Menguak Tabir Makam Pendiri Negeri Bandar Teluk Samawi


Sama spt hal makam Sayid Syarif yg terletak di Jl. Banda Aceh – Medan, Gampoeng Mancang, Geudong, Kec. Samudra. Kab. Aceh Utara. Makam ini oleh masyarakat setempat disebut dgn makam Tgk Syareh. Beda dgn makam Sayyid Syarif yg terletak di Geudong, Aceh Utara, makam ini belum mendapat perhatian dari Pemkot Lhokseumawe dan belum masuk dalam daftar Situs Warisan Cagar Budaya Pemerintah RI. Terlihat dari kondisinya yg belum ada terdapat plank/papan nama dilokasi. Makam ini terletak di Jl. Tgk Syarif, Dusun Kuta Trieng, kp. Kramat, Simpang IV, Lhokseumawe, tepatnya di belakang stasiun kereta api Lhokseumawe. Jaraknya ±100 M dari komplek kerkhof kuburan tentara belanda yg sekarang menjadi Gedung SKB dan SDN 10, Lhokseumawe. Kalau kita melihat rekam jejak pemerintah belanda yg menjadikan komplek makam raja2x Peutjut di Kutaraja sbg kuburan ± 2000 prajurit belanda yg tewas dalam perang aceh. Besar kemungkinan kuburan kherkof ini dahulunya bekas kuburan keturunan raja2x kenegerian Pasai yg dijadikan kuburan kherkof prajuritnya yg tewas selama perang aceh di wilayah pantai utara aceh oleh belanda.
Kalau dilihat dari segi Historiografisnya, makam ini merupakan makam satu2xnya yg paling tua yg terletak di tengah kota Lhokseumawe. Dahulu. Masyarakat setempat menyebut dgn Makam Tgk Syareh, seorang ulama besar yg mendirikan negeri Teluk Samawi yg juga disebut sbg Tgk Di Teluk Samawi (Tgk Di Lhokseumawe). Makam ini telah di pugar secara Swadaya oleh masyarakat setempat. Bentuk nisannya yg bertypologi pasai serta tanpa ada tulisan kaligrafi dan hyroglif pemilik makam sehingga makam ini sama seperti makam Sayyid Syarif di Geudong, Aceh Utara yg disebut dgn Makam Anonim (tanpa nama). Siapakah pemilik makam tsb..? Untuk menjawab pertanyaan tsb, saya akan menjawab berdasarkan fakta sejarah yg ada
Dalam kitab Bustanussalatin karangan Syech Nuruddin Arraniry. Yg ditulis pada masa Sultan Iskandar Tsani berkuasa (1637-1641) disebutkan bahwa setelah beliau dilantik sebagai Sultan Aceh, beliau melakukan muhibah pertamanya ke negeri Teluk Samawi dgn menunggang gajah selama 7 hari. Beliau melakukan perjalanan dalam rangka melihat potensi alam yg dimiliki oleh Bandar Negeri Teluk Samawi.
Dalam Hikayat Malem Dagang karangan Tgk Yakub bin Ismail (Tgk Chik Pante Geulima) th 1896 disebutkan Ketika Sultan Iskandar Muda melakukan penyerangan ke negeri Banang (Batu Sawar, Johor) pd th 1615 beliau didampingi oleh Raja Raden adik dari Raja Si Ujud, Panglima Pidie Maharaja Indra, Ja Madinah (Ja Fakih) sbg pemimpin spiritual pasukan dan Panglima Malem Dagang si Anak Jeumpa dari Meureudu. Perjalanan darat ini sesuai permintaan permaisuri Putroe Phang kepada baginda Sultan, ada lima point permintaan beliau kepada suaminya Sultan Iskandar Muda yaitu:

  1. Agar sudilah kiranya sultan untuk menghimpun pasukan dari tiap negeri yg disinggahinya oleh sebab itu Sultan Iskandar Muda melakukan perjalanan darat dari Bandar Aceh Darusalam sampai ke Kuala Jamboe Ayer, Panton Labu sedangkan kapal induk Cakradonya ikut rombongan sultan menyusuri tepi pantai. Dalam perjalanannya di teluk samawi beliau singgah di Kuta Trieng, Mon Geudong dan Sawang Keupuela, Negeri. Cunda.
  2. Agar Sudilah kiranya Sultan utk berhati-hati di kuala Jamboe Ayer (Kuta Piadah, Seunuddon) karenanya air kualanya sangat deras.
  3. Jikalau tiba di negeri Banang (Batu Sawar, Johor), janganlah menembakkan meriam karena hulu meriam akan pecah sebab diyakini negeri Banang banyak dihuni oleh para Aulia. Pada masa itu tembakan meriam sbg tanda bahasa sandi di bidang maritim. Apabila satu kali tembakan meriam dari kapal tamu akan di jawab dgn satu kali tembakan meriam tuan rumah maka akan diterima dgn secara damai, tetapi apabila dijawab dgn dua kali tembakan meriam atau lebih yg dibalas secara beruntun itu berarti siap perang.
  4. Berhati-hatilah terhadap Raja Muda Haru karena disana banyak perompaknya. Oleh sebab itu Sultan Iskandar Muda sebelum menyerang Batu Sawar, Johor lebih dulu menaklukkan Kerajaan Haru, Deli.
  5. Agar memilih Panglima Perang yg cakap melawan Raja Si Ujud yg terkenal akan ilmu silatnya. Oleh sebab itu sebelum bertolak ke negeri Haru dgn kapall induk Cakra Donya di Kuala Jamboe Ayer, beliau menunjuk Malem Dagang sbg Panglima Perang. Atas petunjuk dari Putroe Phang, Panglima Malem Dagang berhasil mengalahkan Raja Si Ujud si penguasa 5 negeri (Johor Lama, Johor Bali, Malaka, Banang Pahang dan Gowa Bugis). Sejak saat itulah, Sultan apabila memutuskan suatu perkara selalu minta petunjuk dan saran dari istrinya. Dari sinilah muncul tamsilan di masyarakat aceh
    “Kanun bak Putroe Phang”.
    Berdasarkan catatan Kapten Von Schmidt, seorang kapten laut Belanda, mencatat dalam bukunya Telok Semawe, de Beste Haven op Atjeh’s Noordkust (Teluk Samawi, Pelabuhan Terbaik di Pantai Utara Aceh), th 1887, bahwa Teluk Samawi terletak sekitar 6 mil sebelah barat Diamont Point (titik timur laut pulau Sumatra), dan telah diperuntukkan untuk perdagangan. Pantai sebelah baratnya merupakan kedudukan dari Negeri Teluk Samawi.
    Sambil memuat sebuah peta Teluk Samawi dalam bukunya itu, Kapten laut Belanda ini juga menyatakan bahwa Teluk Samawi memiliki lokasi yang bagus, di mana dalam waktu yang sama, ratusan kapal besar dapat menemukan tempat berlabuh yang bagus, dan kapal-kapal kecil dalam jumlah yang banyak dapat bersandar di dekat pantai. Bahkan, dalam kondisi angin timur laut yang bertiup terus menerus, rumpun-rumpun bambu (pereudee trieng) dan pantai dapat bertahan di sepanjang laguna (danau) yang tidak hanya cocok untuk kapal-kapal kecil, tapi juga untuk kapal yang dapat dilayari. Oleh sebab itu pemerintah Belanda menjadikan pulau seluas 11 km2 sebagai pusat pertahanannya yg paling strategis di pantai timur Aceh. Dipulau ini belanda membangun infrastruktur spt stasiun kereta api terbesar yg terintegrasi dengan pelabuhan laut, pos dan telekomunikasi, penjara, bivak prajurit, markas komando KNIL serta rumah residen kontrolir.
    Stamenhoose, seorang kepala Dinas Arkeologi dan Purbakala pemerintah Hindia Belanda di Aceh yg pernah melakukan penelitian terhadap makam-makam kuno pd th 1910 diwilayah Pasai gagal mengidentifikasi makam anonim yg terletak di belakang stasiun kereta api tsb. Stamenhoose hanya mendapatkan informasi dari masyarakat setempat bahwa itu adalah makam Tgk Syareh.
    Siapa sebenarnya tokoh ini..? Jawabannya dpt ditemukan berdasarkan manuskrip yg terdapat pada mukadimah arakata di bawah ini yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Nyak Cut Husein bin Tgk Meurah (Nyak Cut Bintan) bin Tgk Hakim Parhamah bin Tgk Bujang Puteh (Tgk Abdussalam waladu) bin Tu Poraja Chik Malik (Tu Poraja Chik Bintan Hulu) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee. Beliau tinggal di Kuala Meuraksa, Bayu. Arakata ini ditulis pd th 1243 H (1826 M) ketika masa itu Sultan Muhamad SaidSyah menjadi Sultan Aceh. Dalam mukadimah arakata ini dijelaskan siapa sosok tokoh Tu Poraja Chik Yamani Pasee.
    Tu Poraja Chik Yamani Pasee atau nama aslinya Muhammad Syech Azzakariya Qurnairni Al Yamani lahir di kota Ta’rim Hadramaut, Yaman. Tdk diketahui kapan tepatnya, tanggal lahirnya tp diperkirakan pada pertengahan abad ke XV Masehi. Beliau merupakan putra Sultan Asta, Raja Yaman yg memerintah pd th 827 H (1432 M). Beliau menanggalkan gelar bangsawannya dan lebih memilih menjadi pendakwah islam. Hijrah ke negeri pasai pada th 868 H (1473) di masa kerajaan Samudera Pasai di perintah oleh Sultan Zainal Abidin Ra Ubabdar (1477-1500) dan menikah dgn salah seorang kerabat Sultan Samudera Pasai, kemudian di masa pemerintahan Sultan Zain Al Abidin bin Zainal Abidin Ra Ubabdar (1513-1518) diangkat sbg mufti besar kerajaan Samudera Pasai.
    Pemilik makam tersebut bernama Muhammad Syarif putra dari Tgk Raja Alim atau Tgk Hakim Poraja Wan Di Krueng. Muhamad Syarif merupakan abang kandung dari Ja Madinah (Ja Fakih), keduanya merupakan adik dari Ali Abdul Manaf berdasarkan arakata Pasee yg ditulis oleh Tgk Haji Meuraksa Cut Nyak Husein sanat 1243 Hijriyah. Nasab lengkapnya Tgk Muhammad Syarif bin Tgk Raja Alim (Tgk Hakim Poraja Wan Di Krueng) bin Teuku Meurah Itam Raja Karang Hulu Tamiang bin Tu Poraja Chik Malik Bintan Hulu (Tgk Chik Ahmad Idris) bin Tu Poraja Chik Yamani Pasee atau Muhammad Syech Azzakariya Qurnaini Al Yamani. (Photo, Makam Tgk Muhammad Syarif, Kp. Kramat, Lsm, th 2023, Koleksi Pribadi), trm. Ttd. Teuku Panglima Prang Barat Seutya, Glp. Doewa.

Tinggalkan Komentar