Di akhir pemerintahan sri ratu safiatuddin tepatnya pd th 1672, beliau menerbitkan sarakata (cap sikuereung) pendirian keujruen peusangan raya dan menunjuk Panglima perang Teuku Diadjat Pasee sbg. Keujruen Syik Peusangan Raya. Tak lama kemudian sri ratu wafat pd th 1675 karena diracun oleh lawan politiknya. Pada sarakata tsb disebutkan bahwa keturunan raja-raja Peusangan terdiri dari 3 jalur nasabnya, yaitu :
Langsung dari negeri Hadramaut Yaman melalui Tu Praja Chiek Yamani cicit Saydina Hasan ra.
Melalui dari jalur marga Al Habsyi, yg berasal dari Abbasiyah Irak.
3.Jalur Persia melalui pangeran Shahriansyah Salman dari kerajaan jeumpa, yg bercampur dgn klan dinasty Abbasiyah, Irak ketiga jalur tersebut bermuara pada Bani Hasyim dan dinasti Mamluk yg mendirikan kekhalifahan islam Maroko di Afrika Utara.
Pada sarakata tsb disebutkan, juga pd th 1182 H (1672/3 M), Panglima Teuku Diadjat Pasee atau PONYAK DJAT mendapat hadiah sarakata (surat pengakuan cap sikureung) dari sultan aceh yg pd masa itu diperintah oleh Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641 – 1675) dgn gelar “Keujruen Chik Peusangan Seutya Radja”.
Ponyak Djat atau Panglima Perang Teuku Diadjad Pasee adalah seorang panglima perang dari negeri pasee yg hijrah ke negeri peusangan dan di angkat jadi keujreun syiek di negeri peusangan raya oleh sultan aceh. Menurut yg tercatat dalam kitab sarakata sultan aceh beliau masih keturunan ahlulbait dari garis sayyidina Hasan ra yg berasal dari keturunan dinasti abbasiyah irak yg hijrah ke negeri pasai pada abad ke 13 Setelah sebelumnya kota 1001 malam ini dibumihanguskan oleh pasukan mongol dibawah pimpinan Hulagu khan (kubilai khan). Beliau juga masih keturunan dinasty raja pasai dari raja pasai terakhir Sultan zain Al Abidin (1513 – 1524).
Batas wilayah kekuasaan Keujruen Peusangan raya disebutkan terbentang dari wilayah timur Kuala Meuraksa Puenteut, Lhokseumawe sampai batas wilayah barat Glee Meunaleung, Cot Geuleungku, krueng pandrah Bireuen dan terbagi dalam 6 pemerintahan kemukiman yaitu :
Kemukiman Jeumpa termasuk dalam wilayah ini adalah wilayah Bireuen, July, peudada (jeunib).
Kemukiman glumpang dua yg termasuk dalam wilayah ini adalah matang glumpang dua, krueng panjo, kuta blang dan geuruegok.
Dataran tinggi kemukiman sawang.
Dataran rendah kemukiman blang panyang yg meliputi nisam, keude bungkaih, krueng geukueh, batuphat dan keude paloh.
Kemukiman cunda, wilayah ini meliputi pekan cunda, buloeh dan kandang.
Kemukiman bayu meuraksa wilayah ini meliputi, meuraksa, keude bayu dan keude puenteut.
Tak banyak yg tahu tentang sejarah berdirinya kota geudong ini sehingga sampai saat ini bisa menjadi sebuah pemerintahan yg berbentuk kecamatan. Sejarah kota geudong sendiri tak terlepas dari peran Tgk Imuem Chik Raja Itam bin Teuku Chik Raja Moely bin Meurah Fattani bin Tgk Meurah Madereih (tu poraja syikh malik bintan hulu bin Tu poraja syikh yamani pasee), penguasa bandar pelabuhan kuala pasee. Menurut Ibnu Batutah, seorang pengembara muslim dari negeri Maghribi, Maroko, dalam catatannya mengatakan bahwa ia sempat mengunjungi Pasai pada 1345 M. Ibnu Batutah yang pernah singgah di kuala Pasai selama 15 hari, menggambarkan Kesultanan Samudera Pasai sebagai “sebuah negeri yang hijau dengan kota pelabuhannya yang besar dan indah”. Dalam catatan perjalanan berjudul “Tuhfat Al-Nazha”, Ibnu Batutah menuturkan, pada masa itu Pasai telah menjelma sebagai pusat studi Islam di Asia Tenggara. Paska runtuhnya kerajaan samudera pasai, pada tahun 1524 kenegerian pasai mulai di perintah oleh Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani atau yg lebih di kenal Tu Praja Chik Yamani, seorang mantan mufti besar kesultanan samudera pasai yg ditunjuk oleh sultan aceh utk memimpin negeri Pasai dgn pusat pemerintahan di Kuta krueng, kuala pasai. Nama kuta krueng sendiri di tabalkan oleh beliau yg diartikan sebagai benteng (kuta) yg terletak di krueng pasee. Paska wafat Tu praja Chik Yamani, pemerintahan di kuta krueng dilanjutkan oleh putranya Tu Praja Chik Madereih (Tgk Chik Ahmad Idris). Pd tahun 1082 H (1671), wilayah kekuasaan kerajaan pasai mulai dibagikan kepada ketiga putranya. Untuk wilayah krueng pasee diberikan kepada putra sulungnya Teuku Raja Fattani, sedangkan untuk wilayah krueng keureutoe diberikan kepada Tok Nabath Indra Patra Syamsul Alam atau Teuku Bahar Amien. Dan utk wilayah krueng Peusangan diberikan kepada putranya yg lain Meurah Syah (Ja Kata). Selanjutnya pd th 1702 pemerintahan di kuta krueng pasee dilanjutkan oleh putra teuku Raja Fattani yaitu Tgk Imuem Chik Raja Moely. Ada hal yg menarik di sejarah ulee balang krueng pasee, sejak sultan aceh dinasti jamallulail (badrul munir syarif hasyim jamalullail) seorang ulama yg berasal dari mekkah naik tahta, beliau membuat kebijakan baru dimana semua ulee balang yg menggunakan gelar “Teuku Raja” harus diganti menggunakan gelar “Tgk Imoem Chik”. Makanya dalam arakata ulee balang Geudong, hampir semua ulee balang menggunakan gelar ini. Paska wafatnya Tgk Imuem Chik Raja Moely, beliau digantikan oleh putranya Tgk Imuem Chiek Raja Itam atau yg lebih di kenal Tgk Chik di Pasie karena beliau masih bermukim di kuta krueng pasee. Teuku Chik Muhammad Djohan Alamsyah atau dikenal sebagai “Ampoen Chiek Peusangan” ( 25 Juni 1890 – 11 Maret 1990) ialah seorang Uleebalang di Nanggroe Peusangan dan merupakan turunan generasi ke- 9 pengungsi imperiurn Abbasiyah yang terdampar di Banda Aceh pada abad ke-13 itu. Beliau keturunan ulee balang dan putra dari pasangan Teuku Chik Syamaun dan Pocut Unggaih. Ayah beliau seorang uleebalang kerajaan Peusangan pada masa itu sedangkan ibunya seorang putri uleebalang di Meureudu.
Kemudian setelah memegang jabatan uleebalang dan menunaikan ibadah haji, cucu Teuku Chik Muhammad Hasan itu diberi nama, Teuku Haji Chik Muhammad Djohan Alamsjah Perkasa Alam. Dalam perjalanan sejarah Aceh abad ke-XX, Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah tampil sebagai salah seorang uleebalang Aceh terkemuka.
Istana Nanggroe Peusangan
Pulo Iboh, tempat kelahiran dan tempat Teuku Muhammad Djohan Alamsjah dibesarkan, adalah juga tempat kediaman resmi uleebalang Peusangan. Pulo Iboh juga disebut kuta uleebalang (istana) nanggroe Peusangan. Desa Iboh juga memegang kunci penting dalam sejarah revolusi sosial Aceh tahun 1945-1946.Menyangkut Iboh ada cerita lainnya. Dari desa inilah orang tua Teungku Amir Husin Al Mujahid berasal. Ketika perang Aceh dengan Belanda sedang mencapai puncaknya dipantai utara Aceh, keluarga orang tua Husin al Mujahid mengungsi ke nanggroe Idi, yang telah menjadi sahabat kerajaan Belanda jauh hari sebelum Perang Aceh–Belanda dimulai. Orang Aceh memberi gelar yang agung untuk Amir Husin al Mujahid, Napoleon Bonaparte Aceh, karena keberhasilannya meruntuhkan dan membantai seluruh uleebalang Aceh hanya dalam waktu beberapa hari saja. Tanpa pernah bertempur guru sekolah dasar madrasah di Idi-Aceh Timur ini, dapat mengecoh Residen Aceh/ Jenderal Mayor TKR/TNI Teuku Njak Arief dan menggiringnya ke kamp tahanan di Takengon. Napoleon Bonaparte Aceh dengan lasykarnya TPR (tentara perjuangan rakyat) dengan ganas membantai seluruh uleebalang Aceh beserta pengikutnya.
Menempuh Pendidikan
Selama 3 tahun Teuku Muhammad Djohan Alamsjah bersama Abdul Karim belajar di sekolah Rakyat Guru Djam di Kutaradja.Guru Muhammad Djam, orang Minangkabau ini sangat profesional dibidangnya. Secara privat kedua anak muda Aceh itu dididik dan diajarinya dengan sabar. Mata pelajaran dasar yang diajarkan terutama matematik, membaca dan menulis huruf Latin, bahasa Melayu, etiket pergaulan masyarakat Belanda, ilmu sejarah dan politik Hindia Belanda.
Kedua anak muda Aceh itu menyambut kesungguhan gurunya. Keduanya belajar dengan giat dan mengambil alih seluruh pengetahuan yang diperolehnya. Gubernur Belanda di Aceh, Jenderal van Heutz sangat puas terhadap kinerja Guru Djam. Untuk mengenang jasa-jasa Guru Muhammad Djam dalam bidang pendidikan, pemerintahan Hindia Belanda di Aceh kemudian hari menamai jalan dimuka sekolah itu, jalan Guru Muhammad Djam.
Teuku Johan Alamsyah dan Jenderal Swart berfoto bersama keluarga pada tahun 1928.
Setelah menjalani masa pendidikan yang dikehandaki Belanda, Teuku Muhammad Djohan Alamsjah serta kawan dan pengawalnya yang setia diantar kembali ke nanggroe Peusangan. Jenderal van Heutz menganggap uleebalang muda Aceh ini sudah cukup berhasil dijinakkannya. Kepada Teuku Muhammad Djohan Alamsjah dipercayakan kembali jabatan uleebalang Peusangan yang dipangkunya sesuai sarakata Sultan Aceh. Dalam pelaksanaan tugasnya uleebalang muda ini dibimbing oleh pamannya, Teuku Djeumpa. Pada hakekatnya pamannya inilah yang bertindak selaku uleebalang nanggroe Peusangan.
Menjadi Uleebalang
Sepeninggalan Teuku Chik Syamaun, Nanggroe Peusangan memasuki era baru di bawah kepemimpinan Teuku Chik Muhammad Johan Alamsyah (dengan panggilan Ampon Chik Peusangan). Ekonomi nanggroe yang krisis karena terpengaruh perang melawan Belanda di masa Teuku Chik Syamaun, menjadi tantangan tersendiri bagi Ampon Chik Peusangan untuk menata kembali ekonomi negerinya.
Ampon Chik Peusangan dikukuhkan sebagai Uleebalang Peusangan oleh Sultan Aceh, Tuanku Muhammad Daud Syah pada usia 10 tahun. Pengukuhan ini dilakukan secara diam-diam di sela kunjungan Sultan Aceh ke Matangglumpang Dua, ibu kota Nanggroe Peusangan. Setelah mendapat berita dari utusan Teuku Chik Syamaun bahwa uleebalang yang sedang berada di hutan sedang mengalami sakit berat, maka dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Ampon Chik langsung dilantik tanpa sepengetahuan Belanda.
Jiwa kepemimpinan dan diplomasi mengalir dalam diri Ampon Chik Peusangan. Pendekatan yang dilakukan berbeda dengan apa yang telah dilakukan orang tuanya. Ia tidak memilih konflik secara frontal dengan Belanda yang justru akan menjadi korban dan menderita adalah rakyatnya sendiri. Ia lebih fokus membangun ekonomi negerinya dan memulai memajukan dunia pendidikan. Di tengah suasana tenang, ia lakukan inisiasi, pemindahan makam orang tuanya, Teuku Chik Syamaun, dari dalam hutan ke Gle Sabe di Matangglumpang Dua. Di samping bukit tersebut terdatang pasar tradisional Matang. Pengangkatan itu dimuat diatas surat resmi Keputusan Kerajaan Aceh. Surat pengangkatan yang disebut “Surat Tjap Sikureung” itu diserahkan langsung kepada Teuku Muhammad Djohan Alamsjah. Pada hal, pada saat pengangkatannya, uleebalang muda itu baru berumur 10 tahun.
Beliau bersama Sang Ibu
Usai pelantikan itu, sambil menghindari incaran Jenderal van Heutz terhadapnya, Sultan Aceh bergegas melanjutkan perjalanan-kerjanya ke wilayah Pasai, untuk menyusun kembali markas komanandonya. Sunguh ironis, perjuangan Teuku Tjhik Sjamaun melawan penjajah Belanda kandas dalam waktu singkat. Beberapa bulan setelah Teuku Tjhik Sjamaun wafat, paman Teuku Tjhik Djohan Alamsjah yang tertua yang bernama Teuku Maharadja Djeumpa melapor diri (mel) kepada Belanda minta berdamai.
Bagaikan mendapatkan durian runtuh, Jenderal van Heutz langsung menyambut uluran tangan Teuku Djeumpa itu. Utusan Belanda datang ke Pulo Iboh menemui Potjut Unggaih. Belanda membujuk permaisuri uleebalang Peusangan itu untuk mengizinkan putranya dibawa ke Kutaradja untuk disekolahkan. Belanda bermaksud mendidik uleebalang muda itu menurut kepentingannya, disekolah model Belanda. Dengan tegas permintaan Belanda itu ditolaknya, karena Potjut Unggaih tidak ingin putranya menjadi orang kafir. Berulang kali utusan Belanda datang bersama dengan Teuku Djeumpa, membujuk Pocut Unggaih.
Setelah bermusyawarah dengan seluruh handai taulannya, Pocut Unggaih dengan berat hati mengijinkan putranya dibawa Belanda ke Kutaraja, pusat kekuasaan Belanda di Aceh. Ibunda Teuku Djohan Alamsjah itu mengajukan syarat. Putranya boleh dibawa, tetapi harus disertai oleh seorang temannya yang juga harus disekolahkannya. Tentu saja Belanda dengan penuh suka cita menyambut berita kemenangannya ini. Tanpa perlu berlumuran darah lagi, nanggroe Peusangan telah menjadi sahabat Kerajaan Belanda.[5]
Membentuk Jami’ah Almuslim
Ampon Chik bersama kalangan ulama, yaitu Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, Teungku Ibrahim Meunasah Barat, Teungku Abbas Bardan, Teungku Abed Idham, Habib Muhammad, Teungku Ridwan, dan ulama serta tokoh lainnya, menginisiasi pembentukan perhimpunan Jami’ah Almuslim pada 24 November 1929 (21 Jumadil akhir 1348 H). Melalui perhimpunan ini, Ampon Chik mewakafkan sejumlah bidang tanah untuk didirikan yayasan dan sekolah. Diawali dengan mendirikan sekolah berdinding kayu dengan dua lokal (lokasinya di SMP Negeri Peusangan). Dua tahun kemudian, 28 Mei 1931 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Madrasah Almuslim. Ulama dan umara sepemahaman, hanya melalui pendidikan, transformasi sosial untuk menggapai kemerdekaan, terbebas dari belenggu penjajah dapat diraih.
Karena di sinilah tempat lahirnya Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). pada 5 Mei 1939 bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 1358 H. Kelahiran PUSA ini berawal dari pemikiran dua tokoh besar Peusangan waktu itu yaitu Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap (Ulama) dan Ampon Chik Peusangan (Teuku Chik Muhammad Johan Alamsyah) (Umara), dan PUSA telah menjadi lokus dan inspirasi bagi kelahiran Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Hal ini menunjukkan bahwa kelahiran Universitas Almuslim melalui sejarah Jami’ah Almuslim Peusangan merupakan warisan Pemikiran T.H.M Djohan Alamsjah (Ampon Chiek Peusangan) bersama Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap (Ulama).dengan mengelorakan semangat pembaharu bervisi global di dibidang pendidikan masa itu. Oleh Karenanya Universitas Almuslim memiliki posisi sejarah yang khusus dan unik apabila dibandingkan dengan perguruan tinggi lainnya yang ada di Provinsi Aceh.
Ampon Chik Peusangan juga dikenal sebagai tokoh yang pro terhadap pendidikan modern di Aceh. Hal ini dibuktikan dengan persetujuan beliau terhadap gagasan Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap yang ketika itu ingin mendirikan madrasah.
Pada tahun 1496 seluruh wilayah dataran aceh baik itu dari pantai barat yaitu kerajaan Trumon, Seunagan dan Daya ataupun dari pantai utara yaitu Lamuri, Pedir, Jeumpa, Pasai, Peureulak, dan Tamiang termasuk juga kerajaan Lingge dari dataran tinggi Gayo berhasil dipersatukan oleh Sultan Ali Mughayat Syah dengan berlindung dibawah nama besar Kesultanan Aceh Darussalam. Jeumpa sendiri dikenal setelah Sultan Iskandar Muda menjadikan seorang putri Jeumpa yg bernama Putroe Makhudum Meurah Jeumpa sebagai istrinya. Apakah dari sini jalur nasab keturunan Keujruen Raja Peusangan, belum ada satupun literatur yg mendukung tentang itu.
Pada tahun 1669 seorang pelaut perancis, Pierre Barthelot, merilis satu buku panduan bagi pelaut yg berjudul “Pilote et Cosmoghrape” yg menjelaskan tentang peta cryptograph pulau sumatera dan sungai peusangan ,Riviera Puesang, Roy de Achem, (photo insert, peta cryptograp aceh, th 1669, jurnal Mercure de Francaisse).
II. MASA PUNCAK KEJAYAAN KEUJRUEN PEUSANGAN RAYA
A. KETURUNAN PERTAMA (I):
1.1 TEUKU MONGA KASIM, merupakan putra pertama Praja Ponyak Bujang Diajad, tp sayangnya beliau mengalami sakit mental dan tdk mempunyai keturunan.
1.2 TEUKU CHIK MEUNASAH, beliau merupakan putra kedua dari Praja Ponyak Bujang Diajad, menggantikan kedudukan ayahnya sebagai keujruen syik peusangan. Sedikit sekali literature mengenai yg bersangkutan sehingga tdk diketahui kapan mulai menggantikan ayahnya. Teuku chik Meunasah wafat dan digantikan oleh saudara dari lain ibu Teuku Chik Lampoeh U.
1.3 TEUKU CHIK LAMPOEH U, merupakan putra Praja Ponyak Bujang Diajad dari istri keduanya, saudara dari teuku chik meunasah dari lain ibu. Teuku chik Lampoeh U ditunjuk oleh sultan aceh utk menggantikan kedudukan Teuku chik meunasah yg wafat dan juga sekaligus pemangku raja sementara berhubung putra mahkota Teuku chik nyak krueng masih di bawah umur. Setelah teuku chik nyak krueng cukup umur dan naik tahta menggantikan abangnya Teuku chik Lampoeh U, beliau hanya diperkenankan mengurusi wilayah yg lebih kecil yaitu mukim blang panyang (nisam), beliau juga merupakan ayah dari teuku bentara keumangan peutuha blang panyang, nisam.
1.4 TEUKU BENTARA KUANTA (TEUKU CHIK NYAK KRUENG), merupakan putra bungsu Praja ponyak Bujang diadjat yg menggantikan kedudukan abgnya teuku chik lampoeh U sebagai keujruen peusangan raya. Teuku bentara kuanta (teuku chik nyak krueng) naik tahta menjadi keu1.4 TEUKU BENTARA KUANTA (TEUKU CHIK NYAK KRUENG), merupakan putra bungsu Praja Ponyak Bujang Diajad yg menggantikan kedudukan abgnya teuku chik lampoeh U sebagai keujruen peusangan raya. Teuku bentara kuanta (teuku chik nyak krueng) naik tahta menjadi keujruen peusangan di usia yg sangat muda. Beliau memang telah dipersiapkan sebagai putra mahkota menggantikan posisi abangnya sebagai pemangku kerajaan (wali negeri). Keujruen peusangan mencapai pucak kejayaan di masa teuku bentara kuanta (teuku chik nyak krueng) memegang tampuk kekuasaan (1844 – 1968). Dimana pertanian dan nelayan sbg mata pencaharian utama penduduknya. Keujruen peusangan juga menjadi daerah lumbung beras, selain pinang , pala, lada, kemiri (boeh kiroe) dan kopra (u cuelek) sbg komoditas utama perdagangan negeri ini. Tercatat ada beberapa pelabuhan perdagangan hasil bumi yg terdapat di wilayah keujruen peusangan raya yaitu, kuala peudada, kuala jeumpa (kuala raja), kuala ceureupei, kuala manee, kuala bangka (kuala geukueh) dan kuala meuraksa. Pd th 1868, Teuku chik nyak krueng wafat dan digantikan oleh putra sulungnya T.Chik Muhammad Hasan.
B. KETURUNAN KEDUA (II) :
1.3.1 TEUKU BENTARA KEUMANGAN, merupakan putra dari Teuku Chik Lampoeh U, bekas penguasa keujruen peusangan raya. Teuku chik lampoeh U dilengserkan oleh sultan aceh karena dianggap tidak mampu dan kurang cakap dalam menjalankan pemerintahan. Beliau kemudian hanya diberi jabatan sbg ulee balang (peutuha) kemukiman Blang panyang (nisam). Kemudian kedudukannya sbg ulee balang blang panyang (nisam) digantikan oleh sultan aceh karena dianggap tidak mampu dan kurang cakap dalam menjalankan pemerintahan. Beliau kemudian hanya diberi jabatan sbg ulee balang (peutuha) kemukiman Blang panyang (nisam). Kemudian kedudukannya sbg ulee balang blang panyang (nisam) digantikan oleh putranya Teuku bentara keumangan. Mesjid tuha kuala manee, krueng manee dan mesjid tuha dakuta, meunasah drang dibangun semasa teuku bentara keumangan menjabat sebagai ulee balang (peutuha) blang panyang yg dibangun pd th 1823. Jabatan beliau sbg ulee balang blang panyang kemudian digantikan oleh anaknya Teuku Rhi Mahmud Nisam.
1.4.1 TEUKU CHIK MUHAMMAD HASAN, merupakan putra pertama dari Teuku Chik Nyak Krueng (Teuku Bentara Kuanta), menggantikan kedudukan ayahnya sbg ulee balang keujruen peusangan raya setelah ayahnya wafat pd th 1868. Karena kebijakan pemerintahan yg buruk sehingga selalu mendapat pertentangan dari adiknya. Kemudian kedudukan beliau sbg uleebalang keujruen peusangan raya dilengserkan oleh adiknya Teuku Bentara mahmud kuta panjoe (Teuku moeda tji’), beliau wafat dalam perebutan kekuasaan dengan adiknya pd th 1872.
1.4.2 TEUKU BENTARA MAHMUD KUTA PANJOE (T. MOEDA TJI’), merupakan putra kedua Teuku Bentara kuanta (Teuku Chik Nyak Krueng), beliau menggantikan posisi abgnya Teuku Chik Muhammad Hasan sbg ulee balang keujruen peusangan. Masa pemerintahan beliau sangat singkat dari th 1872 – 1875. Pd th 1875 Beliau tiba2x mendadak wafat tanpa keterangan yg jelas apa penyebabnya sakitnya. Jabatan yg ditinggalkan kemudian digantikan oleh keponakannya Teuku chik syamaun.
III. MASA PERANG PEUSANGAN RAYA (1882-1899)
C. KETURUNAN KETIGA (III)
1.3.1.1 TEUKU RHI MAHMUD NISAM, beliau merupakan putra dari Teuku Bentara keumangan, ulee balang (peutuha) kemukiman Blang panyang yg kemudian berganti nama menjadi kenegerian nisam yg berpusat di keude amplah. Ketika perang peusangan raya meletus, Teuku Rhi Mahmud berperan sebagai tuan rumah dalam deklarasi damai pd th 1889 yg dimotori oleh asisten residen belanda di pantai timur kapten G.A Scherer. Dimana salah satu butir kesepakatan yg dihasilkan adalah mengenai batas wilayah antara peusangan barat dan peusangan timur (glumpang dua) adalah Glee mirah phoen, cot ijue. Walaupun demikian deklarasi damai ini gagal mencegah terjadinya perang peusangan raya.
1.4.1.1 TEUKU CHIK SYAMAUN, merupakan putra dari Teuku Chik Muhammad Hasan. Lahir di kemukiman glumpang dua, peusangan. Beliau menggantikan paman Teuku bentara mahmud kuta panjoe (Teuku moeda tji’) sbg ulee balang peusangan yg wafat pd th 1875. Menjabat sbg ulee balang peusangan dari 1875-1899. Teuku Chik Syamaun adalah seorang yg ambisius. Salah satu obsesinya adalah ingin mempersatukan seluruh wilayah keujruen peusangan raya seperti masa dahulu spt yg tertera dalam sarakata sultan aceh pd th 1182 H. Atas dasar inilah, maka pd th 1882 meletuslah perang antar ulee balang di wilayah peusangan raya. Puncaknya pd th 1883 pasukan ampon chik syamaun menyerang kuta panjoe, pusat pemerintahan glumpang dua. Kuta panjoe jatuh ke tangan pasukan ampoen chik syamaun, penguasa (peutuha) glumpang dua saat itu Teuku bentara Husin melarikan diri ke wilayah sawang. Beliau menyampaikan protes keras melalui Asisten Residen Belanda di teluk samawi G.A. Scherer. Sedikit demi sedikit belanda mulai memainkan perannya di perang peusangan raya. Teuku chik syamaun di minta mundur dari kuta panjoe oleh scherer. Permintaan ini dipenuhi oleh ampoen chik syamaun dgn beberapa persyaratan, utk sesaat perangpun mereda. Tak lama berselang, pd th 1884, pasukan ampoen chik syamaun di bawah pimpinan Teuku muda peusangan maharaja jeumpa kembali menyerang kuta panjoe, blang panyang (nisam), cunda dan bayu dari darat dan laut yg melibatkan pasukan yg besar. Glumpang dua, blang panyang (nisam) dan cunda berhasil diduduki oleh ampoen syik syamaun. Protes kembali dilayangkan kpd belanda atas perbuatan ampoen syik syamaun, Belanda memang piawai dalam memainkan perannya di konflik ini. Atas inisiasi residen belanda G.A Scherer, pada tahun 1889 utk menyelesaikan konflik horizontal ini, dibuatlah satu pertemuan besar antar ulee balang di wilayah keujruen peusangan, bertempat di keude amplah nisam yg disebut deklarasi keude amplah. Pihak-pihak ulee balang yg hadir dalam pertemuan tersebut yaitu : T. Muda peusangan maharaja jeumpa dan T. Keujruen Nusyah pulo iboih dari peusangan barat. T. Bintara muda husin dan T. Bentara Muda peureudan dari glumpang dua. Rhi mahmud mewakili blang panyang, nisam sbg tuan rumah dan sawang diwakili oleh panglima prang muda dan Teuku puteh. Sedangkan dari cunda dan meuraksa bayu diwakili oleh Teuku mahmud dan T. Bentara muda chik. Deklarasi ini menghasilkan suatu keputusan bahwa batas demarkasi antara peusangan barat dan peusangan timur adalah Glee mirah poen, Cot Ijue. Tetapi sayangnya perjanjian damai ini gagal, karena pertempuran masih terjadi antara kedua belah pihak. Pd th 1897 kembali dibuat suatu perjanjian damai di lhokseumawe yg di motori oleh Scherer. Kali ini perwakilan Peusangan timur menunjuk Maharaja abdul hamid sbg perwakilannya sedangkan peusangan barat menunjuk T.Raja Itam Geudong sbg perwakilan arbitrasenya, Untuk hakim Arbitrase ditunjuk T. Muda Osoeih (T. Muda Usuih) Simpang oelim pidie sebagai hakim arbitrase mewakili assisten residen G.A. Scherer. Deklarasi lhokseumawe ini menghasilkan keputusan bahwa batas demarkasi antara peusangan barat dan peusangan timur adalah krueng tingkeum kuta blang. Pd th 1899 wafat karena sakit yg dideritanya, beliau dimakamkan di peusangan selatan. Kemudian posisi beliau sbg ulee balang digantikan oleh adiknya Teuku muda peusangan maharaja jeumpa.
1.4.1.2 TEUKU MOEDA PEUSANGAN MAHARAJA JEUMPA, merupakan salah satu tokoh paling dominan dalam sejarah peusangan. Beliau merupakan putra kedua Teuku chik Muhamad Hasan bekas penguasa keujruen peusangan (1868-1872), juga merupakan adik dari T.Chik Syamaun juga mantan penguasa negeri peusangan yg memerintah dari th 1875 sampai th 1899. Beliau lahir di kemukiman glumpang dua, tak pasti tahun berapa tapi diperkirakan lahir jelang memasuki pertengahan abad ke 19 masehi. Dalam perang peusangan raya (1882 – 1899),teuku muda peusangan memegang peranan penting dalam mengatur serangan, beliau merupakan orang kepercayaan teuku chik syamaun sbg seorang ahli strategi tempur, tak salah beliau mendapatkan gelar panglima perang, dalam menghadapi musuh2xnya. Salah satu aksi tempurnya yg sangat fenomenal adalah pd th 1884 memimpin serangan kilat yg dilakukan dari darat dan laut terhadap Negeri Glumpang dua, Cunda dan Nisam. Hanya dalam hitungan Jam, ibukota glumpang dua, kuta panjo jatuh ke tangan peusangan, begitu juga negeri nisam dan cunda. Para pemimpinnya melarikan diri utk menyelamatkan diri, spt Teuku bintara husin dan rhi mahmud melarikan diri ke sawang, sdgkan teuku chik johan cunda melarikan diri ke teluk samawi. Teuku chik syamaun menunjuk saudaranya Teuku muda peusangan sbg penguasa sementara glumpang dua dan Teuku Raja Haji muda sbg penguasa nisam serta teuku chik muda sbg penguasa cunda. Hal ini mendapat protes keras dari kubu peusangan timur dan memaksa belanda utk mendamaikannya. Pd tahun 1889 dibuatlah deklarasi damai yg diprakarsai oleh residen belanda G.A Scherer. Deklarasi damai ini dinamakan Deklarasi keude amplah karena dilakukan bertempat di keude amplah nisam. Dalam deklarasi ini kubu peusangan barat diwakili oleh teuku muda peusangan dan uleebalang cot iboih Teuku keujruen Nusyah. Sedangkan perwakilan peusangan timur diwakili oleh teuku bentara husin dan Bentara muda seutia Pereudan mewakili gloempang dua. Serta sawang diwakili oleh panglima prang muda dan teuku puteh, cunda diwakili oleh teuku mahmud, nisam diwakili oleh rhi mahmud sendiri dan bayu oleh bentara muda cik. Deklarasi damai ini gagal diberlakukan karena salah satu pihak masih melanggar kesepakatan sehingga perang peusangan raya masih terus berlanjut. Pd th 1899 teuku chik syamaun wafat di peusangan selatan. Akibat penyakit yg dideritanya, perang peusangan raya pun berakhir.
Kemudian T. Muda peusangan naik tahta menggantikan sbg ulee balang peusangan dgn gelar “TEUKU MAHARAJA JEUMPA” sesuai dgn kesepakatan yg dibuat bersama pihak belanda mengingat putra mahkotanya T. Muhammad Johan Alamsyah masih dibawah Umur. Pd th 1903 perlawanan sultan muhammad daudsyah berakhir dgn menyerahnya beliau di lhokseumawe. Pd th 1905 belanda mulai membentuk pemerintah otonom daerah yg disebut besturder yg dikepalai oleh seorang wedana. Sebelumnya daerah ini disebut onderhoijgeden yaitu kerajaan2x otonom yg masih dibawah kontrol pemerintah belanda. Ada 103 wedana yg dibentuk di bekas wilayah kesultanan aceh. Th 1906 belanda mengangkat Teuku Muda Peusangan Maharaja jeumpa sbg wedana pertama peusangan. Pd Th 1908, Teuku Muhammd Johan Alamsyah menamatkan pendidikan di Normal School kutaraja, sesuai dgn kesepakatan yg dibuat waktu itu, T.Muhammad Johan Alamsyah menggantikan pamannya sbg wedana peusangan. Selanjutnya Teuku muda peusangan hanya memegang kendali sbg ulee balang cut (peutuha)jeumpa bireuen. Pd tahun 1915 beliau wafat dan dimakamkan di cot glee, keude matang berdekatan dgn kampus al muslim, peusangan bireuen, Dan pada tahun 1915 pula pergantian tahta kerajaan di gantikan oleh salah satu putranya yaitu Tengku Muda Dalam Syah sebagai penerus kesultanan Peusangan Jeumpa.
1.4.2.1 TEUKU BENTARA HUSIN, merupakan putra sulung ulee balang Geuleumpang dua T. Bentara Mahmud kuta panjoe. Beliau menjabat sbg peutuha kemukiman glumpang dua dgn kuta panjoe sbg pusat pemerintahannya menggantikan ayahnya Teuku Bentara Mahmud Kuta Panjoe yg naik jabatan menjadi keujruen peusangan dgn berhasil melengserkan T. Chik Muhammad Hasan pd th 1872. Kemudian pd th 1875 T.Chik Syamaun naik tahta menggantikan pamannya yg wafat tiba2x. Pd th 1882 meletus perang peusangan raya dan kuta panjoe diduduki oleh ulee balang peusangan T.Chik Syamaun, menyebabkan keluarga Teuku Bentara Husin harus mengungsi sementara ke wilayah dataran tinggi sawang. Wilayah mukim glumpang dua merupakan cikal bakal berdirinya zelbesturder glumpang dua yg didirikan oleh pemerintah belanda pd th 1900. Bersama zelbesturder samalanga dan peusangan masuk dalam wilayah onderafdeling Biroen yg di pimpin seorang kontrolir belanda di bireuen.
1.4.2.2 POCUT HAJI INTAN (ISTRI TEUKU LAKSAMANA SAWANG BANGGALANG), merupakan putri dari ulee balang glumpang dua Teuku Bentara mahmud Kuta Panjoe yg dinikahi oleh Teuku Laksamana Sawang seorang utusan sultan aceh yg berasal dari Blang Galang, Reubee , Pidie. Nama beliau dinisbathkan kepada Banggalang, beliau juga keturunan langsung dari Meuntroe Banggalang seorang penasehat (wazir) Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah (1856-1870). Beliau mendapat sarakata dari sultan aceh pd th 1869 di akhir masa pemerintahan Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah. Teuku Laksamana Sawang juga merupakan kerabat dekat Teuku Beutong Banggalang yg juga mendapatkan sarakata dari sultan aceh utk mendirikan negeri Beutoeng, Aceh Barat. Wafat pd th 1882 dan dimakamkan di gampoeng gunci sawang, aceh utara.Pada sarakata tsb disebutkan, juga pd th 1182 H (1672/3 M), Panglima Praja Ponyak Bujang Diajad Pasee atau PONYAK DJAT/ JA NAJID mendapat hadiah sarakata (surat pengakuan cap sikureung) dari sultan aceh yg pd masa itu diperintah oleh Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641 – 1675) dgn gelar “Keujruen Chik Seutya Peusangan Radja”. Ponyak Djat atau Panglima Perang Praja Ponyak Bujang Diajad Pasee adalah seorang panglima perang dari negeri pasee yg hijrah ke negeri peusangan dan di angkat jadi keujreun syiek di negeri peusangan raya oleh sultan aceh. Menurut yg tercatat dalam kitab sarakata sultan aceh beliau masih keturunan ahlulbait dari garis sayyidina Hasan ra yg berasal dari keturunan dinasti abbasiyah irak yg hijrah ke negeri pasai pada abad ke 13 Setelah sebelumnya kota 1001 malam ini dibumihanguskan oleh pasukan mongol dibawah pimpinan Hulagu khan (kubilai khan). Beliau juga masih keturunan dinasty raja pasai dari raja pasai terakhir Sultan zain Al Abidin (1513 – 1524).
Batas wilayah kekuasaan Keujruen Peusangan raya disebutkan terbentang dari wilayah timur Kuala Meuraksa Puenteut, Lhokseumawe sampai batas wilayah barat Glee Meunaleung, Cot Geuleungku, krueng pandrah Bireuen dan terbagi dalam 6 pemerintahan kemukiman yaitu :
Kemukiman Jeumpa termasuk dalam wilayah ini adalah wilayah Bireuen, July, peudada (jeunib).
Kemukiman glumpang dua yg termasuk dalam wilayah ini adalah matang glumpang dua, krueng panjo, kuta blang dan geuruegok.
Dataran tinggi kemukiman sawang.
Dataran rendah kemukiman blang panyang yg meliputi nisam, keude bungkaih, krueng geukueh, batuphat dan keude paloh.
Kemukiman cunda, wilayah ini meliputi pekan cunda, buloeh dan kandang.
Kemukiman bayu meuraksa wilayah ini meliputi, meuraksa, keude bayu dan keude puenteut.
II. MASA PUNCAK KEJAYAAN KEUJRUEN PEUSANGAN RAYAB. KETURUNAN KEDUA (II) :
1.3.1 TEUKU BENTARA KEUMANGAN, merupakan putra dari Teuku Chik Lampoeh U, bekas penguasa keujruen peusangan raya. Teuku chik lampoeh U dilengserkan oleh sultan aceh karena dianggap tidak mampu dan kurang cakap dalam menjalankan pemerintahan. Beliau kemudian hanya diberi jabatan sbg ulee balang (peutuha) kemukiman Blang panyang (nisam). Kemudian kedudukannya sbg ulee balang blang panyang (nisam) digantikan oleh putranya Teuku bentara keumangan. Mesjid tuha kuala manee, krueng manee dan mesjid tuha dakuta, meunasah drang dibangun semasa teuku bentara keumangan menjabat sebagai ulee balang (peutuha) blang panyang yg dibangun pd th 1823. Jabatan beliau sbg ulee balang blang panyang kemudian digantikan oleh anaknya Teuku Rhi Mahmud Nisam.
1.4.1 TEUKU CHIK MUHAMMAD HASAN, merupakan putra pertama dari Teuku Chik Nyak Krueng (Teuku Bentara Kuanta), menggantikan kedudukan ayahnya sbg ulee balang keujruen peusangan raya setelah ayahnya wafat pd th 1868. Karena kebijakan pemerintahan yg buruk sehingga selalu mendapat pertentangan dari adiknya. Kemudian kedudukan beliau sbg uleebalang keujruen peusangan raya dilengserkan oleh adiknya Teuku Bentara mahmud kuta panjoe (Teuku moeda tji’), beliau wafat dalam perebutan kekuasaan dengan adiknya pd th 1872.
1.4.2 TEUKU BENTARA MAHMUD KUTA PANJOE (T. MOEDA TJI’), merupakan putra kedua Teuku Bentara kuanta (Teuku Chik Nyak Krueng), beliau menggantikan posisi abgnya Teuku Chik Muhammad Hasan sbg ulee balang keujruen peusangan. Masa pemerintahan beliau sangat singkat dari th 1872 – 1875. Pd th 1875 Beliau tiba2x mendadak wafat tanpa keterangan yg jelas apa penyebabnya sakitnya. Jabatan yg ditinggalkan kemudian digantikan oleh keponakannya Teuku chik syamaun.III. MASA PERANG PEUSANGAN RAYA (1882-1899)
C. KETURUNAN KETIGA (III)
1.3.1.1 TEUKU RHI MAHMUD NISAM, beliau merupakan putra dari Teuku Bentara keumangan, ulee balang (peutuha) kemukiman Blang panyang yg kemudian berganti nama menjadi kenegerian nisam yg berpusat di keude amplah. Ketika perang peusangan raya meletus, Teuku Rhi Mahmud berperan sebagai tuan rumah dalam deklarasi damai pd th 1889 yg dimotori oleh asisten residen belanda di pantai timur kapten G.A Scherer. Dimana salah satu butir kesepakatan yg dihasilkan adalah mengenai batas wilayah antara peusangan barat dan peusangan timur (glumpang dua) adalah Glee mirah phoen, cot ijue. Walaupun demikian deklarasi damai ini gagal mencegah terjadinya perang peusangan raya.
1.4.1.1 TEUKU CHIK SYAMAUN, merupakan putra dari Teuku Chik Muhammad Hasan. Lahir di kemukiman glumpang dua, peusangan. Beliau menggantikan paman Teuku bentara mahmud kuta panjoe (Teuku moeda tji’) sbg ulee balang peusangan yg wafat pd th 1875. Menjabat sbg ulee balang peusangan dari 1875-1899. Teuku Chik Syamaun adalah seorang yg ambisius. Salah satu obsesinya adalah ingin mempersatukan seluruh wilayah keujruen peusangan raya seperti masa dahulu spt yg tertera dalam sarakata sultan aceh pd th 1182 H. Atas dasar inilah, maka pd th 1882 meletuslah perang antar ulee balang di wilayah peusangan raya. Puncaknya pd th 1883 pasukan ampon chik syamaun menyerang kuta panjoe, pusat pemerintahan glumpang dua. Kuta panjoe jatuh ke tangan pasukan ampoen chik syamaun, penguasa (peutuha) glumpang dua saat itu Teuku bentara Husin melarikan diri ke wilayah sawang. Beliau menyampaikan protes keras melalui Asisten Residen Belanda di teluk samawi G.A. Scherer. Sedikit demi sedikit belanda mulai memainkan perannya di perang peusangan raya. Teuku chik syamaun di minta mundur dari kuta panjoe oleh scherer. Permintaan ini dipenuhi oleh ampoen chik syamaun dgn beberapa persyaratan, utk sesaat perangpun mereda. Tak lama berselang, pd th 1884, pasukan ampoen chik syamaun di bawah pimpinan Teuku muda peusangan maharaja jeumpa kembali menyerang kuta panjoe, blang panyang (nisam), cunda dan bayu dari darat dan laut yg melibatkan pasukan yg besar. Glumpang dua, blang panyang (nisam) dan cunda berhasil diduduki oleh ampoen syik syamaun. Protes kembali dilayangkan kpd belanda atas perbuatan ampoen syik syamaun, Belanda memang piawai dalam memainkan perannya di konflik ini. Atas inisiasi residen belanda G.A Scherer, pada tahun 1889 utk menyelesaikan konflik horizontal ini, dibuatlah satu pertemuan besar antar ulee balang di wilayah keujruen peusangan, bertempat di keude amplah nisam yg disebut deklarasi keude amplah. Pihak-pihak ulee balang yg hadir dalam pertemuan tersebut yaitu : T. Muda peusangan maharaja jeumpa dan T. Keujruen Nusyah pulo iboih dari peusangan barat. T. Bintara muda husin dan T. Bentara Muda peureudan dari glumpang dua. Rhi mahmud mewakili blang panyang, nisam sbg tuan rumah dan sawang diwakili oleh panglima prang muda dan Teuku puteh. Sedangkan dari cunda dan meuraksa bayu diwakili oleh Teuku mahmud dan T. Bentara muda chik. Deklarasi ini menghasilkan suatu keputusan bahwa batas demarkasi antara peusangan barat dan peusangan timur adalah Glee mirah poen, Cot Ijue. Tetapi sayangnya perjanjian damai ini gagal, karena pertempuran masih terjadi antara kedua belah pihak. Pd th 1897 kembali dibuat suatu perjanjian damai di lhokseumawe yg di motori oleh Scherer. Kali ini perwakilan Peusangan timur menunjuk Maharaja abdul hamid sbg perwakilannya sedangkan peusangan barat menunjuk T.Raja Itam Geudong sbg perwakilan arbitrasenya, Untuk hakim Arbitrase ditunjuk T. Muda Osoeih (T.Nyak muda yusuf) oelim pidie sbg hakim arbitrase mewakili assisten residen G.A. Scherer. Deklarasi lhokseumawe ini menghasilkan keputusan bahwa batas demarkasi antara peusangan barat dan peusangan timur adalah krueng tingkeum kuta blang. Pd th 1899 wafat karena sakit yg dideritanya, beliau dimakamkan di peusangan selatan. Kemudian posisi beliau sbg uleebalang digantikan oleh adiknya Teuku muda peusangan maharaja jeumpa.
1.4.1.2 TEUKU MOEDA PEUSANGAN MAHARAJA JEUMPA, merupakan salah satu tokoh paling dominan dalam sejarah peusangan. Beliau merupakan putra kedua Teuku chik Muhamad Hasan bekas penguasa keujruen peusangan (1868-1872), juga merupakan adik dari T.Chik Syamaun juga mantan penguasa negeri peusangan yg memerintah dari th 1875 sampai th 1899. Beliau lahir di kemukiman glumpang dua, tak pasti tahun berapa tapi diperkirakan lahir jelang memasuki pertengahan abad ke 19 masehi. Dalam perang peusangan raya (1882 – 1899), teuku muda peusangan memegang peranan penting dalam mengatur serangan, beliau merupakan orang kepercayaan teuku chik syamaun sbg seorang ahli strategi tempur, tak salah beliau mendapatkan gelar panglima perang, dalam menghadapi musuh Musuh nya. Salah satu aksi tempurnya yg sangat fenomenal adalah pd th 1884 memimpin serangan kilat yg dilakukan dari darat dan laut terhadap Negeri Glumpang dua, Cunda dan Nisam. Hanya dalam hitungan Jam, ibukota glumpang dua, kuta panjo jatuh ke tangan peusangan, begitu juga negeri nisam dan cunda. Para pemimpinnya melarikan diri utk menyelamatkan diri, spt Teuku bintara husin dan rhi mahmud melarikan diri ke sawang, sedangkan teuku chik johan cunda melarikan diri ke teluk samawi. Teuku chik syamaun menunjuk saudaranya Teuku muda peusangan sbg penguasa sementara glumpang dua dan Teuku Raja Haji muda sbg penguasa nisam serta teuku chik muda sbg penguasa cunda. Hal ini mendapat protes keras dari kubu peusangan timur dan memaksa belanda utk mendamaikannya. Pd tahun 1889 dibuatlah deklarasi damai yg diprakarsai oleh residen belanda G.A Scherer.Deklarasi damai ini dinamakan Deklarasi keude amplah karena dilakukan bertempat di keude amplah nisam. Dalam deklarasi ini kubu peusangan barat diwakili oleh teuku muda peusangan dan uleebalang cot iboih Teuku keujruen Nusyah. Sedangkan perwakilan peusangan timur diwakili oleh teuku bentara husin dan Bentara muda seutia Pereudan mewakili gloempang dua. Serta sawang diwakili oleh panglima prang muda dan teuku puteh, cunda diwakili oleh teuku mahmud, nisam diwakili oleh rhi mahmud sendiri dan bayu oleh bentara muda cik. Deklarasi damai ini gagal diberlakukan karena salah satu pihak masih melanggar kesepakatan sehingga perang peusangan raya masih terus berlanjut. Pd th 1899 teuku chik syamaun wafat di peusangan selatan. Akibat penyakit yg dideritanya, perang peusangan raya pun berakhir.Kemudian T. Muda peusangan naik tahta menggantikan sbg ulee balang peusangan dgn gelar “TEUKU MAHARAJA JEUMPA” sesuai dgn kesepakatan yg dibuat bersama pihak belanda mengingat putra mahkotanya T. Muhammad Johan Alamsyah masih dibawah Umur. Pd th 1903 perlawanan sultan muhammad daudsyah berakhir dgn menyerahnya beliau di lhokseumawe. Pd th 1905 belanda mulai membentuk pemerintah otonom daerah yg disebut besturder yg dikepalai oleh seorang wedana. Sebelumnya daerah ini disebut onderhoijgeden yaitu kerajaan2x otonom yg masih dibawah kontrol pemerintah belanda. Ada 103 wedana yg dibentuk di bekas wilayah kesultanan aceh. Th 1906 belanda mengangkat Teuku Muda Peusangan Maharaja jeumpa sbg wedana pertama peusangan. Pd Th 1908, Teuku Muhammd Johan Alamsyah menamatkan pendidikan di Normal School kutaraja, sesuai dgn kesepakatan yg dibuat waktu itu, T.Muhammad Johan Alamsyah menggantikan pamannya sebagai wedana peusangan. Selanjutnya Teuku muda peusangan hanya memegang kendali sbg ulee balang cut (peutuha)jeumpa bireuen. Pd tahun 1915 beliau wafat dan dimakamkan di cot glee, keude matang berdekatan dgn kampus al muslim, peusangan bireuen dan Keturunan Dari T. Nyak Muda Yusuf Menurut Silsilah Kebawah Dari (Tu Poraja Chik Yamani Pasee) / T. Chik Ahmad Idris Habasi (Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu) / Praja Badarudin Syah (Ja Kata / Meurah Syah) / Panglima Prang (Praja Ponyak Bujang Diajad / Tu Najid) / T. Bentara Kuanta (T.Chik Nyak Krueng) / T. Chik Muhammad Hasan / T. Muda Peusangan (T.Nyak Muda Yusuf Maharaja Jeumpa) / T. Muda Dalam Syah (Panglima Mahmud) / T. Nyak Banta Muda / T. Muhammad Yusuf / T. Daud Yusuf / T. Salman Alfaris / Asysyarif T. Alwan Thufail Almudasyi. Keturunan Dari T. Muda Dalam Syah Kebanyakan Bermukim Di Desa Lueng Sa Kecamatan Madat Kabupaten Aceh Timur hingga Sekarang.
1.4.2.3 TEUKU BENTARA BLANG (TEUKU KEUJRUEN GOK), merupakan putra bungsu dari ulee balang glumpang dua Teuku Bentara Mahmud Kuta Panjoe. Beliau merupakan kepala pemerintahan kemukiman sawang sebelum sawang resmi mendapat sarakata dari sultan aceh. Teuku Bentara Blang menikah dengan seorang wanita di buloeh beureugang di wilayah kemukiman cunda. Beliau wafat pd th 1882 setelah terjadi perebutan kekuasaan tahta sawang dgn keponakannya sendiri Teuku Panglima Nyak Ben (Pang Benseh).D. KETURUNAN KEEMPAT (IV) :
1.3.1.1.1 TEUKU RAJA MA’ ALI (TEUKU RAJA MUHAMMAD ALI), merupakan putra tertua Teuku Rhi Mahmud Nisam. Lahir di keude amplah, nisam. Pd th 1884 di saat berkecamuknya perang peusangan raya. Beliau menggantikan ayahnya sebagai ulee balang nisam. Kemudian pd th 1900 diangkat sebagai zelfbesturder pertama nisam, pernah menjabat sbg kepala lansekap sementara wilayah puentuet pd th 1911. Pd th 1912 posisi beliau sbg zelbesturder nisam digantikan oleh adiknya Teuku Bujang Salim.
1.3.1.1.2 TEUKU BUJANG SALIM, merupakan putra dari Teuku Rhi Mahmud Nisam dari istri keduanya, lahir di keude amplah, Nisam pada tahun 1891. Pada saat itu bandar kuala bangka (kuala geukueh) merupakan salah satu pelabuhan yg ramai di wilayah keujruen peusangan. Seluruh hasil bumi dari negeri nisam di pasarkan melalui pelabuhan ini. Bandar kuala bangka (krueng geukueh) ini juga menjadi sebagai pusat pemerintahan zelfbesturder nisam. Sedangkan nama Dewantara adalah nama yang muncul belakangan pada tahun 1950 setelah ditetapkan pemerintahan kecamatan, yang menurut info dari Masyarakat setempat ada hubungannya dengan Ki Hajar Dewantara, Tokoh Pejuang asal Yogyakarta yang bergerak dibidang Pendidikan yang notabenanya sama dengan Teuku Bujang Salim, Krueng Geukueh saat ini adalah Ibukota Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.
Pada Tahun 1901 saat beliau berumur 10 Tahun, beliau diambil oleh Belanda dan disekolahkan di “Sekolah Raja” (Kweekschool) di Bukittinggi,Teuku Bujang bersekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School) sekolah dasarnya belanda dengan lama studi sekitar 7 tahun, lalu melanjutkan ke MULO Sekolah lanjutan tingkat pertama singkatan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs dengan tingkatan yang sama dengan SLTP sekarang, selama 3 tahun dan melanjutkan lagi pada sekolah kweekschool atau sekolah guru di zaman belanda sama seperti SPG yang kita kenal di Indonesia yang akhirnya ditutup.
Setelah menempuh pendidikan selama 10 Tahun di Padang, Teuku Bujang dikembalikan kepada orang tuanya Teuku Rhi Mahmud di Keude Amplah – Nisam dan pd th 1911 diangkat oleh Belanda menjadi Zelfbestuurder Negeri Nisam menggantikan abangnya Teuku Raja Ma’ Ali.
Dan dalam masa itu pula beliau menikah dengan Cut Bayu..yang menurut Cut Babujanja adalah anak seorang Teungku Imum Tambon Tunong yang tidak jelas siapa namanya, dan dari Cut Bayu ini, Teuku Bujang mempunyai satu anak yang bernama Babuyu atau kemudian dikenal dengan sebutan Hj. Cut Babuyujang* (mungkin kita merasa aneh dengan nama-nama anak dari Teuku Bujang, menurut Cut Bababuyu anak kelima beliau yang menjadi nara sumber dari tuisan ini), Teuku Bujang memberikan nama anaknya dari kumpulan huruf namanya dan nama isterinya yang dicampur aduk menjadi kata-kata, seperti nama Hj Cut Babuyu dan Cut Babujanja dan nama-nama lain yang akan ditemukan dalam tulisan ini.
1.3.1.1.3 TEUKU BANTA LUTHAN, merupakan putra dari ulee balang nisam Teuku Rhi Mahmud, lahir di keude amplah nisam pd th 1897. Beliau menggantikan posisi abgnya Teuku Bujang Salim yg dipecat oleh pemerintah belanda sbg zelfbesturder pd th 1925 dan berakhir sejak pemerintah belanda digantikan oleh penjajahan jepang pd th 1942. Tdk jelas nasib beliau apakah juga menjadi korban revolusi sosial pd th 1946 atau tidak.
1.4.1.1.1 TEUKU CHIK MUHAMMAD JOHAN ALAMSYAH, lahir pd th 1890 di peusangan barat, merupakan putra semata wayang dari Teuku Chik Syamaun. Sebelum Teuku Chik Syamaun wafat pd th 1899, beliau telah mewasiyatkan putranya Teuku chik johan alamsyah di hadapana assisten residen belanda di lhokseumawe kapten G.A Scherer disaksikan oleh teuku muda peusangan maharaja jeumpa sebagai walinya, bahwa kelak putranya jika telah cukup umur akan menggantikannya sebagai ulee balang peusangan, sedangkan jabatan ulee balang peusangan sementara dijabat oleh walinya yaitu Teuku muda peusangan maharaja jeumpa. Sesuai dgn perjanjian, pada Tahun 1900, beliau diambil oleh Belanda dan disekolahkan di “Sekolah belanda'” (Kweekschool) di kutaraja,
Teuku Chik Johan Alamsyah menamatkan pendidikan di HIS (Hollandsch Inlandsch School) sekolah dasarnya belanda dengan lama studi sekitar 7 tahun, lalu melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) . Sekolah lanjutan tingkat pertama dengan tingkatan yang sama dengan SLTP sekarang, selama 3 tahun dan melanjutkan lagi pada sekolah Normal School setingkat SMA sekarang. Pd th 1908 Teuku Muhammad Johan Alamsyah diangkat menjadi zelfbesturder peusangan setelah beliau lulus dari Normaal scholl di kuta raja. Beliau menggantikan pamannya Teuku Moeda Peusangan Maharaja Jeumpa. Kemudian pd th 1938 bersama adiknya Teuku bustamam mendirikan sebuah lembaga pendidikan islam Al Muslim bersama tokoh2x lain spt : Tgk Hasan Ibrahim awee geutah, Tgk Izzuddin AB Neuheun, Tgk Habib Mahmud Meunasah Meucap, Tgk Abd Rahman Meunasah Meucap, Tgk H. Mahyeddin Uteun Gathom, Tgk H. M. Amin Bugak, Tgk M. Amin Meunasah barat, Tgk M. Abbas Bardan jangka, Tgk M. Abed Idham pante ara, Tgk Usman Aziz lhoksukon, Tgk Ibrahim Zen Meunasah dayah, Teuku Peutua Syah Bugak, Tgk Usman Basyah leubue, Teuku Hasan cut jeumpa bireuen, Teuku M. Ali Leubue, dan Teuku H.M Ali Blang Asan. Lembaga pendidikan Al Muslim merupakan cikal bakal berdirinya Universitas Al Muslim, Bireuen. Setahun kemudian ditempat yg sama tepatnya th 1939 bersama Tgk Daod Bereueh dan Tgk Abd Rahman Meunasah Meucap Glp Dua, yg juga menjabat sbg ketua lembaga pendidikan Islam Al Muslim mendeklarasikan terbentuknya PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) di matang geuleumpang dua. Beliau wafat pd th 1957 dan dimakamkan di sekitar padang bulan, medan.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.