengajukan syarat. Putranya boleh dibawa, tetapi harus disertai oleh seorang temannya yang juga harus disekolahkannya. Tentu saja Belanda dengan penuh suka cita menyambut berita kemenangannya ini. Tanpa perlu berlumuran darah lagi, nanggroe Peusangan telah menjadi sahabat Kerajaan Belanda.[5]

Membentuk Jami’ah Almuslim
Ampon Chik bersama kalangan ulama, yaitu Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, Teungku Ibrahim Meunasah Barat, Teungku Abbas Bardan, Teungku Abed Idham, Habib Muhammad, Teungku Ridwan, dan ulama serta tokoh lainnya, menginisiasi pembentukan perhimpunan Jami’ah Almuslim pada 24 November 1929 (21 Jumadil akhir 1348 H). Melalui perhimpunan ini, Ampon Chik mewakafkan sejumlah bidang tanah untuk didirikan yayasan dan sekolah. Diawali dengan mendirikan sekolah berdinding kayu dengan dua lokal (lokasinya di SMP Negeri Peusangan). Dua tahun kemudian, 28 Mei 1931 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Madrasah Almuslim. Ulama dan umara sepemahaman, hanya melalui pendidikan, transformasi sosial untuk menggapai kemerdekaan, terbebas dari belenggu penjajah dapat diraih.

Karena di sinilah tempat lahirnya Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). pada 5 Mei 1939 bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 1358 H. Kelahiran PUSA ini berawal dari pemikiran dua tokoh besar Peusangan waktu itu yaitu Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap (Ulama) dan Ampon Chik Peusangan (Teuku Chik Muhammad Johan Alamsyah) (Umara), dan PUSA telah menjadi lokus dan inspirasi bagi kelahiran Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hal ini menunjukkan bahwa kelahiran Universitas Almuslim melalui sejarah Jami’ah Almuslim Peusangan merupakan warisan Pemikiran T.H.M Djohan Alamsjah (Ampon Chiek Peusangan) bersama Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap (Ulama).dengan mengelorakan semangat pembaharu bervisi global di dibidang pendidikan masa itu. Oleh Karenanya Universitas Almuslim memiliki posisi sejarah yang khusus dan unik apabila dibandingkan dengan perguruan tinggi lainnya yang ada di Provinsi Aceh.

Ampon Chik Peusangan juga dikenal sebagai tokoh yang pro terhadap pendidikan modern di Aceh. Hal ini dibuktikan dengan persetujuan beliau terhadap gagasan Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap yang ketika itu ingin mendirikan madrasah.

Pada tahun 1496 seluruh wilayah dataran aceh baik itu dari pantai barat yaitu kerajaan Trumon, Seunagan dan Daya ataupun dari pantai utara yaitu Lamuri, Pedir, Jeumpa, Pasai, Peureulak, dan Tamiang termasuk juga kerajaan Lingge dari dataran tinggi Gayo berhasil dipersatukan oleh Sultan Ali Mughayat Syah dengan berlindung dibawah nama besar Kesultanan Aceh Darussalam. Jeumpa sendiri dikenal setelah Sultan Iskandar Muda menjadikan seorang putri Jeumpa yg bernama Putroe Makhudum Meurah Jeumpa sebagai istrinya. Apakah dari sini jalur nasab keturunan Keujruen Raja Peusangan, belum ada satupun literatur yg mendukung tentang itu.
Pada tahun 1669 seorang pelaut perancis, Pierre Barthelot, merilis satu buku panduan bagi pelaut yg berjudul “Pilote et Cosmoghrape” yg menjelaskan tentang peta cryptograph pulau sumatera dan sungai peusangan ,Riviera Puesang, Roy de Achem, (photo insert, peta cryptograp aceh, th 1669, jurnal Mercure de Francaisse).

II. MASA PUNCAK KEJAYAAN KEUJRUEN PEUSANGAN RAYA
A. KETURUNAN PERTAMA (I):
1.1 TEUKU MONGA KASIM, merupakan putra pertama Praja Ponyak Bujang Diajad, tp sayangnya beliau mengalami sakit mental dan tdk mempunyai keturunan.

1.2 TEUKU CHIK MEUNASAH, beliau merupakan putra kedua dari Praja Ponyak Bujang Diajad, menggantikan kedudukan ayahnya sebagai keujruen syik peusangan. Sedikit sekali literature mengenai yg bersangkutan sehingga tdk diketahui kapan mulai menggantikan ayahnya. Teuku chik Meunasah wafat dan digantikan oleh saudara dari lain ibu Teuku Chik Lampoeh U.

1.3 TEUKU CHIK LAMPOEH U, merupakan putra Praja Ponyak Bujang Diajad dari istri keduanya, saudara dari teuku chik meunasah dari lain ibu. Teuku chik Lampoeh U ditunjuk oleh sultan aceh utk menggantikan kedudukan Teuku chik meunasah yg wafat dan juga sekaligus pemangku raja sementara berhubung putra mahkota Teuku chik nyak krueng masih di bawah umur. Setelah teuku chik nyak krueng cukup umur dan naik tahta menggantikan abangnya Teuku chik Lampoeh U, beliau hanya diperkenankan mengurusi wilayah yg lebih kecil yaitu mukim blang panyang (nisam), beliau juga merupakan ayah dari teuku bentara keumangan peutuha blang panyang, nisam.

1.4 TEUKU BENTARA KUANTA (TEUKU CHIK NYAK KRUENG), merupakan putra bungsu Praja ponyak Bujang diadjat  yg menggantikan kedudukan abgnya teuku chik lampoeh U sebagai keujruen peusangan raya. Teuku bentara kuanta (teuku chik nyak krueng) naik tahta menjadi keu1.4 TEUKU BENTARA KUANTA (TEUKU CHIK NYAK KRUENG), merupakan putra bungsu Praja Ponyak Bujang Diajad yg menggantikan kedudukan abgnya teuku chik lampoeh U sebagai keujruen peusangan raya. Teuku bentara kuanta (teuku chik nyak krueng) naik tahta menjadi keujruen peusangan di usia yg sangat muda. Beliau memang telah dipersiapkan sebagai putra mahkota menggantikan posisi abangnya sebagai pemangku kerajaan (wali negeri). Keujruen peusangan mencapai pucak kejayaan di masa teuku bentara kuanta (teuku chik nyak krueng) memegang tampuk kekuasaan (1844 – 1968). Dimana pertanian dan nelayan sbg mata pencaharian utama penduduknya. Keujruen peusangan juga menjadi daerah lumbung beras, selain pinang , pala, lada, kemiri (boeh kiroe) dan kopra (u cuelek) sbg komoditas utama perdagangan negeri ini. Tercatat ada beberapa pelabuhan perdagangan hasil bumi yg terdapat di wilayah keujruen peusangan raya yaitu, kuala peudada, kuala jeumpa (kuala raja), kuala ceureupei, kuala manee, kuala bangka (kuala geukueh) dan kuala meuraksa. Pd th 1868, Teuku chik nyak krueng wafat dan digantikan oleh putra sulungnya T.Chik Muhammad Hasan.

B. KETURUNAN KEDUA (II) :
1.3.1 TEUKU BENTARA KEUMANGAN, merupakan putra dari Teuku Chik Lampoeh U, bekas penguasa keujruen peusangan raya. Teuku chik lampoeh U dilengserkan oleh sultan aceh karena dianggap tidak mampu dan kurang cakap dalam menjalankan pemerintahan. Beliau kemudian hanya diberi jabatan sbg ulee balang (peutuha) kemukiman Blang panyang (nisam). Kemudian kedudukannya sbg ulee balang blang panyang (nisam) digantikan oleh sultan aceh karena dianggap tidak mampu dan kurang cakap dalam menjalankan pemerintahan. Beliau kemudian hanya diberi jabatan sbg ulee balang (peutuha) kemukiman Blang panyang (nisam). Kemudian kedudukannya sbg ulee balang blang panyang (nisam) digantikan oleh putranya Teuku bentara keumangan. Mesjid tuha kuala manee, krueng manee dan mesjid tuha dakuta, meunasah drang dibangun semasa teuku bentara keumangan menjabat sebagai ulee balang (peutuha) blang panyang yg dibangun pd th 1823. Jabatan beliau sbg ulee balang blang panyang kemudian digantikan oleh anaknya Teuku Rhi Mahmud Nisam.

1.4.1 TEUKU CHIK MUHAMMAD HASAN, merupakan putra pertama dari Teuku Chik Nyak Krueng (Teuku Bentara Kuanta), menggantikan kedudukan ayahnya sbg ulee balang keujruen peusangan raya setelah ayahnya wafat pd th 1868. Karena kebijakan pemerintahan yg buruk sehingga selalu mendapat pertentangan dari adiknya. Kemudian kedudukan beliau sbg uleebalang keujruen peusangan raya dilengserkan oleh adiknya Teuku Bentara mahmud kuta panjoe (Teuku moeda tji’), beliau wafat dalam perebutan kekuasaan dengan adiknya pd th 1872.

1.4.2 TEUKU BENTARA MAHMUD KUTA PANJOE (T. MOEDA TJI’), merupakan putra kedua Teuku Bentara kuanta (Teuku Chik Nyak Krueng), beliau menggantikan posisi abgnya Teuku Chik Muhammad Hasan sbg ulee balang keujruen peusangan. Masa pemerintahan beliau sangat singkat dari th 1872 – 1875. Pd th 1875 Beliau tiba2x mendadak wafat tanpa keterangan yg jelas apa penyebabnya sakitnya. Jabatan yg ditinggalkan kemudian digantikan oleh keponakannya Teuku chik syamaun.
III. MASA PERANG PEUSANGAN RAYA (1882-1899)

C. KETURUNAN KETIGA (III)
1.3.1.1 TEUKU RHI MAHMUD NISAM, beliau merupakan putra dari Teuku Bentara keumangan, ulee balang (peutuha) kemukiman Blang panyang yg kemudian berganti nama menjadi kenegerian nisam yg berpusat di keude amplah. Ketika perang peusangan raya meletus, Teuku Rhi Mahmud berperan sebagai tuan rumah dalam deklarasi damai pd th 1889 yg dimotori oleh asisten residen belanda di pantai timur kapten G.A Scherer. Dimana salah satu butir kesepakatan yg dihasilkan adalah mengenai batas wilayah antara peusangan barat dan peusangan timur (glumpang dua) adalah Glee mirah phoen, cot ijue. Walaupun demikian deklarasi damai ini gagal mencegah terjadinya perang peusangan raya.

1.4.1.1 TEUKU CHIK SYAMAUN, merupakan putra dari Teuku Chik Muhammad Hasan. Lahir di kemukiman glumpang dua, peusangan. Beliau menggantikan paman Teuku bentara mahmud kuta panjoe (Teuku moeda tji’) sbg ulee balang peusangan yg wafat pd th 1875. Menjabat sbg ulee balang peusangan dari 1875-1899. Teuku Chik Syamaun adalah seorang yg ambisius. Salah satu obsesinya adalah ingin mempersatukan seluruh wilayah keujruen peusangan raya seperti masa dahulu spt yg tertera dalam sarakata sultan aceh pd th 1182 H. Atas dasar inilah, maka pd th 1882 meletuslah perang antar ulee balang di wilayah peusangan raya. Puncaknya pd th 1883 pasukan ampon chik syamaun menyerang kuta panjoe, pusat pemerintahan glumpang dua. Kuta panjoe jatuh ke tangan pasukan ampoen chik syamaun, penguasa (peutuha) glumpang dua saat itu Teuku bentara Husin melarikan diri ke wilayah sawang. Beliau menyampaikan protes keras melalui Asisten Residen Belanda di teluk samawi G.A. Scherer. Sedikit demi sedikit belanda mulai memainkan perannya di perang peusangan raya. Teuku chik syamaun di minta mundur dari kuta panjoe oleh scherer. Permintaan ini dipenuhi oleh ampoen chik syamaun dgn beberapa persyaratan, utk sesaat perangpun mereda. Tak lama berselang, pd th 1884, pasukan ampoen chik syamaun di bawah pimpinan Teuku muda peusangan maharaja jeumpa kembali menyerang kuta panjoe, blang panyang (nisam), cunda dan bayu dari darat dan laut yg melibatkan pasukan yg besar. Glumpang dua, blang panyang (nisam) dan cunda berhasil diduduki oleh ampoen syik syamaun. Protes kembali dilayangkan kpd belanda atas perbuatan ampoen syik syamaun, Belanda memang piawai dalam memainkan perannya di konflik ini. Atas inisiasi residen belanda G.A Scherer, pada tahun 1889 utk menyelesaikan konflik horizontal ini, dibuatlah satu pertemuan besar antar ulee balang di wilayah keujruen peusangan, bertempat di keude amplah nisam yg disebut deklarasi keude amplah. Pihak-pihak ulee balang yg hadir dalam pertemuan tersebut yaitu : T. Muda peusangan maharaja jeumpa dan T. Keujruen Nusyah pulo iboih dari peusangan barat. T. Bintara muda husin dan T. Bentara Muda peureudan dari glumpang dua. Rhi mahmud mewakili blang panyang, nisam sbg tuan rumah dan sawang diwakili oleh panglima prang muda dan Teuku puteh. Sedangkan dari cunda dan meuraksa bayu diwakili oleh Teuku mahmud dan T. Bentara muda chik. Deklarasi ini menghasilkan suatu keputusan bahwa batas demarkasi antara peusangan barat dan peusangan timur adalah Glee mirah poen, Cot Ijue. Tetapi sayangnya perjanjian damai ini gagal, karena pertempuran masih terjadi antara kedua belah pihak. Pd th 1897 kembali dibuat suatu perjanjian damai di lhokseumawe yg di motori oleh Scherer. Kali ini perwakilan Peusangan timur menunjuk Maharaja abdul hamid sbg perwakilannya sedangkan peusangan barat menunjuk T.Raja Itam Geudong sbg perwakilan arbitrasenya, Untuk hakim Arbitrase ditunjuk T. Muda Osoeih (T. Muda Usuih) Simpang oelim pidie sebagai hakim arbitrase mewakili assisten residen G.A. Scherer. Deklarasi lhokseumawe ini menghasilkan keputusan bahwa batas demarkasi antara peusangan barat dan peusangan timur adalah krueng tingkeum kuta blang. Pd th 1899 wafat karena sakit yg dideritanya, beliau dimakamkan di peusangan selatan. Kemudian posisi beliau sbg ulee balang digantikan oleh adiknya Teuku muda peusangan maharaja jeumpa.

1.4.1.2 TEUKU MOEDA PEUSANGAN MAHARAJA JEUMPA, merupakan salah satu tokoh paling dominan dalam sejarah peusangan. Beliau merupakan putra kedua Teuku chik Muhamad Hasan bekas penguasa keujruen peusangan (1868-1872), juga merupakan adik dari T.Chik Syamaun juga mantan penguasa negeri peusangan yg memerintah dari th 1875 sampai th 1899. Beliau lahir di kemukiman glumpang dua, tak pasti tahun berapa tapi diperkirakan lahir jelang memasuki pertengahan abad ke 19 masehi. Dalam perang peusangan raya (1882 – 1899),teuku muda peusangan memegang peranan penting dalam mengatur serangan, beliau merupakan orang kepercayaan teuku chik syamaun sbg seorang ahli strategi tempur, tak salah beliau mendapatkan gelar panglima perang, dalam menghadapi musuh2xnya. Salah satu aksi tempurnya yg sangat fenomenal adalah pd th 1884 memimpin serangan kilat yg dilakukan dari darat dan laut terhadap Negeri Glumpang dua, Cunda dan Nisam. Hanya dalam hitungan Jam, ibukota glumpang dua, kuta panjo jatuh ke tangan peusangan, begitu juga negeri nisam dan cunda. Para pemimpinnya melarikan diri utk menyelamatkan diri, spt Teuku bintara husin dan rhi mahmud melarikan diri ke sawang, sdgkan teuku chik johan cunda melarikan diri ke teluk samawi. Teuku chik syamaun menunjuk saudaranya Teuku muda peusangan sbg penguasa sementara glumpang dua dan Teuku Raja Haji muda sbg penguasa nisam serta teuku chik muda sbg penguasa cunda. Hal ini mendapat protes keras dari kubu peusangan timur dan memaksa belanda utk mendamaikannya. Pd tahun 1889 dibuatlah deklarasi damai yg diprakarsai oleh residen belanda G.A Scherer. Deklarasi damai ini dinamakan Deklarasi keude amplah karena dilakukan bertempat di keude amplah nisam. Dalam deklarasi ini kubu peusangan barat diwakili oleh teuku muda peusangan dan uleebalang cot iboih Teuku keujruen Nusyah. Sedangkan perwakilan peusangan timur diwakili oleh teuku bentara husin dan Bentara muda seutia Pereudan mewakili gloempang dua. Serta sawang diwakili oleh panglima prang muda dan teuku puteh, cunda diwakili oleh teuku mahmud, nisam diwakili oleh rhi mahmud sendiri dan bayu oleh bentara muda cik. Deklarasi damai ini gagal diberlakukan karena salah satu pihak masih melanggar kesepakatan sehingga perang peusangan raya masih terus berlanjut. Pd th 1899 teuku chik syamaun wafat di peusangan selatan. Akibat penyakit yg dideritanya, perang peusangan raya pun berakhir.
Kemudian T. Muda peusangan naik tahta menggantikan sbg ulee balang peusangan dgn gelar “TEUKU MAHARAJA JEUMPA” sesuai dgn kesepakatan yg dibuat bersama pihak belanda mengingat putra mahkotanya T. Muhammad Johan Alamsyah masih dibawah Umur. Pd th 1903 perlawanan sultan muhammad daudsyah berakhir dgn menyerahnya beliau di lhokseumawe. Pd th 1905 belanda mulai membentuk pemerintah otonom daerah yg disebut besturder yg dikepalai oleh seorang wedana. Sebelumnya daerah ini disebut onderhoijgeden yaitu kerajaan2x otonom yg masih dibawah kontrol pemerintah belanda. Ada 103 wedana yg dibentuk di bekas wilayah kesultanan aceh. Th 1906 belanda mengangkat Teuku Muda Peusangan Maharaja jeumpa sbg wedana pertama peusangan. Pd Th 1908, Teuku Muhammd Johan Alamsyah menamatkan pendidikan di Normal School kutaraja, sesuai dgn kesepakatan yg dibuat waktu itu, T.Muhammad Johan Alamsyah menggantikan pamannya sbg wedana peusangan. Selanjutnya Teuku muda peusangan hanya memegang kendali sbg ulee balang cut (peutuha)jeumpa bireuen. Pd tahun 1915 beliau wafat dan dimakamkan di cot glee, keude matang berdekatan dgn kampus al muslim, peusangan bireuen, Dan pada tahun 1915 pula pergantian tahta kerajaan di gantikan oleh salah satu putranya yaitu Tengku Muda Dalam Syah sebagai penerus kesultanan Peusangan Jeumpa.

1.4.2.1 TEUKU BENTARA HUSIN, merupakan putra sulung ulee balang Geuleumpang dua T. Bentara Mahmud kuta panjoe. Beliau menjabat sbg peutuha kemukiman glumpang dua dgn kuta panjoe sbg pusat pemerintahannya menggantikan ayahnya Teuku Bentara Mahmud Kuta Panjoe yg naik jabatan menjadi keujruen peusangan dgn berhasil melengserkan T. Chik Muhammad Hasan pd th 1872. Kemudian pd th 1875 T.Chik Syamaun naik tahta menggantikan pamannya yg wafat tiba2x. Pd th 1882 meletus perang peusangan raya dan kuta panjoe diduduki oleh ulee balang peusangan T.Chik Syamaun, menyebabkan keluarga Teuku Bentara Husin harus mengungsi sementara ke wilayah dataran tinggi sawang. Wilayah mukim glumpang dua merupakan cikal bakal berdirinya zelbesturder glumpang dua yg didirikan oleh pemerintah belanda pd th 1900. Bersama zelbesturder samalanga dan peusangan masuk dalam wilayah onderafdeling Biroen yg di pimpin seorang kontrolir belanda di bireuen.

1.4.2.2 POCUT HAJI INTAN (ISTRI TEUKU LAKSAMANA SAWANG BANGGALANG), merupakan putri dari ulee balang glumpang dua Teuku Bentara mahmud Kuta Panjoe yg dinikahi oleh Teuku Laksamana Sawang seorang utusan sultan aceh yg berasal dari Blang Galang, Reubee , Pidie. Nama beliau dinisbathkan kepada Banggalang, beliau juga keturunan langsung dari Meuntroe Banggalang seorang penasehat (wazir) Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah (1856-1870). Beliau mendapat sarakata dari sultan aceh pd th 1869 di akhir masa pemerintahan Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah. Teuku Laksamana Sawang juga merupakan kerabat dekat Teuku Beutong Banggalang yg juga mendapatkan sarakata dari sultan aceh utk mendirikan negeri Beutoeng, Aceh Barat. Wafat pd th 1882 dan dimakamkan di gampoeng gunci sawang, aceh utara.Pada sarakata tsb disebutkan, juga pd th 1182 H (1672/3 M), Panglima Praja Ponyak Bujang Diajad Pasee atau PONYAK DJAT/ JA NAJID mendapat hadiah sarakata (surat pengakuan cap sikureung) dari sultan aceh yg pd masa itu diperintah oleh Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641 – 1675) dgn gelar “Keujruen Chik Seutya Peusangan Radja”. Ponyak Djat atau Panglima Perang Praja Ponyak Bujang Diajad Pasee adalah seorang panglima perang dari negeri pasee yg hijrah ke negeri peusangan dan di angkat jadi keujreun syiek di negeri peusangan raya oleh sultan aceh. Menurut yg tercatat dalam kitab sarakata sultan aceh beliau masih keturunan ahlulbait dari garis sayyidina Hasan ra yg berasal dari keturunan dinasti abbasiyah irak yg hijrah ke negeri pasai pada abad ke 13 Setelah sebelumnya kota 1001 malam ini dibumihanguskan oleh pasukan mongol dibawah pimpinan Hulagu khan (kubilai khan). Beliau juga masih keturunan dinasty raja pasai dari raja pasai terakhir Sultan zain Al Abidin (1513 – 1524).
Batas wilayah kekuasaan Keujruen Peusangan raya disebutkan terbentang dari wilayah timur Kuala Meuraksa Puenteut, Lhokseumawe sampai batas wilayah barat Glee Meunaleung, Cot Geuleungku, krueng pandrah Bireuen dan terbagi dalam 6 pemerintahan kemukiman yaitu :
Kemukiman Jeumpa termasuk dalam wilayah ini adalah wilayah Bireuen, July, peudada (jeunib).
Kemukiman glumpang dua yg termasuk dalam wilayah ini adalah matang glumpang dua, krueng panjo, kuta blang dan geuruegok.
Dataran tinggi kemukiman sawang.
Dataran rendah kemukiman blang panyang yg meliputi nisam, keude bungkaih, krueng geukueh, batuphat dan keude paloh.
Kemukiman cunda, wilayah ini meliputi pekan cunda, buloeh dan kandang.
Kemukiman bayu meuraksa wilayah ini meliputi, meuraksa, keude bayu dan keude puenteut.

II. MASA PUNCAK KEJAYAAN KEUJRUEN PEUSANGAN RAYAB. KETURUNAN KEDUA (II) :
1.3.1 TEUKU BENTARA KEUMANGAN, merupakan putra dari Teuku Chik Lampoeh U, bekas penguasa keujruen peusangan raya. Teuku chik lampoeh U dilengserkan oleh sultan aceh karena dianggap tidak mampu dan kurang cakap dalam menjalankan pemerintahan. Beliau kemudian hanya diberi jabatan sbg ulee balang (peutuha) kemukiman Blang panyang (nisam). Kemudian kedudukannya sbg ulee balang blang panyang (nisam) digantikan oleh putranya Teuku bentara keumangan. Mesjid tuha kuala manee, krueng manee dan mesjid tuha dakuta, meunasah drang dibangun semasa teuku bentara keumangan menjabat sebagai ulee balang (peutuha) blang panyang yg dibangun pd th 1823. Jabatan beliau sbg ulee balang blang panyang kemudian digantikan oleh anaknya Teuku Rhi Mahmud Nisam.

1.4.1 TEUKU CHIK MUHAMMAD HASAN, merupakan putra pertama dari Teuku Chik Nyak Krueng (Teuku Bentara Kuanta), menggantikan kedudukan ayahnya sbg ulee balang keujruen peusangan raya setelah ayahnya wafat pd th 1868. Karena kebijakan pemerintahan yg buruk sehingga selalu mendapat pertentangan dari adiknya. Kemudian kedudukan beliau sbg uleebalang keujruen peusangan raya dilengserkan oleh adiknya Teuku Bentara mahmud kuta panjoe (Teuku moeda tji’), beliau wafat dalam perebutan kekuasaan dengan adiknya pd th 1872.

1.4.2 TEUKU BENTARA MAHMUD KUTA PANJOE (T. MOEDA TJI’), merupakan putra kedua Teuku Bentara kuanta (Teuku Chik Nyak Krueng), beliau menggantikan posisi abgnya Teuku Chik Muhammad Hasan sbg ulee balang keujruen peusangan. Masa pemerintahan beliau sangat singkat dari th 1872 – 1875. Pd th 1875 Beliau tiba2x mendadak wafat tanpa keterangan yg jelas apa penyebabnya sakitnya. Jabatan yg ditinggalkan kemudian digantikan oleh keponakannya Teuku chik syamaun.III. MASA PERANG PEUSANGAN RAYA (1882-1899)

C. KETURUNAN KETIGA (III)
1.3.1.1 TEUKU RHI MAHMUD NISAM, beliau merupakan putra dari Teuku Bentara keumangan, ulee balang (peutuha) kemukiman Blang panyang yg kemudian berganti nama menjadi kenegerian nisam yg berpusat di keude amplah. Ketika perang peusangan raya meletus, Teuku Rhi Mahmud berperan sebagai tuan rumah dalam deklarasi damai pd th 1889 yg dimotori oleh asisten residen belanda di pantai timur kapten G.A Scherer. Dimana salah satu butir kesepakatan yg dihasilkan adalah mengenai batas wilayah antara peusangan barat dan peusangan timur (glumpang dua) adalah Glee mirah phoen, cot ijue. Walaupun demikian deklarasi damai ini gagal mencegah terjadinya perang peusangan raya.

1.4.1.1 TEUKU CHIK SYAMAUN, merupakan putra dari Teuku Chik Muhammad Hasan. Lahir di kemukiman glumpang dua, peusangan. Beliau menggantikan paman Teuku bentara mahmud kuta panjoe (Teuku moeda tji’) sbg ulee balang peusangan yg wafat pd th 1875. Menjabat sbg ulee balang peusangan dari 1875-1899. Teuku Chik Syamaun adalah seorang yg ambisius. Salah satu obsesinya adalah ingin mempersatukan seluruh wilayah keujruen peusangan raya seperti masa dahulu spt yg tertera dalam sarakata sultan aceh pd th 1182 H. Atas dasar inilah, maka pd th 1882 meletuslah perang antar ulee balang di wilayah peusangan raya. Puncaknya pd th 1883 pasukan ampon chik syamaun menyerang kuta panjoe, pusat pemerintahan glumpang dua. Kuta panjoe jatuh ke tangan pasukan ampoen chik syamaun, penguasa (peutuha) glumpang dua saat itu Teuku bentara Husin melarikan diri ke wilayah sawang. Beliau menyampaikan protes keras melalui Asisten Residen Belanda di teluk samawi G.A. Scherer. Sedikit demi sedikit belanda mulai memainkan perannya di perang peusangan raya. Teuku chik syamaun di minta mundur dari kuta panjoe oleh scherer. Permintaan ini dipenuhi oleh ampoen chik syamaun dgn beberapa persyaratan, utk sesaat perangpun mereda. Tak lama berselang, pd th 1884, pasukan ampoen chik syamaun di bawah pimpinan Teuku muda peusangan maharaja jeumpa kembali menyerang kuta panjoe, blang panyang (nisam), cunda dan bayu dari darat dan laut yg melibatkan pasukan yg besar. Glumpang dua, blang panyang (nisam) dan cunda berhasil diduduki oleh ampoen syik syamaun. Protes kembali dilayangkan kpd belanda atas perbuatan ampoen syik syamaun, Belanda memang piawai dalam memainkan perannya di konflik ini. Atas inisiasi residen belanda G.A Scherer, pada tahun 1889 utk menyelesaikan konflik horizontal ini, dibuatlah satu pertemuan besar antar ulee balang di wilayah keujruen peusangan, bertempat di keude amplah nisam yg disebut deklarasi keude amplah. Pihak-pihak ulee balang yg hadir dalam pertemuan tersebut yaitu : T. Muda peusangan maharaja jeumpa dan T. Keujruen Nusyah pulo iboih dari peusangan barat. T. Bintara muda husin dan T. Bentara Muda peureudan dari glumpang dua. Rhi mahmud mewakili blang panyang, nisam sbg tuan rumah dan sawang diwakili oleh panglima prang muda dan Teuku puteh. Sedangkan dari cunda dan meuraksa bayu diwakili oleh Teuku mahmud dan T. Bentara muda chik. Deklarasi ini menghasilkan suatu keputusan bahwa batas demarkasi antara peusangan barat dan peusangan timur adalah Glee mirah poen, Cot Ijue. Tetapi sayangnya perjanjian damai ini gagal, karena pertempuran masih terjadi antara kedua belah pihak. Pd th 1897 kembali dibuat suatu perjanjian damai di lhokseumawe yg di motori oleh Scherer. Kali ini perwakilan Peusangan timur menunjuk Maharaja abdul hamid sbg perwakilannya sedangkan peusangan barat menunjuk T.Raja Itam Geudong sbg perwakilan arbitrasenya, Untuk hakim Arbitrase ditunjuk T. Muda Osoeih (T.Nyak muda yusuf) oelim pidie sbg hakim arbitrase mewakili assisten residen G.A. Scherer. Deklarasi lhokseumawe ini menghasilkan keputusan bahwa batas demarkasi antara peusangan barat dan peusangan timur adalah krueng tingkeum kuta blang. Pd th 1899 wafat karena sakit yg dideritanya, beliau dimakamkan di peusangan selatan. Kemudian posisi beliau sbg uleebalang digantikan oleh adiknya Teuku muda peusangan maharaja jeumpa.

1.4.1.2 TEUKU MOEDA PEUSANGAN MAHARAJA JEUMPA, merupakan salah satu tokoh paling dominan dalam sejarah peusangan. Beliau merupakan putra kedua Teuku chik Muhamad Hasan bekas penguasa keujruen peusangan (1868-1872), juga merupakan adik dari T.Chik Syamaun juga mantan penguasa negeri peusangan yg memerintah dari th 1875 sampai th 1899. Beliau lahir di kemukiman glumpang dua, tak pasti tahun berapa tapi diperkirakan lahir jelang memasuki pertengahan abad ke 19 masehi. Dalam perang peusangan raya (1882 – 1899), teuku muda peusangan memegang peranan penting dalam mengatur serangan, beliau merupakan orang kepercayaan teuku chik syamaun sbg seorang ahli strategi tempur, tak salah beliau mendapatkan gelar panglima perang, dalam menghadapi musuh Musuh nya. Salah satu aksi tempurnya yg sangat fenomenal adalah pd th 1884 memimpin serangan kilat yg dilakukan dari darat dan laut terhadap Negeri Glumpang dua, Cunda dan Nisam. Hanya dalam hitungan Jam, ibukota glumpang dua, kuta panjo jatuh ke tangan peusangan, begitu juga negeri nisam dan cunda. Para pemimpinnya melarikan diri utk menyelamatkan diri, spt Teuku bintara husin dan rhi mahmud melarikan diri ke sawang, sedangkan teuku chik johan cunda melarikan diri ke teluk samawi. Teuku chik syamaun menunjuk saudaranya Teuku muda peusangan sbg penguasa sementara glumpang dua dan Teuku Raja Haji muda sbg penguasa nisam serta teuku chik muda sbg penguasa cunda. Hal ini mendapat protes keras dari kubu peusangan timur dan memaksa belanda utk mendamaikannya. Pd tahun 1889 dibuatlah deklarasi damai yg diprakarsai oleh residen belanda G.A Scherer.Deklarasi damai ini dinamakan Deklarasi keude amplah karena dilakukan bertempat di keude amplah nisam. Dalam deklarasi ini kubu peusangan barat diwakili oleh teuku muda peusangan dan uleebalang cot iboih Teuku keujruen Nusyah. Sedangkan perwakilan peusangan timur diwakili oleh teuku bentara husin dan Bentara muda seutia Pereudan mewakili gloempang dua. Serta sawang diwakili oleh panglima prang muda dan teuku puteh, cunda diwakili oleh teuku mahmud, nisam diwakili oleh rhi mahmud sendiri dan bayu oleh bentara muda cik. Deklarasi damai ini gagal diberlakukan karena salah satu pihak masih melanggar kesepakatan sehingga perang peusangan raya masih terus berlanjut. Pd th 1899 teuku chik syamaun wafat di peusangan selatan. Akibat penyakit yg dideritanya, perang peusangan raya pun berakhir.Kemudian T. Muda peusangan naik tahta menggantikan sbg ulee balang peusangan dgn gelar “TEUKU MAHARAJA JEUMPA” sesuai dgn kesepakatan yg dibuat bersama pihak belanda mengingat putra mahkotanya T. Muhammad Johan Alamsyah masih dibawah Umur. Pd th 1903 perlawanan sultan muhammad daudsyah berakhir dgn menyerahnya beliau di lhokseumawe. Pd th 1905 belanda mulai membentuk pemerintah otonom daerah yg disebut besturder yg dikepalai oleh seorang wedana. Sebelumnya daerah ini disebut onderhoijgeden yaitu kerajaan2x otonom yg masih dibawah kontrol pemerintah belanda. Ada 103 wedana yg dibentuk di bekas wilayah kesultanan aceh. Th 1906 belanda mengangkat Teuku Muda Peusangan Maharaja jeumpa sbg wedana pertama peusangan. Pd Th 1908, Teuku Muhammd Johan Alamsyah menamatkan pendidikan di Normal School kutaraja, sesuai dgn kesepakatan yg dibuat waktu itu, T.Muhammad Johan Alamsyah menggantikan pamannya sebagai wedana peusangan. Selanjutnya Teuku muda peusangan hanya memegang kendali sbg ulee balang cut (peutuha)jeumpa bireuen. Pd tahun 1915 beliau wafat dan dimakamkan di cot glee, keude matang berdekatan dgn kampus al muslim, peusangan bireuen dan Keturunan Dari T. Nyak Muda Yusuf  Menurut  Silsilah Kebawah Dari  (Tu Poraja Chik Yamani Pasee) / T. Chik Ahmad Idris Habasi  (Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu) /    Praja Badarudin Syah (Ja Kata / Meurah Syah) / Panglima Prang (Praja Ponyak Bujang Diajad / Tu Najid) / T. Bentara Kuanta (T.Chik Nyak Krueng) / T. Chik Muhammad Hasan / T. Muda Peusangan (T.Nyak Muda Yusuf Maharaja Jeumpa) / T. Muda Dalam Syah (Panglima Mahmud) / T. Nyak Banta Muda / T. Muhammad Yusuf / T. Daud Yusuf / T. Salman Alfaris / Asysyarif T. Alwan Thufail Almudasyi. Keturunan Dari T. Muda Dalam Syah Kebanyakan Bermukim Di Desa Lueng Sa Kecamatan Madat Kabupaten Aceh Timur  hingga Sekarang.

1.4.2.3 TEUKU BENTARA BLANG (TEUKU KEUJRUEN GOK), merupakan putra bungsu dari ulee balang glumpang dua Teuku Bentara Mahmud Kuta Panjoe. Beliau merupakan kepala pemerintahan kemukiman sawang sebelum sawang resmi mendapat sarakata dari sultan aceh. Teuku Bentara Blang menikah dengan seorang wanita di buloeh beureugang di wilayah kemukiman cunda. Beliau wafat pd th 1882 setelah terjadi perebutan kekuasaan tahta sawang dgn keponakannya sendiri Teuku Panglima Nyak Ben (Pang Benseh).D. KETURUNAN KEEMPAT (IV) :
1.3.1.1.1 TEUKU RAJA MA’ ALI (TEUKU RAJA MUHAMMAD ALI), merupakan putra tertua Teuku Rhi Mahmud Nisam. Lahir di keude amplah, nisam. Pd th 1884 di saat berkecamuknya perang peusangan raya. Beliau menggantikan ayahnya sebagai ulee balang nisam. Kemudian pd th 1900 diangkat sebagai zelfbesturder pertama nisam, pernah menjabat sbg kepala lansekap sementara wilayah puentuet pd th 1911. Pd th 1912 posisi beliau sbg zelbesturder nisam digantikan oleh adiknya Teuku Bujang Salim.

1.3.1.1.2 TEUKU BUJANG SALIM, merupakan putra dari Teuku Rhi Mahmud Nisam dari istri keduanya, lahir di keude amplah, Nisam pada tahun 1891. Pada saat itu bandar kuala bangka (kuala geukueh) merupakan salah satu pelabuhan yg ramai di wilayah keujruen peusangan. Seluruh hasil bumi dari negeri nisam di pasarkan melalui pelabuhan ini. Bandar kuala bangka (krueng geukueh) ini juga menjadi sebagai pusat pemerintahan zelfbesturder nisam. Sedangkan nama Dewantara adalah nama yang muncul belakangan pada tahun 1950 setelah ditetapkan pemerintahan kecamatan, yang menurut info dari Masyarakat setempat ada hubungannya dengan Ki Hajar Dewantara, Tokoh Pejuang asal Yogyakarta yang bergerak dibidang Pendidikan yang notabenanya sama dengan Teuku Bujang Salim, Krueng Geukueh saat ini adalah Ibukota Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.
Pada Tahun 1901 saat beliau berumur 10 Tahun, beliau diambil oleh Belanda dan disekolahkan di “Sekolah Raja” (Kweekschool) di Bukittinggi,Teuku Bujang bersekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School) sekolah dasarnya belanda dengan lama studi sekitar 7 tahun, lalu melanjutkan ke MULO Sekolah lanjutan tingkat pertama singkatan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs dengan tingkatan yang sama dengan SLTP sekarang, selama 3 tahun dan melanjutkan lagi pada sekolah kweekschool atau sekolah guru di zaman belanda sama seperti SPG yang kita kenal di Indonesia yang akhirnya ditutup.
Setelah menempuh pendidikan selama 10 Tahun di Padang, Teuku Bujang dikembalikan kepada orang tuanya Teuku Rhi Mahmud di Keude Amplah – Nisam dan pd th 1911 diangkat oleh Belanda menjadi Zelfbestuurder Negeri Nisam menggantikan abangnya Teuku Raja Ma’ Ali.
Dan dalam masa itu pula beliau menikah dengan Cut Bayu..yang menurut Cut Babujanja adalah anak seorang Teungku Imum Tambon Tunong yang tidak jelas siapa namanya, dan dari Cut Bayu ini, Teuku Bujang mempunyai satu anak yang bernama Babuyu atau kemudian dikenal dengan sebutan Hj. Cut Babuyujang* (mungkin kita merasa aneh dengan nama-nama anak dari Teuku Bujang, menurut Cut Bababuyu anak kelima beliau yang menjadi nara sumber dari tuisan ini), Teuku Bujang memberikan nama anaknya dari kumpulan huruf namanya dan nama isterinya yang dicampur aduk menjadi kata-kata, seperti nama Hj Cut Babuyu dan Cut Babujanja dan nama-nama lain yang akan ditemukan dalam tulisan ini.

1.3.1.1.3 TEUKU BANTA LUTHAN, merupakan putra dari ulee balang nisam Teuku Rhi Mahmud, lahir di keude amplah nisam pd th 1897. Beliau menggantikan posisi abgnya Teuku Bujang Salim yg dipecat oleh pemerintah belanda sbg zelfbesturder pd th 1925 dan berakhir sejak pemerintah belanda digantikan oleh penjajahan jepang pd th 1942. Tdk jelas nasib beliau apakah juga menjadi korban revolusi sosial pd th 1946 atau tidak.

1.4.1.1.1 TEUKU CHIK MUHAMMAD JOHAN ALAMSYAH, lahir pd th 1890 di peusangan barat, merupakan putra semata wayang dari Teuku Chik Syamaun. Sebelum Teuku Chik Syamaun wafat pd th 1899, beliau telah mewasiyatkan putranya Teuku chik johan alamsyah di hadapana assisten residen belanda di lhokseumawe kapten G.A Scherer disaksikan oleh teuku muda peusangan maharaja jeumpa sebagai walinya, bahwa kelak putranya jika telah cukup umur akan menggantikannya sebagai ulee balang peusangan, sedangkan jabatan ulee balang peusangan sementara dijabat oleh walinya yaitu Teuku muda peusangan maharaja jeumpa. Sesuai dgn perjanjian, pada Tahun 1900, beliau diambil oleh Belanda dan disekolahkan di “Sekolah belanda'” (Kweekschool) di kutaraja,
Teuku Chik Johan Alamsyah menamatkan pendidikan di HIS (Hollandsch Inlandsch School) sekolah dasarnya belanda dengan lama studi sekitar 7 tahun, lalu melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) . Sekolah lanjutan tingkat pertama dengan tingkatan yang sama dengan SLTP sekarang, selama 3 tahun dan melanjutkan lagi pada sekolah Normal School setingkat SMA sekarang. Pd th 1908 Teuku Muhammad Johan Alamsyah diangkat menjadi zelfbesturder peusangan setelah beliau lulus dari Normaal scholl di kuta raja. Beliau menggantikan pamannya Teuku Moeda Peusangan Maharaja Jeumpa. Kemudian pd th 1938 bersama adiknya Teuku bustamam mendirikan sebuah lembaga pendidikan islam Al Muslim bersama tokoh2x lain spt : Tgk Hasan Ibrahim awee geutah, Tgk Izzuddin AB Neuheun, Tgk Habib Mahmud Meunasah Meucap, Tgk Abd Rahman Meunasah Meucap, Tgk H. Mahyeddin Uteun Gathom, Tgk H. M. Amin Bugak, Tgk M. Amin Meunasah barat, Tgk M. Abbas Bardan jangka, Tgk M. Abed Idham pante ara, Tgk Usman Aziz lhoksukon, Tgk Ibrahim Zen Meunasah dayah, Teuku Peutua Syah Bugak, Tgk Usman Basyah leubue, Teuku Hasan cut jeumpa bireuen, Teuku M. Ali Leubue, dan Teuku H.M Ali Blang Asan. Lembaga pendidikan Al Muslim merupakan cikal bakal berdirinya Universitas Al Muslim, Bireuen. Setahun kemudian ditempat yg sama tepatnya th 1939 bersama Tgk Daod Bereueh dan Tgk Abd Rahman Meunasah Meucap Glp Dua, yg juga menjabat sbg ketua lembaga pendidikan Islam Al Muslim mendeklarasikan terbentuknya PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) di matang geuleumpang dua. Beliau wafat pd th 1957 dan dimakamkan di sekitar padang bulan, medan.

Sejarah Terbentuknya Gampong Beringen

SEJARAH TERBENTUKNYA GAMPOENG BERINGEN DI KEC. SAMUDRA GEUDONG.
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)
Gampoeng Beringen (Beringin) merupakan suatu wilayah di kawasan Aceh Utara dimana terletak makam kompleks raja2x Samudera Pasai dari dinasty Malik As Shalih. Asal mula wilayah diberi nama Gampoeng Beringen karena dahulu disekitar kompleks Makam Malikussaleh banyak tumbuh pohon Beringin Raksasa sehingga pd masa itu menimbulkan kesan angker dan seram disekitar makam tsb. Pd th 1912 ketika datang tim Ekspedisi Arkeologi Belanda ke Samudera Pasai yg dipimpin oleh William Frederic Stammenhause seorang kepala Dinas Arkeologi dan Purbakala Hindia Belanda maka komplek pemakaman Malikussaleh mulai dibersihkan. Untuk menghilangkan kesan seram dan angker pd makam tsb, atas perintah Stammenhause sebagian pohon beringin raksasa tsb mulai ditebang dan ditata rapi.
Secara Geografis Gampoeng Beringen tak jauh letaknya dgn Kuta Krueng Blang Me, kedua wilayah ini hanya dipisahkan oleh Kuala Pasee. Kalau Kuta Krueng didirikan oleh Tu Poraja Chik Yamani Pasee pd th 1524, Gampoeng Beringen didirikan oleh Geuchik Tuan Beringen yg merupakan Geuchik Pertama Gampoeng Beringen. Beliau merupakan putra dari Tgk Raja Malem Atau Hakim Poraja Wan di Krueng Pasee Tanjung Pala Kuta Krueng bin Maharaja Fassangan Meurah Syah (Ja Kuta) bin Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu (Tgk Chik Ahmad Idris) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee (Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani). Keuchik Tuan Beringen juga merupakan adik kandung dari Penghulu Siddek (Pangulee Sidee) Meureudue.
Bandingkan kondisi makam Sultan Malikussaleh saat itu th 1912 yg masih utuh. Jika dianalisis berdasarkan photo ini, diperkirakan ketinggian badan makam tsb lebih dari 2 M. Dgn kondisi makam saat ini yang hanya tinggal puncak nisannya saja sehingga perlu dilakukan ekskavasi kembali oleh tim arkeologi utk dikembalikan kpd kondisi normalnya.
Mengingat kompleks makam Malikussaleh terletak dalam wilayah administratif Gampoeng Beringen dan bahkan pd th 2021 telah diresmikan Museum Malikussaleh di wilayah tersebut oleh pemerintah pusat selayaknya juga Gampoeng Beringen Kec. Samudera mendapat perhatian yg lebih dari pemerintah setempat demi menyongsong akan ditetapkannya Komplek Makam Malikussaleh ini sbg Warisan Cagar Budaya Dunia oleh badan PBB UNESCO. (Photo, Arkeolog Belanda William Federic Stammenhause sedang berpose disamping makam Sultan Malikussaleh di bawah pohon beringin yg sdh ditebang pucuknya, lokasi Gp. Beringen Geudong, th 1912, koleksi Rikjmuseum Leiden), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Langkoeta, Meunasah Barat, Keujreuen Meusyi, Glp Doewa, Peusangan Raya)

SilSilah Kenegerian Pasai Dari Arakata Peusangan Jeumpa

ARAKATA DAN SILSILAH KENEGERIAN PASAI : MENGUAK TABIR SOSOK MENTROE SINGAHRAJA PIDIE SI PEMEGANG CAP GEULANTEU (CAP KILAT) SULTAN ACEH
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Perang Barat Seutya Glp. Doewa)
Nama tokoh ini hampir saja luput dari perhatian penulis karena hanya sekali di sebutkan dalam Arakata Pasee sanat 1243 Hijriah. Beliau bergelar Mentroe Singahraja Pidie, dalam arakata pasee ditulis dgn karakter huruf melayu jawi. Boleh juga ditafsirkan dengan “Singgahraja” atau “Singaraja” ke dalam bahasa indonesia tetapi org tua kita dahulu menyebutnya dgn Mentroe Singaraja (Menteri Singaraja). Siapakah tokoh ini yg disebutkan dalam arakata pasee..? Mentroe Singaraja Pidie merupakan ayah dari Teuku Mentroe Banggalang Pidie, wazir dari Sultan Alaiddin Ibrahim MansyurSyah (1856- 1870) juga merupakan kakek dari Teuku Laksamana Sawang penguasa negeri Sawang dan Teuku Butoeng Banggalang penguasa negeri Butoeng.
Mentroe Singaraja jalur nasabnya bersambung ke Pocut Ratna Wangsa binti Sultan Alaiddin RiayatSyah Saidil Mukammil, ibunya Sultan Iskandar Muda. Jadi Mentroe Singaraja merupakan wali karoeng dari Sultan Iskandar Muda. Kaum Mentroe Singaraja mempunyai “hak Istimewa kerajaan” yaitu sebagai pemegang Cap Geulanteu (Cap Kilat) sama seperti hak yg dimiliki oleh kawoem Panglima Polem keturunan Sultan Iskandar Muda dan Istri Selirnya Putroe Syarifah Habsyiah dari negeri Habsyi. Salah satu hak Istimewa yg dimiliki oleh pemegang Cap Geulanteu adalah keturunannya tdk berhak memilih dan dipilih menjadi Sultan Aceh tetapi merekalah yg akan melantik Sultan Aceh, artinya tanpa dilantik oleh Mentroe Singaraja Pidie dan kawom Panglima Polem, Sultan tdk punya legitimasi duduk sebagai Sultan Aceh. Bahkan sekalipun bisa menurunkan Sultan dari tampuk kekuasaannya apabila melanggar qanun negeri.
Berikut terjemahannya ke dalam bahasa melayu bercampur bahasa aceh.
Ini cucu
Inilah nyak cut bintan
Ini cit
Inilah nyak cut husein
Hijrah nabi sallallahu’alaihi wasallam sanat 1243 hijriah.
Poraja Syhik Yaman anak raja Yaman insya Allah ta’ala
Inilah alamat dari Poraja Syhik Yaman sampai kepada anaknya Poraja Bintan Hulu sampai Teuku Bujang Puteh sampai kepada Cut Hakim Farhamah hingga sampai kepada anak cucunya lalu sampai kepada Tengku Meurah hingga sampai tinggal pada cucunya Tengku Haji Meuraksa atau haji Cut Husein inilah yang ambil salin pada surat zaman peninggalan datuk insya Allah ta’ala.
Adapun Tengku Meuraksa na anak Tengku Abdullah, abdullah na anak Syaikhuna Dalam Poyang atau Tengku Abdussalam inilah Tengku Meurah atau Tengku Hakim Farhamah yang memegang kampong Kayee Adang, jua adanya Tengku Hakim ini anak Bujang Puteh, Tengku Bujang Puteh anak Poraja Syhik Muluk, Poraja Syhik Muluk anak Poraja Syhik Yaman, jua adanya insya Allah ta’ala Poraja Syhik Yaman ini Sultan Yaman jua adanya.
Poraja Syhik Muluk isteri nya 4 orang anaknya 44 orang, satu istri dua anaknya satu jadi akan makanya turun ke air bermudaka kehulu sungai yg lagi bernama miang (tamiang) ada ajin yang bini puteri hijau adapun kemudian satu isteri 9 anaknya dan satu isteri 12 anaknya dan satu isteri 21 anaknya dengan karunia Allah atas Poraja Syhik Muluk ini 44 anaknya masing qadar nya langkah dan rezeki dan pertemuan dan maut. Dengan ini karunia Allah jua masing2 dengan doa ibu dan bapa dengan apuah Poetemeurhom. Jadi raja tujuh dari anaknya. Inilah asal hulu balang mukim tujuh. Dan berlayar ke negeri barat 4 orang satu jadi akan aulia yaitu Tengku Datuk Tapak Tuan, 1 di negeri Daya, 1 di negeri Malaboh Haji (Labuhan Haji) dan satu di negeri Susoeh. 3 orang Poetemeurhom sudah duduk di negeri Tamiang serta poetemeuhom memberi hak dan kebesaran. 1 jadi akan keujruen, 1 jadi akan hakim, 1 jadi akan tandil insya Allah ta’ala. Orang tiga inilah asal mukim negeri Tamiang. dan lagi di Pasi (Pasee) dan Teluk Samawi 4 orang, satu ja na yaitu di Blang Mangat (Puenteut) anaknya dua, 1 laki 1 bini, dan yang duduk di Samakurok Ja Janah dan Ja Tu Seubah di Bayu (Meuraksa) anaknya dua, satu Ja Sangit 2. Ja Tu Madinah (Ja Fakeh) dan Ja Sangit anaknya satu Tu Puenti (Teupin Puenti) dan Ja Intan duduk di Mulieng (Sp. Mueling), anaknya tuan yang kedua (Ja Fakeh) di pidie daerah kuala Ie Leubue insya Allah ta’ala atas anak Poraja Syhik Muluk jadi akan raja 12 orang, jadi akan menteri 5 orang, jadi akan panglima 3 orang jadi akan imam 14 orang, jadi akan bujang 7 orang, dan pulang berlayar ke negeri Yaman 2 orang Abdurrahman dan ‘Ali Akbar yang berlayar dengan do’a ibu dan bapanya, Allah Allahiya saudara jangan berlebih sebagai datuk nenek2x, ini wali dan keluarga jangan lupa jika berlebih nenek potong tameh (tiang) ingat jadi terbalik kebawah seruan datuk nenek. insya Allah ta’ala yang keluar dari Poraja Syhik Muluk dan Poraja Syhik Yaman 44 orang jadi akan wali nikah jua insya Allah ta’ala. Mula2 yang di negeri Aceh ini adalah Syaikhuna Tengku Dalam Poyang dan Tengku Imum Lampaya dan Tengku Imum Sikrak dan Tengku Silang dan Tengku Meuraksa atau Cut Husin dan Tengku Imum Jentaha dan Tengku Imum Lamba’it dan Tengku Imum Jeumpah (jeumpa peusangan) dan Tengku Imum Lamteuba. Dinegeri Pidie mula2x Tengku yaitu Tengku Waladu yang bernama Syaikhuna Abdussalam dan Tengku Imum Paloh mukim tujuh dan Menteri Singahraja dan keujruen tiruesieb (Truseib Tiro) dan Tengku Imum Giging (Keumangan) inilah yang di Pidie anak Poraja Syhik Muluk, dan di Merdue Keujruen Ulim dan yang di negeri Pasi (Pasee) mula2x Ja Najit, 2.. Ja Janah 3. Ja Tu Seubah, 4. Ja Intan dan Keujruen Meusyi (Meusee Peusangan) peut walinya sebelas orang tembusan Tengku Meuraksa Cut Husin, dan yang asal di negeri Gayo raja Lingga keujruen Tamiang dan Tengku Syhik Paloh Tunong Teluk Samawi sudahlah sebelah timur. Sebelah barat mula2x Datuk Malaboh Haji, 2. Datuk Susoeh, 3. Datok Meulala (Keujruen Meulala) negeri Daya dan Syaikhuna Tengku Lhok Tapak Tuan keluar dari orang 44 jua adanya insya Allah ta’ala walhamdulillahi rabbil ‘alamin wala haula wala quwata illa billahil ‘aliyil ‘adhim…. (Bersambung).
Demikianlah dari sedikit analisis mengenai sejarah. Aceh, semoga bisa menjadi iktibar. (Photo
Arakata Pasee sanat 1243 H, koleksi pribadi).

Asal Usul Hubungan Sultan Alaiddin Riayatsyah Dengan Kenegerian Pasai

ASAL USUL SULTAN ALAIDDIN RIAYATSYAH SAYYID AL MUKAMMIL (1596-1604) DAN HUBUNGANNYA DENGAN KENEGERIAN. PASAI.
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)
Sebelum saya mulai tulisan ini, izinkan saya mengutip sebuah Hadist Rasulullah yg diriwayatkan oleh Imam Ahmad Hambal tentang negeri Yaman yg berbunyi :
“Penduduk negeri Yaman telah datang kepada kalian. Mereka adalah orang yang paling lembut hatinya. Iman itu ada pada Yamani, Fiqih ada pada Yamani, dan hikmah ada pada Yamani.” (HR. Imam Ahmad Hambal).
Terlepas apakah hadist itu shahih atau dhaif yg jelas mereka orang2x Yaman Arab Hadrami telah berkontribusi menyebarkan agama islam di Nusantara dan Asia Tenggara khususnya Semenanjung Melayu.
Sultan Aceh Darussalam Sultan Alaiddin Riayat Syah Sayyid Al Mukammil (1596-1604) merupakan cucu dari saudara ayahnya Sultan Ali Mughayat Syah (Tgk Chiek Sherla) yaitu Raja Syamsu Syah di Lamuri, Aceh Rayeuk.
Berdasarkan Manuskrip Hikayat Raja Aceh, Sultan Alaiddin RiayatSyah Sayyid Al Mukammil yg mulai memerintah th 996 Hijriah, mempunyai 6 org anak, diantaranya 2 org putri dan 4 org putra yaitu :
1. Pocut Ratna Indra Bangsa, ibunda dari Sultan Iskandar Muda.
2. Pocut Raja Putroe, yg disebut dalam Hikayat Malem Dagang dgn “Kawoem Karoeng XII Iskandar Muda”.
3. Raja Muda Aceh Sultan Ali RiayatSyah (1604-1607)
4. Raja Muda Pedir Sultan HusinSyah
5. Raja Muda Pariaman Abang Ta MuzaffarSyah (Sultan FirmanSyah)
6. Maharaja Al Diraja (Raja Muda Perak, Kedah Malaya atau Raja Muda Aru Raja Abdullah yg gugur di Bukit China Malaka Sao Francisco pd th 1597 ketika melawan armada portugis di Malaka ).
Pocut Raja Putroe, putri kedua dari Sultan Alaiddin RiayatSyah Sayyid Al Mukammil yg menurunkan “Kawoem Karoeng XII Iskandar Muda” pemegang Cap Geulanteu (stempel kilat) yg dipegang oleh Mentroe Singa Raja Pidie dan keturunannya termasuk disini Mentroe Banggalang dan Mentroe Adan Pidie. Kawoem Karoeng XII mempunyai Hak Istimewa dalam struktur pemerintahan kerajaan Aceh Darussalam, diantaranya keturunan ini tdk punya hak memilih dan dipilih sbg Sultan akan tetapi merekalah yg akan melantik Sultan Aceh yg terpilih dan juga berhak memakzulkan Sultan Aceh apabila melanggar kanun negeri Aceh. Hak istimewa ini juga melekat pada Kawoem Panglima Polem Iskandar Muda.
Hubungan antara Kenegerian Pasai dan Kesultanan Aceh Darussalam sangatlah erat, hal ini bisa di lihat di Manuskrip Arakata Pasee sanah 1243 H, pada mukadimah Arakata Pasee di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam waladu) bin Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu (Tgk Chiek Ahmad Idris) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee (Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani). Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu, merupakan salah seorang tuha peut di Keujruen Kandang Cunda. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah menjadi Sultan Aceh. Dalam mukadimah arakata ini dijelaskan siapa sosok tokoh Tu Poraja Chik Yamani Pasee (Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani).
Berikut petikannya yg telah dikonversikan ke dalam huruf latin :
“Inilah alamat Raja Aceh Sultan Pocut Husin (Sayyid Al Mukammil) turun dari Tengku Meurah (Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu) turun dari Sultan Yaman yakni Sultan Asta Sanah 827 H”.
(Photo Arakata Pasee Sanad 1243 H), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Langkoeta, Meunasah Barat, Keujruen Meusyi, Glp Doewa, Peusangan Raya)

Asal Mula Raja Raja Gayo dan Lingge, Tamiang Dan Hubungan Dengan Kesultanan Samudra Pasai

ASAL MULA RAJA GAYOE LINGGE KEUJRUEN TAMIANG DAN HUBUNGANNYA DGN KESULTANAN SAMUDERA PASAI
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)
Dari Hikayat Raja-Raja Pasai disebutkan Meurah Siloe merupakan cucu dari raja negeri Rimba Balek (Sp. Balek, Bener Meriah) yaitu Raja Ahmad, anak dari Meurah Gajah. Beliau mempunyai seorang abg kandung yg bernama Meurah Soem yg menjadi raja di negeri Jeumpa (Bireuen). Kemudian Meurah Siloe menjadi raja di negeri Pasai dan setelah memeluk agama islam menjadi Sultan Malik Al Shalih. Negeri pertama yg ditaklukkan oleh Sultan Malik Al Shalih adalah negeri Perlak dgn cara meminang putri raja Perlak yg bernama Putri Ganggang Sari sbg permaisurinya. Selanjut Sultan Malik Al Shalih menaklukkan negeri pedir sehingga Raja Nagur Pedir tewas dalam peperangan ini. Sejak munculnya Kesultanan Aceh Darussalam yg didirikan oleh Tgk Chiek Sherla (Sultan Ali Mughayatsyah), satu per satu wilayah kerajaan Samudera Pasai jatuh ke tangan Tgk Chiek Sherla.
Selain berhadapan dgn pasukan Kesultanan Aceh Darussalam di darat, di lautpun kerajaan Samudera Pasai harus berhadapan dgn armada laut Portugis yg berkeliaran di Selat Malaka. Hal ini membuat kerajaan Samudera Pasai semakin lemah kekuatannya dan akhirnya jatuh dan takluk kpd Kesultanan Aceh Darussalam. Di masa pemerintahan Kenegerian Pasai (1524-1873) hubungan antara negeri Pasai dan Lingge Gayoe masih sangat baik hal ini terlihat dari diangkatnya cucu Tu Poraja Chiek Yamani Pasee yaitu Meurah Al Qusyaqsi atau Syech Maulana Ishak sbg Raja Lingge dari sinilah gelar “Empun (Ampon) dan Engku (Tengku)” di Lingge Gayoe berasal.
Hal ini bisa di lihat di Manuskrip Arakata Pasee sanah 1243 H, pada mukadimah Arakata Pasee di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam waladu) bin Tu Poraja Chik Malik (Tu Poraja Chik Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu, merupakan salah seorang tuha peut di Keujruen Kandang Cunda. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah menjadi Sultan Aceh. Dalam mukadimah arakata ini dijelaskan siapa sosok tokoh Tu Poraja Chik Yamani Pasee.
“Asal raja Gayoe Lingge Keujruen Tamiyang turun dari Sultan Muluk dari Sultan Yaman dari tuan Jainal Abidin (Sultan Zainal Abidin IV) anaknya almarhum Sultan Jenal Abidin (Sultan Zainal Abidin III Ra Ubabdar) istrinya Putri Beutong anak Raja Ibrahim (adik Sultan Ali Mughayatsyah), anaknya (2), Sulaiman dan(i) Sultan Lingge Sri Budjaya dibunuh Chiek Sherla (Sultan Ali Mughayatsyah), kuburannya dilindungi oleh gajah (di Jungka Gajah, Meurah Mulia), Sanah 907 H”. (Photo Arakata Pasee Sanad 1243 H), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Langkoeta, Meunasah Barat, Keujruen Meusyi, Glp Doewa, Peusangan Raya)

Siapa Sosok Tokoh Tgk Chik Awe Geutah

MENGUAK TABIR SOSOK TOKOH TGK. CHIK AWE GEUTAH, PEUSANGAN SELATAN.
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)
Asal nama Awe Geutah merupakan nama sebuah dusun yg terletak di Gp. Lueng Danuen, dimana letak makamnya tepat berseberangan dgn Mesjid Raya kemukiman Siblah Krueng, Kec. Peusangan Selatan, Bireuen. Di dusun inilah terdapat makam seorang tokoh ulama yg dipanggil dengan Tgk Chiek Awe Geutah. Beliau hidup semasa dgn Tgk Chik Lambaet (Tgk Malem Puteh) yg makamnya juga terletak di Peusangan Selatan. Selain hidup sejaman dgn Tgk Chik Lambaet, beliau juga hidup semasa dgn Habib Bugak Al Habsyie (Habib Abdurahman bin Alwi Al Habsyie), Tgk Imuem Jeumpa (Bireuen) dan Tgk Imuem Lampaya Tgk H. Syech Rawa Al Malabari (Paya Nie, Kuta Blang).
Banyak ahli sejarah Aceh yg menduga bahwa Habib Bugak Al Habsyie adalah Tgk Chik Awe Geutah atau sebaliknya padahal itu adalah dua org tokoh yg berbeda dgn nama yg sama.
Nama Tgk Chiek Awe Geutah menjadi terkenal sejak th 1996, ketika itu tanpa disengaja seseorang yg sedang sakit berziarah ke makam tsb dan tanpa sengaja meminum air sumur yg terdapat didekat makam Tgk Chiek Awe Geutah kemudian sembuh secara tiba2x. Sejak saat itu berita kesembuhan itu menyebar dari mulut ke mulut dan menjadi viral pd saat itu. Maka berduyun-duyunlah masyarakat dari seluruh penjuru Aceh bahkan sampai ke Medan datang ke Lueng Danuen, Siblah Krueng Peusangan Selatan dgn menenteng jerigen air utk mendapatkan berkah dari air sumur tsb. Dari kejadian itu berkembanglah cerita mitos yg tak dapat diklarifikasi kebenaran mengenai sejarah Tgk Chik Awe Geutah. Siapakah sebenarnya Tgk Chiek Awe Geutah…?
Beliau merupakan kemenakan dari Tgk Imuem Lambada (Aceh Rayeuk). Tgk Chik Awe Geutah sendiri bernama Abdurrahhman bin Panglima Muda Puteh bin Tgk Kuta Krueng (Samalanga) bin Tgk Geulanggang (Gp. Geulanggang, Jangka Bireuen) bin Tu Meuntroe bin Ba’adi Po Bawarik (Samalanga) bin Ja Ghali Siwah (Buloeh Blang Ara) bin Datuk Nabib Andarul Fathir Syamsul Alam (Keujruen Kandang Pasee) bin Tu Poraja Chik Malik (Tu Poraja Chik Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee (Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani).
Dari bentuk nisannya bisa dilihat makamnya yg bertypologi keluaran abad 18 masehi, pada umumnya nisan bertypologi ini dibuat dgn sangat sederhana dan tanpa nama atau tahun wafat (makam anonim) dan bukan makam yg digolongkan berkategori kuno spt makam2x raja Samudera Pasai.
Hal ini bisa di lihat di Manuskrip Arakata Pasee sanah 1243 H, pada mukadimah Arakata Pasee di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam waladu) bin Tu Poraja Chik Malik (Tu Poraja Chik Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu, merupakan salah seorang tuha peut di Keujruen Kandang Cunda. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah menjadi Sultan Aceh. Dalam mukadimah arakata ini dijelaskan siapa sosok tokoh Tu Poraja Chik Yamani Pasee.
Ba’adi Po Bawarik Samalanga merupakan putra dari Ja Ghali Siwah Buloeh Blang Ara bin Datok Nabib Andarul Fathir Syamsul Alam Keujruen Kandang Pasee bin Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu (Tgk Chik Ahmad Idris bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee (Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani) penguasa kenegerian Pasai.
Berikut kutipannya manuskripnya yg telah di konversi ke dalam huruf latin :
“Ba’adi Po Bawarik (Samalanga) anaknya Tu Mentroe anaknya Tgk Geulanggang (Gp. Geulanggang Bireuen) anaknya Tgk Kuta Krueng (Samalanga) anaknya (2) pertama Panglima Muda Puteh anaknya Abdul Rahman. Dua Tgk Imuem Lambada (Aceh Rayeuk) Anaknya Pertama Panglima Perang Ahmad, Dua Tgk Beumuda anaknya Tgk Ishak Kuta Batee (Sawang)”. (Photo Arakata Pasee Sanad 1243 H), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Langkoeta, Meunasah Barat, Keujreuen Meusyi, Glp Doewa, Peusangan Raya)

Asal Mula Keujreun Uliem Meureudu

ASAL MULA KEUJRUEN ULIEM MEUREUDU, PIDIE JAYA
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)
Banyak orang menyangka, negeri Meureudue itu dahulunya bagian dari wilayah dari negeri Pedir tetapi sejatinya tidaklah demikian. Negeri Meureudue di masukkan ke wilayah Kab. Pidie pada terbentuknya pemerintahan RI th 1956 sejak era perdana menteri RI Ir. H. Juanda. Apalagi sejak era reformasi, wilayah ini menjadi sebuah kabupaten baru yg bernama Pidie Jaya. Benarkah Meureudue itu adalah bekas wilayah negeri Pedir…? Saya akan menjawab pertanyaan tsb berdasarkan fakta sejarah yg ada.
Dahulu wilayah negeri Meureudue wilayah merdeka yg mempunyai pemerintahan tersendiri yg sangat unik. Pada masa Sultan Iskandar Muda berkuasa (1607-1636), negeri ini disebut sbg “Negeri Para Auliya” atau disebut juga “Negeri Bertuah” karena dipimpin oleh seorang Ulama Besar yg bergelar “Kuja” bernama Ja Fakih Madinah seorang Auliya pd masa itu. Beliau merupakan putra bungsu dari Tu Poraja Chik Merdue bin Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu (Tgk Chik Ahmad Idris) bin Tu Poraja Chik Yamani Pase (Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani). Ja Fakih Madinah adalah satu2x tokoh yg berani menentang dan menghardik dgn keras bahkan mengusir Sultan Iskandar Muda dari negeri Meureudue jika sultan masih bergeming dgn nafsu amarahnya, cerita ini diambil dari Hikayat Malem Dagang karya Tgk Ismail bin Yakub th 1896.
Berdasarkan Hikayat ini disebutkan pd waktu sultan melakukan muhibah ke pantai timur aceh dalam rangka menyerang negeri Banang Johor. Ketika rombongan sultan meninggalkan negeri Pidie bersama Raja Raden dan Panglima Pidie Maharaja Indra dan tiba di negeri Meureudue. Anehnya tak seorangpun peutuwa negeri menyambut kedatangan beliau spt halnya kedatangan beliau di negeri Pidie yg disambut dgn meriah oleh rakyat Pidie. Selama 7 hari 7 malam sultan hanya melihat kaum ibu dan anak2x, tak seorangpun dari kaum laki2x yg ditemukan, kemanakah gerangan kaum ayah ini. Pada waktu itu sultan tdk mengetahui profesi mereka adalah bertani dan berkebun di hulu Krueng Meureudue bahkan mencari rezeki sampai ke Negeri Daya (Lamno) dan Negeri Meulala (Teunom) dan mereka akan pulang ke Meureudue seminggu sekali sambil membawa hasil kebun dan buruan selama di hutan. Hal ini yg membuat Sultan Iskandar Muda murka kpd rakyat Meureudue karena dianggap tdk lagi menghargainya sbg sultan sebagaimana lazimnya. Pada hari ketujuh barulah rakyat Meureudue turun dari ladang mereka sambil membawa hasil pertaniannya spt keladi, gadung, talas, jagung, singkong, ubi, labu tanah dan hasil buruan spt rusa dan ayam hutan. Mengetahui sultan sudah bersemayan di bawah pohon Keutapang, Simpang Tiga, Meureudue selama 7 hari ciutlah nyali mereka dirudung rasa takut bakal akan mendapat hukuman mati dari sultan. Untuk itu kemudian beberapa peutuwa negeri menghadap Ja Fakih Madinah di tempat persemediannya di meunasah dayah utk meminta pertolongan kepada beliau. Ja Fakih Madinah kemudian menghadap sultan sambil memohon ampun sambil mengangkat tangannya di atas jidat (jaroe di ateuh Jeumala) atas perlakuan rakyatnya thd sultan yg tdk mengetahui kedatangan sultan dikarenakan mereka mencari nafkah dan rezeki sampai ke negeri Daya meninggalkan anak istri di kampung. “Ibarat mantey turun dari rimba” begitulah tamsilan yg dipakai oleh Ja madinah menggambarkan rakyat Meureudue sambil berkata rendah dihadapan sultan bahwa mereka benar2x tdk tahu atas kehadiran sultan. Walaupun telah dijelaskan oleh Ja Madinah, tapi sultan tdk bergeming sedikitpun.
Sejak pagi sampai hari petang baginda diam tiada sabda sepatahpun keluar dari lisannya.
Sakit hati Kuja Pakeh guru yang saleh ulama besar,
Ja Pakeh marah bukan kepalang matanya merah bak biji saga suaranya Menggelegar (Mata Hue Sue Meutaga) sambil berkata kpd sultan “Lemparkan labu dengan keladi, yang tak sudi jangan muliakan, Jangan takut jangan malu balik bersamaku berangkatlah kita. Bila aku sudah balik ke kampung, walau dipuntung tak kusembah raja, Bila aku sudah balik ke negeri, walau digergaji takkan kusembah raja”.
Mendengar tanggapan Ja Madinah yang demikian keras akhirnya sultanpun tersadar akan kekhilafannya. Keduanya akhirnya saling berpelukan dan bertangisan. Sultan kemudian menjelaskan maksud dan tujuannya ke negeri Meureudu dan meminta Ja Madinah dan Panglima Malem Dagang utk mendampinginya selama dalam perjalanannya utk menangkap Raja Si Ujud di negeri Banang Johor. Setelah beberapa hari dinegeri meureudue, rombongan sultan, Raja Raden, Panglima Pidie Maharaja Indra, Ja Fakih Madinah dan Panglima Malem Dagang kemudian melanjutkan perjalanan menuju negeri Samalanga.
Hubungan silahturahmi antara negeri Meureudue dan negeri Pasai sangatlah erat. Tercatat hampir semua ulee balang di wilayah Pasai mendapatkan Cap Sikureueng dari sultan atas rekomendasi Panglima Besar Teuku Cut Muda Latif Meureudu spt Panglima Prang Nyak Yasin Idi, Teuku Muda Ahmad Angkasah, Blang Me Geudong, Teuku Panglima Prang Diadjat Pasee, Peusangan, dsb. Ini mengindikasikan hubungan historis dan kekerabatan kedua negeri ini sangatlah dekat.
Ketika pecah Perang Gureb (Perang dagang biji lada) th 1810 di Idi Rayeuk antara orang2x Pasai di satu pihak melawan org Pidie dan Aceh Rayeuk di pihak lain, ulee balang Mereudue secara terang-terangan membantu ulee balang pasai ketimbang org pidie yg kalau dilihat secara geografis letak negeri Meureudue dan negeri Pidie sangatlah berdekatan, tentu faktor historis dan kekerabatan menjadi jawabannya.
Satu lagi bukti yg menunjukkan bahwa Meureudue mempunyai hubungan yg sangat erat dgn Pasai adalah Arakata Pasee th 1243 H. Pada mukadimah Arakata Pasee di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam Waladu) bin Tu Poraja Chik Malik (Tu Poraja Chik Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu, merupakan salah seorang tuha peut di Keujruen Kandang Cunda. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah menjadi Sultan Aceh. Dalam mukadimah arakata ini dijelaskan siapa sosok tokoh Tu Poraja Chik Yamani Pasee.
Berikut manuskripnya yg telah saya konversikan ke dalam huruf latin :
”Tu Poraja Chik Merdue yaitu Keujruen Uliem turun dari Poraja Chiek Muluk (Tu Poraja Chiek Yamani Pasee)”. (Photo Arakata Pasee Sanad 1243 H), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Langkoeta, Meunasah Barat, Keujreuen Meusyi, Glp Doewa, Peusangan Raya.

Menguak Tabir Sosok Tengku Seumatang

MENGUAK TABIR SOSOK TENGKU SEUMATANG PENGARANG KITAB HIKAYAT AKHBARUL KARIM..?
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)
Secara tdk sengaja saya membaca tulisan Sejarahwan Aceh T.A Sakti di kolom Harian Serambi Indonesia terbitan hari Sabtu, tgl 15 April 2023. Beliau telah berhasil menterjemahkan 40 kitab manuskrip melayu jawi ke dalam bahasa latin salah satunya kitab Hikayat Akhbarul Karim karangan Tgk Seumatang. Bapak T. A Sakti sendiri tdk mengetahui siapa sosok tokoh Tgk Seumatang. Untuk itu perkenankan saya membantu bapak T.A Sakti utk mengungkap siapa sebenarnya tokoh tsb..?
Beliau bernama Tgk Seumatang, adik dari Tengku Al Haji Syaikh keduanya putra dari Abdul Jamal bin Tgk Abdul Salam Waladu (Tgk Bujang Puteh) bin Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu (Tgk Chik Ahmad Idris) bin Tu Poraja Chik Yamani Pase (Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani).
Hal ini bisa di lihat di Manuskrip Arakata Pasee sanah 1243 H, pada mukadimah Arakata Pasee di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam Waladu) bin Tu Poraja Chik Malik (Tu Poraja Chik Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu, merupakan salah seorang tuha peut di Keujruen Kandang Cunda. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah menjadi Sultan Aceh. Dalam mukadimah arakata ini dijelaskan siapa sosok tokoh Tu Poraja Chik Yamani Pasee.
Berikut manuskripnya yg telah saya konversikan ke dalam huruf latin :
‌Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wassalatu wassalamu ‘ala muhammadin nabiyi walmursalin wa’ala alihi wasahbihi ajmain, ama ba’du, inilah sehubungan silsilah datu nenek, yaitu dari Tu Poraja Chik Muluk hingga sampai kepada anaknya empat puluh empat jua hingga sampai kepada Syaikhuna Tengku Abdussalam Waladu, anaknya satu Abdul Jamal, dua Abdul Mukmin, tiga Tengku Chik Di Jalong, ke empat Tuan Al Haji Geudong (Samudera), kelima Teuku Di Mueling Keujruen Poteu Amat (Sp. Mueling), ke enam Johan.
Abdul jamal punya anak 2 orang :
1. Tengku Al Haji Syaikh
2. Tengku Seumatang
Tengku Al Haji Syaikh punya anak yaitu Maad Arun (Blang Jruen).
Maad Arun punya anak yang bernama :
1. Tengku Imuem Faqih
2. Tengku Malim Sulaiman
3. Tengku Imuem Dayah Adam
4. Tengku Imuem Sayyid
5. Tengku Al Khalifah
6. Tengku Malim Ahmad
7. Tengku Ulim (Merdue)
8. Tengku Adid
Tengku Imum Faqih punya anak:
1. Tengku Imuem Beuna
2. Tengku Ghali Geumpang (Pidie)
Tengku Imuem Beuna punya anak :
1. Tengku Imuem Bansu (Mansur), dan seterusnya.
(Photo Arakata Pasee Sanad 1243 H), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Langkoeta, Meunasah Barat, Keujreuen Meusyi, Glp Doewa, Peusangan Raya)

Asal Mula Gelar Bawarik

ASAL MULA GELAR BAWARIK SAMALANGA
(Analisis Sejarah Aceh by Teuku Panglima Prang Barat Seutya Glp. Doewa)
Banyak org menyangka bahwa gelar marga Bawarik Samalanga berasal dari marga Al Habsyi Irak, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Marga Bawarik di Samalanga bukanlah berasal dari marga Al Habsyi Irak tetapi berasal dari Dinasti Yamani Pasee. Hal ini bisa di lihat di Manuskrip Arakata Pasee sanah 1243 H, pada mukadimah Arakata Pasee di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam waladu) bin Tu Poraja Chik Malik (Tu Poraja Chik Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu, merupakan salah seorang tuha peut di Keujruen Kandang Cunda. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah menjadi Sultan Aceh. Dalam mukadimah arakata ini dijelaskan siapa sosok tokoh Tu Poraja Chik Yamani Pasee.
Ba’adi Po Bawarik Samalanga merupakan putra dari Ja Ghali Siwah Buloeh Blang Ara bin Datok Nabib Andarul Fathir Syamsul Alam Keujruen Kandang bin Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu (Tgk Chik Ahmad Idris bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee (Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani) penguasa kenegerian Pasai.
Berikut kutipannya manuskripnya yg telah di konversi ke dalam huruf latin :
“Ba’adi Po Bawarik (Samalanga) anaknya Tu Mentroe anaknya Tgk Geulanggang (Gp. Geulanggang Bireuen) anaknya Tgk Kuta Krueng (Samalanga) anaknya (2) pertama Panglima Muda Puteh anaknya Abdul Rahman. Dua Tgk Imuem Lambada (Aceh Rayeuk) Anaknya Pertama Panglima Perang Ahmad, Dua Tgk Beumuda anaknya Tgk Ishak Kuta Batee (Sawang)”. (Photo Arakata Pasee Sanad 1243 H), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Langkoeta, Meunasah Barat, Keujreuen Meusyi, Glp Doewa, Peusangan Raya)